Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 155. Ruler of The Sea



““Kraaaaw!””


Ada monster yang namanya Sea Serpent di tengah laut ini.


Gimana cara kita ngalahin monster yang tinggal di laut, di tengah laut kayak gini?!


“Semua awak kapal siap?!”


““Siap, Kapten Logrim!””


Ternyata kapal ini punya meriam.


“Kraaaaw!”


“Tembak! Sekarang!”


““*Boom!””


“Kraaaw…”


Sial! Gue yakin nggak mempan!


“Ada bekas luka dari meriam di deket leher Sea Serpent itu!”


“Djinn! Serang luka itu!”


“*Jgrum!”


“Kraaaaaw!”


Bagus, ternyata…


“Eh! Sea Serpent itu mau jatoh ke si—”


“Hraaaagh!”


“*Prang!”


“…”


Untung ada Gia yang langsung serang Sea Serpent itu, supaya nggak jatoh ke kapal!


“Aquilla! Makasih banyak atas bantuannya!”


“Hehe! Karena udah di kasih perjalanan gratis, gue nggak akan—”


“Mil[1]! Belom selesai! Masih banyak Sea Serpent di sekitar sini!”


“OK! Logrim, kita pertahanin pola nyerang kita!”


“Siap, Bos Olfret!”


Sesuai yang Myllo bilang, kita tetep nyerang mereka kayak gitu.


“Tembak!”


““*Boom!””


“Krraaaww…”


Logrim sama pasukannya tembakin Sea Serpent itu.


“Ada luka di perutnya!”


Terus Dalbert yang kasih tau bekas luka mereka.


“*Jgrum!”


Terakhir gue yang serang bekas luka itu.


Kalo ada yang jatoh ke kapal kita…


“Hraaaaagh!”


“*Prang!”


“*Fwush!”


…Gia atau Myllo yang jauhin badan mereka ke laut, sebelum jatoh ke sini.


Semuanya keliatan aman-aman aja di awal.


Masalahnya…


“Puter meriam ke arah 79° horizontal kapal!”


“Me-Mentok, bos!”


…meriam-meriam di kapal ini puterannya terbatas!


“Kraaaaw!”


“A-Ada Sea Serpent yang mau nyerang kapal ini!”


“Gawat! Kita—”


“Haaup—”


“…”


U-Untung gue masih bisa tahan Sea Serpent ini, sebelum nyentuh kapal!


“Gia! Serang Sea Serpent yang ditahan Djinn itu!”


“Hraaaagh!”


“*Prang!”


“Bagus—”


““Kraaaw!””


Cih! Ada dua Sea Serpent yang mau nyerang kapal ini juga!


“Mil! Bilangin semua untuk geser!”


“Lo mau ngapa—”


“Heeaaaaagh!”


“*FWUNG…”


““*Bruk!””


“Rrrr…”


Huh!


Untung aja gue bisa lempar Sea Serpent tadi!


““…””


Selain Myllo, keliatannya pada kaget kenapa gue bisa angkat Sea Serpent itu.


““Kraaaww!””


Cih! Masih banyak Sea Serpent yang mau nyerang kapal ini! Kalo gitu kita harus—


“*BWUSHHH!!!”


““Kraaaww…””


““Aaaaargh!””


Eh…?


Kok kayak ada yang nyerang beberapa Sea Serpent dari bawah laut, ya?!


Mereka semua tiba-tiba mental jauh ke atas udara karena ada gelombang dari bawah laut! Bahkan kapal kita


sampe goyang karena gelombang itu!


“A-Aquilla! Kalian nggak apa-a—”


““*KRAK!!!””


“Gawat! Masih ada beberapa Sea Serpent yang serang kapal ini!”


““!!!””


Sialan! Masih ada beberapa Sea Serpent yang gigit kapal ini! Bahkan beberapa bagian kapal jadi hancur karena


mereka!


“Djinn!”


“OK!”


“*Jgrumm!” “*Fwushh…”


““Kraaaw…””


Gue bareng Myllo langsung hajar beberapa Sea Serpent yang ada di sekitar kapal ini.


Masalahnya masih banyak Sea Serpent yang mau—


“*BWUSH!!!”


““!!!””


Woy…


Woy, woy, woy, woy!


Uler macam apa tuh yang keluar dari dalem laut?! I-Itu jauh lebih gede dari semua Sea Serpent yang nyerang kapal ini! Bahkan lebih gede daripada Tarzyn!


“Wuhuuuu! Gede banget!”


“*Tung!”


“Adudududuh!”


““BUKAN WAKTUNYA SENENG!””


Dasar dongo!


Malah sempet-sempetnya nyengir liat monster segede itu!


“Logrim! Itu apaan?!”


“Nggak… Nggak mungkin! Kenapa mitos ini muncul sekarang?!”


Hah?! Mitos?!


“Maksud lo a—”


“Ada mitos tentang Penguasa Laut, yang katanya lahir dari nadi Sang Dewi! Gue nggak nyangka ini


Lahir dari na—


“(VAAAAAA RUUUUUUU KAAAAAAAA…)”


““!!!””


Suaranya kenceng banget!


Tapi kok… kesannya uler raksasa itu kayak lagi ngomong…?


““Kraaaaww!””


Semua Sea Serpent mau nyerang monster ini?!


“*Bwush…”


Oi…


Oi, oi, oi, oi, oi!


Apaan tuh?!


Kok mulutnya banyak gelombang air dari laut?!


“SEMUANYA!!! HATI-HATI SAMA—”


“*BWUUUUSSSSHHH!!!”


““*Bwush…””


S-Sialan tuh monster!


Kita semua tenggelam di dalem laut karena semburan air dia! Nggak cuma kapal kita aja yang hancur! Bahkan Sea


Serpent pun juga hancur berkeping-keping!


“…”


I-Itu temen-temen gue! Mending gue—


“*FWUSH…”


Eh?! Kok mereka semua dimakan uler raksasa i—


“*FWUSH…”


S-Sialan! Bahkan gue juga dimakan uler i—


“Djinn! Lo nggak apa-apa?!”


“Hah?! Myllo?! Lo masih hidup?!”


“Kurang ajar! Lo kira gue ditelen monster itu?!”


“M-Mana gue tau!”


Selain gue sama Myllo, ada Aquilla lainnya bareng beberapa crew-nya Logrim di dalem mulut uler


raksasa ini. Bahkan bongkahan kapal juga ada di dalem mulutnya.


Masalahnya…


“Gia! Garry! Dalbert! Logrim! Semuanya!”


…cuma gue sama Myllo aja yang sadar!


“Mil, daripada kita kelamaan di sini, mending kita hajar uler raksasa ini supaya—”


“Jangan dulu!”


“Hah?! Jangan dulu?! Tapi bisa aja kita ditelen monster i—”


“Percaya sama insting gue!”


“…”


Haaaaah… Kalo dia ngomong gitu, gue cuma bisa nurut aja deh. Selama itu insting dia yang biasanya akurat, mending gue tunggu aja.


Lagian kalo dipikir-pikir lagi, belom tentu kita selamat di dalem laut, kalo emang berhasil nyerang monster ini dari dalem!


Tapi yang lebih penting, kita harus tau dulu mau dibawa ke mana sama uler raksasa i—


“Hm?!”


“Ada apaan, Mil?!”


“Denger baik-baik! Gue denger ada suara air?!”


“Suara… air…?”


“*Bwush…”


Eh iya ada suara air!


Tapi kok suara airnya makin deket, ya?


“*BWUSH!!!”


Kok ada ombak gede di dalem uler raksasa ini?!


“Djinn! Pegangan sama yang lain!”


“Siap!”


Gue nggak tau kenapa tiba-tiba ada ombak di sini! Yang pasti, feeling gue tiba-tiba jadi nggak enak!


“*BWUSHHH…”


Eh…?


Kok kita… ada di udara…?


“!!!”


D-Dasar uler raksasa sialan!!! Ternyata kita semua disembur ke atas!!!


“Wuhuuuuu!!! Kita ada di udaraaaa!!!”


“BUKAN WAKTUNYA SENENG-SENENG, DONGO!!!”


“GUE NGGAK DENGEEERR!!! WUHUUUU!!!”


“D-DASAR KAPTEN SIALAN LO—”


“HYAAAAAAA……”


Lah! Ternyata bangun Si Mesum


ini!


“*Phushhh…”


Eh?! Kok tiba-tiba ada bantalan yang tebel?!


“…”


Untungnya sih kita mendarat karena bantalan ini, jadinya kita masih bisa selamat, walaupun jatoh setinggi


itu!


“Aaaargh… Empuk banget!”


“Haduuuhh… Andaikeun kapas-kapas ini bantalannya teteh geulis…”


“…”


Nggak cuma mereka berdua aja. Gia, Dalbert, sama crew lainnya juga selamat karena bantalan ini.


Untungnya sih serpihan kapalnya Logrim nggak jatoh di atas kita. Bayangin aja kalo kita masih harus ketiban


balok-balok kayu segede itu!


“Untung aja gue nggak telat rapal sihir gue! Kalo telat sedikit, mungkin aja kita semua mati dari ketinggian, Bos


Olfret!”


“Oh! Ini sihir lo, Logrim! Makasih banyak, ya!”


“Ya, Bos Olfret. Seneng bisa ban—”


“(RRRRRRR…)”


U-Uler raksasa itu masih ada di sini?!


“…”


Dia bikin Gia, Dalbert, sama yang lainnya nggak sadar, kan?!


“*Chrrkkk…”


Dasar brengsek! Gue bantai uler raksasa itu sekarang ju—


“Tunggu, Djinn!”


“Kenapa, Mil?! Jangan bilang lo masih mau—”


“(GAAAAAAA MOOOOOO ZAAAAAAAAA…)”


“*BWUSH……”


Dia pergi gitu aja?!


“Mil, kenapa lo tahan gue?! Gara-gara uler raksasa itu, Gia sama Dalbert…”


“Tenang aja. Gue yakin mereka baik-baik aja. Selain itu, gue yakin kalo calon peliharaan gue tadi sebenernya


pengen bantuin kita dari Sea Serpent yang nyerang kapal kita.”


Hah…?


“Calon peliharaan?!”


“Hehe! Bener banget! Kapan lagi punya peliharaan segede i—”


“*Tung!”


“Aduh!”


Dasar Kapten dongo! Bisa-bisanya dia masih bercanda kayak gitu!


_______________


[1]Mil adalah


sebutan dari Djinn kepada Myllo (ˈmīlō).