
Mereka tiba di rumah Kenan sore hari, bukan es krim saja yang Nona beli tadi, banyak sekali bumbu-bumbu, buah dan makanan kecil yang dibeli Nona.
"Kamu belanja apa?" tanya Kenan pada Nona, lupa dengan kekesalannya pada Raymond karena menunggu lama, begitu melihat Nanta dan Nona tersenyum sumringah saat Kenan membuka pintu.
"Es krim, bumbu-bumbu buah dan makanan kecil." jawab Nona mengangkat plastik ditangannya, tanpa disuruh masuk ia langsung menghambur kedalam untuk meletakkan barang belanjaan.
"Dapurnya dimana?" teriak Nona.
"Sini saya bawakan." kata Bi Wasti mengulurkan tangan hendak mengambil barang belanjaan Nona. Dengan senang hati Nona menyerahkan barang tersebut pada Bi Wasti, kemudian berbalik arah.
Duh
Jidat Nona membentur sesuatu. Nona memejamkan matanya dan meringis. Tidak sadar kalau dari tadi ada orang dibelakangnya.
"Jalannya yang benar." Kenan mengusap jidat Nona sambil terkekeh, kemudian meninggalkan Nona menuju dapur. Ih, apa ini, kok diusap jidat, badan rasanya panas dingin? Nona meneruskan langkahnya sambil menenangkan perasaannya yang tak karuan. Tidak mungkin gue suka sama duda, tapi kenapa salah tingkah terus? pikir Nona tidak mengerti dengan perasaannya saat ini.
"Kenapa Kak?" tanya Roma melihat Nona sibuk mengusap dahinya. Nona hanya menggelengkan kepalanya, malas menjawab. Tidak mau jadi obyek penderita kelakuan Raymond lagi.
"Tante Nina mana?" tanya Nona, mengira Mama Nina tinggal dirumah yang sama.
"Di rumah, mau kesana?" tanya Kenan yang ternyata sudah berada dibelakang Nona.
"Nanti Oma yang kesini." sahut Raymond yang mulai sibuk dengan Play Station seri terbaru yang ada di rumah Kenan.
"Spiderman Om, Miles Morales." katanya saat Kenan dan Nona mendekat.
"Eh aku suka, Spiderman, Miles juga keren, tapi Peter Parker lebih keren." sahut Nona segera duduk disebelah Roma.
"Kesukaannya sama kaya Om Kenan, jodoh nih." jawab Raymond sambil tersenyum jahil.
"Ih..." Nona mendengus pada Raymond kemudian melirik Kenan yang tampak tidak bereaksi dengan perkataan Raymond.
"Bikin rujak yuk, Rom." ajak Nona pada Roma.
"Kamu bisa? ada bahannya tidak?" tanya Roma pada Nona.
"Minta saja Bi Wasti yang bikin, kalau tidak ada bahannya, kamu pesan online yang sudah jadi." kata Kenan pada Roma dan Nona.
"Iya kalian duduk saja disini, tonton kita main PS." kata Raymond lagi.
"Aku tadi sudah beli bahannya, aku saja yang bikin. Kalau disini kamu bully terus" kata Nona mendorong bahu Raymond dan beranjak menuju dapur, Roma tertawa lalu mengikuti Nona. Raymond dan Kenan pun terkekeh melihat Nona bersungut-sungut.
"Nanta kamu mau main apa?" tanya Raymond pada Nanta yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya.
"Kata Bang Ray, Spiderman."
"Itu sih permainan Papamu, Kita main yang lain saja."
"Aku suka Spiderman, terserah Abang mau main apa." jawab Nanta dengan mata tak lepas dari handphone.
"Kamu lagi lihat apa sih?" tanya Raymond sedikit kesal karena Nanta menjawabnya tapi sibuk dengan handphonenya.
"Sepatu." jawab Nanta nyengir.
"Beli sepatu terus, kalau tidak dipakai dosa loh." Raymond mengingatkan adiknya.
"Aku pakai kok." jawab Nanta.
"Tapi terlalu banyak, kalau mubazir Allah marah." kata Raymond lagi.
"Ini yang terakhir, aku terlanjur janji sama Kak Nona beli model yang sama untuk seri ini." jawab Nanta dengan wajah seperti memohon pada Raymond dan Kenan.
"Kemana Om?" tanya Raymond.
"Nonton filmnya saja." jawab Kenan dan mulai menyalakan TV berlangganan. Lalu mencari film spiderman yang terbaru. Meskipun sudah lama beredar di bioskop tapi Kenan suka menontonnya ulang.
"Benarkan apa Abang bilang, Papamu penggemar spiderman." kata Raymond pada Nanta.
"Iya aku juga suka sih." jawab Nanta kemudian mendekati Raymond dan mengambil stick PS. Ia siap bertarung melawan Raymond.
"Taraaa sudah jadi." teriak Nona setelah beberapa saat berkutat didapur, tampak Nona dan Roma membawa piring berisi rujak. Kenan tersenyum memandang keduanya lalu mulai hanyut dengan film yang ditontonnya, tanpa sadar Nona duduk disebelahnya sedari tadi, ikut nonton film sambil memakan rujak yang dibuatnya.
"Enak loh Mas, kamu tidak mau?" tanya Nona ketika rujak dipiringnya sudah hampir habis. Kenan menoleh kesebelahnya.
"Ternyata kamu disini dari tadi? tanya Kenan tertawa, ia benar-benar tidak sadar.
"Memangnya Mas Kenan kira siapa, miss kunti?" sungut Nona membuat Kenan lagi-lagi terkekeh.
"Sudah mau habis baru tawarin saya rujak." Kenan menggelengkan kepalanya.
"Nih coba deh, kalau suka aku ambilkan." kata Nona sambil menyodorkan buah ditangannya kemulut Kenan.
"Enak kan?" kata Nona lagi.
"Hmm..." Kenan mengangguk tanpa kalimat karena mulutnya sibuk mengunyah bengkoang yang disuapi Nona. Enak sih, tapi kenapa disuapi, kekeh Kenan dalam hati.
"Mau lagi?" tanya Nona, Kenan menggelengkan kepalanya.
"Katanya enak, kenapa tidak mau?"
"Malas cuci tangan, lagi malas bergerak." jawab Kenan dengan mata tak lepas dari TV.
Nona beranjak dari sofa dan kembali mengambil rujak di meja makan.
"Kalian mau diambilkan tidak?" teriaknya pada Raymond dan Nanta.
"Malas cuci tangan." jawab Raymond dan Nona berbarengan. Hmmm turunan kelakuannya sama, kalau sudah asik malas beranjak.
Nona kembali duduk disebelah Kenan dan ikut menonton film bersama Kenan. Sesekali ia berteriak saat Peter Parker diserang Rhino musuhnya.
"Nih..." Nona kembali menyodorkan buah yang sudah dicocol bumbu rujak kemulut Kenan. Karena asiknya menonton, tanpa sadar Kenan menikmati rujak yang disuapi Nona hingga habis. Ia baru sadar saat Nona menyodorkan botol air mineral kepadanya.
"Enak ya nonton sambil disuapi." kekeh Raymond yang berjalan melewati Kenan dan Nona karena ingin ke toilet.
"Kamu juga bisa disuapi Roma, setelah ini aku akan menyuapi Nanta." jawab Nona santai.
"Aku bisa makan sendiri." jawab Nanta cepat, ia tidak mau disuapi Nona. dari tadi Raymond menyenggol lengan Nanta tanpa bersuara, hanya memberi kode untuk menonton kegiatan Nona dan Kenan di ruang TV. Mereka tertawa bahkan merekam kegiatan suap menyuapi itu.
"Kamu kenapa suapi saya?" tanya Kenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa-bisanya ia menikmati sampai suapan terakhir.
"Mas Kenan tidak mau tangannya kotor kan? aku juga sering suapin Papa dan Deni. Biasa kok." kata Nona tanpa beban.
"Nanti saya jadi baper, kamu mau tanggung jawab?" bisik Kenan pada Nona sambil memandang Nona dengan lembutnya. Duh kalau dipandang begini kan jadi gue yang baper, Nona meringis dalam hati.
"Ih Mas Kenan, begitu saja baper." dengus Nona menyembunyikan perasaannya yang tidak karuan.
"Tanya Papa saja, itu biasa kok." kata Nona lagi membela diri. Mana mungkin Kenan tanya Baron, bisa-bisa Baron bikin ulah lagi. Kenan terkekeh dan mengacak anak rambut Nona.
"Ayo nonton lagi." kata Kenan menarik Nona agar duduk lebih dekat dengannya. Hingga Nona duduk disebelah Kenan, kini mereka benar-benar dekat duduk berdampingan tak ada jarak. Konyolnya sekali gue pasrah ditarik begini, macam mana ini, batin Nona berteriak, sekarang Nona sangat salah tingkah, pengen peluk Kenan dan pengen kabur juga rasanya sungguh campur aduk. Sementara Kenan tampak santai sekali-kali memgomentari film yang mereka tonton sambil memandang kearah Nona.