I Love You Too

I Love You Too
Rindu



"Kamu kok tahu jalan Braga?" tanya Roma pada Dania sedikit heran, padahal Dania belum pernah ke Bandung.


"Aku lihat di internet." Dania terkekeh.


Setelah menyusun barang belanjaan dibagasi, Nanta melajukan kendaraannya menuju jalan Braga sesuai keinginan istrinya, ingin menyusuri jalan Braga disidang hari Dania rupanya.


"Makan apa disana Bang?" tanya Nanta pada Raymond yang duduk dibangku belakang bersama istrinya. Raymond sedang berbaring santai dipaha Roma.


"Ditempat biasa saja." jawab Raymond yang mulai mengantuk.


"Ish bilang aku lemah, ternyata sama saja." Nanta terkekeh melihat Raymond hampir saja tertidur.


"Belum merasakan saja meladeni istrimu yang sedang hamil." dengus Raymond dengan mata terpejam.


"Memang bagaimana?" tanya Nanta ingin tahu.


"Roma bisa bangunkan aku jam dua malam hanya untuk minta dimasakkan sesuatu." jawab Raymond masih dengan mata terpejam, masih sanggup meladeni pertanyaan Nanta.


"Tidak setiap malam sayang." Roma membela diri.


"Tapi kamu semalam berapa kali minta makan." jawab Raymond, suami istri mulai berdebat, Dania tertawa geli melihatnya.


"Ish Bang Ray ditertawakan Dania tuh." Nanta menggoda istrinya.


"Apa sih Mas Nanta." Dania mencubit pinggang suaminya, Nanta terbahak senang sekali melihat istrinya salah tingkah, walau perutnya serasa panas efek dicubit Dania.


Handphone Nanta terus saja bergetar, aktif sekali membuat Nanta merasa terganggu, beberapa group sudah Nanta heningkan, jadi sepertinya ini dari beberapa orang yang kepo dengan poto profile Nanta. Ada beberapa wartawan juga yang berteman dengan Nanta.


Nanta memarkirkan kendaraannya didepan restaurant yang biasa keluarganya kunjungi begitu mereka sudah tiba di jalan Braga. Raymond benar-benar pulas.


"Sambil menunggu Bang Raymond bangun aku ke toko oleh-oleh di ujung sana dulu." kata Nanta teringat Mamon yang sangat suka bolen jalan Braga padahal ada merk lain yang lebih terkenal.


"Aku mau Nanta, yang biasa." pesan Roma.


"Iya." jawab Nanta menganggukkan kepalanya pada Dania tanda mengajak Dania ikut turun.


"Kak Roma aku turun dulu ya." ijin Dania pada Roma.


"Yup." jawab Roma tersenyum sambil membelai rambut suaminya yang tampak seperti bayi.


"Mau beli apa?" tanya Dania pada suaminya


"Pisang Bolen."


"Oh."


"Apa Oh?"


"Iya oh." Nanta terkekeh, Dania meladeni ucapannya yang tidak penting, mereka bergandengan tangan menyusuri jalan, tampak serasi dengan Nanta yang menggunakan celana jeans biru dengan kemeja putihnya, sementara Dania menggunakan mini dress denim, hanya saja sepatu mereka tidak kembaran seperti yang sering Nanta dan Mamon lakukan hingga saat ini, dan Dania belum tahu itu.


"Mas Nanta coba dicek handphonenya bunyi terus mungkin ada yang penting." pinta Dania pada suaminya, pusing juga ikut merasakan getaran handphone yang tiada henti.


"Terganggu ya?" Nanta terkekeh.


"Aku khawatir ada informasi yang harus Mas Nanta terima." kata Dania membuat Nanta berhenti dan mengambil handphone disakunya.


Ada beberapa panggilan dari Papanya, mestinya Nanta merubah deringan khusus untuk keluarganya agar tidak terabaikan seperti ini.


"Papa telepon aku?" tanya Nanta saat berhasil menghubungi Papanya.


"Iya, kalian dimana?" tanya Kenan.


"Dijalan Braga."


"Sampai kapan di Bandung?" tanya Kenan lagi.


"Kata Bang Raymond sih hari Rabu sore sudah di Jakarta." jawab Nanta.


"Rabu pagi saja kembali Ke Jakarta Boy." pinta Kenan pada Nanta.


"Ada yang penting kah Pa?" tanya Nanta bingung.


"Sabtu kamu sudah di Asrama, apa tidak mau menghabiskan waktu lebih lama bersama Papa juga yang lain?" Nanta tertawa mendengarnya.


"Papa merindukan aku?" tanya Nanta terbahak.


"Memang kamu tidak?"


"Pasti rindu, tapi biasanya Papa tidak begini." kata Nanta terkekeh.


"Karena sekarang kamu sudah menikah Boy, biasanya kamu selalu ada saat Papa pulang kerja. Kalaupun kamu harus training camp juga rasanya berbeda." Kenan tertawa.


"Hahaha aku terharu, apa aku pulang malam ini saja?" tanya Nanta pada Papanya.


"Tidak usah sampai begitu Boy, pikirkan Roma dan Dania juga yang sedang menikmati liburannya. Bagaimana rasanya jadi Ayah Eja ya, harus pisah kota dengan Raymond." Kenan menghela nafas, beberapa hari ini ia kesepian karena Nanta menginap dirumah Micko. Beberapa tahun terakhir satu rumah bersama Nanta membuat suasana rumahnya terasa ramai, sudah pasti bahagia sertiap makan malam bertukar cerita dengan bujangnya.


"Iya Papa masih ada Balen dan Richi, sedangkan Ayah dan Bunda hanya berdua saja." Nanta tertawa renyah, bahagia sekali Papa merindukannya.


"Pa aku mau belikan Mamon Bolen Braga." kata Nanta kemudian.


"Jangan banyak-banyak Boy, Mamon harus mengurangi gluten." Nanta terkekeh Papa benar-benar strick menjaga pola makan istrinya.


"Oke Papa." Nanta menutup sambungan teleponnya. Kemudian tertawa memandang istrinya.


"Papa merindukan aku." jawabnya bangga.


"Ish Papaku kok tidak menghubungi aku." Dania langsung saja iri.


"Hahaha kalau Papa kamu kan pasti tidak mau mengganggu kita yang sedang honeymoon, karena ini ide Papamu." jawab Nanta terkekeh.


"Mas Nanta kok tahu?" Dania langsung saja bingung.


"Apa sih yang aku tidak tahu." Nanta mencubit pipi Dania dan kembali menggandeng tangannya, melanjutkan perjalanan mereka yang hampir saja sampai di toko kue yang Nanta maksud.


"Kamu ambil saja yang mau kamu beli, ingat tidak boleh over, Mobil kita sudah penuh, belum lagi besok harus masukkan koper dan Batagor pesanan Wilma." Nanta mengingatkan istrinya


"Aku tidak beli." jawab Dania terkekeh


"Kenapa?"


"Mas Nanta saja yang beli, karena penyakitku kalau sudah beli pasti tidak bisa untuk satu orang." Dania menutup sebelah pipinya takut dicubit Nanta lagi


"Hahaha oke." Nanta terkekeh dan langsung memasukkan sepuluh box Bolen yang dimaksud.


"Banyak sekali?" Dania sedikit bingung


"Buat Bunda, Mamon, Mami Monik, Tante Lulu dan untuk kita di jalan." Nanta terkekeh. Ia segera menuju kasir membayar pilihannya. Cepat sekali mereka berbelanja.


"Apa lagi?" tanya Dania, ia membantu Nanta membawakan 1 kantong yang berisi 3 box karena kasir menjadikanya 3 kantong.


"Sudah ya. Tadi kamu minta ke jalan Braga mau apa?" tanya Nanta.


"Hanya mau lihat suasana saja katanya bagus." jawab Dania polos.


"Bandung selalu Bagus, nanti aku ajak ke taman balaikota menikmati angin sepoi-sepoi." kata Nanta terkekeh.


"Mas Nanta sering kesini?"


"Hanya kalau lagi mau kesini saja." jawab Nanta.


"Kenapa suka ke Bandung?"


"Lebih suka ke Malang karena ada ada Mama." Nanta tertawa.


"Iya aku tanya kenapa suka ke Bandung?"


"Aku tidak bilang suka." jawab Nanta.


"Tapi sering kan? berarti suka."


"Ya tidak apa-apa, memangnya kenapa?" Nanta jadi bingung.


"Aku tahu, karena gadis disini cantik-cantik, iya kan?" tebak Dania bersungut.


"Cemburu?"


"Iya." wajah Dania merengut.


"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Nanta bingung.


"Karena mereka lihati Mas Nanta seperti tidak ada aku di sebelah Mas Nanta."


"Peluk saja suamimu kalau begitu."


"Betul ya aku peluk, jangan teriak seperti tadi bilang ini bukan di London." tegas Dania.


"Iya." Nanta terbahak, menggemaskan sekali melihat Dania senewen.


Dania langsung saja menggandeng mesra suaminya berjalan kembali Ke mobil.


"Kamu tuh lebih cantik dari mereka, kenapa pusing mereka lihatin aku, yang penting kan aku fokus sama kamu." bisik Nanta merangkul istrinya.


"Aku takut Mas Nanta tergoda." sungut Dania.


"Pikiran negatif bisa jadi doa, jadi tadi cium bibirku di area umum karena kesal ada yang lihatin aku?" tanya Nanta memandangi Dania senyum-senyum.


"Hu uh." jawab Dania membuat Nanta terkekeh.


"Kamu tuh unik tahu? tidak ada yang bisa tandingi kamu. Kalau aku mau genit-genit untuk apa menikah cepat, lebih baik senang-senang dulu, kan aku masih muda." Dania hanya melirik saja tanpa komentar.


"Biarkan saja mereka lihatin kita, karena itu mata mereka, bebas saja mau memandang kemana. Mana bisa kita larang." Dania memandang suaminya sambil mengernyitkan hidungnya. Nanta terkekeh.


"kita juga kan lihat setiap orang yang lewat." kata Nanta lagi.


"Tapi kepala kita tidak berputar mengikuti obyek yang kita lihat." jawab Dania ketus.


"Hahaha sudah ah nanti ribut bahas ini terus, kamu mau makan apa?" tanya Nanta yang malas berdebat perkara gadis-gadis yang lewat.


"Mie kocok." jawab Dania ikut tertawa menyadari kebodohannya mengajak suaminya ribut hanya karena orang lewat, ia menyerahkan kantong yang dibawanya pada Nanta saat Nanta membuka bagasi mobilnya. Raymond sudah bangun segera keluar dari Mobil begitu melihat Nanta dan Dania.


"Keluarkan 2 box sayang." kata Nanta pada Dania.


"Eh..." Dania jadi terpana karena Nanta memanggilnya sayang. Raymond dan Roma cengengesan saja jadinya.