
“*Tung! Tung!”
“Kalian keterlaluan! Kok kalian jalan sambil cubit pipinya Machinno, sih?!”
Aduh! Sialan nih cewek! Dateng-dateng langsung ketok kepala gue!
Tapi untungnya kepala Dalbert juga diketok sih.
“Tapi teh kenapa kalian basah kuyup kitu?”
““Hm.””
Gue sama Dalbert cuma bisa tunjuk Machinno doang, supaya Garry tau kalo ini semua salah dia!
“…”
Eh tapi kok mereka malah beli kostum baru, sih?! Pantes aja mereka seneng banget waktu gue kasih duit buat
belanja!
Bahkan kalo gue liat-liat lagi, kostumnya bener-bener mirip kayak kostum koboi.
“Ngomong-ngomong, gimana kabar Myl—”
“Hicc… Pasti Machinno bersin kan…? Ahahaha… hicc!”
Nih lagi Si Dongo! Kenapa dia malah mabok?!
“Pokoknya Myllo udah nggak bete. Tapi soal senjata, dia nggak mau beli apa-apa.”
“Mm? Kenapa emangnya?”
“Dia bilang, kalo tongkat itu satu-satunya pemberian dari kakaknya. Makanya itu dia nggak mau pake senjata lain selain senjata itu.”
Pantesan dia sekesel itu waktu tongkatnya hilang.
“Yaudah gih kalian mandi dulu. Nih aku, Myllo, sama Garry beliin kostum buat kalian.”
Sesuai dugaan, kostum yang dibeliin mereka juga pasti kostum koboi. Bahkan mereka juga beliin topi koboi.
“OK. Thanks sebelumnya.”
Akhirnya gue sama Dalbert mandi dulu, sebelum kita berangkat ke wilayah timur pulau ini.
Abis selesai siap-siap, Chuck kasih kita masing-masing kuda. Tapi khusus Machinno pengecualian. Jadinya dia
satu kuda bareng Gia.
Kalo kata Chuck, karena lokasi Beckbuck itu ada di bagian barat laut, jadi perjalanan ke sarang Sandworm itu bisa sekitar 2 hari 1 malam.
Selama perjalanan, kita lumayan banyak istirahat. Itu semua karena cuaca yang cukup terik di pulau ini. Jadinya kuda-kuda kita perlu istirahat yang cukup.
Setiap kali kita istirahat, kita jaga secara ganti-gantian. Mungkin kalo pake kekuatan gue yang disegel, gue
nggak ngerasa ngantuk sama sekali, bahkan gue bisa nggak tidur selama satu minggu. Tapi kalo sekarang, gue jadi lebih sering ngerasa capek dari biasanya. Makanya itu, gue terpaksa untuk ikut istirahat.
……………
““*Zzzzz…””
Sekarang udah malam. Kata Chuck, besok pagi ada kemungkinan untuk lewatin sarang Sandworm.
“*Cyis…”
“Fyuhh…”
Seperti biasa, gue ngerokok dulu selama Gia nggak tau.
“…”
Tapi kenapa Chuck nggak ngerokok?
“Chuck, tumben lo nggak ngerokok? Kayaknya waktu itu lo banyak ngerokok di kedai.”
“Rokok gue… ketinggalan… ahaha…”
“Oh gitu. Yaudah, mau gantian nggak sama rokok gue?”
“G-Gue nggak apa-apa, Djinn. Makasih banyak karena—”
“Nggak apa-apa kali. Nih, bisa gue cabut ujung pipanya. Pasti lo nggak enakan untuk ngisep bekas bibir gue kan?”
“O-Oooh bisa ya? Y-Yaudah. Makasih banyak, Djinn…”
Akhirnya Chuck pake rokok yang gue kasih.
“Uhuk, Uhuk, Uhuk!”
Eh?! Kok batuk?!
“A-Air…!”
“Nih, nih, nih!”
“*Gluk, gluk, gluk…”
“Puaahh…”
K-Kenapa dia tiba-tiba batuk? Gue yakin banget kalo tembakau yang sekarang gue pake tuh nggak ada rasa-rasa apa-apa. Beda kayak yang dipake Shaylia, yang ada rasa mint[1].“Oi, lo nggak apa-apa?”
“N-Nggak apa-apa. Mungkin karena udah lebih dari sehari nggak ngerokok, gue jadi batuk-batuk.”
Masa sih karena itu?
Ah. Kalo gitu gue nggak akan pernah lagi deh tawarin orang rokok, bahkan ke perokok sekalipun.
……………
Sehabis kita selesai istirahat, kita lanjutin lagi perjalanan kita sekitar jam 8 pagi. Kurang lebih 2 jam kita di perjalanan. Sampe akhirnya kita mulai ngerasa ada yang beda di sekitar kita.
“Kita udah ada di sekitar kawasan pasir hitam! Semuanya! Siap-siap sama datengnya Sandworm di sekitar kawasan ini!”
Bener juga ya. Ternyata pasir di sini warnanya hitam.
Sesuai kata Chuck. Kita udah ada di sekitar sarang Sandworm. Bisa jadi cacing-cacing yang di sekitar sini tiba-tiba muncul di mana aja.
Makanya itu, kita perlu waspa—
“HIEEEKH!”
“Ada apa, Garry?! Apa ada Sand—”
“*Grruuulll…”
“A-Ada cacing. Tapi cacingnya teh di dalem perut aing…”
““KENAPA HARUS TERIAK?!?!””
“M-Maapkeun…”
Dasar sialan! Bikin kaget a—
“Agh!”
“Kenapa Dalbert?! Apa ada yang nyerang ki—”
“Nggak. Ternyata elang gue bisa kelilipan.”
Haaaaaah! Kenapa sih dua bocah ini bikin panik aja?!
“Tunggu! Ada yang aneh!”
“Apa lagi?! Awas aja kalo aneh-aneh!”
“A-Aku serius, Djinn! Tiba-tiba Machinno hilang?!”
Hah?! Hilang?!
“Bukannya dia selalu sama lo?!”
“Nah itu dia! Aku juga kaget dia tiba-tiba hilang!”
HAAAAAAH!!!
Ada-ada aja sih—
“*FWUZZZ!”
“Graaaaayr!”
Buset! Itu yang namanya Sandworm?! Gede banget ya ternya—
“…aaaaaaa…”
“*FWUZZZ!”
Tunggu…
Kok kayak ada suara anak kecil ya, sebelum Sandworm itu masuk ke dalem pasir?
“Oi, Aquilla! Kita pernah ngalamin kejadian kayak gini, kan?!”
“Hah?! Maksud lo apa, Mil?!”
“Inget nggak, waktu kita pertama kali sampe di pulau ini?!”
Hah…?
Coba gue inget lagi baik-baik…
Kan kita dateng pake gelembungnya Jörnarr. Tapi waktu kita sampe, tiba-tiba ada…
“Myllo! Maksud kamu tuh…”
““!!!””
Kok bisa dia ada di Sandworm itu?!
“Ayo kita bantuin dia!”
Ya ampun! Kenapa ada-ada aja sih kelakuan temen-temen gue?!
“*Fwuzzzz…”
“Gawat! Sandworm yang bawa temen kalian mau samperin kita! Kita harus hati-hati, Aqui—”
“Hehe! Biarin aja cacing itu ke sini, Chuck!”
“A-Apa?! E-Emangnya kalian nggak sayang nyawa kali—”
“Oi, Chuck. Percaya aja sama kata-kata Myllo, Chuck.”
“Djinn bener, Chuck!”
“Daripada kitanya teh yang repot-repot kejar eta cacing…”
“Mending biarin cacing itu aja yang samperin kita!”
Untung aja kita berlima sependapat.
“K-Kalian gila ya?! Emangnya kalian nggak sayang nyawa kali—”
“*FWUZZZ!!!”
“Gryaaaaar…”
“Aaaaaaa…”
“*Bwung…”
Untung aja mahluk imut satu ini udah pasang sihirnya, sebelum dia jatoh ke pasir!
…
Eh…
Gue bilang apa…?
Mahluk imut…?
“Myllo…”
“*Puink, puink, puink…”
“Wuhuuu! Keliatannya lo asik main Sandworm itu Machinno!”
“…”
Dia cuma senyum doang waktu dipuji Myllo.
“Machinno! Kamu ke mana sih?! Kok tiba-tiba—”
“Cacang…”
Hah? Cacang?
“…takut.”
““…””
Maksudnya… cacing raksasa ini…?
“Oh gitu ya?! Emangnya takut sama siapa?!”
“Cacang takut…”
““…””
“…dengan—”
““*FWUZZZ!!!””
Waduh! Ada empat cacing raksasa yang samperin kita!
“Aquilla! Ayo kita lawan cacing-cacing sialan ini!”
““Ya!””
Eh iya!
“Machinno! Naik sini!”
“Gryaaaar!”
“…”
Bukannya buru-buru naik, malah nontonin cacing doang!
“Buruan, Machinno!”
“*Puink, puink, puink…”
Untungnya gue udah bawa Machinno di pundak gue, sedangkan bocah-bocah sialan lainnya coba serang empat cacing ini.
“*Dor, dor, dor…”
“Graaayr!”
“Myllo! Gue udah tembak dua matanya! Sisanya biar lo yang serang!”
((Zegin Blow))
“*Fwushhh…”
“Gryaaar!”
Dalbert tembak mata cacing itu, terus Myllo langsung pukul satu cacing pake kekuatan anginnya. Untungnya dia masih bisa lawan cacing itu, walaupun nggak ada tongkatnya.
((Spirit Call: Fast Step))
“Hraaaagh!”
“*PRANGGG”
“Gryaaaar!”
“*Bruk…”
Garry pake mantranya untuk Gia, supaya dia bisa gerak cepet. Karena bisa gerak cepet, tambah lagi fisiknya yang dari awal udah kuat, Gia bisa hajar cacing itu sampe keluar dari tanah.
“Gryaaaar!”
Artinya sisa dua cacing aja yang harus kita—
“Jangan!”
Hah…?
“No, maksudnya a—”
“Cacang dan saudaranya…”
“…”
“…takut dengan kita!”
Hah?! Takut sama ki—
“Gryaaaar!”
“*Bwung…”
Serius takut sama kita?!
Kalo gue liat-liat, cacing yang ada di depan kita berdua ini berani nyerang kita, kok. Maksud dia apa?
“Djinn…”
“…”
Haaaaah… Kenapa dia tiba-tiba sok imut gini? Padahal gue mau hajar cacing yang ada di depan kita.
((Rune Spell: Sleep Paralyze))
“Grayrr…”
“*BRUK…”
Karena Si Lemot satu ini, gue terpaksa bikin tidur cacing raksasa ini pake Sajak yang gue tulis di atas pasir.
Tapi untungnya ada Si Lemot ini, yang secara nggak langsung ingetin gue, kalo gue udah nggak punya—
“Aaaargh!”
“*FWUZZZ…”
“CHUUUUCK!!!”
Aduh! Kenapa dia tiba-tiba dimakan cacing yang terakhir?! Bahkan di dibawa kabur ke dalem tanah!
Kalo kayak gini, ujung-ujungnya sisa kita doang yang bisa cari Bandit Legendaris!
_______________
[1]Dragonewt yang menyamar menjadi Manusia yang memberikan Djinn rokok pipa dan tembakau sebelum meninggal dunia (Chapter 89).