I Love You Too

I Love You Too
Pencinta Basket



"Cyla kamu kesini ya, presentasikan materi acara jumat, biar saya dan Nanta tahu." panggil Reza pada Cyla melalui telepon internal.


"Iya Pak."


Tidak berapa lama Cyla beserta staffnya masuk ke ruangan Reza dan Nanta. Ia siapkan semua kebutuhan presentasi yang Reza inginkan. Setelah semuanya siap Cyla mulai presentasikan Dari awal seperti yang Reza mau, padahal sebelumnya sudah Cyla presentasikan juga dihadapan Reza dan ketiga sahabatnya. Gara-gara Nanta Cyla harus presentasi ulang, ada rasa tidak terima tapi sudahlah dia anak bos, pikir Cyla.


"Saya dengar dari Pak Mario, kamu maunya penyanyi yang isi acara di cabang Utama besok agar isi acara disini?" tanya Reza berdasarkan yang ia dengar dari Mario, Cyla melirik Nanta pikirnya Nanta mengadu percakapan kemarin pada Reza.


"Iya, kalau semua yang bagus-bagus di cabang Utama, kita kebagian sisanya saja Pak. Kapan bisa capai penjualan seperti cabang Utama kalau begitu." jawab Cyla berdasarkan pemikirannya. Reza tersenyum sementara Nanta menyimak saja. Kemarin Nanta sudah bilang jangan punya jiwa bersaing tapi Cyla tidak terima.


"Menurut kamu begitu?" Reza menatap Cyla.


"Iya, cabang ini tidak akan pernah seramai cabang Utama kalau selalu yang terbaik berawal dicabang Utama." jawab Cyla. Reza menarik nafas panjang Dan sandarkan kepalanya dikursi.


"Menurut kamu, Boy?" Reza minta pendapat Nanta.


"Menurut aku sih antar cabang itu satu kesatuan. Kalau yang satu dikenal baik pasti akan berefek dicabang lain. Mestinya sih apa yang baik di cabang Utama bisa menjadi contoh untuk cabang lainnya." jawab Nanta. Reza menjentikkan jari jempol dan telunjuknya.


"Menurut saya juga begitu, Cyla. Bukan karena musisi yang sedang hits itu di cabang utama, jadi cabang lainnya jadi buruk. Kalau mereka yang pernah ke cabang Utama merasa puas, pasti saat lewat Warung Elite di wilayah lain, mereka akan mampir. Karena selain cita rasa, pelayanan yang baik dan kenyamanan itu yang diharapkan pelanggan."


"Iya Pak." jawab Cyla mengangguk saja walau sebenarnya ia masih ingin menjawab, tapi mana berani lakukan itu, hatinya saja yang merutuk-rutuk. Baru kali ini selama menjadi pimpinan cabang harus mendengar masukan dari anak baru yang kuliahnya saja belum selesai.


BRAK!!!


Cyla melempar berkas yang ia bawa tadi ke meja kerjanya. Kesal sekali tadi rasanya, apalagi Nanta bilang dia kenal dengan pengisi acara yang akan tampil jumat nanti di cabang ini dan menurut Nanta mereka punya banyak penggemar di kampus walaupun belum memiliki album. Semakin dipuji saja Nanta oleh Reza.


"Rese betul itu anak baru, terang saja Pak Reza banggakan dia terus, semua yang dia bilang dianggap bagus, anaknya sendiri. Bapak gue juga kalau gue bilang sesuatu pasti juga bilang bagus." oceh Cyla pada staff di ruangannya. Kedua staff Cyla hanya saling pandang-pandangan sambil naikkan alis. Kalau bosnya marah lebih baik diam saja, cukup dengarkan.


"Kalian tahu si Nanta itu siapa? apa sih hebatnya dia? kuliah saja belum selesai." oceh Cyla lagi.


"Setahu aku dia pemain basket sih Bu." jawab Wari, salah satu staff Cyla.


"Apa hebatnya pemain basket? gue kerja disini sudah sepuluh tahun lebih, pengalaman gue lebih banyak lah, Dia kan cuma bisa main Basket, malah mau dijadikan Bos lagi gantikan Pak Reza. Kalau akhirnya keluarga yang naik, kita ga akan pernah jadi petinggi dong." Cyla sampaikan isi hatinya. Wari hanya gelengkan kepala saja.


"Maunya Bu Cyla yang gantikan Pak Reza ya?" tanya Wari polos.


"Ya tidak mesti saya juga, pimpinan cabang kan banyak, diseleksi bisa kan? pilih salah satu dari kita." jawab Cyla.


"Kumpulin modal kali bu, buka restaurant sendiri kalau mau jadi Pak Reza, ya kali mau diserahkan sama orang lain, kalau saya jadi Pak Reza juga pasti tampuk kekuasaan saya serahkan sama keluarga saya." Jonathan staff Cyla yang lain tertawa.


"Itu tidak fair Jo, kapan anak buah bisa maju, masa mentok di pimpinan cabang sih. Kamu mau karir kamu cuma sebatas ini?" tanya Cyla pada Jonathan.


"Saya sih begini saja sudah bersyukur, Bu. Gaji Ok, Enam bulan sekali dapat bonus, asuransi kesehatan untuk saya dan keluarga di cover perusahaan, mau cari dimana lagi, bu? padahal kalau dipikir kita hanya kerja di restaurant loh, tapi sudah seperti bekerja diperusahaan asing saja." lagi-lagi Jonathan terkekeh.


"Seperti pernah kerja diperusahaan asing saja kamu." Cyla tertawakan Jonathan.


"Abang saya di perusahaan minyak bu, kurang lebih saja tuh sama kita sekarang." jawab Jonathan membuat Cyla terdiam. Kemudian pergi meninggalkan ruangannya entah kemana.


"Parah lu." Wari tertawa begitu Cyla keluar ruangan.


"Biar dia tahu, bukan dia saja yang hebat." Jonathan cengar-cengir jahil.


"Memang siapa lagi yang hebat?" tanya Wari.


"Gue rasa dia tidak pernah nonton basket ya, pakai tanya siapa Nanta?" Jonathan kembali tertawa.


"Dirumah tidak punya TV." Wari ikut tertawa. Dasar anak buah bisa-bisanya tertawakan pimpinan cabang sendiri.


"Halo, Mas. Mbak Cyla dimana ya?" tiba-tiba saja Nanta muncul dalam ruangan mereka.


"Eh Pak Nanta, baru Lima menit keluar ruangan, mungkin sedang keliling lihat situasi." jawab Jonathan langsung berdiri menyambut Nanta.


"Panggil Nanta saja. Saya disini rencananya satu bulan, mohon dibantu ya." Nanta mengulurkan tangannya pada Jonathan.


"Masa panggil nama, tidak sopan." jawab Jonathan membuat Nanta tersenyum.


"Yang membuat Mas..."


"Saya Jonathan."


"Iya yang membuat Mas Jonathan nyaman saja." kata Nanta akhirnya.


"Saya Wari, Pak Nanta." Wari ikut perkenalkan diri.


"Hai Pak Wari, staff bu Cyla cowok semua ya." Nanta tersenyum ramah.


"Iya, kita kan pengawal Bu Cyla hahaha. Bapak butuh staff perempuan, ada kalau mau. Kalau Bu Cyla tidak suka staff perempuan karena tidak bisa diajak lembur." kata Jonathan pada Nanta.


"Oh iya sih, kasihan juga kalau perempuan harus pulang malam." Nanta tersenyum pada keduanya.


"Nanti kalau Bu Cyla sudah diruangan bisa hubungi saya ya." pinta Nanta pada Jonathan dan Wari.


"Iya Pak, nanti saya kabari Pak Nanta kalau Bu Cyla sudah diruangan." jawab Wari pada Nanta.


"Atau mau saya cari, Pak?" Jonathan menawarkan.


"Tidak usah, nanti biar saya saja yang datangi Bu Cyla." jawab Nanta cepat segera bergegas ingin kembali keruangan.


"Pak Nanta..." panggil Wari pada Nanta.


"Ya?"


"Boleh foto bareng?" tanya Wari malu-malu, Nanta langsung tertawa.


"Boleh dong, suka basket pasti." tebak Nanta pada Wari.


"Kita berdua pencinta Basket." jawab Jonathan cepat.


"Sudah sembunyi diruangan bertemu pencinta Basket juga. Yuk foto." ajak Nanta tidak mau lama-lama karena Ayah Eja menunggunya diruangan. Jonathan dan Wari langsung saja bergaya foto sana-sini bersama Nanta.


"Terima kasih Pak Nanta, saya masukkan ke media sosial saya ya." ijin Wari pada Nanta.


"Boleh-boleh." Nanta kembali tertawa, bisa-bisanya di tempat kerja bertemu staff yang suka basket.