Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 61. Challenge Complete



Quest Pertama: Lawan Monster


Goblin.


“A…Ampun! Kita nggak akan ganggu


wilayah sekitar sini lagi!”


“Yaudah, sana pergi!”


““HIIIKKHH!!!””


Goblin yang nyerang desa ini


berhasil kabur.


Karena nggak disuruh bunuh,


jadinya kita biarin mereka semua kabur.


Tapi…gue penasaran satu hal.


“Myl, Gia, lo berdua ngerti


mereka ngomong apa?”


“Hah? Ngerti kok. Kan mereka


ngomongnya pake Bahasa Mahluk Intelektual.”


Hah? Maksudnya bahasa di dunia


ini?


Yaudah lah. Gue pun taunya mereka


ngomong pake Bahasa Indo juga, jadinya nggak terlalu berdampak apa-apa juga


buat gue.


Pokoknya, butuh waktu 5 hari


untuk nyelesain Quest ini. Itu pun karena perjalanannya.


....................


Quest Kedua: Nangkep kadal aneh.


“Terima kasih sudah menangkap


Salamander ini, Petualang. Dengan ditangkapnya dua Salamander ini, setidaknya


peternakan kami jadi lebih baik produksinya.”


“Ya, sama-sama. Kalo gitu, kita


permisi du—”


“Tunggu dulu! Saya hendak


mengambil darah dari Salamander ini, yang bagus dijadikan Potion. Semoga kelak


darah ini berguna untuk para Petualang sekalian.”


Hm? Potion?


“Gia, Potion tuh apaan?”


“Oh iya. Itu artinya ramuan.


Salah satu fungsinya untuk sembuhin luka kita.”


Oh!


Kayak yang dipake orang-orang


Goldiggia waktu itu, ya?!


Pokoknya, 4 hari kita jalan ke


desa ini. Ngerjain Quest-nya cukup sehari, tapi ujung-ujungnya jadi 2 hari


karena nunggu olahan darah kadal gede itu, yang katanya bagus untuk jadi


Potion.


....................


Quest Ketiga: Serang Monster


Batu.


“Myl! Gue sama Gia udah tahan


Monster ini!”


“Hyaaaaat!”


“*Bruk! (suara batu hancur)”


Kita semua selesain Quest nggak


lebih dari sehari, karena lokasinya deket banget sama Aclon Village.


Ngancurin Monster Batu-nya sih


cepet. Tapi yang bikin agak lama itu sebenernya…


“Woy.”


“Hieeekh!”


“Lo itu…”


“Summoner, Djinn.”


“Ah, iya. Itu maksud gue.”


“A…Ampun!”


Walaupun nggak sampe sehari


lebih, tapi nyari Summoner-nya aja makan setengah hari karena dia gerakin


Monster Batu itu dari jarak yang jauh.


....................


Quest Keempat: Nyari penculik


anak.


“Sa…Saya cuma dendam sama orang


tua anak-anak ini aja!”


“Halah, alesan!”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Urgh!”


Penculiknya udah ketangkep.


“Dek, kamu nggak diapa-apain


orang itu, kan?”


“Nggak, kak…”


“Gia. Nama panggilan aku Gia.”


“Ya, Kak Gia.”


Ini mungkin yang paling makan


waktu, karena butuh waktu selama seminggu untuk nyari tau lokasi anak-anak yang


diculik ini.


....................


Dan yang terakhir, Quest Kelima:


Nyari pencuri.


“Ini aset saya sebenernya! Justru


pemilik kedai biadab itu yang penipu!”


“Enak aja! Kalopun itu aset anda,


emangnya anda ada hak untuk bobol rumah saya?!”


Mungkin nama Quest-nya nyari


pencuri, nggak taunya sengketa lahan.


Tapi untungnya ada…


“Hey! Kakek aku juga punya kedai!


Jelas-jelas secara legal udah tertulis atas nama Humpar Bar!”


…Gia.


Intinya ngerjain Quest ini nggak


lebih dari sehari juga. Tambah lagi, Quest ini ada di sekitar Riverfell.


Jadinya bisa langsung ke Guild di kota ini kalo semua Quest-nya selesai.


....................


Total waktu yang kita butuhin


untuk nyelesain 5 Quest ini ada sekitar 19 sampe 20 hari untuk nyelesain semua


Quest ini. Artinya kita 8 hari lebih cepet dari target yang diminta sama Si


Anjing itu.


Waktu kita sampe ke Guild


Petualang untuk lapor hasil Quest kita…


“Mu…Mustahil! Mana mungkin anda


berhasil sebelum satu bulan?!”


“Ini hasilnya, Botak!”


“Jangan panggil saya botak—”


“Jadi, bisa dong gue naik ke Kasta


Kuning?!”


“…”


Sumpah, kalo dia masih bilang


nggak bisa, mampus nih orang sama gue!


“Tu…Tunggu! Saya masih tidak


percaya jika kalian berhasil menyelesaikannya!”


“Woy, anjing! Lo mau bukti apa


lagi—”


“Djinn, biar gue aja.”


“O…OK…”


Huh… Gue terlalu kepancing emosi


gue.


“Apa lo?!”


“Wleee!”


Dih! Nih cewek malah ngeledek gue


gara-gara gue emosian!


“Ti…Tidak mungkin! Saya tidak


percaya! Pasti kalian—”


“Guildmaster. Akui saja kekalahan


kita.”


“Apa maksud anda, Shaylia?!”


“Bagaimana pun caranya, mereka


tetap membuktikan jika mereka berhasil menjawab tantangan anda, Guildmaster.”


Untung dua resepsionis ini masih


punya otak!


“Tapi mereka—”


“Guildmaster, perhatikan


baik-baik pandangan beberapa Petualang dan warga yang hendak melapor.”


“…”


Ya. Pandangan orang-orang di sekitar


sini kesannya kayak jijik sama orang ini.


“Baiklah, segera persiapkan


promosi mereka berdua.”


““Baik, Guildmaster.””


Bagus! Akhirnya Myllo—


“Tunggu dulu!”


Hah? Ada apa lagi, Myl?


“Berdua?! Gia gimana?!”


Oh iya. Harusnya Gia juga bisa promosi,


dong.


“Ma…Maafkan saya, Tuan Petualang.


sekalian. Akan tetapi, Quest Hijau ini belum cukup untuk menaikkan Kasta Nyonya


Petualang. Butuh sekitar 4 Quest Hijau atau 2 Quest Kuning untuk menaikkan Kasta


Nyonya Petualang.”


“Ta…Tapi—”


“Nggak apa-apa, Myllo. Mulai dari


Kasta Hijau aja aku udah bersyukur.”


Ada benernya juga, sih.


“Gia? Serius lo nggak apa-apa?”


“Nggak apa-apa, kok. Bahkan Lorvah aja butuh


waktu 3 tahun untuk masuk Kasta Kuning. Tambah lagi, dia mulainya dari Kasta


Biru.”


“Oh gitu ya…”


“Iya. Lagian, petualangan kita


masih panjang, kan? Kenapa juga aku buru-buru naik Kasta? Masa aku mau


langkahin Kapten aku?”


“Ahahaha! Bener juga, ya!”


Gue sebenernya rada nggak enak


sih dengernya. Tapi selama itu pilihan dia, gue cuma bisa dukung pilihannya.


“Baiklah, mari ikut saya, Tuan


Myllo.”


“Anda ikuti saya, Tuan Djinn.”


“OK! Ayo, Djinn!”


Gue ngikutin resepsionis yang Elf


itu, sedangkan Myllo ngikutin resepsionis yang satunya lagi.


....................


Gue jalan ngikutin Resepsionis


Elf ini ke salah satu ruangan.


“Bisakah anda sekalian memberikan


lencana anda?”


Kayaknya mau dituker lencananya.


“Mohon tunggu sebentar, Tuan


Petualang.”


Gue kasih lencana gue, abis itu


lencana kita dimasukkin ke dalem salah satu dari beberapa lobang yang ada di


tembok.


“…”


Tiba-tiba ada sinar gitu dari


lencana gue.


“Baiklah, Lencana Petualang yang


baru sudah selesai dirubah.”


Oh gitu ya. Kirain gue diganti


lencananya, ternyata dirubah warnanya. Kayaknya sih pake sihir tuh ngerubahnya.


Waktu gue keluar, Myllo juga


keluar.


“Hehehe! Akhirnya gue naik jadi Kasta


Kuning!”


“Hmm…kuning, ya?”


“Kenapa sama warna kuning,


Djinn?”


“Ng…Nggak.”


Gue cume keinget aja becandaan


gue sama Kak Eka waktu kecil.


....................


“Biru?”


“Langit!”


“Hijau?”


“Daun!”


“Merah?”


“Darah!”


“Kuning?”


“Tai!”


““Hahaha—””


“Eh, Eka! Jorok ih ngajarin


adiknya!”


....................


Hahaha… Ada-ada aja becandaannya


tuh orang…


“Tuan-Tuan Petualang sekalian,


selamat atas kenaikan Kasta yang anda terima. Berikut adalah komisi yang anda


terima.”


“…”


Eh?! Tunggu dulu, deh…


“Satu, dua…ada 12 emas… Terus


satu, sepuluh, lima belas…”


Eh?! Ini udah 4 kali lipet dari


yang harusnya kita terima!


Total yang kita terima ada


harusnya ada 3 emas sama 20 perak karena ngerjain 5 Quest tadi. Tapi kok jadi


ada 12 emas sama 80 perak?!


“Kenapa, Djinn?”


“Myl! Hadiahnya…”


“Kenapa? Komisinya kurang?”


“Justru kebalikannya! Ini banyak


banget!”


“Serius?!”


Gue jelasin ke Myllo kalo


hadiahnya 4 kali lebih banyak dari yang kita terima.


“HEEEEEEHHH?! KOK BISA?!”


“Haha, mungkin Tuan-Tuan


Petualang sekalian heran karena komisi yang anda sekalian terima lebih besar.


Dengan kenaikan Kasta, maka seorang Petualang berhak mendapatkan 2 kali komisi.


Karena Tuan-Tuan sama-sama mendapat kenaikan Kasta, maka anda sekalian berhak


mendapatkan 4 kali komisi.


“Myllo! Djinn! Selamat ya udah


masuk Kasta Kuning!”


“Hehe! Makasih, Gia!”


“Tunggu aku nyusul kalian, ya!”


“Ya!”


Untung Gia orangnya baik. Mungkin


kalo gue jadi dia gue udah kesel protes duluan, kali.


“Myl, abis ini rencana kita apa?”


“Inget kan gue bilang apa sebelum


kita jalanin 5 Quest tadi?”


““Hmm?””


“Waktunya kita adain rayain naiknya


Kasta kita semua, sekalian rayain masuknya Gia ke Party kita!”


“Horeee!”


Oh iya ya, kan dia bilang mau bikin


pesta gitu.


“Hey, hey, hey! Luvast panggil


kita!”


Luvast?


“Halo Luvast!”


“Hai Gia. Bisakah aku


berbicara dengan Djinn dan Myllo?”


“Sebentar, ya.”


Dia mau ngomong sama kita?


Hmm… Mungkin cuma basa-basi aja.


“Djinn, Myllo, selamat atas kenaikan


Kasta kalian berdua.”


Loh! kok dia tau?!


“Ahahaha! Makasih Luvast!


Akhirnya Kasta gue setara sama Kasta lo!”


“Tentu saja, Myllo. Aku sudah


bilang, kan? Pasti kamu akan menyusulku.”


“Vast, kok lo bisa tau kita naik


Kasta?”


“Hm, mungkin karena insting?”


“Hah?! Insting?! Kebetulan


banget!”


“Huhu, tentu saja tidak, Djinn.


Sebetulnya Gia memanggilku ketika kalian sedang mengubah lencana kalian


berdua.”


Oh, ternyata gara-gara cewek ini.


“Hehe…”


Haha hehe!


Ketawa lo!


“Luvast, lo lagi ada di mana?”


“Saya hendak mencari makan, Myl—”


“Yaudah! Kalo gitu, coba cari


minuman! Kita mau perayaan masuknya Gia, sekaligus kenaikan Kasta gue sama


Djinn! Waktunya kita rayain bareng-bareng semuanya!”


““Ya!””


Tapi sebelum kita ngerayain…


“…”


…uangnya cukup nggak, ya?


Gue takut langsung abis nih


uangnya kalo kita beneran pesta-pesta…