Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 184. Rabbit Girl



“Djinn. Sudahkah kau tenang?”


“Mendingan sih. Thanks, ya.”


“Tenang saja. Kau telah membantuku, tentu saja aku siap membantumu untuk kedepannya.”


“Ya.”


Karena gue udah agak tenang…


“Apakah kita bisa kembali ke Shelldrop milik Dreschya?”


“Y-Ya.”


…akhirnya Delolliah ngajakin gue balik.


“Eh iya, ngomong-ngomong Dreschya gimana? Dia masih takut sama lo?”


“S-Sepertinya tidak begitu takut. Untung saja ada rekanmu yang bernama Garry yang senang melakukan lelucon “kotornya” dan Dalbert yang ia idolakan.”


Garry sama Dalbert, ya?


Kalo dipikir-pikir lagi, gue terlalu emosi sampe ngomong kasar ke mereka berdua. Andai gue itu sesabar Gia. Mungkin gue nggak perlu ngomong kayak tadi ke mereka.


Ah iya. Karena keinget mereka, gue jadi kepikiran sesuatu.


“…”


Gue harus ngomong apa ke mereka bertiga?! Kalo minta maaf doang, gue rasa nggak cukup! Apa harus gue sujud di depan mereka?!


“Hmm? Sepertinya ada hal baru yang kau khawatirkan?”


Nih cewek baca pikiran gue apa gimana, sih?!


“Nggak. Gue cuma nggak tau aja harus ngomong apa ke temen-temen gue. Kira-kira gue harus gimana, ya?”


“Hmm…”


Dari gaya mikirnya sih, kayaknya nih orang tau gue harus gima—


“Ah, maafkan aku. Karena tindakanmu yang melewati batas, aku pun juga bingung harus berbuat apa.”


“…”


Haaaaahhh…


Gue bener-bener sendiri ya kalo soal ini?


“Jadi, apakah kau siap untuk menghadapi teman-teman—”


“Mau nggak mau harus siap, sih. Kalo nggak, mau nunggu sampe kapan siapnya?”


“Kau benar. Aku hanya bisa mengharapkan yang terbaik untukmu saja, Djinn.”


“Ya, thanks.”


Karena kita berdua jalan sambil ngobrol, sampe nggak sadar tiba-tiba udah ada di depan pintu masuk rumah Dreschya.


“Fuuuuuhhh…”


OK! Waktunya masuk, Djinn—


““DJINNN!!!””


“*Bruk!”


“Aduh!”


Tiba-tiba Gia sama Garry keluar nabrak gue?!


“Wo-Woy! Kenapa kalian berdu—”


“Jangan marah-marah lagi, Djinn! Maafin kita yang bikin kamu makin nggak tenang!”


“DJINN!!! MAAFKEUN AIINGGG!!! AING TEH JANJI BAKAL LEBIH SERIUS LAGI JADI ORANG!!!”


“I-Iya, iya, i—”


“Gue juga minta maaf. Karena lo satu-satunya yang bisa kita andalin untuk buat keputusan, makanya gue kelewatan “dorong” lo.”


Ujung-ujungnya mereka jadi ngerasa bersalah sama omongan gue, ya?


“…”


Cih! Siren satu ini cuma senyum doang sambil ngeliatin gue!


Kesannya kayak pengen gue ngelakuin “sesuatu” ke bocah-bocah sialan ini!


Haaaaaah!


Yaudah deh!


““*Phuk…””


Selain Dalbert yang diri doang di depan pintu rumah Dreschya, gue akhirnya peluk mereka berdua…


“Ma-Maafin gue juga karena terlalu kasar sama kalian! Gue terlalu mikirin Myllo, sampe lupa sama apa yang kalian rasain!”


“Djinn…”


“Ka-Kalian siap tolong Myllo, kan? Kalo nggak siap, mending kita istirahat dulu a—”


““Siap, Wakil Kapten!””


“!!!”


Wa-Wakil Kapten…? Mending panggil nama aja nggak, sih…?


“Ya-Yaudah. Kalo gitu, kita perlu cari tau ca—”


“*Puik…”


““…””


Kok…tiba-tiba ada kelinci yang naik ke atas kepala gue?


“…”


Gara-gara ganggu, mending gue angkat aja deh nih kelinci dari—


“KYAAAAA!!! MESUM!!!”


“*Dhukdhukdhuk!!!”


Aduh! Sialan!


Kok kelinci ini tiba-tiba tendang gue?!


Nggak bukan itu yang lebih penting!


Kenapa nih kelinci tiba-tiba bisa ngomong?!


“AHAHAHAHA!!! SIA TEH DIEJEK MESUM


SAMA—”


“KYAAAAA!!! JELEK!!!”


“*Dhukdhukdhuk!!!”


Sukurin!


Udah mesum, malah ngeledekin gue mesum!


“*Fwup!”


““!!!””


Kelinci berubah wujud jadi orang?! Jadi dia ini Beastman, ya?!


Eh, maksud gue Beastwoman!


“Haaaaah… Maafin aku yang gampang panik jadi o—”


“*Tung!”


“Aduh! Kok kamu ketok kepala a—”


“KENAPA LO BERDIRI DI KEPALA GUE?! HAAAAH?!?!”


“KYAAAAA!!! SEREM BANGET!!!”


KENAPA TERIAK DI KUPING GUE, WOY!!!


“Tunggu dulu, kalian semua!”


““Hmm?””


“Sepertinya aku merasakan ada yang tidak asing dari wanita ini.”


Hah? Delolliah kenal cewek ini? Nggak! Bukan itu yang penting!


“Woy, siapa lo?! Kenapa lo tiba-tiba diri di atas kepala gue?!”


“Oh! Aku lagi… cari dua orang yang namanya Berius Schrauder sama Myllo The Wind, Leader-nya Aquilla!”


Hah?! Nyari Myllo?!


“Untuk itu—”


“Myllo lagi diculik! Jadi kepemimpinan dipegang sama—”


“Woy! Bisa tenang dikit nggak, sih?!”


“KYAAA!!! GALAK BA—”


“Jangan teriak-teriak!”


“Ma-Maaf…”


Haaaaahhh…! Lagi-lagi ketemu orang aneh!


“Mending lo jelasin dulu lo siapa, terus ada urusan apa sama Myllo!”


“Oh, iya! Aku Lephta Maura! Bekas anggota Chemia—”


“*Swung!”


“*Chrrkck…”


““…””


Dia bilang dia itu bekas anggota Chemia, kan?


Nggak ada salahnya kita siapin senjata kita untuk lawan cewek i—


“HYAAAAAAHHH!!! AKU MAU DIBUNUH,


MAMAAA!!!”


““…””


Ngeliat dia yang panikan kayak gitu, gue jadi ragu kalo dia itu bahaya…


“Djinn, kita harus gimana?”


“Tahan aja dulu. Keliatannya cewek aneh ini aman-aman a—”


“Heh! Siapa yang kamu maksud cewek aneh?!”


Masih nanya siapa yang aneh?!


“Yaudah, mending jelasin aja tujuan lo nyari Myllo!”


“Mau kasih ini!”


““…””


Apaan, nih?


“Tunggu! Dari gambarnya gue tau ini apaan!”


Dalbert tau sesua… Eh?!


“Ini denah?”


“Iya! Itu peta Gazomatron Federation, sekaligus juga denah Guildbase dari Chemia!”


“Gazomatron Federation?! Guildbase Chemia?! Emangnya Guild Base Chemia ada di—”


“Bener, bener, bener! Guildbase Chemia ada di Gazomatron Federation!”


““!!!””


Denah Guildbase, sekaligus peta negaranya?!


“Djinn! Artinya…”


“Ya! Ini info yang kita butuhin daritadi!”


Haha! Gue nggak nyangka tiba-tiba dapet yang gue butuhin!


Eh, tapi sebelum itu…


“Kok lo tiba-tiba ngasih info kayak gini?”


…gue harus tau dulu motif dia apa!


“Karena Angela percaya kalo kalian bisa hancurin Ghibr.”


Angela?


“Djinn.”


“Apa, Dal?”


“Kalo nggak salah, orang yang namanya Wickerd tadi sebut nama cewek itu, yang juga Scholar, sekaligus Kasta Merah di Guild itu.”


Ternyata Dalbert cuma tau sampe situ aja, ya?


“Nama lo Lephta, kan? Kenapa Angela yang lo sebut tadi mau hancurin Ghibr? Bukannya semua Scholar itu sama-sama orang gila semua?”


“Ka-Karena… kita mau pemimpin kita balik lagi. Sedangkan Angela, orang yang paling lama di Chemia, ditahan Ghibr supaya nggak bisa bawa balik pemimpin kita yang namanya Beri—”


“Woy! Ayo kita masuk!”


Berius tiba-tiba nongol di depan pitu?


“Ya, kalian aja! Tapi jangan bawa cewek itu!”


Waduh, kenapa tiba-tiba—


“Be-Berius, maafin a—”


“PERGI LO!!!”


“Berius, tapi Ange—”


“Bilang sama cewek sialan itu! Gue nggak butuh kalian… la…”


“*Bruk…”


“Eh! Sianying teh padahal belom boleh gerak-gerak dulu, anying!”


Dia ternyata belom sembuh total, ya?


“Djinn, jadinya kita gimana?”


“…”


Sebenernya kita butuh informasi dari Lephta, tapi kita nggak punya tempat lain selain di rumah Berius.


“Yaudah deh. Mumpung dia masih belom bangun, mending kita bahas aja di rumah dia.”


““Ya.””


Akhirnya kita masuk bareng Lephta ke rumahnya Berius.


Tapi sampe dia di dalem…


“*Phak!”


…tiba-tiba Dreschya nampar dia!


Bahkan nampar aja nggak cukup!


“MA-MATI LO, BRENGSEK! LO UDAH BIKIN ABANG GUE MENDERITA!”


Dia bahkan mau tembak Cewek Kelinci ini pake meriam dia untuk berburu Sea Serpent!


“Et, et, et! Udah atuh, Teh Dreschya! Jangan—”


“LEPASIN! GUE BIARIN DIA MASUK SUPAYA BISA BUNUH DIA!”


“Te-Tenang dulu! Dia juga mau bales Ghibr—”


“NGGAK AKAN GUE BIARIN DIA HI—”


((Sweet Dreams))


“*Bruk…”


Eh! Kok tiba-tiba pingsan?!


“Tenang saja. Aku hanya membuatnya tertidur dengan mimpi indah.”


Gi-Gila. Ngeri juga sihirnya Jennania…


“Jennania! Jangan menggunakan sihir itu! Bagaimana jika ia tidak akan terbangun dari mimpi indah itu?!”


“Tenang saja, Kakak Delolliah. Aku percaya ia akan terbangun dari—”


“Hehehe… Djinn… Myllo… Dalbert… Muuuuuuaaaahhh!!!”


““…””


Nih cewek… mimpi apaan sih?


Kenapa nama gue, Myllo, sama Dalbert disebut kayak gitu?


“Cih! Nama aing teh nggak disebutkeun!”


Masih sempet-sempetnya ya dia ngomel soal itu?!


Tapi mumpung mereka berdua masih belom sadar…


“Ya-Yaudah! Mumpung mereka semua belom sadar, mending kita bahas secepetnya!”


““Y-Ya…””