
"Papi Istriku dan adiknya tidak usah ikut ke ruang VIP ya, biarkan mereka makan didepan." pinta Nanta pada Mario, ia khawatir terkesan tidak professional.
"Ikut saja tidak ada yang rahasia juga, biarkan saja istrimu dan adiknya nikmati makanan yang ada sementara kita bicarakan pekerjaan." jawab Mario pada Nanta.
"Baiklah kalau begitu." jawab Nanta tersenyum.
"Ayo." ajak Mario, Nanta dan Mario keluar ruangan, berjalan menghampiri rombongan Nanta. Sementara yang lainnya sepakat akan menyusul begitu pekerjaan mereka sudah selesai.
"Selamat siang," sapa Mario pada semuanya.
"Siang Pak." jawab semuanya hampir berbarengan.
"Ini Pak Mario owner Unagroup." Nanta mengenalkan Mario pada sahabat dan adik iparnya. Mereka langsung berdiri dan menghampiri Mario lalu menyalaminya.
"Ini bos gue juga." kata Nanta lagi, Mario terkekeh dan menepuk bahu Nanta.
"Kita pindah saja ke ruang VIP ya, nanti makanan kalian diantar kesana." kata Mario.
"Siap Pak, jawab keempatnya cepat. Terbiasa mengikuti arahan para Coach jika sedang berkumpul dengan Tim Basket.
"Kalian juga ikut saja." kata Nanta pada istri dan adik iparnya.
"Mau bahas pekerjaan kah? kami disini sajalah." jawab Dania tidak ingin mengganggu.
"Tidak apa, ikut saja Dan." jawab Mario pada Dania. Sementara Larry menaikkan alisnya pada Nanta ingin tahu kenapa mereka dibawa ke ruang VIP.
"Antra as friend ada di ruang VIP?" tanya Larry pada Nanta setengah berbisik.
"Tidak ada, mereka latihan diruangan lain." jawab Mario yang mendengar pertanyaan Larry. Doni dan mike mengangguk saja.
"Ini Larry Papi." kata Nanta tanpa diminta.
"Oh iya." Mario tersenyum pada Larry,
"Model yang nanti berenang sama Balen kan?" lanjut Mario membuat Larry menganggukkan kepalanya sambil balas tersenyum.
"Eh, sudah disebut Model loh." Nanta tertawa geli.
"Padahal syuting saja belum." Larry ikut tertawa geli.
"Sudah tanda tangan kontrak, berarti sudah jadi model dong." jawab Mario ikut terkekeh. Semua langsung senyum-senyum mendengarnya, lucu juga dari atlet jadi model, Winner dan Lucky kebagian jadi model juga, membuat mereka nyengir lebar.
"Larry atlet serba bisa Papi. Lucky sama Winner juga berenang diajari Larry." lagi-lagi Nanta menjual Larry didepan Mario.
"Wow hebat ya." Mario berdecak kagum.
"Biasa saja Pak." jawab Larry merendah.
"Papi juga hebat, Papi menguasai semua alat musik loh, sama seperti Papa Andi." kata Nanta pada semuanya.
"Itu cuma hobby waktu muda." jawab Mario menanggapi pujian Nanta.
"Aku juga mau kuasai semua alat musik, Om." Lucky tampak semangat.
"Sekarang Lucky lagi belajar Piano, Pi." kata Nanta lagi.
"Semangat belajarnya jangan sampai bosan, apa lagi alat musik yang kamu pelajari?" tanya Mario santai.
"Gitar, tapi belajar sendiri saja dikamar." Lucky tersenyum malu-malu.
"Tidak masalah." jawab Mario terkekeh, mereka sudah tiba diruangan VIP, pesanan menu ternyata sudah tiba lebih dulu.
"Ada piano disini?" Lucky langsung semangat.
"Mainkan saja." kata Mario tertawa.
"Aku masih belajar Om, belum begitu lancar."
"Tidak masalah, ala bisa karena biasa. Terus saja berlatih." Mario menepuk bahu Lucky.
"Aku malu Om." jawab Lucky membuat Mario dan yang lain terbahak.
"Ya sudah kalau malu makan saja." kata Mario terkekeh.
"Sambil kita ngobrol santai, ayo silahkan." semua ikut perintah Mario duduk di kursi yang telah tersedia. Pikir sahabat Nanta Mario akan bicarakan masalah kontrak yang tadi.
"Kalian hanya minum?" tanya Mario heran begitu melihat hanya minuman dan cemilan yang dipesan, sementara Dania ikuti saran suaminya memesan makanan berat.
"Oke Boy, kamu boleh mulai bahas rencana kita." kata Mario akhirnya.
"Apa tidak menunggu Ayah dan yang lain, Pi?" tanya Nanta pada Papi Mario.
"Bicarakan saja dulu dengan sahabatmu." kata Mario pada Nanta.
"Aku makan ya Pi." ijin Dania pada Papi Mario.
"Yang banyak makannya, kamu kan makan berdua." kata Mario pada Dania sambil tersenyum, kemudian lanjut fokus pada Nanta dan sahabatnya.
Mulailah Nanta menyampaikan rencananya pada ketiga sahabatnya terkait corner basket pada Warung Elite. Dimana untuk hari-hari tertentu, pengunjung bisa menyerahkan anaknya bermain Basket ditemani oleh Atlet professional.
"Kalau kalian berminat maka akan kami kontrak." kata Mario pada ketiga sahabat Nanta.
"Wow hari ini urusannya kontrak." Mario terkekeh mendengar celutukan Mike.
"Yang kami khawatirkan kalau berbenturan dengan jadwal kami bertanding." Doni sampaikan kekhawatirannya pada Mario.
"Kalian yang atur waktunya, paling tidak dalam satu bulan kalian siapkan satu hari. Begitu kalian bisa kita langsung naik iklan seperti music live juga." kata Mario pada geng kuartet.
"Kalau begitu sih aku mau." jawab Larry, Mike dan Doni juga ikutan bilang mau.
"Baiklah, mengenai angka kita bahas begitu teman saya yang lain datang ya." kata Mario pada Nanta dan sahabatnya.
"Aku juga dikontrak Pi?" tanya Nanta menggoda Papi.
"Kalau kamu dikontrak selamanya, sudah hak paten." jawab Mario, Nanta dan sahabatnya langsung terbahak.
"Kalau punya skill begitu ya, mudah sekali mendapat uang." bisik Winner pada Lucky dan Dania.
"Iya." jawab Lucky yang ikut mendengar pembicaraan Mario dan sahabat Nanta.
"Kalian tekuni apapun yang kalian minati dengan benar, selama itu positif pasti nanti akan ada hasilnya." nasehat Dania pada adiknya.
"Seperti Kakak tekuni drama Korea saat ini?" tanya Lucky tertawakan Dania.
"Ish..." Dania langsung terbahak melempar tissue ditangannya kearah Lucky.
"Betul kan? Kakak fokus sekali kalau sudah nonton drama." kata Winner malah ikutan mentertawakan Dania.
"Bukan itu maksudku." sungut Dania sambil nyengir lebar dan mata sedikit membesar. Bisa-bisanya mau nasehati malah disindir begitu oleh adiknya.
Drrrtttt... drrrtttt... handphone Mario berdering.
"Masuk saja, saya di ruangan VIP I." kata Mario pada lawan bicaranya setelah mengangkat handphonenya. Tidak lama muncul orang yang Nanta tunggu-tunggu, siapa lagi kalau bukan Rumi.
"Loh kalian disini juga?" kata Rumi saat melihat Nanta dan rombongannya.
"Mbak Rumi juga disini." kata Nanta pura-pura terkejut.
"Aku antar kontrak untuk Baen." jawab Rumi serahkan map yang dibawanya pada Mario.
"Urusan mereka sudah selesai Rum?" tanya Mario pada Rumi.
"Sudah Pak." jawab Rumi singkat. Wajahnya tampak tidak rileks saat dekat dengan Mario.
"Duduk Rum." kata Mario persilahkan Rumi duduk.
"Saya langsung pulang saja, kalau kesorean nanti repot cari taxi." kata Rumi pada Mario.
"Kamu dampingi saya saat bicara dengan Papanya Baen nanti." perintah Mario pada Rumi.
"Bagaimana pulangnya, ya?" pikir Rumi bicara sendiri.
"Gampanglah ada taxi online, tapi kalau terlalu sore merepotkan."
"Diantar Larry saja nanti." kata Mike pada Rumi.
"Iya kan searah." Doni ikut-ikutan. Rumi memandangi Mario tidak berani menjawab.
"Iya boleh ikut Larry saja nanti. Saya titip keponakan saya, Larry." tegas Mario pada Larry.
"Siap Pak." jawab Larry cepat tanggap.