
“…”
Mata gue kenapa?
Gue kira mata gue aman-aman aja, tapi
kok…
Semua yang gue liat jadi biru?
Tambah lagi…
“Urgh! Apaan ini?!”
Kenapa tiba-tiba ada tato yang
nyala warnanya di lengan gue?!
“Yang Mulia!”
Suara ini…kayak gue kenal…
“Ya. Kami adalah kekuatan alam yang membantu Anda ketika melawan
Penyembah Iblis kala itu.”
Ah iya! Mereka itu suara yang gue
denger waktu itu!
“Eh, tunggu! Lo bisa baca pikiran
gue?!”
“Tentu saja! Karena kami berada di dalam tubuh Anda!”
“Tunggu, tunggu, tunggu! Gue
masih kebingungan sama semuanya! Mulai dari sejarah yang gue liat tadi, tulisan
itu, mata ini, sampe lo semua yang tiba-tiba ngomong!”
“Kami adalah Kekuatan Alam. Anda adalah seseorang yang ditakdirkan
untuk menguasai kami! Masih ada banyak lagi dari kami semua yang akan Anda
kuasai, maka temukanlah kami, selagi kami masih bisa berbicara dengan Anda,
Yang Mulia!”
“Hah?! Jadi nanti lo semua udah
nggak bisa ngomong sama gue lagi?!”
“Ya, Yang Mulia! Kami hanya diminta oleh ‘Sang Pengelana’ untuk
membimbing Anda terkait kekuatan Anda!”
“Kekuatan? Maksudnya…”
“Mata Anda dan Kekuatan Alam Anda, Yang Mulia!”
Jadi suara-suara ini cuma ada
untuk ngajarin gue cara pake kekuatan ini, ya—
“uuuuaaaaarrr…”
“Suara apaan itu?!”
“Penjaga Hidden Dungeon ini, Fire Dragon King Tarzyn! Sepertinya ia
terbangun, Yang Mulia!”
“Terbangun?! Maksudnya…orang yang
tidur di bangku tadi?!”
“Ya!”
Itu raja dari naga?! Kok
bentuknya kayak Manusia?! Tambah lagi, kenapa pules banget tidurnya?!
“Kami tidak tahu, Yang Mulia! Kami hanya akan tiba kembali ketika Anda tiba
saja, Yang Mulia!”
Kok feeling gue nggak enak, ya?
“Kami juga, Yang Mulia! Maka dari itu, kami harus segara melatih
kemampuan Anda dalam menggunakan Mata dan Kekuatan Alam Anda, Yang Mulia!”
Latian?!
“Kita tidak banyak waktu lagi, Yang Mulia! Alangkah baiknya jika kita
mulai sekarang!”
“Y…Ya.”
Akhirnya gue latian cara pake
kekuatan baru gue.
Latiannya dimulai dari cara pake
kekuatan alam gue.
*“Judgement! Gunakanlah perintah itu, Yang Mulia!”*
Hmm…harus teriak, ya?
“Benar, Yang Mulia!”
Gue coba dulu aja deh.
“Judgement…”
“*JGRUM! (suara pukulan petir)”
Hah?! Gila kali!
Bisa ada petir dong keluar dari
pukulan gue!
Tapi…keras banget!
Bahkan tembok itu aja langsung
bolong gede banget!
“Waspadalah,Yang Mulia! Perhatikan penggunaan Mana Anda!”
“Ca…Caranya…?”
“Rasakan baik-baik Mana yang
berada di dalam Jiwa Anda! Jangan sampai Anda kehabisan Mana sebelum Anda Mana*-Burnout!”*
Itu…kayak yang dibilang Styx
dulu…
Rasain ya?
Hmm…gue bisa rasain…
Ibarat ember yang diisi air.
Airnya itu Mana, embernya Jiwa gue.
Tapi, keliatannya bukan kayak
ember. Mungkin tangki kali, ya?
Karena, ibarat gue pake gayung
untuk ambil ‘air’ dari ‘tangki’ ini, hasilnya…
“*JGRUM! (suara pukulan petir)”
“Waspadalah, Yang Mulia! Hasil yang dikeluarkan dari Kekuatan Alam Anda
sangat besar! Gunakanlah Mana Anda
sedikit mungkin!”
Mungkin gue pake konsep itu kali,
makanya pukulan gue keras banget, abis itu gampang ngantuk kalo pake kekuatan
gue.
Kalo gitu konsepnya gue ganti.
Gimana kalo ibarat gue ambil air
yang ada di dalem tangki pake pipet?
“Judgement…”
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
“Bagus! Seperti itu Yang Mulia! Gunakanlah Kekuatan Alam dan Kekuatan
Fisik Anda sedikit demi sedikit, karena Anda adalah salah satu Mahluk paling kuat di dunia ini!”
Hah?! Masa, sih?!
“…”
Akhirnya gue coba pake kekuatan
petir ini terus-terusan.
Dan nggak cuma pukulan aja. Gue
bisa pake kekuatan ini lewat tendangan. Apalagi…
“Judgement: Charge!”
“*Crrrk…. Jgruumm! (suara sambaran
petir)”
“Luar Biasa, Yang Mulia!”
Gue bisa nembak pake petir!
Walaupun awalnya gue kaget sambil
heran kenapa bisa begitu, jadinya sekarang gue malah ngerasa keren punya
kekuatan kayak gini!
Ternyata ini ya yang namanya
sihir?!
“Anda bisa memanipulasikan kami yang dipercayakan kepada Anda dalam
bentuk apapun, Yang Mulia! Namun, itu hanya sebagian dari kekuatan anda saja,
Yang Mulia! Kami harap Anda tetap mencari sisa-sisa dari kami dan semoga Anda
bisa menguasai kami semua, Yang Mulia!”
“Sisa dari lo semua? Di Hidden
Dungeon juga?”
“Tepat sekali, Yang Mulia!”
Sisa 7 lagi ya, artinya?
“Saatnya Anda melatih Mata Anda, Yang Mulia!”
Oh iya! Mata gue masih burem
karena semua yang gue liat warnanya kebiru-biruan.
Gue pun dilatih ‘suara-suara’ ini
cara pake Mata gue.
Awalnya suara-suara ini cuma
nuntun gue cara pake ‘penglihatan’ gue.
“I…Itu…”
“Yang Anda lihat adalah Jiwa Fire Dragon King Tarzyn, yang sedang
bertarung dengan seorang Saint dari Wind Goddess of Freedom, Zegin, Yang
Mulia!”
“A…Artinya…Myllo!”
“Maafkan kami, Yang Mulia! Waktu kami akan habis karena kami akan
bersatu dengan Jiwa Anda!”
“Eh! Terus Mata ini bisa apa?!”
“Sebagai Mata Yang Akan Menghakimi Dunia dan Mengungkap
Kebenaran, maka Anda bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh
siapapun di dunia ini, Yang Mulia!”
“Ca…Caranya—”
“Maaf, waktu kami habis, Yang Mulia! Semoga Anda bisa menemukan sisa
kami lainnya dan menjalani takdir Anda!”
“Eh, tunggu!”
“…”
“Halo?!”
“…”
Sialan! Gue masih nggak tau cara
pake Mata ini! Kenapa mereka ilang semua?!
Bentar…
Mungkin masih bisa pake konsep
ditetes ke tangan sama kaki, sekarang pipetnya coba ditetes ke Mata gue.
“…”
Gue bisa liat semua kejadian yang
ada di luar. Yang gue liat, keadaannya jadi kacau banget.
Istana yang gue masukin bareng
Winona jadi ancur. Selain liat Myllo yang lagi lawan Tarzyn, gue liat ada
beberapa orang yang tumbang.
Ada juga Gia yang
bareng…anak-anak?
Pokoknya ada 4 anak kecil yang
dipeluk Gia di samping Royce. Terus ada juga Winona, Zorlyan, sama Maha yang
tumbang.
Tunggu, ada yang kurang.
“…”
Nah! Itu mereka! Ada Morri yang
lagi nopang orang, yang kemungkinan besar itu Dragonewt misterius.
Ya, nggak misterius sih buat gue.
Gue pun masih heran kenapa dia
nyerang kita semua.
Gue bisa aja kejar mereka, tapi…
“…”
…Myllo keliatannya butuh bantuan!
“…”
Pedang ini…
Pedang yang dipake Flamiza waktu
itu, kan?
“*Shirnggg… (suara pedang
terhunuskan)”
Bawa aja deh, untuk jaga-jaga.
Kalo gitu, waktunya gue bantuin
Myllo!
……………
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara
terpental)”
“Djinn?!”
Akhirnya gue keluar untuk nolong
Myllo lawan Tarzyn.
Waktu gue keluar untuk nolong
Myllo, Gia yang ngeliat gue nanyain ke gue tentang Mata sama tato di lengan
gue.
“Gue…dapet. Gue pun juga nggak
tau alesan kenapa gue bisa punya kekuatan i—”
““*Druk… (suara berlutut)””
Hah?! Kenapa ada dua orang yang berlutut
di depan gue?!
“Yang Mulia… A…Anda…Anda telah
datang!”
“Hah?!”
“I…I…Izinkan hamba untuk
memperkenalkan diri hamba…”
Siapa sih dua orang ini?!
“Hamba adalah Göhran!”
“Dan hamba adalah Rakhzar!”
“HAH?! Lo Rakhzar?! Bukannya lo
Naga?! Kok berubah wujud jadi Manusia?!”
“Ini hanyalah wujud hamba dalam
bentuk Manusia.”
Oh, Naga bisa berubah wujud gitu,
ya—
“Yang Mulia—”
“Panggil aja Djinn! Nggak perlu
sopan-sopan banget depan gue!”
“Ba…Baiklah. Djinn! Jika aku
boleh meminta sesuatu, maka aku harap kau bisa mengabulkannya!”
“Apa?”
“To…Tolong bunuh raja kami, Fire
Dragon King Tarzyn!”
Hah?! Mereka minta gue bunuh
rajanya?!
Mereka pun jelasin kondisi
sekarang tentang Tarzyn, raja mereka.
“Jadi, maksud lo itu…yang
bergerak itu Jiwa yang udah disegel sama kakaknya Myllo?!”
“Ya! Jiwa beliau sangatlah ganas!
Tanpa kendali Roh beliau, maka Jiwa yang terbangun itu hanyalah Jiwa ‘seekor’
Dragon King, salah satu mahluk buas yang membawa bencana bagi dunia ini!”
Kasian juga sih gue dengernya. Gue
ngerawat ibu selama setahun aja udah capek banget, gimana dia yang harus jagain
tempat ini berabad-abad?
“*Bruk! (suara bangun dari
reruntuhan)”
Wah, bangun lagi dia!
“Dji…Djinn—”
“Ya. Gue usahain semampu gue.”
Dia berdiri lagi waktu gue
tonjok.
Rahangnya agak geser, terus ada
darah yang ngalir dari mulutnya.
“*Krrrak! (suara rahang
tergeser)”
Buset! Rahangnya balik lagi!
Tambah lagi, dia ngebalikinnya murni pake otot rahangnya!
Ih! Ngilu sendiri gue liatnya!
“Uhuk! Uhuk!”
Myllo keliatannya udah sadar.
“Oi, Dongo.”
“Hehe…dateng juga lo, brengsek!
Ayo kita lawan bareng Tarzyn!”
“Hah? Emang lo masih kuat?”
“HAAAAH?! Lo ngeremehin Kapten lo
lagi?! Lo mau gue hukum—”
“Apaan sih?! Kayak anak kecil aja
dihukum-hukum gi—”
“Myllo! Djinn!”
““Hah?!””
Gia nyamperin kita berdua.
““Mamaa…””
Hah?! Mama?!
“Izinin aku untuk ikut!”
“Tapi, lo bukannya tak—”
“Setakut-takutnya aku, kalo aku
nggak berani ikut kalian, sama aja artinya aku nggak hormat sama Kapten aku sendiri!”
Iya. Dia sebenernya takut. Bahkan
pegang pedangnya aja gemeteran.
Tapi setakut-takutnya dia, dia
masih mau untuk ikut.
“He…Hey! Gia! Jangan ikut campur!
Kau tidak—”
“Aku ini Frontliner dari mereka
berdua! Kalo aku takut, siapa yang bisa jagain mereka?!”
“…”
“Daritadi aku udah dijagain terus
sama anak-anak aku! Udah waktunya aku untuk jagain rekan-rekan aku sendiri!”
Hah?! Anak-anak?!
“Ma…Mama—”
“Barao, Bario, Baruo, Bareo,
tenang aja! Mama kuat!”
“Tidak! Kau hanya orang biasa—”
“Göhran, Rakhzar, dia ini anggota
gue! Kalo dia siap mati, artinya gue sama Djinn juga siap mati! Selama kita
lakuin sama-sama, itu lebih baik daripada ditinggalin rekan kita yang jadi korban!”
Haha, bisa juga dia ngomong kayak
gitu.
“…”
Tarzyn udah jalan ke arah kita.
“Myl, Gia, kita udah nggak punya
waktu untuk banyak omong lagi! Waktunya kita lawan dia!”
“Hehe! Lo berdua udah siap,
kan?!”
““Ya!””
Padahal di Xia kita lawan ratusan
Ghoul.
Giliran sekarang, kita harus
bareng-bareng lawan satu orang?!
Hmph! Menarik!