
Sekarang, Shaylia bareng
adek-adeknya udah ada di depan bapaknya Winona.
“Sa…Saya adalah Walter Waters.
Sa…Sa…Saya lah pembunuh kaum anda…”
““!!!””
Kenapa orang ini malah ngaku?!
“Sa…Saya siap mati ditangan anda
sekalian. Tapi ingatlah, bahwa anda semua adalah korban negara ini! Negara yang
tidak ada ketegasan dari rajanya, yang bahkan melupakan dosa-dosa nenek
moyangnya! Saya terpaksa melakukan ini semua karena anak—”
“Hraaagh!”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk… (suara banyak
pukulan)”
“Mo…Morri! Tun—”
“*Tap! (suara menepuk pundak)”
“Ja…Jangan berhentiin dia,
Erkstern!”
“Ta…Tapi kita harus denger—”
“APA GUNANYA DENGER KATA-KATA
DARI PEMBUNUH?!?!”
“!!!”
“Morri! Siksa orang itu
pelan-pelan! Jangan langsung bunuh dia! Paham?!”
“Ya, kak!”
Udah nggak ada kata ampun lagi
dari Shaylia sama Morri.
Bapaknya Winona disiksa
abis-abisan sampe mati.
“Apa…mungkin Erkstern bener ya?”
“Hm?”
“Dia orangnya terlalu lembut.
Makanya di kejadian ini dia mau denger kata-kata dari orang itu.”
“Ya, gue nggak nyalahin lo juga
sih, namanya kesel.”
“Hah?”
“Kalo gue jadi lo, mungkin gue
bikin hal yang sama?”
……………
Sekarang kita lompat beberapa
hari dari pembantaian Dragonewt.
Di sini, Erkstern jelasin semua
tentang kata-kata temennya Bahal yang dia temuin di tempat penyiksaan kaum
Non-Manusia waktu itu.
“Ja…Jadi…Tarzyn ada di dalem
Hidden Dungeon?”
“Ya. Masalahnya, kita nggak tau
di mana pintu masuknya.”
“Tunggu, kalo nggak salah Hidden
Dungeon itu lokasi yang paling banyak dicari Petualang. Kalo gitu…gue ada
rencana, yang mungkin harus dijalanin puluhan tahun!”
“Kak…?”
“Denger ini baik-baik kalian
berdua…”
Abis itu Shaylia jelasin ke
adek-adeknya kalo mereka semua harus pergi ke negara luar untuk jadi Petualang.
Walaupun dua-duanya nggak terima,
ujung-ujungnya mereka nggak bisa nolak rencananya.
“Kenapa lo nggak jadi Petualang
juga?”
“Untuk gali informasi di negara
ini. Makanya gue perlu untuk ada di balik meja di Riverfall.”
Masuk akal.
Dia cari info tentang Hidden
Dungeon dari balik meja, sedangkan adeknya cari Hidden Dungeon sambil petualangan.
Dari sini, gue bareng Shaylia
lompat lagi ke 5 tahun kemudian, di mana Erkstern sama Morri udah punya Maha,
Royce, sama Urlant yang baru gabung. Mereka untuk pertama kalinya resmi jadi
Party yang namanya Apus.
Sedangkan di Riverfall…
“A…Apa?! Anda menemukan Hidden
Dungeon di negara ini?!”
“Ya! Tempat itu jadi Hidden
Dungeon ketujuh yang gue temuin bareng Party ini! Aaahahaha!”
…Shaylia dapet laporan dari
Petualang yang temuin Hidden Dungeon.
“Siapa cewek itu.”
“Lo nggak kenal dia?!”
“Ya kan gue lupa ingetan!”
“Dia itu Pahlawan Sylvia!”
“Oh gitu—Hah?! Sylvia?!
Itu…kakaknya Myllo?!”
“I…Iya sih, tapi bukan kakak
kandung….”
Oh! Jadi selama ini dia bukan
kakak kandungnya Myllo?!
Kalopun dia bukan kakak kandung,
mungkin dia orang yang berdampak banget ya buat Si Dongo itu.
“Bi…Bisa anda ceritakan tentang
apa yang anda temukan di dalam tempat itu, Nyonya Sylvia?!”
“Hm…sebenernya sih tempatnya
panas banget. Mungkin aja Mahluk Fana kayak kita nggak sanggup tinggal di sana.
Lagian, ‘penduduk aslinya’ cuma Kaum Naga doang, kok.”
“Kaum Naga?! Apakah ada sesosok pemimpin
bagi mereka semua?!”
“Ya, Tarzyn ada di sana.”
“Ma…Maksud anda…Fire Dragon King
Tarzyn?!”
“Ya. Masalahnya…dia udah terlalu
capek jagain Hidden Dungeon. Makanya itu, Dewa Arkhataz segel Jiwa-nya. Ya buat
dia sih, itu sama aja mati dengan tenang.”
“Menyegel Jiwa-nya?! Apakah ada
cara membuka segel—”
“Ei, Shaylia.”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Kok lo kesannya mau buka segel
dia?! Dia itu udah capek, loh! Bahkan mungkin aja yang balik itu bukan dia kalo
segel dibuka! Yang ada cuma Jiwa buas yang nggak kenal kawan! Paham, kan?!”
Bahkan Sylvia aja udah curiga
sama Shaylia.
Ya itu semua salah Shaylia sih
yang buru-buru nanyain dia.
……………
Semenjak liat Shaylia yang ketemu
Sylvia, kita lompat lagi ke beberapa tahun kemudian, di mana Erkstern udah
cukup terkenal bareng Party-nya yang namanya Apus itu.
“Sekarang ini…”
“Beberapa bulan sebelum waktu
kita sekarang.”
Mungkin aja ini sebelum gue
dateng ke dunia ini, ya?
Sekarang dia udah balik lagi ke
Erviga bareng Morri yang nyamar jadi Manusia, sama Apus.
Mereka semua lagi makan-makan
bareng di salah satu kedai, tapi Erkstern sama Morri diem-diem nemuin Shaylia.
“Si…Sial! Terus buat apa kita
rencanain ini lama-lama?!”
“Apa usaha kita selama ini
sia-sia?”
Erkstern sama Morri keliatan
putus asa waktu denger cerita Shaylia yang terima laporan dari Sylvia.
“Ada cara.”
“A…Ada cara?!”
“Ma…Maksudnya apa, kak?!”
“Kita butuh Jiwa
sebanyak-banyaknya untuk buka segel itu!”
Abis itu Shaylia jelasin ke
mereka kalo Sylvia keceplosan cerita tentang segel itu waktu dia ketemu Sylvia
yang lagi mabok di dalem kedai.
Ya, pantes aja sih Myllo kayak
gitu. Panutannya aja juga…ya gitu lah.
Tapi…
“Kok gue nggak liat kejadiannya,
ya?”
“Kan kita lompat-lompat liat
ingetan gue ini.”
I…Iya juga sih.
“Terus gimana cara kita ambil
“Pake ini. Ternyata ini Soul
Devourer. Alat ini gue temuin waktu kita temuin kaum kita disiksa, sebelum
kita…”
“Bagus, Morri! Artinya kita masih
punya harapan untuk bales kaum kita, kan?!”
““Ya, kak!””
Morri keliatan semangat banget
jawabnya, sedangkan Erkstern nggak enakan gitu jawabnya.
……………
Abis itu, beberapa bulan
kemudian, mereka pergi nemuin kakek-kakek yang lagi megang buku.
“Anda itu Sage, kan?! Harusnya
anda paham situasi kita, Sage Calleb!”
“Sa…Saya mengerti situasi anda.
A…Alangkah baiknya jika saya membantu anda semu—”
“Satu-satunya cara anda bantu
kita itu ya biarin kita ketemu Tarzyn—”
“Tidak! Tidak akan saya biarkan
kalian menemuinya!”
“Sage Calleb!!!”
Ujung-ujungnya mereka bertiga
lawan Sage ini.
Walaupun mereka semua sekarat,
gue bisa bilang yang menang berantem itu ya kakek-kakek itu, karena dia
berhasil lari dari mereka bertiga.
“Siapa sih kakek-kakek itu?”
“Sage, orang-orang yang terima
ajaran Great Sage Melchizedek untuk jagain Hidden Dungeon.”
“Artinya orang yang namanya
Callum itu juga, ya?”
“Ya iyalah! Dia kan anaknya orang
tadi!”
Oh pantesan—
“Urgh!”
“Djinn? Lo kena—”
……………
“Hafffttt!”
Gu…Gue balik lagi ke waktu
normal?!
“Argh!”
Mata gue…kok perih banget?!
“Uhuk, uhuk!”
Shaylia masih ketusuk batu?!
Tunggu, tunggu, tunggu!
Kalo gue inget-inget lagi, waktu
tonjok Tarzyn di langit, gue tiba-tiba liat ingetan dia, terus waktu gue balik
lagi ternyata gue baru nonjok dia, seakan-akan waktu di dunia ini berhenti
waktu gue masuk ke ingetannya.
Apa artinya waktu berhenti juga,
pas gue liat ingetannya Shaylia?!
“Dji…Djinn…”
“Hm?”
“Padahal…lo belom liat ingetan
gue…waktu gue hancurin Marklett, bunuh Insectant Lebah sama Mermaid itu…bahkan,
waktu gue…bunuh…adek gue sendiri…”
“Adek lo sendiri?!”
“Erkstern…gue bunuh dia…karena
dia punya perasaan…ke anggotanya sendiri…sebagai Petualang…”
Brengsek, tega banget!
Ya, mungkin itu yang gue pikirin.
Tapi…
“Shay.”
“…”
“Lo ngerasa bersalah nggak bunuh
adek lo sendiri?”
“…”
Dia diem aja—
“Hiks! Hiks!”
Cukup ngeliat reaksinya aja, gue
udah tau jawabannya.
“Gu…Gue selalu kesel…liat dia
yang ceritain pengalamannya sebagai Petualang! Gue pikir dia bisa hancurin
rencana kita!”
“…”
“Ka…Kalo boleh jujur, gue bukan
kesel karena dia terlalu deket sama Petualang, tapi karena dia bisa nikmatin
momen dia sama temen-temennya, sedangkan isi pikiran gue…cuma dendam, dendam,
dan dendam!”
“…”
“Padahal ada orang baik…kayak
Miraela…sama lo, Djinn!”
Akhirnya gue bisa liat kejujuran
dari Shaylia.
“Shay, lo tau nggak Tarzyn minta
apa sebelum gue bunuh dia?”
“Ta…Tarzyn?! Emangnya dia bisa—”
“Gue nggak sengaja liat masa
lalunya. Tiba-tiba gue ketemu Roh-nya.”
“Te…Terus…?”
“Dia minta supaya gue nggak hukum
lo karena kejahatan lo, tapi untuk bebasin lo dari tanggung jawab lo.”
“Ta…Tanggung ja—”
“Lo pasti capek kan, Shay?”
“I…Iya…hiks…”
Gue paham apa yang dia rasain.
Mungkin gue nggak ada motivasi
dendam di dunia lama gue, tapi gue sempet ngerasa bahagia sebelum gue menjauh
dari sekitar gue.
Gue pun cukup puas di dunia ini
karena Myllo sama Gia walaupun harus kehilangan Meldek.
Sedangkan Shaylia harus
ngelewatin 100 tahun lebih sebelum dia bisa ngerasain kebaikan ras selain
Dragonewt.
“Denger baik-baik, Shay!”
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Kalo masih ada Dragonewt yang
ditindas, gue janji untuk bebasin mereka semua! Kalo masih ada yang mau nindas
Dragonewt, gue janji untuk bantai mereka! Kalo negara ini hancur karena
Dragonewt, gue janji untuk beresin semua masalah yang udah lo buat!”
Mungkin kalo gue yang di dunia lama udah bodo
amat kalo ada masalah seberat gini, malah kalo bisa lari sejauh-jauhnya deh.
Bahkan kalo ini semua karena ibu
gue, mending gue tinggalin.
Satu hal yang bikin gue janji
kayak gitu—
“Ke…Kenapa lo bertindak
kejauhan…kayak gitu, Djinn?”
“Lo udah tau kan jawabannya apa?”
“…”
“Karena lo temen gue, Shay.”
“Hiks! Ma…Makasih…Djinn…”
“Ya, Shay—”
“A…Ambil ini…”
“…”
Walaupun dia udah kesakitan
ditusuk batu kayak gitu, dia masih bisa ambil rokok pipa sama korek api di
kantongnya.
“I…Ini…satu-satunya yang bisa gue
kasih…sebagai ucapan terima kasih, Djinn.”
“Ya, makasih.”
Mungkin udah waktunya gue bunuh
dia.
Tapi sebelum itu…
“Ada yang mau lo sampein ke
Miraela?”
“To…Tolong
bilang…makasih…sama…maaf juga…”
“OK, nanti gue bilang ke dia.”
Abis itu, gue bunuh Shaylia.
Kalo dibilang tega, sebenernya
nggak.
Tapi gue lebih nggak tega kalo
dia masih harus menderita kayak gitu.
Walaupun gitu, seenggaknya gue
lega karena masih bisa liat senyuman terakhirnya.