
Gue Dalbert Dalrio, pimpinan para
bandit yang namanya Blood Brothers of Erviga.
Sekarang gue lagi ada di…
“…”
…dalem penjara.
Ya, untungnya gue sih nggak
sendirian.
“Haaah! Kenapa kita masih
ditahan—”
“Ssssttt! Bos bilang diem! Jangan
kayak anak tantrum, deh!”
Semua anggota gue, yang sisa 20
anggota, juga ikut ditahan bareng gue.
“Mmm…? Siapa sih tuh yang
berisik?”
“Bura. Dia udah nggak tahan
untuk—”
“*Trung… (suara memukul penjara)”
“Bura! Bawel banget sih!”
“Haaaaah?! Lo mau—”
“Apa?! Mau nantangin?!”
“Ng…Nggak…”
Alethra.
Elf yang jadi salah satu rekrutan
pertama gue.
Kalo gue pikir-pikir lagi, gue
masih nggak percaya Elf Cengeng ini udah jadi salah satu orang yang paling gue
percaya di BBE.
Nggak cuma jadi kepercayaan gue
aja, dia bahkan jadi orang yang paling ditakutin di grup gue ini.
“Alethra, biarin aja. Wajar aja
kalo mereka ngamuk kayak gitu.”
“Iya sih, tapi…nggak apa-apa kita
dipenjara kayak begini?”
Sebenernya gue mau bilang nggak,
karena kita jadi salah satu faktor penyelamat di Erviga Kingdom.
Tapi…
“Inget, Alehtra. Kita ini bandit.
Walaupun tujuan kita baik, tapi cara kita tetep kotor.”
“Tapi kan kita udah selamatin—”
“Kita ini nggak lebih dari faktor
pendukung aja, Alethra.”
“Faktor pendukung?! Lo udah
bantuin para Petualang itu—”
“Itu pun juga faktor pendukung!”
“Bo…Bos…”
Ya. Kita semua nggak lebih dari
sekedar bandit.
“Kekeke…”
“Bos? Kenapa lo ketawa?”
Nggak tau kenapa, menurut gue
lucu aja.
“Kalian semua! Denger ini!”
““Mmm?””
“Gue nggak tau kalian semua
gimana, tapi menurut gue, perjalanan kita seru, ya?!”
““…””
“Kalo pun nanti kita dihukum
mati, inget ini!”
““…””
“GUE BERSYUKUR PUNYA REKAN YANG
MAU IKUT ‘KOTOR’ BARENG GUE!!!”
““Bo…Bos!””
Gue cuma bisa nangis untuk
ngabisin momen terakhir gue bareng mereka semua.
“Semuanya! Ma…Ma…Makasih karena
udah mau gabung gue!”
““Booooossss!!!””
“Hiks! Makasih, bos!”
“Gue bersyukur lo pimpin kita
dari dulu, Bos!”
Berat juga ya, sampein salam
perpisahan kayak gi—
“*Phuk… (suara pelukan)”
“Bo…Bos! Kalo kita mati, semoga
gue ketemu lo di alam lain, Bos!”
“A…Alethra…”
“*Phuk… (suara pelukan)”
“Ya…gue juga!”
Andai gue bisa ngomong gitu ke
semua anggota gue yang udah nggak ada.
“*Krrrrrang… (suara pintu besi
terbuka)”
“Blood Brothers of Erviga!
Waktunya kalian semua menuju pengadilan!”
Ah, udah waktunya ya?
Yaudah. Gue nggak takut.
Seenggaknya gue udah sampein
salam perpisahan gue ke mereka semua!
……………
Gue masuk ke pengadilan bareng
anggota semua gue.
“…”
Orang itu…kalo nggak salah
namanya Myllo, ya?
Ada juga Cewek Landak itu yang ke
sini?
Kenapa ada Petualang di ruang
pengadilan ini?
“…”
Gue tau ada Kak Dahlia yang
dateng bareng Alphonso.
Tapi gue bahkan nggak berani
tunjukin muka gue ke mereka.
“*Tok, tok, tok! (suara ketukan
palu)”
Mm?
Yang jadi hakimnya…Raja
Glennhard?
Pokoknya, proses pengadilan pun
dimulai.
“Blood Brothers of Erviga. Kasus
Kejahatan:
Pemerasan Bangsawan.
Total: 579 kasus selama 10 tahun.
Penyerbuan Saudagar.
Total: 11.901 kasus selama 10
tahun.
Penyerangan Petualang.
Total: 489 kasus selama 10
tahun.”
Ah, sialan.
Kenapa harus disebutin kasusnya,
sih?
“Sekian adalah kasus kejahatan
yang bahkan tidak bisa disebutkan satu per satu. Dengan demikian, hukuman yang
patut mereka terima terdiri dari: Penjara Seumur Hidup dan Hukuman Mati.”
“…”
Ya. Gue juga udah yakin itu
kasusnya.
“Apakah anda yang bernama Dalbert
Dalrio?”
Raja Glennhard nanyain gue?
“Ya, Yang Mulia.”
“…”
Kenapa dia tiba-tiba nanyain—
“*Druk… (suara bersujud)”
“!!!”
“Ma…Maafkan saya akan kelalaian
saya, hingga kau melakukan kejahatan seperti itu!”
“…”
Mi…Minta maaf?!
Se…Serius dia minta maaf kayak
gitu ke bandit?!
“Jika kalian semua mempertanyakan
tindakan saya, maka kalian semua sama saja mempertanyakan tindakan heroik
mereka semua! Kalian paham?!”
He…Heroik?!
Gue bikin negara lo rugi—
“Prok, prok, prok… (suara tepuk
tangan)”
Hah?! Kenapa Myllo malah tepuk
tang—
““*Prok, prok, prok… (suara tepuk
tangan bersama)””
Hah?! Kenapa yang lain ikut tepuk
tangan?!
“Dalbert Dalrio.”
“Ya, Yang Mulia?”
“Aku akan memberikan Blood
Brothers of Erviga sebuah amnesti.”
““!!!””
“Namun semua ada persyaratan.”
Pasti ada persyaratan…
“!!!”
Tunggu! Jangan bilang
persyaratannya—
“Semua anggota Blood Brothers of
Erviga wajib terlibat dengan pemerintahan Erviga Kingdom dalam proses
mendirikan ulang negara…”
Oh. Cuma itu do—
“Sedangkan beberapa anggota pertama,
Dalbert Dalrio, Alethra Andorran, Thratol Lowsoil, Tayshar Sillout, dan Chetosh
Hemorn, wajib untuk mendaftar sebagai Petualang!”
“!!!”
Brengsek!
Semenjak ada Myllo, gue yakin
banget kalo ujung-ujungnya begitu!
……………
Sidang pun ditutup.
Sebelum kita pergi dari sini, gue
bubarin BBE untuk mereka semua.
“Kalian semua paham?! Walaupun
kita berpisah, tapi jangan ada yang lupain satu sama lain! Paham?!”
““Siap, Bos!””
Akhirnya perjalanan BBE cukup
sampe sini a—
“Dalbert!”
“…”
Kak Dahlia dateng bareng Alphonso
sama Myllo.
“Syukurlah kamu bebas dari—”
“Diem. Lo kira gue terima cara lo
bantu gue, kak?”
““!!!””
Gue tau banget. Keputusan akhir
kayak gitu pasti nggak jauh-jauh karena dia.
“Woy, Dalbert! Lo nggak bo—”
“Diem, Myllo. Ini bukan urusan
kita.”
“Tapi dia—”
“Bener begitu kan, Nyonya?”
“Ya. Makasih ya Phonso.”
Gue tau cara gue kesel tuh salah.
Tapi jadi Petualang?!
Hmph! Bercanda kali—
“Dalbert. Coba liat ini.”
Hm? Surat?
“Surat apa i—”
“Ini surat ayah, yang ada di meja
yang kamu temuin, sebelum dia mati.”
Su…Surat dari ayah?
“Coba baca dulu.”
Serius ini surat ayah?
“…”
Kalo gue perhatiin tulisannya
sih, emang mirip kayak tulisan ayah.
Coba baca aja deh.
“Teruntuk istriku.
Seperti yang kau lihat di atas sana, aku baik-baik saja. Anak-anak kita
juga sehat.
Dahlia punya rasa ingin tahu yang besar. Dia selalu diam-diam masuk
perpustakaan milikmu untuk belajar.
Dalton seperti biasa. Selalu menangis, tidur, menangis lagi, dan tidur
lagi.
Namun, aku sangat khawatir dengan Dalbert.
Ia anak yang cerdas dan pemberani. Namun ia sangat nakal. Kecerdasannya
hanya ia pakai untuk menipu.
Aku hanya ingin ia berguna untuk orang lain. Apakah caraku salah mendidiknya dengan keras, sebagai
pelanjut Riorio Merchant? Jika kau masih ada, apa yang kau lakukan?”
Ternyata dia sadar ya kesalahan
dia apa.
“Kamu baca itu kan, Dalbert?”
“Hm?”
“Kakak yakin, ayah pasti bangga
sama kamu.”
Ba…Bangga…?
“Liat kamu sekarang. Walaupun
kamu bandit, seenggaknya kamu udah kasih tempat berlindung untuk Kaum
Non-Manusia. Nggak cuma mereka aja, kamu bahkan berdampak besar untuk warga
desa.”
“Iya sih, tapi kalo jadi
Petualang—”
“Kali aja kamu berhasil temuin Pegasus, selama jadi Petualang!”
“!!!”
Pegasus…?
“Nih, boneka kamu. Kamu nggak
mungkin lupa boneka ini, kan?”
Boneka ini…
Bikin gue keinget cerita ibu,
sebelum tidur.
“Menemukan Pegasus itu salah satu pencapaian terbesar ibu, loh. Ibu
bersyukur banget bisa temukan mahluk yang sangat langka, Dalbert.”
“Woaaah…”
“Semoga kamu bisa temukan Pegasus ya, Dalbert!”
“Ya, ibu!”
I…Itu kan…salah satu mimpi gue.
Kenapa…Kak Dahlia…ingetin gue
soal mimpi i—
“*Tap… (suara menyentuh pipi)”
“Ka…Kakak…?”
Kenapa Kak Dahlia sentuh pipi gu—
“Jangan nangis, Dalbert.”
Gue…nangis…?
“Kita udah sama-sama bebas. Nggak
ada yang harus di—”
“*Phuk… (suara pelukan)”
“Ma…Makasih, kak!”
“Hihi…Dasar cengeng”
“Ba…Bawel!”
“Sshh, sshh, ssshh…”
Nggak cuma wujudin mimpi gue,
tapi juga berguna bagi orang lain, ya?
Nggak gue sangka, ternyata masih
ada jalan untuk bandit kayak gue.