
"Jam sepuluh sudah sampai di Unagroup, Nan?" tanya Mike pada Nanta via telepon saat sarapan pagi.
"Jam sepuluh Pa, sampai di Unagroup?" Nanta mengulang pertanyaan Mike pada Kenan.
"Iya." jawab Kenan sambil menyesap Jus yang dibikin Nona untuknya.
"Iya tuh, lu bukannya ditelepon Aditia ya, malah tanya gue lagi." kata Nanta pada Mike.
"Iya tapi kemarin waktu dia telepon gue lagi di jalan, jadi gue iya-iya saja, tidak konsen dia bilang apa." jawab Mike tertawa.
"Dijalan?"
"Iya."
"Sama Seiqa?"
"Eh tahu saja." langsung terbahak.
"Beneran mabok Seiqa lu, orang telepon jadi tidak konsen." Nanta gelengkan kepalanya sambil tertawa. Mike juga ikut tertawa mendengar ucapan Nanta.
"Ya sudah sampai bertemu di Unagroup ya." kata Mike kemudian.
"Oke."
"Eh Nan, apa-apaan tagar pencinta Nanta." goda Mike pada sahabatnya.
"Bodo amat Mike." jawab Nanta tertawa. Mereka pun akhiri teleponnya.
"Aban Leyi udah tau beum." tanya Balen pada Nanta.
"Tahulah pasti." jawab Nanta terkekeh.
"Tanain duu Aban, tatut ndak tonsen Taya Aban Maik." pinta Balen pada Abangnya.
"Tidak usah, semua kan sudah dihubungi sama Om Aditia." kata Nanta pada adiknya, kemudian lanjut sarapan.
"Papon aja deh tanain Aban Leyi." pintanya pada Kenan.
"Papon tidak tahu nomor Larry." jawab Kenan tersenyum.
"Aban, tasih tau Papon deh." katanya pada Nanta.
"Sama saja Singkong Rebus. Leyi tidak mau ikut syuting." kata Nanta bercandai Balen.
"Aban, janan suta boon. Dosa tau." katanya ingatkan Nanta. Semua jadi tertawa mendengar Balen yang sudah bawa-bawa Dosa.
"Talo dosana banak masuk neaka, ih tatut." langsung bergidik ngeri. Nanta mengacak anak rambut Balen.
"Oke ustadzah cilik." jawab Nanta sambil tertawa.
"Utajah ladi, Baen diceitain guu naji." katanya pada Nanta.
"Iya, ini Larry nih bicara sendiri. Mau Video atau telepon?"
"pideo aja ya, tan tauan udah mandi apa beum." katanya Konyol. Nanta langsung menekan tombol Video pada nomor Larry, tidak lama muncul wajah Larry yang cengengesan.
"Duh bosan deh kalau pagi harus lihat muka Leyi." kata Nanta memandang Balen.
"Wah Aban Nanta kok begitu sih?" kata Larry pada Baen.
"Baen ndak bosyen tok." katanya pada Larry.
"Leyi yang bosan tuh kamu telepon terus tiap pagi." kata Nona pada Balen.
"Eman iya?" tanya Balen pada Larry.
"Tidak dong, masa bosan sih sama singkong cantik Aban." kata Larry tertawa.
"Benei?" Balen memastikan.
"Asal tidak telepon tiap hari." kata Nanta pada adiknya, tidak enak hati selalu saja tiap sarapan pagi Balen minta hubungi Larry. Seperti morning call saja.
"Ditu ya Aban Leyi, ndak boeh tepon tiap hai?" tanya Balen dengan wajah sedih.
"Kalau Aban Nanta sibuk, tidak usah telepon tiap hari. Tapi kalau tidak sibuk boleh kok." jawab Larry tertawa.
"Baen tan ndak bisa tepon Aban Leyi sendiian." keluh Balen karena tidak punya handphone.
"Yah kasian deh." Larry tertawa melihat Balen bersungut.
"Papon, Baen tapan dedekna sih?" tanya Balen pada Kenan.
"Bukannya sekarang sudah gede?" Kenan balik bertanya.
"Beum, Papon ndak tasih Baen henpon sih. Talo tasih henpon tan udah dedek." jawab Balen sementara Larry tertawa mendengarkan Balen dan Papon.
"Mau apa punya handphone?" tanya Nona pada Balen.
"Mo tepon Aban Leyi lah." jawab Balen membuat semuanya tertawa.
"Talo Baen udah puna uan boeh ndak bei henpon?" tanyanya lagi pada Papon.
"Tidak jadi beli hotel?" tanya Kenan menggoda Balen.
"Oh iya. Yah Aban Leyi, Baen ndak bisa bei henpon deh." katanya membuat Larry senyum-senyum sendiri.
"Balen, kalau Abang Larry punya istri kamu tidak bisa ganggu Larry terus seperti sekarang loh." kata Nona pada anaknya. Larry tambah tertawa saja.
"Aban, janan puna isti duu ya." kata Balen membuat semuanya tertawa geli.
"Kenapa memangnya?" tanya Larry menahan tawa.
"Nanti Baen ndak bisa tepon Aban tan, ditu ya Mamon."
"Iya tidak bisa seperti sekarang." jawab Nona menaikkan alisnya pada Balen.
"Yah Balen dulu bilang Aban, jangan pacaran terus, tapi punya istri." Larry ingatkan Balen pernah bilang begitu.
"Iya sih, tapi dimana don, nanti Baen ndak boeh tepon."
"Makanya kan Aban bilang, Balen saja yang pilihkan untuk Abang yang dirumah Om Deni."
"Oh yan itu."
"Iya."
"Mana tatana?"
"Tidak tahu kemana." Larry terkekeh.
"Aban, istina Baen aja talo udah dedek." kata Balen membuat Nona berteriak.
"Balen, ya ampun." Kenan menepuk jidatnya.
"Singkong rebusss!!!" Nanta juga ikut berteriak, membuat Balen mengernyitkan dahinya bingung. Dania terkikik geli.
"Masih kecil sudah mau jadi istri. Duh Papa, masukkan pesantren saja ini si Balen." kata Nona langsung panik. Sementara Larry terbahak mendengar ucapan Balen.
"Aban Leyi janan upa nanti temuan ya. jam sepuuh." Balen ingatkan Larry seperti tidak terjadi apapun, sementara Nona masih saja rusuh pada Kenan.
"Iya." jawab Larry cengar-cengir.
"Mateng nih adek gue. Buruan nikah Leyi, dilamar bocah kan lu." kata Nanta sebelum akhiri teleponnya dengan Larry. Larry jadi terbahak mendengarnya.
"Matanan Baen mana Mamon?" pintanya pada Nona santai seperti tidak ucapkan apapun.
"Masih ingat makan?" tanya Nona pada Baen.
"Mamon sih, matanan Baen ndak disiapin." sungutnya pada Nona.
"Sini Abang suapi." kata Nanta pada Balen.
"Ndak usah, Baen bisa sendiian." jawabnya kalem, mulai menyendok nasi santai tanpa beban. Sementara Kenan gelengkan kepala sambil terkekeh, tidak menyangka gadis kecilnya secentil ini.
"Saya tidak temani kalian ya, hari ini banyak pertemuan." kata Kenan pada Nona.
"Nanti kontraknya bagaimana?" tanya Nona pada Kenan.
"Kamu saja yang tanda tangan. Saya sudah baca isinya. Kalau kamu ragu bilang saja tanda tangan saya menyusul." kata Kenan pada Nona.
"Nanti aku baca ulang deh." kata Nona pada suaminya. Kenan anggukan kepalanya.
"Boy, PR kamu berat tuh, bantu Papa dan Mamon jaga Balen. Repot juga masih kecil sudah begini." Kenan terkekeh.
"Napa sih Papon, epot epot?" tanyanya konyol.
"Kamu bikin repot tahu tidak singkong rebus?" tanya Nanta pada adiknya.
"Eman Baen napain? matan sendiian, pate baju sendiian, pate sepatu sendiian, tan udah ndak bitin epot." kata Balen pada Nanta.
"Ma'am ndak nompol ladi don Baen." katanya bangga pada Nanta.
"Tapi masih ngedot." Nanta tertawakan Balen.
"Mamon, Baen ndak nedot ladi tan?" minta suaka Mamon.
"Iya. Balen nanti sekolahnya di pesantren saja ya, biar pintar mengaji." kata Nona pada Balen.
"Boeh aja." jawab Balen santai.
"TK saja belum, mau masukkan pesantren saja." Kenan gelengkan kepalanya.
"Tidak sekarang Papa, nanti kalau Balen SMP." kata Nona pada Kenan.
"Nanti saja kita pikirkan." kata Kenan menghela nafas, meskipun ucapan Balen hanya spontanitas khas anak-anak tapi Kenan khawatir juga. Balen terlalu ke-Larry-an.