
“*SWUSH…”
“Wuhuuuu!!! Seru banget, Bocil Naga!”
“HYAAAAAA!!! JANGAN KENCENG-KENCENG, ATUH!!!”
“Ih! Penakut banget sih jadi cowok! Pantes aja nggak ada yang mau—”
“Dalbert… akan muntah.”
““JANGAN MUNTAH, DALBERT!!!””
Haaaaaah…! Bawel banget sih bocah-bocah sialan ini!
Tapi untung aja ada Ryūhime yang bawa kita kelilingin Hidden Dungeon ini, walaupun—
“*FWUSH!!!”
““Aargh!””
Walaupun angin ini kenceng banget!
Tapi ada satu hal yang bikin gue heran.
“Ryūhime, kok kita lawan arah angin ini terus? Kenapa nggak—”
“*FWUSH!!!”
“K-Kenapa nggak ikutin aja arah anginnya?!”
“(Justru karena angin berhembus dari arah sana, maka kita harus melawannya, Djinn-kun!)”
“Tapi kok—”
“Kayaknya kalo angin itu datengnya dari sana, artinya Chamber of Ancient Armament ada di sekitar sana!”
“(Kau benar, Gia-chan! Seperti Mahluk Abadi lainnya yang menjaga tempat sakral itu, angin-angin ini juga
bertindak sebagai penjaga tempat itu, sehingga mereka menjauhkan para pendatang dari sana!)”
Bener juga! Kok gue nggak kepikiran soal Chamber of Ancient Armament, ya?!
Mungkin karena di tempat ini nggak ada Mahluk Abadi, Melchizedek tempatin Yōkai sama Griffin di tempat ini.
Tapi mereka mahluk yang nggak berakal, makanya dia pasang angin yang kenceng supaya hempas orang-orang yang mau ke sana—
“*FWUSH!!!”
“Tapi kok bisa sih ada angin kayak gini?! Emangnya siapa yang hembus angin ini?! Apa mungkin ada Wind Dragon juga?!”
“(Tentu saja tidak! Kaum-Ku telah meninggalkan Kumotochi dari ribuan tahun yang lalu! Karena hal tersebut, Tetsuo-kun sebelumnya hendak membunuh-Ku, agar kematian-Ku menjadi tanda peperangan antara Kitsune dengan Wind Dragon!)”
“T-Terus angin ini—”
“(Aku pun juga tidak tahu, Gia-chan! Bahkan sebagai Wind Dragon Princess pun… Aku juga kesulitan melawan angin ini…!)”
Mungkin Gia nanya gitu, tapi dari semua jawaban yang bisa gue pikirin, kira-kira ada dua jawaban.
“Bisa jadi karena Melchizedek atau Ayasaki.”
““!!!””
Keliatannya pada kaget waktu gue ngomong.
“Haaaaah?! Maksud lo gurunya—”
“(Shishō, maksudmu?! Apakah mungkin?!)”
“Jujur aja, gue pun nggak tau kekuatan macem apa yang dipunya Ayasaki. Tapi kalo dia emang Dungeon God yang setara sama Tarzyn atau Jörnarr, makanya wajar aja kalo dia punya kekuatan segede ini!”
“Terus, kalo Melchizedek teh—”
“Gue pernah ceritain ke kalian kan, di mana dia bantai Kronovik? Andai kalian ngeliat langsung kejadiannya,
mungkin kalian nggak akan kaget kalo tau ada angin kenceng ini di tempat ini.”
“Iya sih. Pantes aja dia bisa ngelakuin hal kayak gitu—”
“*FWUSH!!!”
Duh! Ganggu banget anginnya!
“(Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan! Tetapi bertahanlah! Karena sebentar lagi, kita akan menghadapi tantangan baru!)”
Hah?! Tantangan ba—
“Semuanya! Liat baik-baik! Itu binatang apaan?!”
““!!!””
A-Apaan tuh?!
Ada anjing yang punya sayap?! Eh, tapi dua kaki belakangnya mirip kayak kaki burung!
“(Ada Hainu, kah?! Tidak apa-apa! Selama mahluk tersebut adalah Yōkai, kita punya kesempatan menyerangnya!)”
“Hehe! Tenang aja, Bocil Naga! Biar kita yang lawan mereka!”
“(Baiklah, Saint-kun! Tetapi waspadalah terhadap Haneko! Karena mahluk tersebut bukanlah Yōkai, melainkan Spirit Beast!)”
Hah? Gimana?
“Apa bedanya Yōkai sama Spirit Beast?”
“(Yōkai adalah mahluk yang terbentuk dari Roh yang berkeliaran di Kumotochi, sedangkan Spirit Beast adalah mahluk yang tercipta di Spirit Realm, yang entah mengapa terdampar di dunia ini, atau dipanggil oleh seseorang di dunia ini!)”
“Maksudnya dipanggil tuh pake ((Summon Magic)), ya?!”
“(Tepat sekali, Djinn-kun. Oleh karena itu—)”
“Myllo! Djinn! Bocil Naga! Kita nggak punya banyak waktu lagi! Sekarang mereka udah mau deket!”
Oh iya, mereka udah deket!
“*Dor, dor, dor…”
“Rrrrr!”
“S-Sialan! Andai gue nggak mual… mungkin gue bisa tembak mereka—Umph!”
Keliatannya anjing-anjing bersayap itu nggak bisa dilawan dari jarak jauh.
Kalo dari jarak deket—
“(Biarkanlah mereka tiba di Tubuh-Ku, Dalbert-kun!)”
“Tapi—”
“(Tidak apa-apa! Selama dalam Wujud Naga, Tubuh-Ku lebih kuat dari sebelumnya!)”
“Hehe! Makasih banyak, Bocil Naga!”
Yaudah deh, mending siap-siap a—
“*FWUSH!!!”
Cih! Ngeselin banget angin ini!
“Raaaaurr—”
“*Prang!”
“Keuk!”
Untung aja Gia bisa tahan anjing bersayap itu!
Tapi gue ngerasa ada yang aneh!
“Eh! Kok anjing bersayap itu nggak kena tiupan angin?!”
“(Pasti mereka sudah bisa beradaptasi dengan angin kencang ini! Waspadalah dengan agresi mereka!)”
Bisa beradaptasi di tempat kayak gini?!
Kalo gitu, anjing-anjing ini udah hidup selama ribuan tahun, dong?!
“Hyaaaat!”
“*Tuk, tuk, tuk…”
“Raaaur—”
“*Bhuk!”
“Guuuuuk…”
“…”
Cih! Bahkan pukul salah satu dari antara mereka aja bikin tangan gue kesakitan!
Walaupun badannya nggak gede-gede banget, tapi—
““Roaaaar!””
“Eh! Kok ada suara singa?! Dateng darimana—”
“(Haneko! Pasti itu suara Haneko!)”
Suara Haneko?!
“Et! Liat eta! Ada singa bersayap!”
““!!!””
Ada singa bersayap?!
Ternyata itu yang disebut Haneko?!
Tapi kok—
“Semua kucing… berdarah.”
“Itu singa, Machinno—Eh! Bener juga! Kok mereka pada berdarah ya?!”
Baru aja gue mikirin hal yang sama, sebelum mereka nanya.
“*FWUSHHH…!”
“(S-Semuanya…! Bertahanlah…! Tekanan angin ini… semakin kencang…!)”
“Sialan…! Pegangan sama Bocil Naga, semuanya…! Jangan sampe kalian ketiup angin ini…!”
“O-OK, Myllo…!”
“(Baiklah…! A-Aku… akan melaju lebih cepat…!)”
“*FWUSSSSHH…!”
Cih! Kenceng banget!
“…”
Bahkan kuping gue udah nggak enak, karena ada banyak angin masuk!
“Chaaaakkk!!!”
““!!!””
Eh…?! Elang…?!
“(Sial…! Griffin… sudah datang…!)”
“Terus gimana… Bocil Naga—”
“(Bertahanlah…! A-Aku… akan berusaha untuk membawa kalian…!)”
“*SWUSH!!!”
Duh! Kenceng banget bawanya—
“Chaaaaakkk!”
“*SWUSH!!!”
““Uaaargh!””
Mungkin Bocil Naga bisa terbang sambil belok-belok untuk hindarin Griffin-Griffin ini! Tapi karena cara terbangnya, kita jadi ikutan muter-muter sampe pusing!
“P-Punten…! A-Aing teh mau—”
“(Jangan! Jangan berani-beraninya kau muntah di Tubuh-Ku, Garry-kun!)”
“G-G-Gue… juga… udah mual daritadi—”
“(Bertahanlah sedikit, Dalbert-kun! Jangan berani-beraninya kalian muntah pada Tubuh-ku!)”
“T-Tapi—”
“Kalo kalian bisa tahan sedikit… nanti aku cium…!”
“WUOOOOHH!!! AING TEH PEJANTAN KUAT!!!”
Duh! Bawel banget sih bocah-bocah sialan ini?!
“*SWUSH, SWUSH, SWUSH…”
“Chaaaakkk!!!”
Untungnya Bocil Naga terus hindarin semua Griffin yang mau serang dia!
Tapi gue rasa… dia nggak akan bisa bertahan selama itu!
“Liat! Ada beberapa Haneko yang mau ke sini!”
“Pasti mereka mau bantuin kita—”
“Chaaaakkk!!!”
“Roooarrr!”
“*Chrak, chrak, chrak…”
Ada beberapa Haneko yang berantem sama Griffin?!
“Hehe! Ternyata singa bersayap itu pada bantuin kita, ya?!”
“(Tidak, Myllo-kun!)”
“Hah?! Kok nggak—”
“(Mereka sedang memperebutkan diri-Ku sebagai mangsa utama mereka!)”
““!!!””
Gue sih nggak kaget!
Karena gue yakin kalo mereka semua mau Naga segede ini sebagai mangsa mereka—
““Roaaaarrr!””
“*SWUSH!!!”
Untungnya singa bersayap ini juga masih bisa dihindarin Bocil Na—
“*Bruk!”
“(Aaargh! Sial! Mengapa mereka jatuh di mata-Ku—)”
“Bocil Naga! Awas ada Griffin di—”
“Chaaaak!”
“*Chrak!”
“(Aaaargh!)”
Duh! Dia udah diserang!
““Aaaargh!””
Karena dia diserang, terbangnya jadi nggak stabil!
Oh iya! Gue tau!
“Bocil Naga! Pake ((Dragon Cry))! Seka—”
“(Aku tidak bisa, Djinn-kun!)”
“Hah?! Kok nggak bisa—”
“(Kalaupun Aku bisa menggunakan itu, Aku hanya akan membawa perhatian bagi seluruh Hainu atau Spirit Beast lainnya!)”
Cih! Bener juga ya!
Tapi bukannya jadi takut, ya? Kok malah jadi—
“Yaudah! Kalo gitu, biar gue yang—”
“*Chrak!”
“(Keuk…! Dasar mahluk tidak berakal—)”
“Ah. Machinno… akan jatuh—”
“*Tap!”
Untung aja gue reflek pegangin Machinno, karena Bocil Naga diserang lagi sama Haneko!
Masalahnya…
“*FWUSSSSHHHH!!!”
…tiupan anginnya makin kenceng! Gue bahkan nggak bisa pegang Machinno lama-lama!
“Semuanya! Cepet bantu Djinn—”
“Chaaaak!”
“*Swush!”
“!!!”
Dasar burung brengsek!
Kalo sampe gue telat dikit tarik Machinno, mungkin dia udah dimakan duluan—
“*Chrak!”
“(Aaargh!!!)”
Eh! Eh, eh, eh, eh—
“*Tap!”
“Tenang, Djinn…! Gue pegang lo…!”
“Thanks, Mil—”
“Roaaarrr!”
““!!!””
Aduh! Tiba-tiba ada singa bersayap yang mau nyerang kita berdua!
Mau nggak mau…
“Mil! Lepas aja!”
…gue harus jadiin diri gue sebagai umpan demi mereka semua!
“Hah?! Kok lo—”
“Percaya sama gue, Mil!”
“Cih! Yaudah! Tapi gue larang lo untuk mati!”
“Tenang aja! Gue bukan minta ijin untuk mati!”
“Hm!”
““…””
Myllo akhirnya lepas gue, supaya gue jatoh dari Bocil Naga.
“Heaaaaagh!”
“*Bhuk!”
“Roar—”
“*Shruk! Shruk! Shruk!”
“Roaaarrrr…”
Untungnya gue bawa pisau yang namanya kunai ini, untuk jaga-jaga! Jadinya bisa gue pake untuk tusuk singa bersayap ini!
Masalahnya…
“*FWUSH!!!”
…gue ditiup angin kenceng ini, sampe jauh dari temen-temen gue!
“*Boink, boink, boink…”
Huh! Untung aja ada awan empuk ini! Jadinya gue mantul-mantul di atas awan!
““Rooaaaarrr!!!””
“…”
Cih! Ternyata singa-singa bersayap ini mau incer gue!
“…”
Yaudah deh! Mumpung pagi ini gue belom latihan, jadinya singa-singa bersayap ini bisa jadi temen latihan gue!