Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 407. The Maiden's Suffering



“Ayasaki! Ayo kita berpetualang kembali! Hihihi!”


“Ya! Dengan senang hati, Melchi!”


Melchizedek. Pria yang membebaskanku dari belenggu ayahku.


Kekuatannya sangatlah misterius. Ia bahkan mampu mengalahkan ayahku, seorang Shogun pada masanya, Kitsune yang terkuat dari antara semua anggota Klan Kazedori. Tidak, lebih tepatnya Kitsune terkuat dari antara Kitsune manapun, kecuali diriku.


Tetapi aku tidak memperdulikan hal itu. Ia telah membawaku berpetualang dan memperlihatkan kepadaku betapa luasnya dunia ini.


Mungkin pada mulanya aku merasa berhutang budi kepadanya. Tetapi secara perlahan-lahan perasaan itu berubah.


“Terima kasih telah membebaskan kami dari bahaya yang akan merenggut nyawa kami!”


“Jika tidak ada diri kalian di tengah-tengah kami, mungkin kami tidak akan mungkin bisa melihat hari esok!”


“Kami sangat bersyukur dengan kehadiran kalian!”


“Hehe! Syukurlah kalian semua bisa kami selamatkan! Senang sekali bisa membantu kalian!”


“…”


Kemanapun ia pergi, ia selalu dimuliakan oleh warga dunia. Karena dirinya, dunia juga memuliakan kami, anggotanya.


Tetapi bagi kami, anggota dari Perseus, ia tidak lebih dari sekedar seorang pemimpin yang selalu mengundang tawa. Tidak hanya bagi anggotanya saja, tetapi juga bagi dunia.


“Hey, kawan-kawan! Lihatlah! Wajah Syllia memerah! Mungkin ia merasa malu dengan pujian yang kita terima!”


“M-M-Melchizedek! Dasar keterlaluan! Kubunuh kau!”


““Hahahaha!””


Bahkan diriku, yang tidak mengetahui arti kebahagiaan sejak kecil…


“Hahaha!”


…mulai merasakannya.


“Hey, Melchizedek! Lihatlah Saki! Ia sudah tersenyum!”


“Ahahaha! Sudah kubilang kepadamu, Ofgurn! Ayasaki juga bisa tertawa! Ia tidak sedingin yang kau kira!”


“E-Eh?! M-Memangnya ada yang salah dengan senyumku—”


“Tetaplah tersenyum seperti itu, Ayasaki! Karena perpaduan antara tawamu dan parasmu yang cantik, kau akan menjadi semakin menawan! Hihihi!”


“…”


Mungkin itu bukanlah pujian pertama kali yang aku terima darinya. Karena sebelumnya ia sering memujiku. Begitu juga dengan anggota Perseus lainnya.


Oleh karena itu, perasaanku yang berutang budi kepadanya berubah menjadi cinta.


Andai saja, ia merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan.


“Sama seperti aku mencintai Alfgorth, Syllia, Feyroq, Ofgurn, Flamiza, serta seluruh mahluk yang berada di dunia ini! Bukankah seperti itu?! Ahahaha…”


“…”


Mungkin ia ada benarnya. Sebagai seorang All-Saint, ia harus berlaku adil bagi setiap orang yang ia temui.


Tetapi aku tidak keberatan. Selama ada secercah cinta yang ia maksudkan itu kepadaku, aku siap menerimanya.


Di samping, ia telah membebaskanku, bukan?


Walaupun harapanku untuk menjadi sebagai sosok wanita yang spesial untuknya tidak lebih dari sekedar


angan-angan, aku harap aku tetap bisa ikut berpetualang bersamanya.


Namun, itu semua tidak lebih dari sekedar harapanku saja.


“Terima kasih banyak, Pahlawan Melchizedek!”


“Oh Great Sage pilihan Dewa dan Dewi yang berada di atas sana! Tanpa kehadiranmu, mungkin dunia sudah hancur!”


“Terpujilah dirimu. Pahlawan! Semoga masih banyak nyawa yang bisa kau selamatkan!”


“…”


Semakin besar reputasinya sebagai seorang Pahlawan, semakin berkurang juga senyum di wajahnya.


Semakin berkurang juga kepeduliannya kepada kami, sahabatnya. Seperti ia mengorbankan kebahagiaannya,


ia juga mengorbankan kebahagiaan kami.


“*Bhuk!”


“Dengar saya, Melchizedek! Jika sesuatu terjadi kepadanya, jangan anda pikir saya bisa memaafkan anda! Paham?!”


Kala itu, ketika Syllia terpaksa untuk membunuh seluruh Siren pria, ia mendapatkan cacian dari antara kami.


Khususnya Alfgorth dan Flamiza. Amarah, kekecewaan, serta kebencian kepadanya timbul di antara kami.


Aku pun juga merasa kecewa kepadanya. Namun bagaimana aku membenci seseorang yang kucintai?


Hingga akhirnya, setelah Hari Penghakiman, di mana ia hendak berkelana dan menunggu Pria Terjanji, untuk memenuhi tuntutan takdir.


“Maukah kau ikut kembali bersamaku, Ayasaki?”


“…”


“S-Saki…? Aku mohon—”


“Maafkan aku, Melchizedek. Andai semuanya sama seperti dulu.”


“S-Seperti itukah…”


“…”


Aku sangat ingat dengan jelas tangannya yang gemetar, serta ekspresi wajahnya yang terlihat menahan tangis


dengan sekuat tenaga.


Jika ditanya alasanku meninggalkannya, mungkin inilah jawaban dariku.


Aku tidak sanggup melihat penderitaannya, karena dirinya masih harus memenuhi tanggung jawab dari takdir.


Namun aku tetap merasa berhutang budi dengannya.


Karena itu, aku hendak membantunya, tanpa ikut dengannya. Tidak seperti Feyroq yang senantiasa di sampingnya.


“A-Anu, Melchi…!”


“…”


“Tentu saja tidak, Ayasaki! Jika kau menjadi Dungeon God—”


“Apapun perbuatanmu pada Perseus… aku tetap berhutang nyawa padamu, Melchi…! Walaupun aku tidak ingin untuk menjelajahi dunia bersamamu… setidaknya aku ingin membantumu—”


“Baiklah. Aku akan menjadikanmu sebagai seorang Dungeon God, Ayasaki. Tetapi, aku membuat pengecualian bagimu.”


“Pengecualian?”


“Ya. Mungkin nyawamu tersambung dengan Hidden Dungeon of Breath. Tetapi kau adalah satu-satunya Dungeon God yang mampu keluar dari Hidden Dungeon, dengan batas 3 hari lamanya—”


“Aku tidak membutuhkan itu, Melchi. Karena aku tidak akan—”


“Aku membuat pengecualian bagimu, dengan sebuah harapan, Ayasaki.”


“Harapan? Apa maksud—”


“Seberapa menderitanya dirimu sebagai Dungeon God… aku harap kau mampu menemukan kebahagiaanmu di dunia ini, walaupun aku dan sahabat-sahabat kita tidak akan menemanimu.”


Setelah itu ia pergi, sementara aku tetap menjadi Dungeon God.


Dan sebagai Dungeon God, aku berpikiran bahwa sudah tiba bagiku untuk menyendiri.


Tanpa harus kembali ke Kumotta Jūkyo, yang sekarang dikenal sebagai Kumotochi.


Tanpa harus bertemu dengan Klan Kazedori, yang kubenci.


Tanpa harus bertemu dengan adikku, walaupun ia tetap menghormati diriku sebagai kakaknya.


……………


Ribuan tahun telah aku jalani di dalam Hidden Dungeon of Breath.


“Hiks! Hiks! Hiks!”


Aku hidup seorang diri, di tengah-tengah kumpulan Yōkai dan Spirit Beast.


Rasa kesepianku mulai terasa, setelah melewati ratusan tahun awal.


“*Shrak…!”


“Huuff! Huuff! Huuff!”


Bahkan aku tidak bisa membunuh diriku sendiri, karena diriku yang terlalu kuat dibandingkan Kitsune lainnya.


Di tengah kesepianku, memoriku akan sahabat-sahabatku mulai datang menghantuiku.


Hingga akhirnya, lebih dari 4,000 tahun setelah Hari Penghakiman, aku memberanikan diriku untuk keluar dari Hidden Dungeon of Breath.


“…”


Dengan sembunyi-sembunyi, aku mengitari Kumotochi yang sudah berbeda jauh dari sebelum Hari Penghakiman.


Sampai akhirnya, aku mengetahui bahwa Melchizedek datang kembali.


“Apakah kau tidak ingin bertemu dengan Ayasaki-nēsama, Melchizedek-san?”


“Tidak, Satoshi-kun. Justru aku datang untuk bertemu denganmu.”


“Bertemu denganku? Apa yang bisa kubantu, Melchizedek-san?”


“…”


Aku hanya menyimaknya dari jauh terkait pertemuannnya dengan Satoshi. Karena kala itu aku sudah tidak berani untuk bertemu kembali dengannya.


Tidak. Lebih tepatnya, aku tidak berani menatap diriya, yang aku yakin telah penuh dengan penderitaan.


“Baiklah. Aku siap untuk menjadi Sage, seperti yang kau pinta, Melchizedek-san.”


“Terima kasih, Satoshi-kun.”


“Lantas, apa yang akan engkau lakukan selanjutnya, Melchizedek-san?”


“Tentu saja mengelilingi dan mengawasi dunia ini dari mereka yang hendak mengulang kembali Hari Penghakiman.”


“Baiklah, Melchizedek-san. Semoga Dewi Zegin menyertaimu.”


Ia kembali pergi.


Pada akhirnya, kepergianku dari Hidden Dungeon of Breath hanya menambah luka pada batinku.


“*Shrak…”


Kembali kujalani hidupku selama ratusan tahun di dalam Hidden Dungeon of Breath. Aku juga berusaha untuk membunuh diriku, walaupun pada akhirnya hasilnya tetaplah sama.


“Kuatkan dirimu, Ayasaki. Inilah risiko dari pilihanmu.”


Hanya itu saja yang bisa kukatakan pada diriku sendiri.


Walaupun…


“…”


…aku tidak kuasa menahan gemetar pada hatiku, karena aku kembali teringat akan sahabat-sahabatku, khususnya Melchizedek.


Mengapa aku selalu dihantui dengan kepergian sahabat-sahabatku?


Apa mungkin itu semua karena rasa bosanku, setelah hidup ribuan tahun?


Bagaimana dengan nasib Melchizedek?


Apakah ia sudah mati?


Jika sudah, kapan giliranku?


Kapan pria yang dijanjikan Melchizedek tiba?


“Aaaarghh…!”


Aku sudah tidak tahan menunggu.


Seperti Melchizedek yang tidak memperdulikanku dan Perseus. Aku pun juga sudah tidak peduli dengan sabda darinya.


Andai saja…


Aku bisa mati secepatnya.