I Love You Too

I Love You Too
Surat Kuasa



"Sibuk apa saja dari pagi, aku telepon kamu beberapa kali tidak diangkat?" tanya Nanta dalam perjalanan mengantar Dania pulang.


"Maaf Mas, Aku ke dokter psikiater tadi. test darah dan EKG, konsultasi juga. Terus langsung ke Travel, begitu selesai langsung telepon Papa, terus akhirnya kita sudah bertemu di restaurant." jawab Dania detail.


"Mau jelaskan ke Mas Nanta tadi tidak enak, ada Papa dan Papon." kata Dania lagi, Nanta menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Nanta fokus menyetir.


"Nanti dikabarkan lewat Papa, kalau ternyata tidak ada penyakit lain, baru deh pengobatan kesehatan mentalku, ternyata dampak dari peristiwa dalam kehidupan, bikin aku stress berat jangka panjang, jadi mengalami kecemasan." Dania terkekeh.


"Bisa sembuh kok, selain pengobatan dokter kamu juga mesti banyak berzikir dan bersyukur, itu salah satu obatnya." kata Nanta menoleh sekilas pada Dania yang sedang memandang Nanta.


"Iya." jawab Dania saat mereka beradu mata.


"Cakep banget sih " celutuk Nanta spontan. Dania jadi tertawa sambil menepuk bahu Nanta dengan bantal kecil dipangkuannya. Nanta jadi ikut tertawa.


"Travelnya bagaimana?" tanya Nanta lagi.


"Tadi sih sudah aku bilang kemungkinan besar aku berangkat, untuk pastinya ditunggu sampai akhir bulan ini." jawab Dania.


"Om Micko mengijinkan?" tanya Nanta ingin tahu.


"Papa minta aku reschedule, dia mau aku sehat dulu." jawab Dania.


"Aku juga maunya begitu, kamu sehat dulu, baru deh traveling lagi." Nanta kembali menoleh pada Dania.


"Aku sebenarnya sehat kok, serangan paniknya itu hanya kambuh jika berhubungan dengan masa lalu dan Papa." Dania menjelaskan.


"Nah masalah aku tidak bersosialisasi itu juga efek dari situ." kata Dania kemudian.


"Bisa begitu ya?"


"Bisa, nih contohnya aku." Dania tertawa membuatnya terlihat bertambah cantik.


"Telepon Mama sudah bisa belum jam segini?" tanya Nanta pada Dania.


"Sudah, masih sarapan biasanya, mau coba?" Dania balik bertanya, Nanta menganggukkan kepalanya.


Dania segera menghubungi Mamanya melalui sambungan Video.


"Tumben pagi-pagi sudah telepon." terdengar suara bantal Maya.


"Mama baru bangun?" tanya Dania.


"Sudah tadi urus Jack yang pagi sekali sudah ke kantor, selesai urus anak-anak sekolah, Mama tidur lagi deh." jawab Maya malas-malasan.


"Aku lagi sama Mas Nanta." pamer Dania mengarahkan kamera pada Nanta.


"Tambah ganteng saja, Nan." celutuk Maya saat melihat Nanta menyetir.


"Hahaha bisa saja Tante." Nanta terbahak.


"Ada kabar apa?" tanya Maya pada Nanta.


"Kabar? oh mohon doanya Tante, aku mau Training Camp di Amerika selama satu bulan." kata Nanta masih fokus menyetir.


"Kapan berangkatnya?" tanya Maya tertarik.


"Awal bulan Tante, dua minggu ke depan Training Camp dulu di Indonesia." kata Nanta.


"Waduh Dania tinggal dong." Maya terkekeh menggoda Dania.


"Ih Mama apa sih." Dania jadi tertawa.


"Setelah dari Amerika mau bertanding dimana?" tanya Maya, "Siapa tahu bertanding di London, bisa bertemu kita." katanya lagi.


"Sayangnya bukan di London, Tante. Di Uni Emirat Arab." jawab Nanta terkekeh.


"Waduh sibuk terus, keluar negeri. Bawakan Tante oleh-oleh kalau kamu ke London nanti ya." kata Maya terkekeh.


"Tante mau apa?" tantang Nanta, tentu saja membuat Maya senang.


"Nanti di Amerika belikan Tante produk sana ya apa saja, yang penting khas Amerika, di Uni Emirat Arab biasanya parfum deh Nan." kata Maya, membuat Dania berdecak.


"Mama apa sih, minta-minta begitu." tegur Dania tidak suka.


"Loh sama calon menantu sendiri, Mama juga tidak minta yang mahal, yang terjangkau sama Nanta saja." eits calon menantu, Nanta jadi terkekeh.


"Sudah direstui kah Tante, aku belum punya rumah loh, kalau menikah itu juga pasti menumpang dulu di rumah Papaku." jawab Nanta mengingat syarat yang dilakukan Maya.


"Tidak masalah Nanta, kamu mau ngontrak, mau tinggal sama orang tuamu atau mau kos dirumah Nek Pur pun, selama Dania senang dan bisa hidup layak, Tante tidak masalah." Ups Nanta bingung, Tante habis makan apa ini, kenapa tidak sejudes kemarin, seperti pertama kali mereka bicara.


"Berarti kami bisa menikah dong Tante, tapi Mama Papaku cuma bisa melamar secara virtual, tidak bisa ke London, karena adik-adikku masih kecil." Nanta menjelaskan pada Maya.


"Kapan mau menikah, memangnya? Kalau berdua-duaan begini terus lebih baik secepatnya, karena Tante tidak bisa mengawasi Dania. Mau titip kamu juga bisa bahaya kalau belum halal."


"Iya Tante, tadinya mau sebelum Training Camp jadi Dania bisa dijaga Papa dan Mamon, tapi tidak yakin juga bisa apa tidak karena harus urus administrasi juga kan." Nanta sedikit berpikir.


"Minta Om Peter saja yang nikahkan kamu, Dan." kata Maya membuat Dania terbelalak.


"Kenapa jadi Om Peter. Dari pada Om Peter lebih baik aku cari Papa." tolak Dania tegas.


"Dia kan saudara Papamu." kata Maya.


"Kenapa harus saudara Papa yang nikahkan aku, kalau Papaku masih hidup." wajah Dania tampak gusar, Nanta menepuk tangan Dania mengingatkan agar Dania tenang.


"Kamu tidak bisa bertemu Papamu, Dan." kata Maya sesabar mungkin pada anak gadisnya.


"Kenapa tidak bisa bertemu Papa tapi bisa bertemu Om Peter. Papaku Micko ma, bukan Peter. Kalau memang tidak bisa bertemu Papa, aku menikah pakai Wali Hakim saja. Mintakan pada Om Peter surat persetujuan dari Papa agar aku bisa menggunakan Wali Hakim." Dania tidak bisa menahan emosinya.


"Kamu tidak mengerti." Maya menggelengkan kepalanya.


"Kalau Mama jelaskan masalahnya dimana, aku pasti mengerti."


"Papa kamu sudah punya keluarga sendiri dan tidak bisa diganggu." jawab Maya.


"Alasan macam apa itu, aku akan cari Papa, Ma atau Mama tidak akan pernah melihat aku lagi."


"Dania kamu jangan nekat, jangan pernah cari Micko ya, kamu tidak mengerti situasinya. Oke nanti Mama mintakan surat kuasa dari Papamu. Ingat ya jangan pernah mencari Papa." pesan Maya pada Dania.


"Iya aku tidak akan cari Papa, tapi jangan pernah minta aku berurusan sama Om Peter. Aku tidak pernah suka sama Om Peter dari dulu."


"Nanta, pastikan Dania tidak mencari Papanya ya." kata Maya pada Nanta.


"Iya Tante, kalau tidak sengaja bertemu bagaimana Tante?" tanya Nanta, karena memang selama ini Dania tidak pernah mencari Papanya tapi mereka tidak sengaja bertemu, eh dipertemukan.


"Kalau memang akhirnya Dania bertemu Micko secara tidak sengaja, mungkin memang sudah saatnya mereka bertemu. Banyak hal yang tidak bisa Tante ceritakan pada Dania." Maya menghela nafas.


"Aku selalu menunggu penjelasan dari Mama." kata Dania.


"Kapan kalian akan mau menikah?" tanya Maya.


"Karena sudah ada restu, aku diskusikan lagi dengan keluargaku, Tante. Sekalian menunggu surat kuasa dari Papa Dania." jawab Nanta mantap.


"Nanti suratnya dikirim ke alamat mana?" tanya Maya. Nanta menyebutkan alamat rumah Papa.


"Wow Nanta, orang tua kamu tinggal disini ya, itu kan perumahan elite. Ok lah kalian cepat saja menikah." keluar lagi matrenya, baru saja Nanta kagum karena Maya sangat bijaksana.