
"Latihan, ya latihan saja, kenapa mesti tunggu gue jatuh cinta sih?" tanya Larry pada sahabatnya.
"Ini kan biar lebih seru." jawab Nanta tersenyum pada Larry.
"Nanti saja pulang dari S'pore kita latihan, bagaimana?" ajak Larry pada sahabatnya.
"Ah betulkan pengakuan secara tidak langsung." Mike terkekeh, Larry gelengkan kepalanya.
"Gue sekarang memang sudah tidak cari pacar, mau cari istri saja." jawab Larry tersenyum pada sahabatnya, kemudian menghela nafas panjang.
"Jadi mau melamar Rumi secepatnya?" tebak Doni, Larry kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak kejar target juga, saya." Larry terkekeh menyentil jidat Doni dengan telunjuknya.
"Jalani sajalah, biarkan mengalir, yang pasti gue sudah tidak mau pacaran lagi, paham?" tegas Larry tengil. Mike langsung saja pikirkan nasib percintaannya dengan Seiqa.
"Jadi latihan satu jam nonstop tetap jalan?" Nanta memastikan pada yang lain.
"Tetaplah, ini demi Indonesia, untuk negara tidak boleh sebentar kalah sebentar menang, kita harus menang terus." jawab Larry bergaya ala patriot. Nanta dan Doni ikutan mengepalkan tangannya ala patriot.
"Oke setelah dari S'pore latihan, deal?" Nanta mengulang rencana mereka.
"Deal!!!" jawab ketiganya semangat. Dania tersenyum melihat suami dan sahabatnya begitu semangat.
"Begitu tuh kerjaan Abang dan sahabatnya, latihan saja dijadikan permainan." Winner tertawa.
"Kamu tidak mau jadi olah ragawan, Dek?" tanya Dania pada Winner.
"Tidak, olah raga hanya untuk sehat saja kalau aku." jawab Winner.
"Kita mencontoh Kak Rumi saja deh." kata Dania pada Winner.
"Nah iya, karena kita akan terusi bisnis Papa, maka strategy Kak Rumi perlu aku ikuti. Aku akan kuliah di kampus yang sama seperti Kak Rumi, supaya bisa ikut ambil program akselarasi." Winner langsung saja susun rencana, dua tahun lagi ia akan jadi mahasiswa.
"Siapa tahu disekolah sekarang kamu bisa lompat kelas." kata Lucky pada Winner.
"Tidak mimpi seperti itu juga sih." jawab Winner terkekeh.
"Aku mau jadi composer saja." Lucky berhayal.
"Semangat Lucky. Tapi Papa butuh kamu." Dania mengingatkan.
"Sudah ada Bang Nanta dan Winner." jawab Lucky seenaknya.
"Abang banyak urusannya, sebaiknya kamu persiapkan diri." tegas Dania pada adiknya.
"Kakak tidak mendukung aku." dengus Lucky kesal.
"Bukan tidak mendukung, bisa contoh Abang Nanta juga, kamu lihat saja sekarang Abang jalani hobby basketnya sambil bekerja di Warung Elite." Dania memberikan contoh pada Lucky.
"Iya, masih kuliah pula, bagaimana atur waktunya, belum lagi harus latihan Basket." gumam Winner masih terdengar oleh Lucky dan Dania.
"Kembali Ke management waktu." kata Dania terkekeh.
"Jadi aku tetap harus persiapkan diri untuk bisnis ya?" tanya Lucky meringis.
"Tentu saja, selain Papa, Mama juga pasti minta kita bantu perusahaan Opa. Kalaupun tidak terjun langsung kita bisa bantu awasi." kata Winner pada adiknya.
"Aku masih terlalu kecil untuk dibebani seperti ini." keluh Lucky langsung merebahkan kepalanya di meja. Dania tertawakan Lucky adiknya.
"Kalau merasa terbebani jangan dipikirkan, jalani yang sekarang saja bermusik dan sekolah yang benar." kata Dania pada Lucky.
"Iya jalani saja hobby mu yang sekarang." Winner berusaha memaklumi.
"Boleh saja, dari pada kamu stress sendiri pikirkan harus jalani bisnis keluarga." Winner tertawakan adiknya ini.
"Kalau seperti ini kamu tidak seperti Abang loh." Winner menggoda Lucky yang selalu ingin jadi Abang. Dania langsung saja tertawakan keduanya.
"Sayang, ayo. Kita lihat Antra as friend." Nanta mengulurkan tangannya pada Dania. Saking asik bicara dengan kedua adiknya, Dania sampai tidak sadar Nanta sudah berdiri disampingnya.
"Mas Nanta sudah disini saja." Dania terkekeh menyambut uluran tangan suaminya.
"Kalian dari tadi asik sendiri." kata Nanta tersenyum.
"Kebetulan kita ada obrolan seru, Bang." jawab Winner pada Nanta.
"Jadi bagaimana wawancara dengan Rumi sudah selesai?" tanya Nanta pada Winner sementara sebelah tangannya. fokus membantu Dania berdiri dari bangkunya.
"Sudah. Dia wanita keren." kata Winner acungkan jempolnya. Nanta terkekeh mendengarnya.
"Sudah siapkan pertanyaan untuk Antra As Friend?" tanya Nanta lagi.
"Sudah, aku liput dua kali berarti, saat latihan hari ini dan saat mereka dipanggung nanti hari jumat." jawab Winner, Nanta anggukan kepalanya.
"Bang, apa Abang waktu kecil merasa terbebani karena pikirkan harus urus perusahaan keluarga?" tanya Lucky tiba-tiba.
"Tidak, waktu kecil Abang hanya fokus latihan basket dan fokus sekolah." jawab Nanta apa adanya.
"Berarti aku sekarang fokus bermusik dan sekolah saja ya." kata Lucky pada diri sendiri.
"Iya kan tadi Kakak juga bilang begitu." kata Dania pada Lucky.
"Tadi kakak bilang aku harus persiapkan diri." Lucky balikan ucapan Dania.
"Sekolah yang benar itu kan bagian dari persiapkan diri." dengus Dania karena Lucky tidak mengerti maksudnya.
"Oke." jawab Lucky tersenyum senang. Mereka keluar ruangan ikuti ketiga sahabat Nanta.
"Loh Papa juga ada disini?" Dania langsung heboh saat keluar ruangan melihat Papanya sedang duduk manis bersama mertuanya, ditemani Ayah Eja dan sahabat Ayah.
"Mama bilang adikmu ada disini, kebetulan Papa Kenan ada urusan kemari, Papa ikut deh." kata Micko pada putrinya.
"Langsung saja keruang latihan, Nan. Ada Cyla disana, Jonathan dan Wari juga ada." kata Reza pada Nanta. Nanta pun mengarahkan rombongannya menuju ruang latihan.
Nanta memasuki ruangan diikuti sahabat dan keluarganya, tampak Antra as friend sedang sibuk dengan alat musiknya.
"Nanta!!!" teriak salah satu dari mereka begitu melihat Nanta dan sahabatnya.
"Ish dia kenal Abang?" tanya Winner kembali kagum dengan Abangnya.
"Selamat datang untuk pada Tim Nasional Basket Ball Indonesia." langsung saja vokalis bicara menyambut Nanta dan sahabatnya, keempatnya terkekeh melihat kelakuan vokalis Antra As Friend.
"Ini persembahan dari kami untuk para atlet kebanggaan negara kita. Eh kalian datang saat kami performance nanti kan?" tanya vocalist dari atas panggung, sementara para pemusik sudah mulai memainkan alat musik yang sudah mereka pegang sedari tadi.
"Datang dong." jawab mereka bersamaan. Mulailah Antra As Friend beraksi memainkan lagu yang mereka akan bawakan pada hari jumat nanti.
"Ayo duduk." ajak Nanta menggandeng tangan istrinya.
"Sok banget tidak menyapa kita." dengus Cyla kesal, ia perhatikan Nanta dan sahabatnya sedari tadi, begitu masuk langsung disambut oleh musisi, seperti orang terkenal saja.
"Wari lu rekam tuh Bos Ganteng sama gengnya, bikin Note hari jumat mereka juga hadir acara di cabang selatan." bisik Jonathan pada Wari.
"Siap." Wari langsung arahkan kamera handphonenya pada Nanta dan rombongannya dan juga Antra As Friend yang sedang berlatih. Langsung ia sebarkan di media sosial penggalan video tersebut lengkap dengan catatan yang diminta Jonathan, tidak lupa hastag Pencinta Nanta dan Pencinta Basket kembali beredar.