Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 82. Facing One After Hundreds



“…”


Mata gue kenapa?


Gue kira mata gue aman-aman aja, tapi


kok…


Semua yang gue liat jadi biru?


Tambah lagi…


“Urgh! Apaan ini?!”


Kenapa tiba-tiba ada tato yang


nyala warnanya di lengan gue?!


“Yang Mulia!”


Suara ini…kayak gue kenal…


“Ya. Kami adalah kekuatan alam yang membantu Anda ketika melawan


Penyembah Iblis kala itu.”


Ah iya! Mereka itu suara yang gue


denger waktu itu!


“Eh, tunggu! Lo bisa baca pikiran


gue?!”


“Tentu saja! Karena kami berada di dalam tubuh Anda!”


“Tunggu, tunggu, tunggu! Gue


masih kebingungan sama semuanya! Mulai dari sejarah yang gue liat tadi, tulisan


itu, mata ini, sampe lo semua yang tiba-tiba ngomong!”


“Kami adalah Kekuatan Alam. Anda adalah seseorang yang ditakdirkan


untuk menguasai kami! Masih ada banyak lagi dari kami semua yang akan Anda


kuasai, maka temukanlah kami, selagi kami masih bisa berbicara dengan Anda,


Yang Mulia!”


“Hah?! Jadi nanti lo semua udah


nggak bisa ngomong sama gue lagi?!”


“Ya, Yang Mulia! Kami hanya diminta oleh ‘Sang Pengelana’ untuk


membimbing Anda terkait kekuatan Anda!”


“Kekuatan? Maksudnya…”


“Mata Anda dan Kekuatan Alam Anda, Yang Mulia!”


Jadi suara-suara ini cuma ada


untuk ngajarin gue cara pake kekuatan ini, ya—


“uuuuaaaaarrr…”


“Suara apaan itu?!”


“Penjaga Hidden Dungeon ini, Fire Dragon King Tarzyn! Sepertinya ia


terbangun, Yang Mulia!”


“Terbangun?! Maksudnya…orang yang


tidur di bangku tadi?!”


“Ya!”


Itu raja dari naga?! Kok


bentuknya kayak Manusia?! Tambah lagi, kenapa pules banget tidurnya?!


“Kami tidak tahu, Yang Mulia! Kami hanya akan tiba kembali ketika Anda tiba


saja, Yang Mulia!”


Kok feeling gue nggak enak, ya?


“Kami juga, Yang Mulia! Maka dari itu, kami harus segara melatih


kemampuan Anda dalam menggunakan Mata dan Kekuatan Alam Anda, Yang Mulia!”


Latian?!


“Kita tidak banyak waktu lagi, Yang Mulia! Alangkah baiknya jika kita


mulai sekarang!”


“Y…Ya.”


Akhirnya gue latian cara pake


kekuatan baru gue.


Latiannya dimulai dari cara pake


kekuatan alam gue.


*“Judgement! Gunakanlah perintah itu, Yang Mulia!”*


Hmm…harus teriak, ya?


“Benar, Yang Mulia!”


Gue coba dulu aja deh.


“Judgement…”


“*JGRUM! (suara pukulan petir)”


Hah?! Gila kali!


Bisa ada petir dong keluar dari


pukulan gue!


Tapi…keras banget!


Bahkan tembok itu aja langsung


bolong gede banget!


“Waspadalah,Yang Mulia! Perhatikan penggunaan Mana Anda!”


“Ca…Caranya…?”


“Rasakan baik-baik Mana yang


berada di dalam Jiwa Anda! Jangan sampai Anda kehabisan Mana sebelum Anda Mana*-Burnout!”*


Itu…kayak yang dibilang Styx


dulu…


Rasain ya?


Hmm…gue bisa rasain…


Ibarat ember yang diisi air.


Airnya itu Mana, embernya Jiwa gue.


Tapi, keliatannya bukan kayak


ember. Mungkin tangki kali, ya?


Karena, ibarat gue pake gayung


untuk ambil ‘air’ dari ‘tangki’ ini, hasilnya…


“*JGRUM! (suara pukulan petir)”


“Waspadalah, Yang Mulia! Hasil yang dikeluarkan dari Kekuatan Alam Anda


sangat besar! Gunakanlah Mana Anda


sedikit mungkin!”


Mungkin gue pake konsep itu kali,


makanya pukulan gue keras banget, abis itu gampang ngantuk kalo pake kekuatan


gue.


Kalo gitu konsepnya gue ganti.


Gimana kalo ibarat gue ambil air


yang ada di dalem tangki pake pipet?


“Judgement…”


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“Bagus! Seperti itu Yang Mulia! Gunakanlah Kekuatan Alam dan Kekuatan


Fisik Anda sedikit demi sedikit, karena Anda adalah salah satu Mahluk paling kuat di dunia ini!”


Hah?! Masa, sih?!


“…”


Akhirnya gue coba pake kekuatan


petir ini terus-terusan.


Dan nggak cuma pukulan aja. Gue


bisa pake kekuatan ini lewat tendangan. Apalagi…


“Judgement: Charge!”


“*Crrrk…. Jgruumm! (suara sambaran


petir)”


“Luar Biasa, Yang Mulia!”


Gue bisa nembak pake petir!


Walaupun awalnya gue kaget sambil


heran kenapa bisa begitu, jadinya sekarang gue malah ngerasa keren punya


kekuatan kayak gini!


Ternyata ini ya yang namanya


sihir?!


“Anda bisa memanipulasikan kami yang dipercayakan kepada Anda dalam


bentuk apapun, Yang Mulia! Namun, itu hanya sebagian dari kekuatan anda saja,


Yang Mulia! Kami harap Anda tetap mencari sisa-sisa dari kami dan semoga Anda


bisa menguasai kami semua, Yang Mulia!”


“Sisa dari lo semua? Di Hidden


Dungeon juga?”


“Tepat sekali, Yang Mulia!”


Sisa 7 lagi ya, artinya?


“Saatnya Anda melatih Mata Anda, Yang Mulia!”


Oh iya! Mata gue masih burem


karena semua yang gue liat warnanya kebiru-biruan.


Gue pun dilatih ‘suara-suara’ ini


cara pake Mata gue.


Awalnya suara-suara ini cuma


nuntun gue cara pake ‘penglihatan’ gue.


“I…Itu…”


“Yang Anda lihat adalah Jiwa Fire Dragon King Tarzyn, yang sedang


bertarung dengan seorang Saint dari Wind Goddess of Freedom, Zegin, Yang


Mulia!”


“A…Artinya…Myllo!”


“Maafkan kami, Yang Mulia! Waktu kami akan habis karena kami akan


bersatu dengan Jiwa Anda!”


“Eh! Terus Mata ini bisa apa?!”


“Sebagai Mata Yang Akan Menghakimi Dunia dan Mengungkap


Kebenaran, maka Anda bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh


siapapun di dunia ini, Yang Mulia!”


“Ca…Caranya—”


“Maaf, waktu kami habis, Yang Mulia! Semoga Anda bisa menemukan sisa


kami lainnya dan menjalani takdir Anda!”


“Eh, tunggu!”


“…”


“Halo?!”


“…”


Sialan! Gue masih nggak tau cara


pake Mata ini! Kenapa mereka ilang semua?!


Bentar…


Mungkin masih bisa pake konsep


ditetes ke tangan sama kaki, sekarang pipetnya coba ditetes ke Mata gue.


“…”


Gue bisa liat semua kejadian yang


ada di luar. Yang gue liat, keadaannya jadi kacau banget.


Istana yang gue masukin bareng


Winona jadi ancur. Selain liat Myllo yang lagi lawan Tarzyn, gue liat ada


beberapa orang yang tumbang.


Ada juga Gia yang


bareng…anak-anak?


Pokoknya ada 4 anak kecil yang


dipeluk Gia di samping Royce. Terus ada juga Winona, Zorlyan, sama Maha yang


tumbang.


Tunggu, ada yang kurang.


“…”


Nah! Itu mereka! Ada Morri yang


lagi nopang orang, yang kemungkinan besar itu Dragonewt misterius.


Ya, nggak misterius sih buat gue.


Gue pun masih heran kenapa dia


nyerang kita semua.


Gue bisa aja kejar mereka, tapi…


“…”


…Myllo keliatannya butuh bantuan!


“…”


Pedang ini…


Pedang yang dipake Flamiza waktu


itu, kan?


“*Shirnggg… (suara pedang


terhunuskan)”


Bawa aja deh, untuk jaga-jaga.


Kalo gitu, waktunya gue bantuin


Myllo!


……………


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara


terpental)”


“Djinn?!”


Akhirnya gue keluar untuk nolong


Myllo lawan Tarzyn.


Waktu gue keluar untuk nolong


Myllo, Gia yang ngeliat gue nanyain ke gue tentang Mata sama tato di lengan


gue.


“Gue…dapet. Gue pun juga nggak


tau alesan kenapa gue bisa punya kekuatan i—”


““*Druk… (suara berlutut)””


Hah?! Kenapa ada dua orang yang berlutut


di depan gue?!


“Yang Mulia… A…Anda…Anda telah


datang!”


“Hah?!”


“I…I…Izinkan hamba untuk


memperkenalkan diri hamba…”


Siapa sih dua orang ini?!


“Hamba adalah Göhran!”


“Dan hamba adalah Rakhzar!”


“HAH?! Lo Rakhzar?! Bukannya lo


Naga?! Kok berubah wujud jadi Manusia?!”


“Ini hanyalah wujud hamba dalam


bentuk Manusia.”


Oh, Naga bisa berubah wujud gitu,


ya—


“Yang Mulia—”


“Panggil aja Djinn! Nggak perlu


sopan-sopan banget depan gue!”


“Ba…Baiklah. Djinn! Jika aku


boleh meminta sesuatu, maka aku harap kau bisa mengabulkannya!”


“Apa?”


“To…Tolong bunuh raja kami, Fire


Dragon King Tarzyn!”


Hah?! Mereka minta gue bunuh


rajanya?!


Mereka pun jelasin kondisi


sekarang tentang Tarzyn, raja mereka.


“Jadi, maksud lo itu…yang


bergerak itu Jiwa yang udah disegel sama kakaknya Myllo?!”


“Ya! Jiwa beliau sangatlah ganas!


Tanpa kendali Roh beliau, maka Jiwa yang terbangun itu hanyalah Jiwa ‘seekor’


Dragon King, salah satu mahluk buas yang membawa bencana bagi dunia ini!”


Kasian juga sih gue dengernya. Gue


ngerawat ibu selama setahun aja udah capek banget, gimana dia yang harus jagain


tempat ini berabad-abad?


“*Bruk! (suara bangun dari


reruntuhan)”


Wah, bangun lagi dia!


“Dji…Djinn—”


“Ya. Gue usahain semampu gue.”


Dia berdiri lagi waktu gue


tonjok.


Rahangnya agak geser, terus ada


darah yang ngalir dari mulutnya.


“*Krrrak! (suara rahang


tergeser)”


Buset! Rahangnya balik lagi!


Tambah lagi, dia ngebalikinnya murni pake otot rahangnya!


Ih! Ngilu sendiri gue liatnya!


“Uhuk! Uhuk!”


Myllo keliatannya udah sadar.


“Oi, Dongo.”


“Hehe…dateng juga lo, brengsek!


Ayo kita lawan bareng Tarzyn!”


“Hah? Emang lo masih kuat?”


“HAAAAH?! Lo ngeremehin Kapten lo


lagi?! Lo mau gue hukum—”


“Apaan sih?! Kayak anak kecil aja


dihukum-hukum gi—”


“Myllo! Djinn!”


““Hah?!””


Gia nyamperin kita berdua.


““Mamaa…””


Hah?! Mama?!


“Izinin aku untuk ikut!”


“Tapi, lo bukannya tak—”


“Setakut-takutnya aku, kalo aku


nggak berani ikut kalian, sama aja artinya aku nggak hormat sama Kapten aku sendiri!”


Iya. Dia sebenernya takut. Bahkan


pegang pedangnya aja gemeteran.


Tapi setakut-takutnya dia, dia


masih mau untuk ikut.


“He…Hey! Gia! Jangan ikut campur!


Kau tidak—”


“Aku ini Frontliner dari mereka


berdua! Kalo aku takut, siapa yang bisa jagain mereka?!”


“…”


“Daritadi aku udah dijagain terus


sama anak-anak aku! Udah waktunya aku untuk jagain rekan-rekan aku sendiri!”


Hah?! Anak-anak?!


“Ma…Mama—”


“Barao, Bario, Baruo, Bareo,


tenang aja! Mama kuat!”


“Tidak! Kau hanya orang biasa—”


“Göhran, Rakhzar, dia ini anggota


gue! Kalo dia siap mati, artinya gue sama Djinn juga siap mati! Selama kita


lakuin sama-sama, itu lebih baik daripada ditinggalin rekan kita yang jadi korban!”


Haha, bisa juga dia ngomong kayak


gitu.


“…”


Tarzyn udah jalan ke arah kita.


“Myl, Gia, kita udah nggak punya


waktu untuk banyak omong lagi! Waktunya kita lawan dia!”


“Hehe! Lo berdua udah siap,


kan?!”


““Ya!””


Padahal di Xia kita lawan ratusan


Ghoul.


Giliran sekarang, kita harus


bareng-bareng lawan satu orang?!


Hmph! Menarik!