
Beberapa saat sebelum Djinn menyaksikan sebagian kisah hidup Melchizedek di dalam Ruang Ancient Armament.
““Hraaaagh!””
“*Swung…”
Gia dan Styx masih berkutat dengan Iadolis. Kali ini serangan mereka berdua berhasil dihindari oleh Siren tertua di dalam Hidden Dungeon.
“Yang satu memiliki kekuatan Iblis yang mengabdi kepada Azzulthi, sedangkan yang satu lagi memiliki senjata berbahaya tanpa potensi, kah?”
Pikir Iadolis, yang menganalisa kemampuan Gia dan Styx.
“Intinya, mereka semua lemah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan—”
((Extermicia))
“*Vwumm!”
“!!!”
Iadolis menghindari serangan kejutan dari Styx.
“Cih! Lincah banget, sih!”
Seru Styx dengan kesal karena gagal melukai Iadolis.
“Pikir baik-baik, Styx! Lo harus bisa cari kelemahannya!”
Pikirnya sambil menenangkan dirinya.
Namun…
“Humph!”
“*Chringgg!”
“Keuk!”
…ia dikejutkan dengan Iadolis yang menyerangnya dengan cepat menggunakan tangannya.
Beruntung ia berhasil menghadang pukulan tersebut dengan kedua pisaunya.
“Gi-Gila! Itu tangan atau pedang?! Kok keras banget?!”
Pikir Styx yang heran dengan pukulan Iadolis.
“Styx! Minggir!”
“*Swush!”
Styx langsung melompat ke belakang ketika mendengar seruan Gia.
“Hraaaaagh!”
“*PRANG…”
Dengan ayunan World Quaker yang sangat keras, Gia menyerang Iadolis. Namun, dengan mudah Iadolis menahan serangannya dengan tombak besarnya.
Setelah itu…
“*Krrrttt…”
“Akh!”
“*Swush!”
…ia mencekik Gia dan melemparnya ke arah Styx.
“*Bruk!”
“Aargh!”
Styx tertabrak oleh Gia yang terlempar oleh Iadolis dengan sangat kencang.
“Menyerahlah, kalian berdua! Jangan mencampuri masalahku dengan Siren itu!”
Seru Iadolis kepada Gia dan Styx.
“Styx! Kamu nggak apa-apa, kan?! Ma-Maafin a—”
“Diem dulu!”
“!!!”
Mendengar seruan Styx, Gia pun merasa kesal.
“Ih! Kok kamu galak banget, sih?! Kan aku minta—”
“*Wruk…”
“Denger gue baik-baik, ya!”
Seru Styx dengan kasar, sambil menarik baju Gia agar bisa berbicara di dekat telinganya.
Melihat mereka, Iadolis tertawa.
“Hahaha! Apakah kalian berdua terlalu putus asa dan bertengkar?! Hmph! Klasik sekali!”
Cemooh Iadolis kepada mereka berdua.
Namun, mereka berdua tidak memperdulikannya dan melanjutkan pertengkaran mereka, dengan saling menatap tajam. Oleh karena apa yang sedang mereka berdua lakukan, Iadolis merasa bahwa kali ini adalah momen yang tepat untuk menyerang mereka.
“*Swush!”
((Water Magic: Wave Blow))
Dengan sihirnya, tangan kanan Iadolis diselimuti dengan aliran air yang deras, yang ia gunakan untuk memukul mereka berdua.
“*BWUSH!!!”
“Cih! Ternyata hanya pengecoh saja, kah?!”
Seru Iadolis, ketika mereka bergerak dan menghindari serangannya.
“Hraaaagh!”
Gia langsung bergerak dan menyerang Iadolis.
((Iron Crusher))
“*PRANG!!!”
Namun Iadolis kembali menahan serangannya dengan tangan kirinya yang menggenggam tombak besarnya.
“Kau pikir kau bisa menyerangku dengan serangan lemah seperti itu?!”
Seru Iadolis, sambil menggunakan tangan kanannya.
Akan tetapi, ia terlalu fokus dengan Gia dan melupakan Styx yang berada di belakangnya.
“Hraaaagh!”
“*Vwumm!”
“Aaaaargh!”
Styx langsung memotong lengan kanan Iadolis dengan kedua pisaunya yang diselimuti api hitam.
“Ke-Keterlaluan!”
“*Swung!”
Iadolis mengayunkan tombaknya untuk menyerang Styx.
Dan lagi-lagi ia melupakan satu orang lagi yang berada di hadapannya.
“Hey, Siren!”
“!!!”
“*PRANGGG!!!”
“Urgh…”
“*Bruk, bruk, bruk…”
Gia langsung menyerang Iadolis, dengan ((Iron Crusher)) yang masih aktif, hingga ia terpukul jauh.
“*Crat, crat, crat…”
Darah mulai berkucuran di sekujur tubuh Iadolis.
Di saat ia hendak berdiri, ia melihat Gia dan Styx yang berjalan dengan ke arahnya.
“Me-Mereka hanyalah Mahluk Fana, bukan?! Tidak hanya berani melawanku saja! Mereka bahkan bisa melukaiku!”
Pikir Iadolis dengan putus asa.
“Apa mungkin…mereka terinspirasi oleh dua orang itu?!”
Kembali pikir Iadolis, yang melihat mereka berdua membuatnya teringat akan Melchizedek dan Alfgorth yang mempermalukan dirinya ribuan tahun yang lalu.
“Woy, Siren!”
“Lo tau nggak kenapa bisa kalah?!”
“…”
“Karena lo terlalu remehin kita berdua!”
Seru Styx kepada Iadolis.
Namun, hal tersebut bukanlah alasan utamanya.
“…”
Sambil menatap Styx, Gia teringat akan bisikan Styx yang ia dengar, sebelum mengalahkan Iadolis.
“Denger gue ya! Siren itu cuma pake tombaknya sebagai alat pertahanannya! Apalagi, dia selalu pake tangan kanannya untuk serang balik! Makanya itu, gue mau lo manfaatin tombaknya itu, sementara gue cari cara untuk lumpuhin tangan kanannya! Paham?!”
Bisik Styx dalam ingatan Gia.
“…”
Styx membalas tatapan Gia.
“Kenapa lo liat-liat?!”
“Cih! Kasar banget jadi cewek! Hmph!”
Ketus Gia, sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Styx.
“Heh! Kalo gue nggak kasih tau, mungkin lo juga nggak akan pernah tau kelemahannya, kan?!”
“Yaudah sih! Sombong banget! Dasar cewek tomboi! Pasti nggak ada cowok yang mau!”
“Apa lo bilang?!”
Mereka pun kembali bertengkar.
Namun, di dalam pikirannya, Gia juga sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Styx ada benarnya.
“Dia bisa cari kelemahan lawan secepet itu, ya. Ternyata Observer Kasta Jingga tuh beda cerita, ya?”
Pikir Gia akan Styx.
“Kalo Dalbert cuma bisa cari informasi soal musuh. Sedangkan Djinn yang biasanya tau titik kelemahan musuh. Kira-kira bisa nggak ya Dalbert ada di level yang sama kayak dia?”
Kembali pikir Gia.
Sementara Styx juga melakukan hal yang sama.
“Gila aja kali nih cewek! Genit sih genit! Tapi kekuatan macem apa tuh yang dia punya?!”
Pikir Styx akan Gia.
“Kalo lawannya bukan Mahluk Abadi kayak Siren ini, kira-kira lawannya masih bisa hidup nggak, ya?!”
Kembali pikirnya.
Walaupun saling memikirkan dan memuji satu sama lain, pada kenyataannya mereka terus berdebat.
Akan tetapi, mereka melupakan bahwa Iadolis adalah Siren, yang pada umumnya bisa menyembuhkan diri sendiri dengan sangat cepat.
“Mereka terus berdebat?! Apakah kali ini mereka yang meremehkanku?!”
Pikir Iadolis, dengan lengannya yang kembali tumbuh dan hendak menyerang mereka semua.
Akan tetapi…
“Aaaaargh!”
““!!!””
…tiba-tiba kepalanya merasakan sakit yang luar biasa.
“Eh?! Dia kenapa?!”
“Aku juga nggak tau! Tiba-tiba dia pegang kepalanya kayak gitu! Apa mungkin kepalanya kesakitan!”
Balas Gia yang sama herannya dengan Styx.
Tidak hanya Iadolis saja.
“Aaaargh!”
“A-Ada apa dengan kepalaku?!”
“Urgh! Uaaargh!”
Seluruh Siren yang berada di dalam Hidden Dungeon of Whisper juga mengalami hal yang sama dengan Iadolis,
termasuk Delolliah.
“Delolliah! Lo kenapa?!”
“A-A-Aku tidak tahu, Dalbert! Seketika kepalaku terasa sangat sakit!”
Balas Delolliah yang sebelumnya sedang menghadapi prajurit Siren bersama Dalbert dan Garry.
“Garry! Gimana keadaan Delolliah?!”
“Aing teh juga bingung, atuh! Dari yang aing periksakeun, nggak ada tanda-tanda penyakit ieu, mah!”
Balas Garry, yang memeriksa kondisi Delolliah.
Sementara Angela dan yang lainnya…
“A-Ada apa ini?! Mengapa mereka semua mengalami sakit seperti itu?!”
“Aku juga tidak tahu, Angela!”
“I-Iya, ya. Ada yang aneh dari mereka semua.”
Kata Angela, Eìmgrotr, dan Zhivreeg yang saling bersahutan, ketika mereka menghadapi para Siren bersama Virgo, yang juga diisi oleh Siren.
Semua yang datang ke dalam Hidden Dungeon of Whisper merasa bingung dengan apa yang terjadi semua Siren. Dari semua Siren yang seketika mengalami sakit kepala yang luar biasa, hanya Nemesia yang tidak merasakan hal yang sama dengan saudari satu ras-nya.
“Woy! Jenna! Lo kenapa?!”
“A-Aku tidak tahu, Myllo! Seketika kepalaku sangat sakit!”
Balas Jenna, sambil kepalanya diusap oleh Machinno.
“Cih! Sudah mulai, kah?!”
“Mulai…?”
Tanya Myllo dengan heran kepada Nemesia.
“Woy, Nemesia! Lo apain semua Siren yang ada di sini?! Kenapa mereka semua tiba-tiba begi—”
“*DHUMMM………”
“Jaga mulutmu, Mahluk Fana!”
Seru Nemesia dengan kesal karena Myllo yang berbicara seakan ia sebanding dengannya.
“Asal kau tahu saja, Mahluk Fana! Mereka semua menjadi seperti itu karena ulah Pria Terjanji!”
Jelas Nemesia kepada Myllo dengan pongah.
“Hah?! Karena Djinn?! Nggak masuk akal ba—”
“Ketika Pria Terjanji memasuki Ruang Ancient Armament, maka memori dari seluruh Siren yang dihapus oleh Melchizedek akan kembali!”
““!!!””
Myllo dan Jennania begitu terkejut ketika mendengar penjelasan dari Nemesia.
“Mulai dari siapa kami para Siren sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi 5,000 tahun yang lalu, hingga siapa
pemimpin kami sebenarnya, semuanya akan terungkap bagi semua Siren!”
Kembali jelas Nemesia kepada Myllo dan rekan-rekannya.
Namun, ditengah kekeliruan mereka semua, bahaya yang baru tiba-tiba datang bermunculan.
““*Shringgg…””
Dari dalam kastil koral di mana Myllo berada, terlihat beberapa sinar dari langit secara bergantian di seluruh area di Dungeon of Whisper.
“Mahluk Fana! Siapa yang kau bawa kali ini?!”
“Hah?! Yang gue bawa?! Apa maksud lo?!”
“A-Ada yang datang dari Geoterra!”
““!!!””
Kembali semua dikejutkan dengan penjelasan Nemesia.
“Cih! Gawat, nih!”
Pikir Myllo dengan khawatir.