
Quest Pertama: Lawan Monster
Goblin.
“A…Ampun! Kita nggak akan ganggu
wilayah sekitar sini lagi!”
“Yaudah, sana pergi!”
““HIIIKKHH!!!””
Goblin yang nyerang desa ini
berhasil kabur.
Karena nggak disuruh bunuh,
jadinya kita biarin mereka semua kabur.
Tapi…gue penasaran satu hal.
“Myl, Gia, lo berdua ngerti
mereka ngomong apa?”
“Hah? Ngerti kok. Kan mereka
ngomongnya pake Bahasa Mahluk Intelektual.”
Hah? Maksudnya bahasa di dunia
ini?
Yaudah lah. Gue pun taunya mereka
ngomong pake Bahasa Indo juga, jadinya nggak terlalu berdampak apa-apa juga
buat gue.
Pokoknya, butuh waktu 5 hari
untuk nyelesain Quest ini. Itu pun karena perjalanannya.
....................
Quest Kedua: Nangkep kadal aneh.
“Terima kasih sudah menangkap
Salamander ini, Petualang. Dengan ditangkapnya dua Salamander ini, setidaknya
peternakan kami jadi lebih baik produksinya.”
“Ya, sama-sama. Kalo gitu, kita
permisi du—”
“Tunggu dulu! Saya hendak
mengambil darah dari Salamander ini, yang bagus dijadikan Potion. Semoga kelak
darah ini berguna untuk para Petualang sekalian.”
Hm? Potion?
“Gia, Potion tuh apaan?”
“Oh iya. Itu artinya ramuan.
Salah satu fungsinya untuk sembuhin luka kita.”
Oh!
Kayak yang dipake orang-orang
Goldiggia waktu itu, ya?!
Pokoknya, 4 hari kita jalan ke
desa ini. Ngerjain Quest-nya cukup sehari, tapi ujung-ujungnya jadi 2 hari
karena nunggu olahan darah kadal gede itu, yang katanya bagus untuk jadi
Potion.
....................
Quest Ketiga: Serang Monster
Batu.
“Myl! Gue sama Gia udah tahan
Monster ini!”
“Hyaaaaat!”
“*Bruk! (suara batu hancur)”
Kita semua selesain Quest nggak
lebih dari sehari, karena lokasinya deket banget sama Aclon Village.
Ngancurin Monster Batu-nya sih
cepet. Tapi yang bikin agak lama itu sebenernya…
“Woy.”
“Hieeekh!”
“Lo itu…”
“Summoner, Djinn.”
“Ah, iya. Itu maksud gue.”
“A…Ampun!”
Walaupun nggak sampe sehari
lebih, tapi nyari Summoner-nya aja makan setengah hari karena dia gerakin
Monster Batu itu dari jarak yang jauh.
....................
Quest Keempat: Nyari penculik
anak.
“Sa…Saya cuma dendam sama orang
tua anak-anak ini aja!”
“Halah, alesan!”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Urgh!”
Penculiknya udah ketangkep.
“Dek, kamu nggak diapa-apain
orang itu, kan?”
“Nggak, kak…”
“Gia. Nama panggilan aku Gia.”
“Ya, Kak Gia.”
Ini mungkin yang paling makan
waktu, karena butuh waktu selama seminggu untuk nyari tau lokasi anak-anak yang
diculik ini.
....................
Dan yang terakhir, Quest Kelima:
Nyari pencuri.
“Ini aset saya sebenernya! Justru
pemilik kedai biadab itu yang penipu!”
“Enak aja! Kalopun itu aset anda,
emangnya anda ada hak untuk bobol rumah saya?!”
Mungkin nama Quest-nya nyari
pencuri, nggak taunya sengketa lahan.
Tapi untungnya ada…
“Hey! Kakek aku juga punya kedai!
Jelas-jelas secara legal udah tertulis atas nama Humpar Bar!”
…Gia.
Intinya ngerjain Quest ini nggak
lebih dari sehari juga. Tambah lagi, Quest ini ada di sekitar Riverfell.
Jadinya bisa langsung ke Guild di kota ini kalo semua Quest-nya selesai.
....................
Total waktu yang kita butuhin
untuk nyelesain 5 Quest ini ada sekitar 19 sampe 20 hari untuk nyelesain semua
Quest ini. Artinya kita 8 hari lebih cepet dari target yang diminta sama Si
Anjing itu.
Waktu kita sampe ke Guild
Petualang untuk lapor hasil Quest kita…
“Mu…Mustahil! Mana mungkin anda
berhasil sebelum satu bulan?!”
“Ini hasilnya, Botak!”
“Jangan panggil saya botak—”
“Jadi, bisa dong gue naik ke Kasta
Kuning?!”
“…”
Sumpah, kalo dia masih bilang
nggak bisa, mampus nih orang sama gue!
“Tu…Tunggu! Saya masih tidak
percaya jika kalian berhasil menyelesaikannya!”
“Woy, anjing! Lo mau bukti apa
lagi—”
“Djinn, biar gue aja.”
“O…OK…”
Huh… Gue terlalu kepancing emosi
gue.
“Apa lo?!”
“Wleee!”
Dih! Nih cewek malah ngeledek gue
gara-gara gue emosian!
“Ti…Tidak mungkin! Saya tidak
percaya! Pasti kalian—”
“Guildmaster. Akui saja kekalahan
kita.”
“Apa maksud anda, Shaylia?!”
“Bagaimana pun caranya, mereka
tetap membuktikan jika mereka berhasil menjawab tantangan anda, Guildmaster.”
Untung dua resepsionis ini masih
punya otak!
“Tapi mereka—”
“Guildmaster, perhatikan
baik-baik pandangan beberapa Petualang dan warga yang hendak melapor.”
“…”
Ya. Pandangan orang-orang di sekitar
sini kesannya kayak jijik sama orang ini.
“Baiklah, segera persiapkan
promosi mereka berdua.”
““Baik, Guildmaster.””
Bagus! Akhirnya Myllo—
“Tunggu dulu!”
Hah? Ada apa lagi, Myl?
“Berdua?! Gia gimana?!”
Oh iya. Harusnya Gia juga bisa promosi,
dong.
“Ma…Maafkan saya, Tuan Petualang.
sekalian. Akan tetapi, Quest Hijau ini belum cukup untuk menaikkan Kasta Nyonya
Petualang. Butuh sekitar 4 Quest Hijau atau 2 Quest Kuning untuk menaikkan Kasta
Nyonya Petualang.”
“Ta…Tapi—”
“Nggak apa-apa, Myllo. Mulai dari
Kasta Hijau aja aku udah bersyukur.”
Ada benernya juga, sih.
“Gia? Serius lo nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, kok. Bahkan Lorvah aja butuh
waktu 3 tahun untuk masuk Kasta Kuning. Tambah lagi, dia mulainya dari Kasta
Biru.”
“Oh gitu ya…”
“Iya. Lagian, petualangan kita
masih panjang, kan? Kenapa juga aku buru-buru naik Kasta? Masa aku mau
langkahin Kapten aku?”
“Ahahaha! Bener juga, ya!”
Gue sebenernya rada nggak enak
sih dengernya. Tapi selama itu pilihan dia, gue cuma bisa dukung pilihannya.
“Baiklah, mari ikut saya, Tuan
Myllo.”
“Anda ikuti saya, Tuan Djinn.”
“OK! Ayo, Djinn!”
Gue ngikutin resepsionis yang Elf
itu, sedangkan Myllo ngikutin resepsionis yang satunya lagi.
....................
Gue jalan ngikutin Resepsionis
Elf ini ke salah satu ruangan.
“Bisakah anda sekalian memberikan
lencana anda?”
Kayaknya mau dituker lencananya.
“Mohon tunggu sebentar, Tuan
Petualang.”
Gue kasih lencana gue, abis itu
lencana kita dimasukkin ke dalem salah satu dari beberapa lobang yang ada di
tembok.
“…”
Tiba-tiba ada sinar gitu dari
lencana gue.
“Baiklah, Lencana Petualang yang
baru sudah selesai dirubah.”
Oh gitu ya. Kirain gue diganti
lencananya, ternyata dirubah warnanya. Kayaknya sih pake sihir tuh ngerubahnya.
Waktu gue keluar, Myllo juga
keluar.
“Hehehe! Akhirnya gue naik jadi Kasta
Kuning!”
“Hmm…kuning, ya?”
“Kenapa sama warna kuning,
Djinn?”
“Ng…Nggak.”
Gue cume keinget aja becandaan
gue sama Kak Eka waktu kecil.
....................
“Biru?”
“Langit!”
“Hijau?”
“Daun!”
“Merah?”
“Darah!”
“Kuning?”
“Tai!”
““Hahaha—””
“Eh, Eka! Jorok ih ngajarin
adiknya!”
....................
Hahaha… Ada-ada aja becandaannya
tuh orang…
“Tuan-Tuan Petualang sekalian,
selamat atas kenaikan Kasta yang anda terima. Berikut adalah komisi yang anda
terima.”
“…”
Eh?! Tunggu dulu, deh…
“Satu, dua…ada 12 emas… Terus
satu, sepuluh, lima belas…”
Eh?! Ini udah 4 kali lipet dari
yang harusnya kita terima!
Total yang kita terima ada
harusnya ada 3 emas sama 20 perak karena ngerjain 5 Quest tadi. Tapi kok jadi
ada 12 emas sama 80 perak?!
“Kenapa, Djinn?”
“Myl! Hadiahnya…”
“Kenapa? Komisinya kurang?”
“Justru kebalikannya! Ini banyak
banget!”
“Serius?!”
Gue jelasin ke Myllo kalo
hadiahnya 4 kali lebih banyak dari yang kita terima.
“HEEEEEEHHH?! KOK BISA?!”
“Haha, mungkin Tuan-Tuan
Petualang sekalian heran karena komisi yang anda sekalian terima lebih besar.
Dengan kenaikan Kasta, maka seorang Petualang berhak mendapatkan 2 kali komisi.
Karena Tuan-Tuan sama-sama mendapat kenaikan Kasta, maka anda sekalian berhak
mendapatkan 4 kali komisi.
“Myllo! Djinn! Selamat ya udah
masuk Kasta Kuning!”
“Hehe! Makasih, Gia!”
“Tunggu aku nyusul kalian, ya!”
“Ya!”
Untung Gia orangnya baik. Mungkin
kalo gue jadi dia gue udah kesel protes duluan, kali.
“Myl, abis ini rencana kita apa?”
“Inget kan gue bilang apa sebelum
kita jalanin 5 Quest tadi?”
““Hmm?””
“Waktunya kita adain rayain naiknya
Kasta kita semua, sekalian rayain masuknya Gia ke Party kita!”
“Horeee!”
Oh iya ya, kan dia bilang mau bikin
pesta gitu.
“Hey, hey, hey! Luvast panggil
kita!”
Luvast?
“Halo Luvast!”
“Hai Gia. Bisakah aku
berbicara dengan Djinn dan Myllo?”
“Sebentar, ya.”
Dia mau ngomong sama kita?
Hmm… Mungkin cuma basa-basi aja.
“Djinn, Myllo, selamat atas kenaikan
Kasta kalian berdua.”
Loh! kok dia tau?!
“Ahahaha! Makasih Luvast!
Akhirnya Kasta gue setara sama Kasta lo!”
“Tentu saja, Myllo. Aku sudah
bilang, kan? Pasti kamu akan menyusulku.”
“Vast, kok lo bisa tau kita naik
Kasta?”
“Hm, mungkin karena insting?”
“Hah?! Insting?! Kebetulan
banget!”
“Huhu, tentu saja tidak, Djinn.
Sebetulnya Gia memanggilku ketika kalian sedang mengubah lencana kalian
berdua.”
Oh, ternyata gara-gara cewek ini.
“Hehe…”
Haha hehe!
Ketawa lo!
“Luvast, lo lagi ada di mana?”
“Saya hendak mencari makan, Myl—”
“Yaudah! Kalo gitu, coba cari
minuman! Kita mau perayaan masuknya Gia, sekaligus kenaikan Kasta gue sama
Djinn! Waktunya kita rayain bareng-bareng semuanya!”
““Ya!””
Tapi sebelum kita ngerayain…
“…”
…uangnya cukup nggak, ya?
Gue takut langsung abis nih
uangnya kalo kita beneran pesta-pesta…