Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 161. Travel Through The Depth



“Cucuku, mengapa kau bersedih?”


Ini… mimpi, ya?


“…”


Gue liat langsung dari mata Djinnardio?


Entah kenapa gue kayaknya pernah ngerasain mimpi kayak gini.


“Kau mau menolong banyak orang, serta berlaku adil bagi semua orang?”


“Mau, kakek!”


Menolong banyak orang? Berlaku adil bagi semua orang?


Gue nggak salahin sih mimpi kayak gitu. Tapi keliatannya mustahil, deh. Apalagi di dunia yang cuma nilai orang berdasarkan kekutannya kayak gini.


“Kalau begitu, kakek punya satu cara agar kau bisa mewujudkan cita-cita muliamu itu, nak.”


“Bagaimana caranya, kakek?”


“Tunggu sebentar…”


“Eh?! Kakek?!”


Dia angkat Djinnardio ke atas pundak—


“!!!”


Ini… Vamulran Kingdom?


Gila! Bagus banget!


“Apakah kau bisa melihat warga yang berada di bawah sana?”


“Hmm… Semuanya terlihat kecil, kek. Semuanya terlihat sama di mataku.”


“Ya. Mereka tidak ada yang kecil, tidak ada yang besar juga, bukan?”


“Ya, kek.”


“Jika memang seperti itu, artinya tidak ada warga yang lebih kecil dan lebih besar. Baik itu kaum awam maupun personil kerajaan. Maka dari itu…”


“Apa, kek.”


“Jadilah raja. Raja yang tidak memandang besar atau kecil rakyatnya, yang bisa berlaku adil bagi rakyatnya. Jika kamu bisa berbuat seperti itu, maka kamu bisa menolong semua orang, nak.”


“…”


Kalo kakeknya ngomong kayak gitu, artinya dia udah yakinin Djinnardio sebagai pewaris takhta-nya, ya?


Cih!


Kalo gue jadi raja, nggak akan mungkin dong gue bisa kelilingin dunia! Entah kenapa, gue jadi keinget angan-angan gue, sebelum mati di dunia lama gu—


……………


“*Tung!”


“!!!”


Sialan! Padahal gue lagi mimpi!


Tiba-tiba ada yang ngetok kepala gue!


“Siapa yang ngetok kepala gu—”


“Bangun, woy! Kita udah telat!”


“!!!”


Waduh! Ternyata udah pagi, ya?!


“Kita pergi dulu ya, Dreschya!”


“Ya! Hati-hati ya kalian semua!”


Ujung-ujungnya kita bertiga lari ke Guild. Waktu kita sampe, ternyata dua Party itu udah ada di tempat ini.


Walaupun…


“Bos, mereka udah dateng.”


“Hoaaamm… Oh gitu, ya? Yaudah deh.”


“Datang juga ya mereka.”


…kita disambut nggak bersahabat.


Entah kenapa, gue jadi inget pengalaman Joint Party ke Marklett Town. Rasanya kayak gini juga.


“Serius kita teh bisa kerja sama kalo nggak bersahabat kayak gini?”


“Biasain aja, Ger. Kayaknya semua Joint Party awalnya juga gini, kok.”


“Hehe! Djinn bener, Garry!”


Nggak lama kita dateng, tiba-tiba Dyewien dateng.


“Nama saya adalah Dyewien. Dengan ini saya yang akan meresmikan Joint Party ini, dengan menyebut nama anggota dari masing-masing Party.”


Peresmian, ya?


Tapi kok kedengerannya beda?


Apa mungkin karena Joint Party ini diisi orang-orang yang udah punya Party?


“Dari Lynx, terdiri dari…


Kristotte Albein. Keeper Kasta Biru.”


“Hehe! Biar gue bantai semuanya!”


““LO ITU KEEPER, BUKAN STRIKER!!!””


Serius cewek kayak dia Keeper?


“Molly Gena. Striker Kasta Hijau.”


“Sa-Salam kenal semua—”


“Halah! Nggak usah malu-malu gi—”


“Bawel lo, brengsek!”


K-Kirain Mermaid itu pemalu…


“Vizrox. Striker Kasta Hijau.”


“Haha! Jadi yang berbeda dari yang lainnya sangatlah asyik!”


Dia itu… Lizardman, ya?


“…”


Karena keinget Lizardman yang nendang Meldek, gue bawaannya mau pukul dia!


“Awfa Yelra. Keeper Kasta Kuning.”


“Haaaah… Lama banget persemiannya!”


Elf warna biru gelap? Kalo nggak salah tuh namanya… Sea Elf, ya?


“Evri Johram. Observer Kasta Kuning.”


“Cih! Kenapa gue harus jadi Observer, sih?!”


Hah? Terus maunya jadi apa? Striker?


“Paul Lemons. Striker Kasta Kuning.”


“…”


Kenapa dia liat-liat gu—


“Hehehe!”


Dia ngasih tanda mau bunuh gue?! Hmph! Dikira gue takut?!


“Dan terakhir dari Lynx, Ollie Remington. Frontliner Kasta Kuning. Status: Leader.”


“Zzzzz…”


Tidur mulu tuh orang!


“Selanjutnya, dari Virgo, yang terdiri dari…


Jenna Askara. Keeper Kasta Biru.”


“…”


Dia Kasta Biru?!


Hm… Ada yang aneh.


“Kaili Halli, Striker Kasta Hijau.”


“…”


“Tina Rodhella. Striker Kasta Hijau.”


“…”


“Aely Chulmere. Frontliner Kasta Kuning.”


“…”


Seinget gue, semalem mereka bertiga yang ngusir-ngusirin orang-orang di kedai.


“Dan terakhir, Piedda Merredithia. Observer Kasta Kuning. Status: Leader.”


Terus cewek ini yang tiba-tiba ngeluarin aura untuk nantangin gue.


“…”


Abis itu Dyewien sebut nama gue sama Garry.


Masalahnya yang bikin kita berdua kaget…


“Dengan ini, Joint Party yang akan dipimpin oleh Myllo Olfret, selesai diresmikan.”


““!!!””


…tiba-tiba nama Myllo disebut jadi pimpinan Joint Party ini?!


“Bos! Kenapa bukan lo aja yang pimpin?!”


“Gue nggak mau kalo bukan lo yang pimpin—”


“Haaaah, bawel! Ngurus kalian aja udah repot. Kenapa juga gue harus ngurus Party lain?”


Semua anggota Lynx nggak ada yang setuju.


“Nyonya Piedda. Apakah anda yakin bahwa kita dapat mempercayai Manusia itu?”


“Tenang saja. Ia memiliki pengalaman yang tidak kupunya.”


Bahkan Virgo pun nggak percaya.


Tapi tadi dia bilang apa? Manusia


i—


“Aduh! Kok gue dicubit?!”


“Sianying! Sia teh nggak ngomong-ngomong kalo jadi pimpinan Joint Party!”


“Lah bukannya gue udah ngomong semalem?!”


“HAAAAAHHH?!?!”


Haaaaah… Dasar dongo nih, bocah!


Tapi kan…


“Yaudah lah. Biarin aja, Ger. Ujung-ujungnya Myllo itu tetep jadi pemimpin kita, kan?”


“Si-Sia teh ada benernya…”


Masalahnya…


“Keliatannya nggak ada yang mau kalo lo jadi pimpinan Joint Party ini, Mil.”


“Hehe! Biarin aja! Ujung-ujungnya kita cuma perlu ngebuktiin aja, kan?!”


“Hmph! Bener banget!”


…Myllo harus tunjukin kalo dia emang bisa pimpin 14 orang ini.


Ya itu urusan dia, sih.


Yang bisa gue sama Garry lakuin cuma bantu dia ngebuktiin semua keraguan mereka ini.


……………


Kita pun pergi ke tepi pantai yang agak jauh dari posisinya Logrim.


Dari sini, ada yang bikin kita kaget banget.


“Kraaaaaw!”


Tiba-tiba ada Sea Serpent!


“Semuanya! Siapin senjata kali—”


“Tunggu, Myllo Olfret!”


Kenapa tiba-tiba Piedda berhentiin Myllo?


“Piedda! Kenapa kita di—”


“Sea Serpent ini adalah transportasi yang akan kita gunakan untuk menuju sarang mereka.”


““!!!””


Hah?! Naik Sea Serpent?! Tapi kalo diperhatiin sih, ada yang unik juga sih.


“…”


Ada pengangannya gitu di badan Sea Serpent ini.


“Jenna.”


“Baiklah, Nyonya Piedda.”


Cewek yang namanya Jenna itu disuruh ngapain?


““…””


Ada apaan sama badan gue? Kok gue ngerasa ada yang aneh, ya?


“Tenang saja. Dengan sihirnya, kalian semua tidak akan kesulitan bernafas di dalam air. Selain itu, kalian semua bisa berbicara di dalam laut.”


““Wuoooaahh…””


Gila! Serius ini sihirnya Kasta Biru?!


“Hehe! Thanks, Jenna!”


“…”


Makasih-nya Myllo nggak dia respon.


“OK, semuanya! Ayo kita berburu Sea Serpent!”


““Ya!””


Ujung-ujungnya, kita semua naik Sea Serpent ini.


“*Wush…”


Monster uler ini berenang dulu sampe ke tengah laut.


Abis itu…


“Myllo, kita sudah siap masuk ke dalam.”


“OK! Pegangan yang erat semuanya!”


“*Bwush!”


…uler ini berenang kenceng banget ke dalem laut!


““Aaaargh!””


Semuanya pada menjerit ketakutan.


Masalahnya…


“HYAAAAAAAHHH!”


“Woy, mesum! Kenapa harus peluk-peluk gue?! Gue masih lurus!”


“Di-Di-Di-Diem, anying!”


…nih bocah malah pegangan ke gue! Jatohnya gue jadi risih sendiri!


““Kraaaaw!””


Cih! Baru setengah perjalanan tiba-tiba udah diserang, ya?!


“Hati-hati! Ada Sea Serpent! Yang bisa serangan jarak jauh, serang semua Sea Serpent itu!”


““OK, Myllo!””


Sebenernya gue bisa serangan jarak jauh, tapi kalo gue pake kekuatan petir gue, yang lain juga bisa kena setrum! Andai aja kita bukan di bawah laut, mungkin beda cerita!


“*Boom!”


“*Shruk!”


““Kraaaw!””


Yang bisa pake serangan jarak jauh pun langsung nyerang mereka semua.


Tapi, nggak semuanya efektif.


“Kraaaw!”


“Ada Sea Serpent yang mau nyerang kita!”


“Baiklah! Pegang Sea Serpent ini erat-erat!”


Hah?! Maksudnya a—


“*Swush!”


Eh! Buset! Kenceng banget berenangnya!


“Myllo! Sebentar lagi kita akan tiba di sarang Sea Serpent!”


“Hehe! Bagus kalo gi—”


“*Haaurp!”


“Kraaaaaw!”


Aduh!


Pake digigit segala nih Sea Serpent-nya!


“Aaaargh!”


Cih! Kalo gitu gue harus—


“Minggir kalian semua!”


““…””


Kita semua langsung nunduk waktu Myllo teriak.


Karena dia mau…


“*Bwush!”


“Kraaaaw!”


…usir Sea Serpent yang gigit tunggangan kita pake kekuatan angin-nya.


Tapi karena di dalem laut, serangan angin Myllo jadi semacam arus air yang kenceng banget, yang pentalin


Sea Serpent tadi.


“Myllo! Goa itu adalah pintu masuk kita!”


“Hehe! OK kalo gitu! Semuanya! Kita berhasil sampe di depan saran Sea Serpent!”


““Horeee—””


“Jangan bersuara!”


““…””


Gue tau kenapa Piedda teriak kayak gitu.


Semua karena satu hal.


“I-I-Itu…”


“Itu apaan?!”


Ya. Nggak bisa dipungkirin lagi. Itu Uler Raksasa yang nyerang kapal kita!


“Ki-Kita salah ya… ambil Quest ini…?”


“A-Apa kita mau… ma-mati…?”


Cih! Semunya jadi pada ketakutan!


Terus kita harus gima—


“(VAAAAAA RUUUUU KAAAAAAA…)”


““!!!””


Kenceng banget teriakannya!


“*BWUSH!”


““…””


Dia pergi, ya?


Huuuuh… Untunglah dia nggak apa-apain kita.


“Ahahaha! Calon peliharaan gue kangen sama gue!”


““CALON PELIHARAAN?!?!””


Aduh, malu-maluin aja nih Si Dongo…


“OK, semuanya! Ayo kita lanjutin Quest kita!”


““Ya, Myllo!””


Ya ujung-ujungnya kita masuk ke dalem sarang Sea Serpent ini, sebelum kita tau siapa lawan kita sebenernya.