Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 89. Her Last Smile



Sekarang, Shaylia bareng


adek-adeknya udah ada di depan bapaknya Winona.


“Sa…Saya adalah Walter Waters.


Sa…Sa…Saya lah pembunuh kaum anda…”


““!!!””


Kenapa orang ini malah ngaku?!


“Sa…Saya siap mati ditangan anda


sekalian. Tapi ingatlah, bahwa anda semua adalah korban negara ini! Negara yang


tidak ada ketegasan dari rajanya, yang bahkan melupakan dosa-dosa nenek


moyangnya! Saya terpaksa melakukan ini semua karena anak—”


“Hraaagh!”


“*Bhuk! Bhuk! Bhuk… (suara banyak


pukulan)”


“Mo…Morri! Tun—”


“*Tap! (suara menepuk pundak)”


“Ja…Jangan berhentiin dia,


Erkstern!”


“Ta…Tapi kita harus denger—”


“APA GUNANYA DENGER KATA-KATA


DARI PEMBUNUH?!?!”


“!!!”


“Morri! Siksa orang itu


pelan-pelan! Jangan langsung bunuh dia! Paham?!”


“Ya, kak!”


Udah nggak ada kata ampun lagi


dari Shaylia sama Morri.


Bapaknya Winona disiksa


abis-abisan sampe mati.


“Apa…mungkin Erkstern bener ya?”


“Hm?”


“Dia orangnya terlalu lembut.


Makanya di kejadian ini dia mau denger kata-kata dari orang itu.”


“Ya, gue nggak nyalahin lo juga


sih, namanya kesel.”


“Hah?”


“Kalo gue jadi lo, mungkin gue


bikin hal yang sama?”


……………


Sekarang kita lompat beberapa


hari dari pembantaian Dragonewt.


Di sini, Erkstern jelasin semua


tentang kata-kata temennya Bahal yang dia temuin di tempat penyiksaan kaum


Non-Manusia waktu itu.


“Ja…Jadi…Tarzyn ada di dalem


Hidden Dungeon?”


“Ya. Masalahnya, kita nggak tau


di mana pintu masuknya.”


“Tunggu, kalo nggak salah Hidden


Dungeon itu lokasi yang paling banyak dicari Petualang. Kalo gitu…gue ada


rencana, yang mungkin harus dijalanin puluhan tahun!”


“Kak…?”


“Denger ini baik-baik kalian


berdua…”


Abis itu Shaylia jelasin ke


adek-adeknya kalo mereka semua harus pergi ke negara luar untuk jadi Petualang.


Walaupun dua-duanya nggak terima,


ujung-ujungnya mereka nggak bisa nolak rencananya.


“Kenapa lo nggak jadi Petualang


juga?”


“Untuk gali informasi di negara


ini. Makanya gue perlu untuk ada di balik meja di Riverfall.”


Masuk akal.


Dia cari info tentang Hidden


Dungeon dari balik meja, sedangkan adeknya cari Hidden Dungeon sambil petualangan.


Dari sini, gue bareng Shaylia


lompat lagi ke 5 tahun kemudian, di mana Erkstern sama Morri udah punya Maha,


Royce, sama Urlant yang baru gabung. Mereka untuk pertama kalinya resmi jadi


Party yang namanya Apus.


Sedangkan di Riverfall…


“A…Apa?! Anda menemukan Hidden


Dungeon di negara ini?!”


“Ya! Tempat itu jadi Hidden


Dungeon ketujuh yang gue temuin bareng Party ini! Aaahahaha!”


…Shaylia dapet laporan dari


Petualang yang temuin Hidden Dungeon.


“Siapa cewek itu.”


“Lo nggak kenal dia?!”


“Ya kan gue lupa ingetan!”


“Dia itu Pahlawan Sylvia!”


“Oh gitu—Hah?! Sylvia?!


Itu…kakaknya Myllo?!”


“I…Iya sih, tapi bukan kakak


kandung….”


Oh! Jadi selama ini dia bukan


kakak kandungnya Myllo?!


Kalopun dia bukan kakak kandung,


mungkin dia orang yang berdampak banget ya buat Si Dongo itu.


“Bi…Bisa anda ceritakan tentang


apa yang anda temukan di dalam tempat itu, Nyonya Sylvia?!”


“Hm…sebenernya sih tempatnya


panas banget. Mungkin aja Mahluk Fana kayak kita nggak sanggup tinggal di sana.


Lagian, ‘penduduk aslinya’ cuma Kaum Naga doang, kok.”


“Kaum Naga?! Apakah ada sesosok pemimpin


bagi mereka semua?!”


“Ya, Tarzyn ada di sana.”


“Ma…Maksud anda…Fire Dragon King


Tarzyn?!”


“Ya. Masalahnya…dia udah terlalu


capek jagain Hidden Dungeon. Makanya itu, Dewa Arkhataz segel Jiwa-nya. Ya buat


dia sih, itu sama aja mati dengan tenang.”


“Menyegel Jiwa-nya?! Apakah ada


cara membuka segel—”


“Ei, Shaylia.”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Kok lo kesannya mau buka segel


dia?! Dia itu udah capek, loh! Bahkan mungkin aja yang balik itu bukan dia kalo


segel dibuka! Yang ada cuma Jiwa buas yang nggak kenal kawan! Paham, kan?!”


Bahkan Sylvia aja udah curiga


sama Shaylia.


Ya itu semua salah Shaylia sih


yang buru-buru nanyain dia.


……………


Semenjak liat Shaylia yang ketemu


Sylvia, kita lompat lagi ke beberapa tahun kemudian, di mana Erkstern udah


cukup terkenal bareng Party-nya yang namanya Apus itu.


“Sekarang ini…”


“Beberapa bulan sebelum waktu


kita sekarang.”


Mungkin aja ini sebelum gue


dateng ke dunia ini, ya?


Sekarang dia udah balik lagi ke


Erviga bareng Morri yang nyamar jadi Manusia, sama Apus.


Mereka semua lagi makan-makan


bareng di salah satu kedai, tapi Erkstern sama Morri diem-diem nemuin Shaylia.


“Si…Sial! Terus buat apa kita


rencanain ini lama-lama?!”


“Apa usaha kita selama ini


sia-sia?”


Erkstern sama Morri keliatan


putus asa waktu denger cerita Shaylia yang terima laporan dari Sylvia.


“Ada cara.”


“A…Ada cara?!”


“Ma…Maksudnya apa, kak?!”


“Kita butuh Jiwa


sebanyak-banyaknya untuk buka segel itu!”


Abis itu Shaylia jelasin ke


mereka kalo Sylvia keceplosan cerita tentang segel itu waktu dia ketemu Sylvia


yang lagi mabok di dalem kedai.


Ya, pantes aja sih Myllo kayak


gitu. Panutannya aja juga…ya gitu lah.


Tapi…


“Kok gue nggak liat kejadiannya,


ya?”


“Kan kita lompat-lompat liat


ingetan gue ini.”


I…Iya juga sih.


“Terus gimana cara kita ambil


“Pake ini. Ternyata ini Soul


Devourer. Alat ini gue temuin waktu kita temuin kaum kita disiksa, sebelum


kita…”


“Bagus, Morri! Artinya kita masih


punya harapan untuk bales kaum kita, kan?!”


““Ya, kak!””


Morri keliatan semangat banget


jawabnya, sedangkan Erkstern nggak enakan gitu jawabnya.


……………


Abis itu, beberapa bulan


kemudian, mereka pergi nemuin kakek-kakek yang lagi megang buku.


“Anda itu Sage, kan?! Harusnya


anda paham situasi kita, Sage Calleb!”


“Sa…Saya mengerti situasi anda.


A…Alangkah baiknya jika saya membantu anda semu—”


“Satu-satunya cara anda bantu


kita itu ya biarin kita ketemu Tarzyn—”


“Tidak! Tidak akan saya biarkan


kalian menemuinya!”


“Sage Calleb!!!”


Ujung-ujungnya mereka bertiga


lawan Sage ini.


Walaupun mereka semua sekarat,


gue bisa bilang yang menang berantem itu ya kakek-kakek itu, karena dia


berhasil lari dari mereka bertiga.


“Siapa sih kakek-kakek itu?”


“Sage, orang-orang yang terima


ajaran Great Sage Melchizedek untuk jagain Hidden Dungeon.”


“Artinya orang yang namanya


Callum itu juga, ya?”


“Ya iyalah! Dia kan anaknya orang


tadi!”


Oh pantesan—


“Urgh!”


“Djinn? Lo kena—”


……………


“Hafffttt!”


Gu…Gue balik lagi ke waktu


normal?!


“Argh!”


Mata gue…kok perih banget?!


“Uhuk, uhuk!”


Shaylia masih ketusuk batu?!


Tunggu, tunggu, tunggu!


Kalo gue inget-inget lagi, waktu


tonjok Tarzyn di langit, gue tiba-tiba liat ingetan dia, terus waktu gue balik


lagi ternyata gue baru nonjok dia, seakan-akan waktu di dunia ini berhenti


waktu gue masuk ke ingetannya.


Apa artinya waktu berhenti juga,


pas gue liat ingetannya Shaylia?!


“Dji…Djinn…”


“Hm?”


“Padahal…lo belom liat ingetan


gue…waktu gue hancurin Marklett, bunuh Insectant Lebah sama Mermaid itu…bahkan,


waktu gue…bunuh…adek gue sendiri…”


“Adek lo sendiri?!”


“Erkstern…gue bunuh dia…karena


dia punya perasaan…ke anggotanya sendiri…sebagai Petualang…”


Brengsek, tega banget!


Ya, mungkin itu yang gue pikirin.


Tapi…


“Shay.”


“…”


“Lo ngerasa bersalah nggak bunuh


adek lo sendiri?”


“…”


Dia diem aja—


“Hiks! Hiks!”


Cukup ngeliat reaksinya aja, gue


udah tau jawabannya.


“Gu…Gue selalu kesel…liat dia


yang ceritain pengalamannya sebagai Petualang! Gue pikir dia bisa hancurin


rencana kita!”


“…”


“Ka…Kalo boleh jujur, gue bukan


kesel karena dia terlalu deket sama Petualang, tapi karena dia bisa nikmatin


momen dia sama temen-temennya, sedangkan isi pikiran gue…cuma dendam, dendam,


dan dendam!”


“…”


“Padahal ada orang baik…kayak


Miraela…sama lo, Djinn!”


Akhirnya gue bisa liat kejujuran


dari Shaylia.


“Shay, lo tau nggak Tarzyn minta


apa sebelum gue bunuh dia?”


“Ta…Tarzyn?! Emangnya dia bisa—”


“Gue nggak sengaja liat masa


lalunya. Tiba-tiba gue ketemu Roh-nya.”


“Te…Terus…?”


“Dia minta supaya gue nggak hukum


lo karena kejahatan lo, tapi untuk bebasin lo dari tanggung jawab lo.”


“Ta…Tanggung ja—”


“Lo pasti capek kan, Shay?”


“I…Iya…hiks…”


Gue paham apa yang dia rasain.


Mungkin gue nggak ada motivasi


dendam di dunia lama gue, tapi gue sempet ngerasa bahagia sebelum gue menjauh


dari sekitar gue.


Gue pun cukup puas di dunia ini


karena Myllo sama Gia walaupun harus kehilangan Meldek.


Sedangkan Shaylia harus


ngelewatin 100 tahun lebih sebelum dia bisa ngerasain kebaikan ras selain


Dragonewt.


“Denger baik-baik, Shay!”


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


“Kalo masih ada Dragonewt yang


ditindas, gue janji untuk bebasin mereka semua! Kalo masih ada yang mau nindas


Dragonewt, gue janji untuk bantai mereka! Kalo negara ini hancur karena


Dragonewt, gue janji untuk beresin semua masalah yang udah lo buat!”


Mungkin kalo gue yang di dunia lama udah bodo


amat kalo ada masalah seberat gini, malah kalo bisa lari sejauh-jauhnya deh.


Bahkan kalo ini semua karena ibu


gue, mending gue tinggalin.


Satu hal yang bikin gue janji


kayak gitu—


“Ke…Kenapa lo bertindak


kejauhan…kayak gitu, Djinn?”


“Lo udah tau kan jawabannya apa?”


“…”


“Karena lo temen gue, Shay.”


“Hiks! Ma…Makasih…Djinn…”


“Ya, Shay—”


“A…Ambil ini…”


“…”


Walaupun dia udah kesakitan


ditusuk batu kayak gitu, dia masih bisa ambil rokok pipa sama korek api di


kantongnya.


“I…Ini…satu-satunya yang bisa gue


kasih…sebagai ucapan terima kasih, Djinn.”


“Ya, makasih.”


Mungkin udah waktunya gue bunuh


dia.


Tapi sebelum itu…


“Ada yang mau lo sampein ke


Miraela?”


“To…Tolong


bilang…makasih…sama…maaf juga…”


“OK, nanti gue bilang ke dia.”


Abis itu, gue bunuh Shaylia.


Kalo dibilang tega, sebenernya


nggak.


Tapi gue lebih nggak tega kalo


dia masih harus menderita kayak gitu.


Walaupun gitu, seenggaknya gue


lega karena masih bisa liat senyuman terakhirnya.