I Love You Too

I Love You Too
Hadiah



"Mas Kenan dimana?" Nona menghubungi Kenan via telepon.


"Saya sama Nanta cek rumah dulu, sebentar lagi pulang." kata Kenan pada Nona yang terdengar merajuk.


"Huhu aku mau ikut."


"Masih Kotor sayang, nanti saja kalau sudah bersih baru kamu kesini." kata Kenan mengakhiri sambungan telepon Nona.


"Mau makan apa? rujak mau?" tanya Kiki pada Nona yang baru saja keluar kamar, ia sedang duduk santai bersama Enji di sofa depan Televisi.


"Aih mau Kak, beli dimana?" tanya Nona semangat.


"Suruh Tini bikin, dikulkas ada stock buahnya." jawab Kiki, kemudian berteriak memanggil Tini, segera memintanya membuat rujak. Nona menghampiri Kiki dan Enji, badannya sudah terasa lebih segar.


"Jangan dekat-dekat, aku khawatir kamu tidak suka parfume yang ku pakai." kata Enji pada Nona.


"Hehehe sepertinya anakku suka Kak Enji, maunya dekat-dekat." kata Nona cengar-cengir duduk disebelah Enji.


Sambil menonton TV, Nona mendengarkan Kiki dan Enji ngobrol, entah apa yang mereka bahas, Nona belum terlalu paham. Hingga akhirnya Enji membahas Sheila, langsung saja kuping Nona membesar. Enji ingin tahu Sheila dimana saat ini.


"Tidak tahu Kak, kenapa? aku sudah lama tidak bertemu." jawab Kiki jujur. Saat ke toko buku pun Kiki tidak lagi bertemu Sheila.


"Kemarin aku sama Erwin bertemu suaminya, dia tanya keberadaan Sheila sama Erwin." kata Enji pada Kiki.


"Loh, Kenapa tanya sama Bang Erwin?" tanya Kiki heran, Nona menyimak saja.


"Nah itu, padahal Erwin sudah puluhan tahun tidak kontak dengan Sheila." kata Enji ikut heran.


"Reza tidak didatangi suaminya?" tanya Enji pada Kiki.


"Dirumah sih tidak, entah kalau dikantor." jawab Kiki.


"Kasihan anaknya ditinggal begitu saja, menangis kemarin Farhan."


"Farhan itu suaminya, Kak?" tanya Nona ikut tertarik. Enji dan Kiki menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Sebelum aku menikah, Sheila sempat menghubungi Mas Kenan, dia ada di Malang. Tapi aku tidak tahu masih di Malang apa tidak." Nona memberikan informasi sesuai yang ia tahu.


"Nanti kita tanya Kenan saja." kata Kiki pada Enji.


"Perlu tidak ya tanya Kenan?" Enji memandang Kiki dan Nona bergantian


"Tanya saya apa?" Kenan ternyata sudah mendekati sofa, Nanta mengikuti dibelakangnya.


"Farhan kemarin mencari Sheila." kata Enji pada Kenan.


"Mantan suaminya Sheila?" tanya Kenan memastikan.


"Sudah mantan?" tanya Kiki.


"Kata Sheila sih mereka sudah pisah." jawab Kenan.


"Kamu masih hubungan sama Sheila, Mas?" Nona sedikit Emosi.


"Tidak sayang." jawab Kenan jujur. Enji dan Kiki cengar-cengir saja, sementara Nanta memilih masuk ke kamar tempat ia biasa menginap untuk beristirahat, sambil menunggu waktu ashar.


"Iya Farhan mencari Sheila, ia bersama anaknya ke rumah." kata Enji menjelaskan. Kenan mengangguk-angguk.


"Sheila menyusul kamu ke Malang?" tanya Kiki polos membuat Kenan mengernyitkan dahinya dengan mata melirik pada Nona.


"Maksud aku mau apa dia di Malang?" Kiki terkekeh mengganti pertanyaannya.


"Aku tidak tahu, mungkin ada pekerjaan." jawab Kenan yang memang tidak tahu.


"Ya sudah biarkan saja, itu urusan suaminya. Aku hanya bercerita." kata Enji akhirnya.


"Apa Bang Erwin mau membantu Farhan mencari Sheila?" tanya Kenan pada Enji.


"Oh coba saja mau kupelintir tangannya." Enji mulai emosi.


"Ish Kak Enji ini, cemburu sekali sama Sheila." Kenan terkekeh dibuatnya.


Tini datang membawa rujak yang diminta Kiki. Senang sekali Nona karena Tini membawa dan jumlah yang besar. Kenan langsung saja senyum-senyum teringat rujak buatan Nona dan pertama kali Nona menyuapkan makanan padanya. Siapa yang sangka sekarang malah Kenan yang lebih sering menyuapi Nona. Siapa juga yang sangka jika Nona sekarang sudah menjadi istri Kenan.


"Lihat rujak senyum-senyum." komentar Kiki melihat ekspresi Kenan.


"Ingat rujak buatan Nona." kata Kenan terkekeh.


"Bukan itu, kamu ingat Nona menyuapi kamu saat pedekate." kata Kiki terbahak, ingat video yang dikirim Raymond pada group mata-mata yang kini sudah dibubarkan.


"Aih kenapa Kak Kiki tahu?" Nona jadi bersemu merah. Malu sekali, apalagi ada Enji diantara mereka.


"Hahaha pasti Raymond." tebak Kenan yang sudah tidak bisa menuduh yang lain. Sudah pasti yang jahil hanya Raymond. Mereka pun menikmati rujak buatan Tini.


"Ken, Kak Eja tadi bilang Mobil Nanta akan diantar sore ini." kata Kiki memberikan informasi pada Kenan.


"Bagaimana caranya supaya Nanta tidak tahu, ulang tahunnya baru besok. Berarti tidak surprise." kata Kenan bingung sendiri.


"Kalau besok diantar khawatir Nanta sudah keasrama." kata Kiki sambil menoleh kebelakang khawatir Nanta keluar kamar.


"Antar saja kerumahku, besok pagi kita kasih Nanta surprise." kata Enji memberi ide.


"Begitu saja ya Ken?" Kiki meminta persetujuan Kenan.


"Tidak merepotkan Kak Enji?" tanya Kenan pada Enji.


"Dengan senang hati, malah akan kutambah kado Nanta besok." kata Enji tertawa.


"Jangan bilang kadonya Wilma." kata Kenan membuat Enji terbahak.


"Tidak, Wilma kado setelah lulus kuliah nanti." jawab Enji membuat Kenan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Nanti saat serah terima kendaraan, Kak Enji Dan Kiki saja ya, karena Nanta pasti menempel padaku dan Nona." kata Kenan disambut anggukan keduanya. Nona menyimak saja, ia sudah tahu rencana Kenan membelikan Nanta Mobil saat berusia tujuh belas tahun, mengingat Nanta sudah rusuh ingin menyetir sendiri. Setelah berdiskusi dengan Tari diputuskan membelikan kendaraan hatchback yang sangat Nanta idamkan, sesuai dengan kebutuhan anak muda jaman sekarang dan yang pasti irit bensin supaya uang jajan tidak berkurang banyak.


Sore hari sepulang kerja Reza langsung kerumah Erwin karena Kiki sudah menunggu disana. Kendaraan Nanta disambut oleh Reza dan sahabatnya, mereka juga yang memilihkan dan mendandani Mobil tersebut. Benar-benar persiapan memberi kejutan untuk Nanta dilakukan secara maksimal.


Ribut sekali suasana dirumah Erwin, semua dengan senang hati meluangkan waktu, Kenan jadi terharu sendiri. Kehidupan Abangnya sungguh menyenangkan, dengan sahabat yang begitu kompak sudah seperti keluarga sendiri. Mereka rela untuk repot satu sama lain. Kenan sungguh bersyukur, Walaupun sahabatnya hanya Sheila dan Lutfi. Sheila malah membuat kehidupannya sempat kacau, sementara Lutfi di negara seberang.


"Beres, tinggal besok pagi kita giring kesana." kata Reza pada Kenan setelah tiba dirumah.


"STNK sudah jadi Bang?" tanya Kenan pada Reza.


"Belum, tiga minggu lagi. Pas lah Nanta juga masih di asrama kan?"


"Iya, kalau sudah jadi bisa tidak konsen diasrama." kata Kenan terkekeh.


"Mana Nanta?" tanya Reza pada Kenan.


"Lagi berenang, ditemani Nona."


"Nona lagi hamil kan? jangan dikasih berenang dulu." Reza tampak khawatir.


"Iya tadi juga aku ikut menemani Nanta."


"Panggil saja Nona, biarkan Nanta berenang sendiri. Aku khawatir Nona tidak menurut." kata Reza memberi perintah pada Kenan. Mungkin kekhawatiran Reza berlebihan, tapi begitulah Reza sangat menjaga dan memperhatikan seluruh anggota keluarganya. Kenan terkekeh meninggalkan Abangnya dan memanggil Nona masuk.


"Nanta, Kak Nona dipanggil Ayah, kamu sendiri ya." teriak Kenan pada Nanta.


"Iya." jawab Nanta sambil berenang dengan gaya punggung, karena tadi diminta mengawasi Nona sambil berenang, maka Nanta menggunakan gaya itu supaya bisa terus melihat kearah Nona.


"Ada rujak di meja ya Nan." kata Nona beranjak dari kursi santai dipinggiran kolam.


"Ada puding tidak sama es krim?" tanya Nanta.


"Tidak tahu, Nanti aku belikan di mini market." jawab Nona setengah berteriak karena Nanta menjauh.


"Asiiik, pakai ojek online saja, Kak." Nanta ikut mengeraskan suaranya.


"Iya." jawab Nona segera berlalu karena Kenan sudah merangkul dan mengajak Nona masuk kedalam rumah. Reza yang melihat dari sofa ruangan keluarga tersenyum bahagia melihat kehidupan Kenan saat ini. Ia benar-benar ikut merasakan kebahagiaan adiknya, terlebih sebentar lagi jika Allah mengijinkan, Reza akan punya keponakan baru.