I Love You Too

I Love You Too
Konsul



"Setelah ini langsung pulang saja, tidak usah ke dokter kandungan." tegas Kenan pada Nona, mereka sudah diruangan Reza kini.


"Loh, Kak Kiki sudah bikin janji dengan dokter." kata Nona tak enak hati.


"Kalau begitu pulang dulu ganti roknya." perintah Kenan dengan wajah tidak ramah. Nona langsung memberengut.


"Aku tidak enak sama Kak Kiki." Nona merengek manja.


"Nanti saya yang bilang sama Kiki." Kenan mengacak anak rambut Nona sambil terkekeh tidak bisa marah melihat ekspresi Nona yang menggemaskan.


"Kenapa Ken?" tanya Kiki yang baru saja masuk ruangan diikuti Reza dibelakangnya.


"Ke dokter kandungan jam berapa, Ki? Nona harus ganti rok dulu." Kenan langsung saja to the point.


"Jam empat sore, RSIA dekat rumah kok, masih sempat pulang dulu. Seperti rencana semula atau bagaimana jadinya?" tanya Kiki lagi memandang Kenan dan Reza.


"Bagaimana Bang? kita jadi ke Warung Elite?" Kenan juga bertanya pada Reza.


"Kamu antar Nona saja Ken, biar Kiki yang temani aku ke Warung Elite." jawab Reza membuat Kenan tersenyum lebar. Ia melirik ke pergelangan tangannya. Masih pukul dua siang.


"Nanti saja kamu berangkat dari sini jam tiga." tegas Reza pada Kenan.


"Oke." jawab Kenan menyetujui, ia kembali mendekat pada Reza, memanfaatkan waktu satu jam untuk menerima penjelasan Reza terkait pekerjaan.


Setelah pukul tiga sesuai kesepakatan dengan Reza, Kenan dan Nona pun pamit meninggalkan kantor lebih dulu, Ia menggandeng Nona keluar ruangan menuju ke parkiran.


"Kemana?" tanya Micko saat bertemu di depan lift, ia baru saja mau keruangan Reza.


"Ke dokter dulu antar Nona." jawab Kenan menunjuk istrinya.


"Sakit apa hamil?" tanya Micko jahil.


"Hamil lah." jawab Kenan, keduanya tertawa.


"Tokcer juga lu." Micko masih tertawa.


"Memang Allah mengijinkan, gue sih apa lah." kata Kenan terkekeh melambaikan tangan meninggalkan Micko masuk kedalam lift. Nona tersenyum saja menganggukkan kepalanya pada Micko. Bersyukur sekali hari ini tidak ada gangguan yang membuat moodnya rusak kecuali Tika, itu sih tidak terlalu mengganggu karena Kenan sudah berjanji untuk mengganti sekretarisnya.


"Minggu ke rumah gue ya kalian. Mama mau kenal sama Nona." kata Micko menahan pintu lift dengan tombol.


"Oke, gue juga kangen Tante Misha, gue ajak Mama Papa ya." jawab Kenan mengacungkan jempolnya. Hubungan keluarga mereka dengan Tante Misha mantan sekretaris Papa sudah seperti keluarga sendiri.


"Ajak saja semua, anak lu juga tuh si ganteng."


"Lagi di asrama dia." jawab Kenan, Micko menganggukkan kepalanya melepaskan tombol lift.


Tepat pukul empat setelah pulang dulu ke rumah Kiki untuk berganti pakaian, sekarang disinilah Kenan dan Nona, diruang tunggu dokter kandungan sesuai perjanjian. Nona sudah membawa berkas dari dokter kandungan yang ada dimalang, juga daftar obat yang diberikan oleh dokter sebelumnya, yang saat ini masih Nona konsumsi.


Sebenarnya belum jadwalnya Nona ke dokter kandungan, hanya saja Kenan sedikit khawatir karena mereka habis melakukan perjalanan jauh.


"Mobil saja kalau habis jalan jauh, saya bawa kebengkel, masa kamu dan baby tidak saya ajak ke dokter untuk diperiksa." begitu jawabnya tadi saat Nona bilang sebenarnya tidak perlu ke dokter karena belum saatnya dan belum ada keluhan juga. Tapi Walaupun begitu lebih baik menurut dari pada nantinya merubah suasana menjadi saling mendiamkan.


Tidak menunggu lama, giliran Nona bertemu dokter pun tiba.


"Selamat sore." sambut dokter Vina saat keduanya masuk.


"Sore." jawab Nona langsung duduk di bangku yang sudah disediakan sementara Kenan masih menutup pintu.


"Vina?" sapa Kenan yang ternyata mengenal dokter tersebut. Nona menarik nafas, banyak betul teman suaminya, ada saja yang menyapa saat ia lagi jalan dengan Nona, sekarang Kenan yang menyapa dokter tersebut.


"Ya ampun Mas Kenan apa kabar? long time no see." sambutnya hangat.


"Alhamdulillah, istri gue nih Nona." katanya memperkenalkan Nona pada Vina.


"Masih saja cablak, istri lah." protes Kenan pada Vina.


"Ini adiknya Lutfi, sayang." kata Kenan pada Nona, ia khawatir Nona tersinggung.


"Oh iya Mas Lutfi ya." Nona langsung mencair. Vina tersenyum ramah pada Nona.


"Jadi dokter juga lu, padahal tidur terus." kata Kenan pada Vina.


"Sembarangan, tidur juga gue mikir. Bagaimana Mbak?" mulai professional menyapa Nona.


"Panggil Nona saja, usia kandungan aku sudah empat minggu. Hanya mau kontrol karena beberapa hari lalu kita dari Malang lewat darat." Nona menjelaskan, juga memberikan catatan dokter sebelumnya juga obat yang diminumnya.


"Kami pindah ke Jakarta, Vin." Kenan menjelaskan.


"Sudah bosan di Malang, ya. Enak di Jakarta banyak hiburan." kata Vina pada Nona.


"Sama saja, yang penting ada gue." kata Kenan tengil.


"Ada elu ada duit, Mas. Ada lu tapi tidak ada duit ya sama juga bohong." Vina terbahak, Nona dan Kenan ikut terbahak.


"Yuk kita periksa." kata Vina mengarahkan Nona untuk tiduran. Nona mengikuti arahan dr. Vina.


"Biasanya hamil empat minggu sudah timbul gejala kehamilan seperti mual atau ngidam. Sudah mengalami?" tanya Vina pada Nona.


"Tidak mual atau ngidam, cuma kadang tidak suka wangi-wangi tertentu." jawab Nona tersenyum.


"Nanti kalau ngidam minta mobil sport saja sama Mas Kenan, jangan minta mangga muda." kata Vina sambil tertawa.


"Vin memangnya dulu ada mata kuliah menjadikan istri matrealistis ya?" tanya Kenan sambil tertawa. Nona dan Vina kembali terbahak.


"Kondisi embrio bagus, masih sebesar biji bayam, pernah lihat tidak?" tanya Vina tengil. Mentang-mentang suami pasiennya kenal dekat, jadi seenaknya saja bicara. Nona tertawa saja, walaupun Vina lebih tua dari Nona tapi cukup menyenangkan dan menghibur. Membuat Nona tertawa terus.


"Tidak." jawab Kenan jujur.


"sekitar dua milimeter." jawab Vina menyudahi pemeriksaan pada Nona.


"Obatnya yang masih ada diteruskan saja, nanti aku tambah obat anti mual, di minum jika mual saja." kata Vina sambil menuliskan resep.


Kenan dan Nona keluar ruangan dengan wajah penuh tawa, Vina benar-benar konyol dan membuat keram perut, kadang suka mengeluarkan kalimat yang sedikit menyebalkan.


"Mas Kenan akrab betul sama Dr. Vina." kata Nona begitu mereka berada di Mobil.


"Waktu kuliah kan saya dan Lutfi selalu berdua, ngontrak juga berdua. Jadi keluarga saling kenal." Kenan menjelaskan pada Nona.


"Cemburu?" tanya Kenan lagi.


"Awalnya sih iya." jawab Nona malu-malu.


"Ganteng betul suami kamu ya, sampai semua dicemburui." Kenan terkekeh mengacak anak rambut Nona.


"Iya lah, istri Rasulullah saja cemburu, apalagi aku." dengus Nona.


"Vina itu sudah punya anak dan suaminya bule loh. Jadi kamu jangan khawatir."


"Dulu Mas Kenan sempat naksir Vina tidak?"


"Tidak."


"Beneran? kan cantik, oh iya aku lupa Mas Kenan dulu cinta mati sama Sheila." Nona terkekeh menjulurkan lidahnya pada Kenan.


"Sheila lagi saja, bersin-bersin nanti dia kamu sebut terus." Kenan meraih jemari Nona kemudian mencium punggung tangannya.