I Love You Too

I Love You Too
Tua produktif



"Kita ke Semarang besok, kamu kuat kan?" tanya Kenan begitu keluar dari ruangan dokter. Banyak hal yang harus Kenan selesaikan, belum lagi kepindahannya ke Jakarta tinggal menghitung hari.


"Apa tidak bisa Ray saja sendiri?" tanya Nona pada suaminya.


"Justru ini peralihan antara saya dengan Ray." jawab Kenan menepuk punggung tangan istrinya. Inginnya tidak berangkat Ke Semarang, mengingat kondisi Nona masih hamil muda, tapi pekerjaan tidak bisa ditunda.


"Sayang, kenapa tiba-tiba kamu ingin ke dokter kandungan tadi?" tanya Kenan penasaran. Nona tidak menunjukkan gejala umum sedang hamil, seperti mual, muntah-muntah atau lemas.


"Tante Mita datang bawa testpack." jawab Nona yang juga masih belum percaya bahwa ia sedang hamil. Kenan mengalihkan pandangannya pada Mita.


"Terima kasih Mbak, saya bahkan tidak terpikir kalau Nona hamil." kata Kenan pada Mita, kemudian tertawa karena mereka memakai parfume yang sama sekarang.


"Kenapa tertawa?" tanya Baron.


"Kalau peluk saya, pasti Abang kira Mbak Mita." kekeh Kenan mencium bajunya sendiri.


"Mas Kenan tidak suka baunya?" tanya Nona yang sekarang benar-benar terlihat kalem.


"Kalau kamu suka, saya harus suka." kata Kenan mengacak anak rambut Nona.


"Jadi beli baju ya Mas, kamu tadi janji loh. Papa dan Tante Mita mau ikut atau pulang?" tanya Nona pada keduanya.


"Mau beli baju dimana? online?" tanya Mita mengingat tadi parfumenya sudah dibeli online.


"Diboutiqe langganan saja, tidak usah di Mal. Nanti Nona capek." jawab Kenan pada Mita.


"Warnanya atau modelnya sih yang kamu suka dan tidak emosi?" tanya Baron, ingin juga membeli baju yang sama agar anaknya nanti tidak kesal kalau bertemu dengannya.


"Mas Baron mau beli baju juga?" tanya Mita terkekeh melihat gaya suaminya.


"Hu uh. Supaya Nona tidak kesal."


"Aku cuma kesal sama Mas Kenan, bukan sama Papa." kata Nona pada Papanya.


"Kalau suamimu ke luar kota kamu tidak ikut pasti Papa dan Tante Mita yang jaga kamu." kata Baron percaya diri.


"Sebentar lagi aku kan sudah pindah ke Jakarta." jawab Nona keluar judesnya.


"Sama Papa tidak boleh begitu, nanti ditiru siunyil." kata Kenan sambil berbisik dan mengusap perut Nona yang masih rata. Nona menghentikan debatnya dengan Papa Baron. Sebenarnya bukan Nona tapi Papa Baron tidak lagi menyahuti omongan Nona.


"Sekarang sudah jam Lima sore, boutique sudah tutup mana bisa belanja." kata Baron melihat jam dipergelangan tangannya.


"Nanti saja pulang dari Semarang kita beli bajunya. Masih ada baju yang lain yang kamu bisa terima kan?" Kenan meminta pendapat Nona. Mereka semua sibuk kasak kusuk di koridor rumah sakit, menyita perhatian pengunjung yang ada. Setelah sadar diperhatikan buru-buru Mita merangkul Nona untuk berjalan lebih dulu.


"Bagaimana perasaanmu, menyambut adiknya Nanta?" kata Baron dengan wajah jenaka. mereka berjalan menyusul Mita dan Nona yang sudah lebih dulu. Kenan menarik nafas panjang.


"Tiba-tiba merasa insecure ya, gamang juga. Kenapa ini ya?" tanya Kenan pada Baron.


"Usia mungkin, pada saat baby remaja atau dewasa, bagaimana supaya saya tidak terlihat kurang gaul dimata my baby nanti, mungkin saja saya sudah pensiun atau sakit-sakitan. Mungkin dia lebih nyambung sama Nanta dari pada sama saya. Bisa tidak Nanta memperhatikan adiknya? Mungkin... ah saya jadi tidak percaya diri begini ya?" Kenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung sendiri.


"Ish saya baru lihat seorang Kenan linglung begini. Kamu punya Allah kan? kalau Allah kasih berarti Allah sudah menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Kalau kamu berpikirnya begitu, nanti malah kejadian apa yang kamu khawatirkan. Jadilah tua sehat dan produktif jadi anakmu bangga sama kamu. Begitu saja insecure, lagi pula mungkin saja setelah ini lahir, Nona akan hamil lagi anak kedua kalian." Baron menepuk pundak Kenan menenangkan menantunya yang ternyata menutupi rasa gamangnya sedari tadi, tapi kalimat akhirnya membuat Kenan kembali berpikir.


"Abang kalau tiba-tiba Mbak Mita hamil juga akan merasakan apa yang saya rasakan." kata Kenan pada Baron sambil nyengir tipis-tipis.


"Aih kami sudah sepakat tidak mau punya anak."


"Kenapa begitu?"


"Yang benar saja nanti anakku lahir langsung dipanggil Om atau Tante sama anak kamu. Terus saya sudah pakai tongkat anak saya baru mau masuk kuliah, itu juga kalau panjang umur." kata Baron menyampaikan alasannya.


"Hahaha sama saja Abang juga insecure kalau begitu, seperti tidak punya Allah saja." Kenan terbahak membalikkan ucapan Baron padanya tadi.


"Bukan begitu, saya sudah punya Deni, Samuel, Nona dan Mita sudah punya Vicky. Rasanya mereka berempat sudah cukup untuk kami."


"Oh Iya, kapan Vicky akan dipertemukan dengan anak-anak Abang? Mereka harus dikenalkan. Saya lupa bilang Nona kalau Mbak Mita juga punya anak yang masih kuliah."


"Nanti kalau Vicky kembali Ke Indonesia, akan kami kenalkan. Saya juga baru bertemu sekali saat hari pernikahan kami. Selebihnya hanya video call. Apa mereka bisa akur ya?" tanya Baron pada Kenan.


"Vicky anak yang menyenangkan, tidak banyak gaya, bersahaja, seperti Mbak Mita. Nanta suka berteman dengan Vicky. Malah sempat berpikir ingin kuliah ditempat Vicky nanti. Tapi sekarang sejak basket berubah jadi ingin kuliah di Jakarta." Kenan terkekeh.


"Saya rasa Nona akan akrab dengan Vicky seperti Nona akrab dengan Nanta." kata Kenan kemudian, gantian menenangkan Baron.


Tidak terasa mereka sudah tiba diparkiran, sementara Nona dan Mita menunggu didepan Mobil masing-masing.


"Seru sekali, bahas apa?" tanya Mita pada suaminya.


"Kenan menanyakan Vicky, kapan liburan ke Indonesia. Mau dikenalkan dengan. Nona dan yang lainnya."


"Siapa Vicky?" tanya Nona pada suaminya.


"Anak saya, Non. Diatas Nanta dua tahun, sekarang ikut Papanya ke Sydney sekalian kuliah disana. Sepertinya tahun ini tidak pulang ke Indonesia, karena ada acara apa gitu disana, saya lupa." Minta menjelaskan pada Nona tanpa ada yang ditutupi.


'Mas Kenan, kita tidak ada rencana ke Sydney kah? supaya bisa kenalan sama Vicky." tanya Nona semangat sekali menatap Kenan.


"Belum ada rencana. Nanti saya kalau anak kita sudah lahir." kata Kenan pada Nona.


"Nak, Papamu itu tadi..." Baron bicara sambil menatap perut Nona, tapi kalimatnya tidak selesai karena Kenan langsung membekap mulutnya.


"Jangan bicara yang tidak-tidak pada anak saya." kata Kenan dengan wajah ingin menerkam Baron. Ia tidak mau apa yang ia rasakan diketahui oleh istrinya. Malu sekali memikirkan umur yang tidak muda lagi.


Salahnya sendiri jatuh cinta dan menikah dengan gadis cantik yang usianya beda lima belas tahun. Kemarin-kemarin percaya diri saja, kenapa setelah Baby sedang on the way jadi sangat tidak percaya diri dan memikirkan yang tidak-tidak.


"Ayo pulang, ingat ya tua sehat dan produktif." kata Baron terkekeh bergaya ala binaragawan, Ia memasuki mobilnya diikuti Mita yang duduk disebelah tepatnya di bangku penumpang depan.