I Love You Too

I Love You Too
Sebentar



"Yo, berhentilah berpura-pura." kata Regina pada Mario saat menutup sambungan videocall bersama. Ia tak mengerti dengan sikap Mario yang selalu terlihat sangat sangat mesra di hadapan teman-temannya, tapi kembali dingin saat mereka hanya berdua. Walaupun mereka tidur dalam satu kamar, belum pernah sekalipun Mario menyentuhnya. Hal paling mesra yang dilakukan Mario terhadapnya, saat Mario memangkunya dikantor, dihadapan Kiki dan Reza.


"Berpura-pura bagaimana, Re?" tanya Mario sambil memainkan handphonenya.


"Ck.. sudahlah." Regina enggan berdebat. Segera berjalan keluar kamar meninggalkan Mario. Regina memaklumi keadaan mereka sekarang, menikah tanpa cinta.


Regina akui, ia saja masih suka memikirkan mantan pacarnya, bahkan menangisi nasib percintaan mereka yang harus kandas ditengah jalan. Bukan tak mensyukuri keadaan saat ini, tapi Regina juga tahu ada wanita lain yang Mario pikirkan, gadisnya yang menghilang tanpa jejak.


Tak sengaja Regina mendengar pembicaraan Mario via telepon dengan seseorang. Ia meminta orang tersebut mencari Liana sampai ketemu. Liana yang Regina tahu dari Mami gadis yang sangat Mario cintai dan lindungi. Yang membuat Mario selalu bersitegang dengan Papi dan Mami.


Maafkan aku, Re. Aku belum bisa sepenuhnya mencintaimu dan memperlakukanmu milikku seutuhnya, batin Mario sambil menatap Regina yang berjalan meninggalkannya.


Hati kecil Mario ingin sekali menyentuh Regina, ucapannya dihadapan Kiki dan Reza bukanlah main-main. Ia pun ingin segera memiliki keturunan. Tapi entah mengapa hasratnya untuk menyentuh Regina hilang ketika tiba-tiba ia teringat dengan Liana.


"Kamu masih memikirkan Liana, Yo. Kamu masih mencintainya." Regina kembali masuk kekamar, menyerahkan segelas air putih hangat pada suaminya. Sekesal apapun Regina pada Mario, ia tetap menyiapkan makanan dan minuman. Walaupun bukan Regina yang memasak.


Mario menyesap air putih yang diberikan Regina, kemudian meletakkan gelas diatas nakas. "Terima kasih." katanya pada Regina.


"Kasih aku waktu, Re. Aku hanya ingin memastikan Liana baik-baik saja."


"Terserah kamu saja tapi jangan membuatku bingung dengan perlakuan mesramu, seakan kamu mencintaiku." Regina kembali meninggalkan Mario dikamar, lalu berjalan menuju dapur. Melupakan keresahannya dengan mencari aktifitas. Biasanya Regina akan memanggil pelayan dirumah dan merepotkan mereka dengan meminta diajarkan memasak atau membuat kue. Kali inipun begitu, Regina menekan tombol didapur, tak lama seorang pelayan datang.


"Bisa dibantu Non?" tanya Neneng yang muncul dari pintu samping.


"Ajarkan aku membuat masakan kesukaan Mario." kata Regina pada Neneng yang selalu siap kalau Regina menekan tombol didapur.


"Biar aku yang mengajarkan, kamu istirahat saja Neng." kata Mario yang tiba-tiba menyusul Regina. Neneng pun menganggukan kepalanya dan bergegas meninggalkan majikannya.


"Kamu mau masak apa?" tanya Mario sambil membuka kulkas, mencari bahan apa saja yang bisa mereka olah.


"Aku belum tahu apa yang kamu suka." jawab Regina tak menyangka Mario akan menyusulnya kedapur.


"Aku suka apa saja, asalkan kamu suka." Mario mulai menggombal, membuat Regina memutar bola matanya malas.


"Jangan merayuku, aku tahu kamu merasa bersalah."


"Kita masak udang balado, kamu suka kan?" Mario tak menanggapi ucapan Regina. Dikeluarkannya Udang, cabai merah dan bumbu lainnya dari kulkas. Regina membantu Mario tanpa berkata-kata.


"Tolong ambilkan sayur, Re. Pilihkan saja yang cocok dengan udang balado." kata Mario yang sedang mengolah cabai dan bumbu dengan choper. Ia mulai menggoreng udang, sedangkan Regina sibuk menyiangi kangkung. Mereka memasak bersama tanpa banyak bicara. Masing-masing berbicara dalam hati menanggapi apa yang ada didalam pikiran mereka.


Cah kangkung dan udang balado sudah tersaji dimeja makan. Mengagumkan, seorang Mario bisa memasak, dan rasanya pun tak kalah dengan yang ada di mal, yang pernah Regina cicipi saat makan bersama Kiki dan Mama Nina.


Mereka makan dalam keheningan. Menikmati makanan dengan pikiran yang berkecamuk. Setelah selesai makan, Regina membereskan piring-piring sisa makanan dan bersiap meletakkan di wastafel. Saat hendak menekan tombol, Mario menarik Regina, berbalik dan masuk kedalam pelukannya. Dikecupnya pucuk kepala Rere.


"Kamu tidak usah khawatir aku mengadu sama Kiki, Yo. Maafkan aku saat itu aku terpancing, sehingga Reza menegurmu."


"Kamu kira aku takut sama Reza, Re? Bukan karena itu. Aku mau rumah tangga yang normal, bukan seperti sekarang yang berjarak."


"Kamu yang membuat jarak itu, Yo."


"Iya, aku tahu. Maafkan aku, Re. Kasih aku waktu sebentar lagi. Setelah semuanya beres semua akan menjadi normal."


"Kamu masih mencintai Liana, Yo?" Regina menatap mata Mario untuk mencari kepastian. Mata mereka beradu saling menatap.


"Jangan pikirkan itu, aku tidak akan merusak rumah tangga kita." Mario mengecup kening Regina. Bukan jawaban itu yang Regina inginkan. Jawaban memgambang membuat luka dihatinya.


"Kamu sudah bisa melupakan mantanmu, Re?" tanya Mario kemudian melepaskan pelukannya pada Regina. ia sering menemukan mata Regina yang membengkak sepulang bekerja.


"Kami sudah tak pernah berkomunikasi." jawab Regina menunduk.


"Berhentilah menangisinya." kata Mario kemudian meninggalkan Regina yang terbengong didapur sendiri. Bagaimana Mario tahu Regina menangisi mantannya. Regina menarik nafas panjang dan kembali menekan tombol didapur, tak lama Neneng pun muncul dari pintu samping.


"Bantu aku membersihkan semua ini." katanya pada Neneng.


"Tinggalkan saja Non, biar saya yang membereskannya."


"Terima kasih, neng." Kata Regina meninggalkan Neneng dan menyusul Mario ke kamar.


"Bagaimana kamu bisa menduga aku menangisi mantanku, sementara aku hidup denganmu?" tanya Regina ketika sudah berdiri dihadapan Mario yang sedang berbaring di kasur.


"Harus kubilang apa? menangisi aku?"


"Ya mungkin saja aku menangisi kamu."


"Bagaimana mungkin kamu menangisi aku, sementara foto yang kamu pandang di handphone bukan fotoku?"


"Maafkan aku, semua fotonya sudah kuhapus sejak kita menikah. Kalaupun kamu melihat aku menangis memandang foto mantanku, itu yang terakhir kalinya saat aku menghapus semua kenangan tentang dia." Kata Regina reflek memeluk Mario yang masih berbaring dikasur. Badan mereka yang saling menempel membuat sesuatu menjadi timbul. Mario berusaha mengabaikannya.


"Tapi setiap aku pulang bekerja, matamu selalu sembab." kata Mario dengan suara tertahan.


"Aku bingung dengan rumah tangga yang sedang kujalani." Regina semakin mengeratkan pelukannya. Airmatanya membasahi baju mario. Deru nafasnya terdengar menggoda ditelinga Mario.


Ah Regina, pertahanan Mario mulai luntur. Ada sesuatu yang tak bisa diajak bekerja sama. Sekuat apapun Mario menahannya. "Darn it!!!" Mario tak tahan lagi, mulutnya mulai bermain diwajah Regina yang mengikuti permainan Mario, mulai dari dahi, mata, hidung, pipi lalu berhenti lama saat bibir mereka bertemu, hingga mereka kehilangan nafas. Kembali bermain semakin lama semakin turun dan tangan mulai tak bisa diam, seketika Mario melupakan permohonannya pada Regina didapur tadi, meminta waktu sebentar untuk menyelesaikan masalahnya dengan Liana.


Mario terlalu hanyut dalam permainannya hingga perlahan perasaannya pada Liana mulai terbang entah kemana seiring ibadah halal yang ia tunaikan bersama istrinya siang ini. Hei Reza bukan sore saja yang enak, siang begini juga enak, pikirnya sambil menyeringai mengingat ucapan Reza saat hari pernikahannya. Siang pertama mereka setelah tiga minggu menikah.