
“Ah! Ada apaan itu disana?!”
Keliatannya mereka baru sadar ada gue sama Luvast di sini.
“Kalo aku liat, ada…satu, dua, empat, sepuluh…ada berapa orang sih, kak?!”
“Hmm…ada 20 orang…”
Pfft! Ini orang gak bisa ngitung?
“Siapa anda?!”
“Gue?”
“Jangan-jangan anda…orang yang menghancurkan Penampungan lainnya!”
“Ya. Gue Myllo Olfret! Salam kenal!”
Myllo Olfret?
Tunggu! Kok kayak pernah denger, ya?!
“…”
“Ada apa, Char-Char?”
“Kakak, perempuan itu…salah satu anggota dari mereka.”
“Haaahh?! Dia musuh?!”
Siapa anak kecil itu? Keliatannya dia tahanan juga di tempat ini…
“Wow, Elf Putih! Jangan berani-beraninya tindas anak kecil, dong!”
“Tu…Tunggu! Sepertinya anda salah persepsi—”
“OK, Char-Char! Kita kalahin mereka sebelum pergi dari tempat ini!”
“Tung—”
Wah, dia mau nyerang Luvast!
“Kakak Myllo! Kakak itu—”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Buset! Orang lain gerakannya lambat di mata gue, tapi kenapa dia keliatannya jauh lebih cepet, ya?!
“*Tunggg…(suara tongkat menggema)”
““…””
Untung aja gue masih bisa tahan tongkat dia, walaupun berasa banget pukulan tongkatnya di lengan gue.
“Kakak Myllo! Kakak itu satu-satunya yang baik sama aku! Dia yang selalu jagain aku dari semua penjaga yang ada di tempat ini!”
““…””
Kalo kayak gitu, kenapa juga harus ngumpet dibalik orang ini waktu lo ngeliat Luvast, adek kecil?!
“Oh, gitu? Ngomong dong, Char-Char. Kenapa juga harus ngumpet dibalik Kakak waktu ngeliat Elf Putih itu?”
Loh, kok sama kayak yang gue pikirin?
Ini orang nggak baca pikiran gue, kan?!
“Woy, lo keliatannya kuat juga. Nama lo siapa?”
“Gue Djinn. Ngomong-ngomong, lo juga kuat keliatannya, Myllo.”
“Hehehe! Jelas lah! Kalo gue gak kuat, nggak mungkin gue senekat ini untuk nyelamatin temen gue!”
Nyelamatin temennya?! Maksud dia itu—
“Maaf sebelumnya, Myllo. Akan tetapi jika teman yang anda maksud itu adalah wanita klan Mistyx yang merupakan mantan rekan anda, ia sebenarnya telah berhasil kabur dengan pria ini sekitar dua minggu yang lalu.”
“HAAAAHHH?! Dia udah kabur?”
“Lah lo nyerang Penampungan sana-sini, tapi nggak tau apa-apa?!”
“Ya mana gue tau! Dia aja nggak ngomong! Ya kan, Char-Char?!”
“Kalo ngomong harusnya Kakak Myllo nggak perlu cari-cari lagi, dong!”
“Ah…bener juga, ya.”
Serius ini temennya Styx? Kok dongo, ya?
Tapi…
“Ahahaha!”
…kenapa ini orang bikin gue ketawa?!
“Djinn? Mengapa kamu tertawa lepas seperti itu?”
“Ahaha! Ya ampun! Kok lo dongo banget, sih?!”
“Woy! Sembarangan lo ngatain anak kecil!”
“Yang dimaksud orang itu kakak, bukan aku!”
“Oh. Maaf kalo gitu.”
Padahal tadi gue nangis-nangis walaupun gak nyadar, tapi sekarang gue ketawa lepas banget gara-gara orang dongo satu ini?!
“Terus, kemana Styx?!”
“Dia…tertangkap kembali, bersama dengan rakyat saya!”
“Ketangkep lagi?! Kalo gitu kita harus cepet gerak! Ayo, Char-Char! Kita selamatin kakak kamu!”
Hah?! Adeknya?!
“Baik, Kakak Myllo!”
“Tunggu, tunggu, tunggu!”
“Hm?”
“Ini adeknya Styx?!”
“Dia bilang sih gitu.”
Gue kira adeknya punya rambut ungu juga! Ternyata adek yang dia maksud
itu Si Bocil Naga ini?!
“Ternyata benar!”
“Benar? Maksudnya?”
“Saya tidak menduga bahwa Dragonewt belia ini adalah seorang adik dari wanita itu! Ia ditangkap hanya sebagai umpan untuk menangkap wanita itu!”
“Yaudah, untuk rincian lainnya, kita bahas lain kali aja. Pokoknya kita harus kejar mereka!”
“Ya, lo bener.”
Akhirnya kita berempat lari keluar dari reruntuhan ini untuk ngejar Styx sama warga Vamulran yang berhasil keluar.
................
“Am…Ampun!”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Berani-beraninya lo semua kabur, ya?!”
Waktu sampe di luar, kita ngeliat tahanan-tahanan yang lagi pada dipukulin!
“Djinn. Luvast.”
““Hm!””
Gue ngerti maksudnya. Dia minta gue sama Luvast untuk ngebantai penjaga-penjaga ini.
“Li…Liat! Mereka udah keluar!”
“Ki…Kirain mereka udah ma—"
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“Agh!”
“Be…Bener! Ternyata orang yang pake tongkat itu bagian dari mereka juga!”
“Pang…Panggil yang lainnya! Kita nggak akan kuat lawan mereka semua!”
Keliatannya mereka kewalahan harus ngelawan kita bertiga.
Mau nggak mau, kita siap-siap lawan mereka semua, yang total ada puluhan.
“Mana dia si Styx?!”
“Dari yang saya ketahui, mereka hendak pergi ke Port Marzhal dari kota ini!”
“Tunggu dulu!”
““Hm?””
“Ke pelabuhan?! Emangnya mereka mau keluar negara?!”
“Iya! Makanya kita harus cepet pergi ke pelabuhan!”
“Haaahh?! Ngapain sih ke pelabuhan?! Kita nggak kan nggak ada urusan sama—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“JUSTRU MEREKA BAWA STYX KE PELABUHAN, DONGO!”
Hadeeehh…kok orang ini dongo banget, ya?
“Itu mereka! Bunuh mereka semua!”
“Jangan sampe mereka lari ke pelabuhan!”
Wah, nambah lagi pasukannya! Kalo mereka bakal dateng terus-terusan, Styx
bisa keburu dibawa pergi duluan!
“Djinn! Myllo! Kalian berdua sebaiknya cepat kejar Styx!”
“OK kalo gitu!”
Tunggu, itu udah ada 40 orang lebih yang baru dateng! Serius nih gue pergi duluan?!
“Vast, serius kita pergi?! Mereka banyak, loh.”
“Tenang saja. Aku adalah Swordmage dan cucu dari raja Vamulran Kingdom!”
“OK. Kalo gitu gue pergi—”
“Djinn. Aku tahu betapa angkuhnya para tahanan High Elf yang telah dibawa oleh Bjüdrox. Bahkan aku benci sekali melihat beberapa di antara mereka. Namun, kumohon agar kiranya kamu mau menolong mereka, Djinn.”
“…”
Gue cuma ngangguk. Abis itu gue pergi bareng Myllo ke pelabuhan.
Tapi, kita naik pake apaan? Mau jalan kaki?
“Woy, kita mau lari aja ke pelabuhan?”
“Kedengerannya seru, sih?”
“Hah? Seru?”
“Tapi kayaknya butuh waktu. Sedangkan kita harus buru-buru.”
“Nah iya kita harus buru-buru!”
““Hmm…””
Loh, kok gumam aja bisa barengan?
“Aha!”
“Lo ada ide?”
“Ada dong! Hihihi, ini pasti lebih seru daripada lari!”
Duh, kok feeling gue gak enak, ya?
“Char-Char!”
“Kenapa, Kakak Myllo?”
“…”
Hah? Kok dia pegangan sama adeknya Styx?
“Djinn! Sini pegangan juga!”
“Hah?! Mau nga—”
“Buruan sini! Nanti kita telat!”
Hadeeehh…awas aja ini orang kalo aneh-aneh!
“Char-Char! Maaf ya sebelumnya, ini demi kakak kamu!”
“Hah? Kenapa minta maaf, Kakak Myllo?”
Abis minta maaf, dia pegang idungnya Char-Char.
“Kakak Myllo ngapain?”
“Ini agak geli ‘sedikit’ untuk Char-Char!”
“Ka…Kakak Myllo…Kakak nggak bakal ngelakuin apa yang aku pikirin, kan?”
“Hihihi! Makanya kakak minta maaf sebelumnya, Char-Char!”
“Ah! Ahaha! Geli hidung aku, kak!”
“Woy, kok lo malah becan—”
“A…ha…ha…ha…CHU!”
“*Bum! (suara ledakan karena bersin)”
HAH?! TERNYATA INI PENYEBAB GEMPANYA?!
“Aaaahhhhh! Dasar gila lo!”
“Wuhuuuu! Kita terbang!”
“Kakak Myllo jahat sama anak keciiiil!”
Ini bersin apaan?! Kok bisa sampe bikin terbang?! Gila kali, ya?!
Tapi terbang kita cepet banget!
“Djinn! Itu pelabuhannya!”
Yang gue liat dari jauh, ternyata masih ada beberapa pasukan lagi di
pelabuhan.
Abis itu, ada beberapa tahanan yang dijagain sama beberapa orang yang tadi sempet gue lawan yang…apa sebutannya? Kakak Besar, ya?
Tapi gue nggak liat adanya Styx sama sekali di sana! Terus dia kemana?!
Oh iya, sebelum pikirin itu, mending pikirin…
“Woy, kita mendaratnya gimana?!”
“Tenang aja, Char-Char bisa terbang, kok! Kan dia Dragonewt!”
“Umur aku masih 6 tahun! Sayap aku belum muncul!”
“Heeeehhh?! Kirain udah umur 10 tahun!”
““Makanya tanya dulu!””
Bener, kan?! Gue udah bilang feeling gue gak enak!
““AAAAAAAAAA—””
“*Bruk! (suara tertabrak)”
““Argh!””
“Uhuk! Uhuk!”
“!!!”
Oh, ternyata mendarat di beberapa pasukan, ya?
“Ahahahaha! Seru banget, kan?! Char-Char, kamu gak kenapa-kenapa, kan?”
“Huuhh…aku sih Nggak kenapa-kenapa, tapi aku kira aku bakal mati, Kakak Myllo!”
“Tenang aja! Kakak bakal ngelindungin ka—”
“Justru aku bakal mati gara-gara kakak! Semoga aja Kakak Dingin yang satu itu bakal—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Woy! Kok kepala gue dipukul?!”
Gemes gue bawaannya sama orang satu ini!
““*Drap, drap, drap… (suara banyak langkah kaki)””
Ya. Nggak lama abis kita sampe di depan pelabuhan, pasukannya udah pada
dateng nyamperin kita.
“Woy! Ada yang nyerang!”
“Itu si Anak Haram! Terus siapa yang satu lagi?!”
“Yang satu lagi pasti orang yang sendirian nyerang Penampungan! Cepet kita
hajar mereka!”
“Ya!”
Keliatannya mereka semua mau nyerang kita, tapi gue nggak liat ada tanda-tanda dari Kakak Besar sama sekali.
Kayaknya mereka masih ngejagain semua High Elf, deh.
“Nah, sekarang mereka semua mau ke nyerang kita. Char-Char, sebisa mungkin jangan sampe keliatan, ya?”
“Ya, Kakak Myllo!”
Adeknya Styx langsung lari waktu diminta Myllo pergi.
“*Krrtak, krrtak… (suara meregangkan otot)”
“Aaaahh, waktunya serius. Lo udah siap kan, Djinn?”
“Ya.”
“Hihihi! Ayo waktunya kita serius!”
Abis itu, kita berdua langsung bantai abis semua pasukan ini.