Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 148-1. Waiting For My End



Gue Dalbert Dalrio, pimpinan para


bandit yang namanya Blood Brothers of Erviga.


Sekarang gue lagi ada di…


“…”


…dalem penjara.


Ya, untungnya gue sih nggak


sendirian.


“Haaah! Kenapa kita masih


ditahan—”


“Ssssttt! Bos bilang diem! Jangan


kayak anak tantrum, deh!”


Semua anggota gue, yang sisa 20


anggota, juga ikut ditahan bareng gue.


“Mmm…? Siapa sih tuh yang


berisik?”


“Bura. Dia udah nggak tahan


untuk—”


“*Trung… (suara memukul penjara)”


“Bura! Bawel banget sih!”


“Haaaaah?! Lo mau—”


“Apa?! Mau nantangin?!”


“Ng…Nggak…”


Alethra.


Elf yang jadi salah satu rekrutan


pertama gue.


Kalo gue pikir-pikir lagi, gue


masih nggak percaya Elf Cengeng ini udah jadi salah satu orang yang paling gue


percaya di BBE.


Nggak cuma jadi kepercayaan gue


aja, dia bahkan jadi orang yang paling ditakutin di grup gue ini.


“Alethra, biarin aja. Wajar aja


kalo mereka ngamuk kayak gitu.”


“Iya sih, tapi…nggak apa-apa kita


dipenjara kayak begini?”


Sebenernya gue mau bilang nggak,


karena kita jadi salah satu faktor penyelamat di Erviga Kingdom.


Tapi…


“Inget, Alehtra. Kita ini bandit.


Walaupun tujuan kita baik, tapi cara kita tetep kotor.”


“Tapi kan kita udah selamatin—”


“Kita ini nggak lebih dari faktor


pendukung aja, Alethra.”


“Faktor pendukung?! Lo udah


bantuin para Petualang itu—”


“Itu pun juga faktor pendukung!”


“Bo…Bos…”


Ya. Kita semua nggak lebih dari


sekedar bandit.


“Kekeke…”


“Bos? Kenapa lo ketawa?”


Nggak tau kenapa, menurut gue


lucu aja.


“Kalian semua! Denger ini!”


““Mmm?””


“Gue nggak tau kalian semua


gimana, tapi menurut gue, perjalanan kita seru, ya?!”


““…””


“Kalo pun nanti kita dihukum


mati, inget ini!”


““…””


“GUE BERSYUKUR PUNYA REKAN YANG


MAU IKUT ‘KOTOR’ BARENG GUE!!!”


““Bo…Bos!””


Gue cuma bisa nangis untuk


ngabisin momen terakhir gue bareng mereka semua.


“Semuanya! Ma…Ma…Makasih karena


udah mau gabung gue!”


““Booooossss!!!””


“Hiks! Makasih, bos!”


“Gue bersyukur lo pimpin kita


dari dulu, Bos!”


Berat juga ya, sampein salam


perpisahan kayak gi—


“*Phuk… (suara pelukan)”


“Bo…Bos! Kalo kita mati, semoga


gue ketemu lo di alam lain, Bos!”


“A…Alethra…”


“*Phuk… (suara pelukan)”


“Ya…gue juga!”


Andai gue bisa ngomong gitu ke


semua anggota gue yang udah nggak ada.


“*Krrrrrang… (suara pintu besi


terbuka)”


“Blood Brothers of Erviga!


Waktunya kalian semua menuju pengadilan!”


Ah, udah waktunya ya?


Yaudah. Gue nggak takut.


Seenggaknya gue udah sampein


salam perpisahan gue ke mereka semua!


……………


Gue masuk ke pengadilan bareng


anggota semua gue.


“…”


Orang itu…kalo nggak salah


namanya Myllo, ya?


Ada juga Cewek Landak itu yang ke


sini?


Kenapa ada Petualang di ruang


pengadilan ini?


“…”


Gue tau ada Kak Dahlia yang


dateng bareng Alphonso.


Tapi gue bahkan nggak berani


tunjukin muka gue ke mereka.


“*Tok, tok, tok! (suara ketukan


palu)”


Mm?


Yang jadi hakimnya…Raja


Glennhard?


Pokoknya, proses pengadilan pun


dimulai.


“Blood Brothers of Erviga. Kasus


Kejahatan:


Pemerasan Bangsawan.


Total: 579 kasus selama 10 tahun.


Penyerbuan Saudagar.


Total: 11.901 kasus selama 10


tahun.


Penyerangan Petualang.


Total: 489 kasus selama 10


tahun.”


Ah, sialan.


Kenapa harus disebutin kasusnya,


sih?


“Sekian adalah kasus kejahatan


yang bahkan tidak bisa disebutkan satu per satu. Dengan demikian, hukuman yang


patut mereka terima terdiri dari: Penjara Seumur Hidup dan Hukuman Mati.”


“…”


Ya. Gue juga udah yakin itu


kasusnya.


“Apakah anda yang bernama Dalbert


Dalrio?”


Raja Glennhard nanyain gue?


“Ya, Yang Mulia.”


“…”


Kenapa dia tiba-tiba nanyain—


“*Druk… (suara bersujud)”


“!!!”


“Ma…Maafkan saya akan kelalaian


saya, hingga kau melakukan kejahatan seperti itu!”


“…”


Mi…Minta maaf?!


Se…Serius dia minta maaf kayak


gitu ke bandit?!


“Jika kalian semua mempertanyakan


tindakan saya, maka kalian semua sama saja mempertanyakan tindakan heroik


mereka semua! Kalian paham?!”


He…Heroik?!


Gue bikin negara lo rugi—


“Prok, prok, prok… (suara tepuk


tangan)”


Hah?! Kenapa Myllo malah tepuk


tang—


““*Prok, prok, prok… (suara tepuk


tangan bersama)””


Hah?! Kenapa yang lain ikut tepuk


tangan?!


“Dalbert Dalrio.”


“Ya, Yang Mulia?”


“Aku akan memberikan Blood


Brothers of Erviga sebuah amnesti.”


““!!!””


“Namun semua ada persyaratan.”


Pasti ada persyaratan…


“!!!”


Tunggu! Jangan bilang


persyaratannya—


“Semua anggota Blood Brothers of


Erviga wajib terlibat dengan pemerintahan Erviga Kingdom dalam proses


mendirikan ulang negara…”


Oh. Cuma itu do—


“Sedangkan beberapa anggota pertama,


Dalbert Dalrio, Alethra Andorran, Thratol Lowsoil, Tayshar Sillout, dan Chetosh


Hemorn, wajib untuk mendaftar sebagai Petualang!”


“!!!”


Brengsek!


Semenjak ada Myllo, gue yakin


banget kalo ujung-ujungnya begitu!


……………


Sidang pun ditutup.


Sebelum kita pergi dari sini, gue


bubarin BBE untuk mereka semua.


“Kalian semua paham?! Walaupun


kita berpisah, tapi jangan ada yang lupain satu sama lain! Paham?!”


““Siap, Bos!””


Akhirnya perjalanan BBE cukup


sampe sini a—


“Dalbert!”


“…”


Kak Dahlia dateng bareng Alphonso


sama Myllo.


“Syukurlah kamu bebas dari—”


“Diem. Lo kira gue terima cara lo


bantu gue, kak?”


““!!!””


Gue tau banget. Keputusan akhir


kayak gitu pasti nggak jauh-jauh karena dia.


“Woy, Dalbert! Lo nggak bo—”


“Diem, Myllo. Ini bukan urusan


kita.”


“Tapi dia—”


“Bener begitu kan, Nyonya?”


“Ya. Makasih ya Phonso.”


Gue tau cara gue kesel tuh salah.


Tapi jadi Petualang?!


Hmph! Bercanda kali—


“Dalbert. Coba liat ini.”


Hm? Surat?


“Surat apa i—”


“Ini surat ayah, yang ada di meja


yang kamu temuin, sebelum dia mati.”


Su…Surat dari ayah?


“Coba baca dulu.”


Serius ini surat ayah?


“…”


Kalo gue perhatiin tulisannya


sih, emang mirip kayak tulisan ayah.


Coba baca aja deh.


“Teruntuk istriku.


Seperti yang kau lihat di atas sana, aku baik-baik saja. Anak-anak kita


juga sehat.


Dahlia punya rasa ingin tahu yang besar. Dia selalu diam-diam masuk


perpustakaan milikmu untuk belajar.


Dalton seperti biasa. Selalu menangis, tidur, menangis lagi, dan tidur


lagi.


Namun, aku sangat khawatir dengan Dalbert.


Ia anak yang cerdas dan pemberani. Namun ia sangat nakal. Kecerdasannya


hanya ia pakai untuk menipu.


Aku hanya ingin ia berguna untuk orang lain. Apakah caraku salah mendidiknya dengan keras, sebagai


pelanjut Riorio Merchant? Jika kau masih ada, apa yang kau lakukan?”


Ternyata dia sadar ya kesalahan


dia apa.


“Kamu baca itu kan, Dalbert?”


“Hm?”


“Kakak yakin, ayah pasti bangga


sama kamu.”


Ba…Bangga…?


“Liat kamu sekarang. Walaupun


kamu bandit, seenggaknya kamu udah kasih tempat berlindung untuk Kaum


Non-Manusia. Nggak cuma mereka aja, kamu bahkan berdampak besar untuk warga


desa.”


“Iya sih, tapi kalo jadi


Petualang—”


“Kali aja kamu berhasil temuin Pegasus, selama jadi Petualang!”


“!!!”


Pegasus…?


“Nih, boneka kamu. Kamu nggak


mungkin lupa boneka ini, kan?”


Boneka ini…


Bikin gue keinget cerita ibu,


sebelum tidur.


“Menemukan Pegasus itu salah satu pencapaian terbesar ibu, loh. Ibu


bersyukur banget bisa temukan mahluk yang sangat langka, Dalbert.”


“Woaaah…”


“Semoga kamu bisa temukan Pegasus ya, Dalbert!”


“Ya, ibu!”


I…Itu kan…salah satu mimpi gue.


Kenapa…Kak Dahlia…ingetin gue


soal mimpi i—


“*Tap… (suara menyentuh pipi)”


“Ka…Kakak…?”


Kenapa Kak Dahlia sentuh pipi gu—


“Jangan nangis, Dalbert.”


Gue…nangis…?


“Kita udah sama-sama bebas. Nggak


ada yang harus di—”


“*Phuk… (suara pelukan)”


“Ma…Makasih, kak!”


“Hihi…Dasar cengeng”


“Ba…Bawel!”


“Sshh, sshh, ssshh…”


Nggak cuma wujudin mimpi gue,


tapi juga berguna bagi orang lain, ya?


Nggak gue sangka, ternyata masih


ada jalan untuk bandit kayak gue.