I Love You Too

I Love You Too
It's Ok Not To Be Ok



"Botol minumnya bagus." Fino tersenyum pada Rumi.


"Aku punya banyak, mau?" tanya Rumi tertawa.


"Isinya apa?" tanya Fino lagi.


"Air madu." jawab Rumi jujur, karena tidak ada Mami yang bikinkan infus water, Rumi minum air madu pagi ini.


"Masa?" Fino tidak percaya.


"Kamu sepertinya tahu, botol ini harus diisi apa?" Rumi tertawa. Fino nyengir sambil mengedikkan bahunya.


"Sehari merokok berapa bungkus?" tanya Rumi melihat Fino mulai membakar rokok berikutnya.


"Tergantung." jawab Fino terkekeh.


"Maksudnya."


"Kalau lagi kerja dan tidur ya pasti tidak merokok, jadi lebih sedikit jumlahnya." jawab Fino terkekeh tanpa sebut jumlah bungkusnya.


"Perokok berat?" Rumi menaikkan alisnya, Fino anggukan kepalanya.


"Kamu peminum berat sampai punya botol begitu banyak?" tanya Fino tertawa.


"Dulu, sekarang sedang terapi. Proses penyembuhan." jawab Rumi apa adanya.


"Berat? sampai harus minum bahkan siapkan botol untuk dibawa-bawa."


"Apanya yang berat?" tanya Rumi.


"Masalah hidupmu, karena punya masalah makanya lari ke minuman kan?" Rumi menghela nafas panjang.


"It's ok not to be ok. (tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.)" kata Fino lagi.


"Seperti drama saja." Rumi tertawa.


"Bukan drama saja, buku juga ada, lagi pula hidup kadang penuh drama." Fino menikmati rokoknya.


"Kamu suka baca buku? aku tidak suka drama, yang nyata-nyata saja." Rumi memandang Fino.


"Aku biasakan diri, setidaknya sebulan dua buku." jawab Fino tersenyum.


"Sempat? kamu kan sibuk." Rumi sedikit kagum.


"Sempat, sibuk tidak sibuk. Tidak mungkin kita aktifitas sepanjang waktu pasti ada jedanya. Saat luang aku baca." jawab Fino.


"Kamu tidak siap-siap, kita mau sarapan." Fino ingatkan Rumi.


"Saat luang harusnya pacaran." kata Rumi abaikan perkataan Fino. Fino mengedikkan bahunya tersenyum tipis.


"Tidak punya pacar?" tanya Rumi lagi.


"Seperti punya pacar saja." Fino terkekeh.


"Aku sedang berusaha cari pacar." jawab Rumi ikut terkekeh.


"Kriteria seperti apa?" Fino ingin tahu.


"Yang terima aku apa adanya, takut sama Allah." jawab Rumi tersenyum manis.


"Pasti ada." jawab Fino yakin.


"Mudah-mudahan." Rumi tertawa.


"Punya pacar malah tambah masalah." Fino menghela nafas.


"Pengalaman pribadi?" tanya Rumi.


"Hmm... sok tahu." Fino terkekeh


"Sana siap-siap." perintah Fino melihat Rumi hanya gunakan training.


"Begini saja boleh tidak?" tanya Rumi.


"Sudah mandi?"


"Sudah dong." Rumi terkekeh.


"Boleh saja, hanya sarapan kan, kecuali mau mampir lagi."


"Kalau mampir juga tidak masalah ya, kan trainingku mahal juga kok." jawab Rumi lucu.


"Hahaha orang kaya ya pakai training mahal." Fino tertawa.


"Numpang sama orang kaya." jawab Rumi tertawa. Memang yang kaya Opa Santoso dan anak cucunya, Rumi dan keluarganya hanya menumpang fasilitas selama ini.


"Menumpang saja bisa beli training mahal." Fino menggoda Rumi.


"Hahaha aku hanya bercanda. Jangan ditanggapi. Mana ada orang kaya yang pamer trainingnya mahal." Rumi terbahak.


"Ceria sekali." Larry ikut tertawa melihat Rumi terbahak, ia sudah keluar rumah diikuti yang lainnya.


"Fino lucu." kata Rumi masih belum hilang wajah cerianya.


"Kita juga lucu." Mike tidak mau kalah.


"Sebenarnya yang lucu Rumi." jawab Fino tersenyum lebar.


"Oh iya, tunggu ya." Rumi berlari ke dalam sementara yang lain sudah siap berangkat.


"Kita duluan ya, kamu sama Rumi menyusul." Femi menyeringai jahil ingin jodohkan Rumi dengan Fino.


"Terserah saja." jawab Fino tidak masalah mau menyusul atau berangkat bersama.


"Tunggu saja kita berangkat bersama, kalau Fino dan Rumi mau pisah mobil tidak masalah. Tadi Rumi minta ditunggu." Larry tidak mau Rumi berpikir aneh-aneh, karena memang tadi Rumi minta ditunggui. Femi melirik Larry dengan kening berkerut, tapi kemudian anggukan kepalanya.


"Jangan cemburu dong." celutuk Dona yang merasa Femi ada hati dengan Larry.


"Ish siapa yang cemburu." Femi memberengut.


"Atau kalian yang mau pisah mobil?" tanya Doni memandang Larry dan Femi dengan nyengir selebar-lebarnya. Larry ikut nyengir gelengkan kepalanya, kasihan Femi yang salah tingkah karena Dona dan Doni.


"Seperti semalam saja kita satu mobil." kata Fino pada Larry.


"Oke." Larry setuju.


"Daniel tukar posisi sama Fino." tegas Doni jahil.


"Biar apa?" tanya Mike tidak mengerti.


"Yang tahu jalan Fino sama Femi, jadi masing-masing mobil ada penunjuk jalan." Doni naikkan alisnya.


"Iya begitu saja." Nanta mengerti maksud Doni langsung saja setuju.


"Biarkan Fino yang bawa Mobil lu." kata Doni lagi.


"Oke." jawab Nanta pandangi Mike supaya setuju.


"Ini." Mike serahkan kunci mobil pada Fino.


"Daniel lu dibelakang sama gue dan Dona." kata Doni lagi.


"Oh gue mengerti, Fino sama Rumi nanti di depan kan." Mike meluruskan.


"aah Seiqa calon laki lu mikirnya lama." kata Dona membuat semua yang mendengarnya tertawa.


"Nanti kami menikah, kalian datang ya." undang Mike pada Fino dan Femi.


"In syaa Allah." jawab Femi dan Fino bersamaan.


"Undangan untuk lu gue titip Rumi, Fin." kata Mike lagi.


"Jangan lupa nomor handphone kasih ke Rumi ya." biar mikirnya lama Mike langsung bergerak dekatkan Fino dengan Rumi.


"Hmm salah satu trik supaya gue tukaran nomor handphone sama Rumi." Fino acungkan jempolnya, semua tertawa jadinya.


"Ayo." ajak Rumi tersenyum dengan tas slempang dan berganti baju juga akhirnya.


"Ayo." jawab yang lain mereka berjalan menuju mobil masing-masing.


"Rumi jangan lupa catat nomor handphone Fino, dia guide kita, nanti kalau tersesat bisa hubungi Fino." kata Mike pada Rumi.


"Aku sudah punya nomor Femi." jawab Rumi yang tidak mengerti trik Mike.


"Catat saja, Femi beda rombongan dengan kita." kata Dania membantu sepupunya supaya lancar niatnya.


"Berapa Fin?" tanya Rumi.


"Aku chat kalian." Femi bantu memperlancar kirimkan nomor handphone Fino pada Rumi begitupun sebaliknya Kirim nomor handphone Rumi pada Fino.


"Beres." kata Femi tersenyum senang.


"Kok kamu tulis nama Fino Abang sayang?" tanya Rumi pada Femi.


"Iya jangan diganti." jawab Femi pada Rumi.


"Hahaha oke." Rumi tertawa.


"Ini maksudnya apa?" tanya Fino pada Femi.


"Jangan diganti." kata Femi lagi pada Fino.


"Apa lihat?" Mike kepo. Fino tunjukkan pada Mike.


Adeksayangđź’•


Mike anggukan kepalanya.


"Benar jangan diganti." kata Mike lagi lalu tos dengan Femi. Mulai ketularan jahil Femi rupanya.


"Kalau ada yang ganti aku marah." Femi pasang wajah serius. Fino menoyor kepala adik sepupunya lalu segera berjalan tinggalkan yang lain menuju Mobil Mike dan masuk kedalamannya.


"Kamu depan ya Rum, gue mau pacaran." Kata Mike merangkul calon istrinya.


"Belum halal." Nanta ingatkan Mike.


"Hehehe dikit saja." Mike segera lepaskan rangkulannya.


"Kita dibelakang." katanya pada Seiqa. Lalu segera masuk biarkan Seiqa menyusul kemudian. Sementara Nanta menunggu sambil jahili istrinya. Cubit-cubit pipi Dania gemas.


"Hei cepatlah." teriak Mike pada Nanta dan Dania yang asik mesra-mesraan berdua.


"Hahahha iri ya." Nanta terbahak lalu ajak istrinya untuk masuk kedalam mobil menyusul yang lain.