
Aquilla dan tiga pemimpin Dreaded Band berhasil menyelesaikan pertarungan mereka. Hal tersebut membuat Klemens Kembar semakin kesal.
Walaupun mereka semua berhasil menyelesaikan musuh mereka, namun nyatanya berbeda dengan Myllo.
“*Fwuzz…”
“Cih! Serangan gue sia-sia terus!”
Ketus Myllo, setelah ia menyerang Ironsand Golem dengan kekuatan Zegin.
((Zegin Smack))
“*Fwuzz…”
((Zegin Strike))
“*Fwuzz…”
Ia terus menyerang Ironsand Golem dengan kekuatan angin. Akan tetapi serangan darinya seakan seperti meniup debu pasir saja, semenjak Ironsand Golem terus meregenerasi fisiknya dan kembali dalam keadaan seperti semula.
“Myllo! Serangan lo pasti sia-sia! Lo harus cari Inti yang ada di dalam Golem itu!”
“Gue juga tau, Zegin! Masalahnya susah banget! Bahkan gue nggak bisa cari intinya di mana!”
Seru Myllo ketika mendengar peringatan Zegin.
“Grrrrgh…”
“*FWUZZ…”
“Eits! Hampir aja gue kena serangannya!”
Seru Myllo yang menghindari pukulan keras dari Ironsand Golem.
“*Fwuzz, fwuzz, fwuzz…”
Myllo terus menyerang Ironsand Golem dari jarak jauh sambil menghindari serangan Golem tersebut. Walaupun ia sadar serangannya tidak ada gunanya, namun ia merasa bahwa hanya itu saja yang bisa ia lakukan.
“Cih! Andai Saint sialan ini punya tongkatnya! Mungkin aja dia nggak perlu kerepotan kayak gini!”
Pikir Zegin yang cemas dengan Saint pilihannya.
“Myllo! Biarin rekan lo yang lawan Golem itu! Lo nggak akan—”
“Nggak!”
Tolak Myllo atas saran Zegin.
“Hah?! Lo nggak liat ya kalo apa yang lo lakuin sekarang tuh sia-sia?! Seenggaknya rekan lo yang namanya Gia itu lebih efektif lawan Golem itu!”
“…”
Myllo hanya terdiam ketika mendengar keluhan dari Zegin. Ia masih berkutat melawan Ironsand Golem yang terus menyerangnya.
“Myllo! Denger Gu—”
“Hehe! Cowok sejati itu, pasti selalu tepatin janjinya, Zegin! Selama gue bilang ke mereka kalo gue bisa kalahin Golem ini, gue kalahin Golem ini! Intinya, gue pasti menang!”
Seru Myllo dengan semangat, yang melakukan sesuatu tanpa Zegin sadari.
“*Fwush!”
Myllo merubah Tubuh-nya menjadi angin dan terbang ke arah dada Ironsand Golem.
((Zegin Popped-up))
“*FWUSH…”
“Grrrrr…”
“*BRUK…”
Ketika berada di dekat Ironsand Golem, Myllo kemudian memecahkan tubuhnya, seakan seperti sebuah balon yang pecah. Serangannya tersebut mampu membuat Golem tersebut terjatuh.
Selain itu…
“Nah! Itu dia!”
…Inti dari Golem tersebut menjadi terlihat karenanya.
“Hehe! Sekarang waktu yang tepat buat gue untuk—”
“*BHUK!!!”
“Aaaakh!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
“Myllo!”
Teriak Zegin dengan cemas ketika ia menyaksikan Saint pilihannya terpukul oleh sebuah tangan raksasa yang muncul dari pasir yang keras, hingga jatuh terlontar-lontar.
“Grrrrr…”
“*FWUZZ…”
Ironsand Golem tersebut seketika berubah menjadi sebuah patung yang tidak memiliki tangan dan kaki.
“K-Kenapa dia berubah jadi pa—”
“Myllo! Perhatiin baik-baik!”
“Ada apa, Zegin?!”
“Golem itu… sekarang nggak sendirian!”
Jelas Zegin kepada Myllo.
““Grrrgghh…””
“…”
Seketika Myllo menyaksiakan adanya 5 Golem yang berukuran sedikit lebih kecil daripada Ironsand Golem yang telah berubah menjadi patung.
“Hehe! Sekarang gue harus lawan lebih banyak Golem ya?!”
Bisik Myllo dengan tertawa, walaupun tantangan yang ia terima lebih berat.
Menyaksikan pertarungannya membuat Klemens Kembar terhibur.
“Hahaha! Liat tuh Kapten kalian! Dia udah nggak bisa apa-apa!”
“Mungkin awalnya dia bikin kita berdua agak takut! Tapi sekarang, orang itu nggak akan bisa apa-apa lagi, semenjak Ironsand Golem udah masuk tahap final dia!”
Seru Klemens Kembar kepada Djinn dan Dalbert yang menyaksikan pertarungan bersama mereka.
““…””
Djinn dan Dalbert hanya terdiam dengan khawatir akan nasib Kapten mereka berdua.
Namun pada akhirnya, mereka berdua bukanlah yang merasa khawatir.
“Denger gue ya! Andai Kapten lo berdua bisa denger gue, mungkin gue bakal ngomong, “Makan tuh tongkat!
Ternyata kuat karena tongkat busuk itu doang!” Tapi gue—”
“Woy, Chico… Ada yang aneh…”
“Hm? Ada apa, Charlie?”
“Tongkat yang lo curi… kok hilang?!”
“!!!”
Chico pun terkejut ketika mendengar Charlie.
“Kok… tongkat yang gue pegang tadi hilang?! Gue juga nggak tau kenapa tiba-tiba bisa hi—”
“Bego banget! Kalo gitu gue aja yang pegang!”
“Brengsek! Lo yang nyuruh gue pe—”
““Hahaha!””
““…””
Sepasang kembar itu seketika menyaksikan Djinn dan Dalbert yang tertawa.
“Woy, Dal! Lo liat kan sepasang anak-anak anjing itu?! Mereka sekarang main salah-salahan!”
“Ya wajar aja sih dua orang yang lo sebut anak-anak anjing itu main salah-salahan! Mereka terlalu songong, tapi nggak sadar kalo rencana kita berhasil!”
Sahut Djinn dan Dalbert setelah mereka berdua tertawa.
“Chico kan, nama lo?”
“…”
“Tadi lo mau bilang apa ke Kapten gue? Kuat karena tongkat busuknya doang?”
“…”
“Emang harus gue akuin, kalo Kapten kita itu nggak bisa apa-apa lawan Golem yang kalian panggil, tanpa tongkatnya. Makanya itu, sebagai dua anggota yang dia percaya…”
“…”
“…kita cuma perlu cari cara untuk tutup kelemahan Kapten kita!”
Seru Djinn, sementara Chico hanya diam dengan gugup.
“Charlie…”
“Ya! Kita bantai mereka berdua! Terus perintahin semua Sandworm untuk serang Beckbuck, sekarang juga!”
Balas Charlie kepada Chico.
Bersama-sama, Djinn dan Dalbert bersiap untuk menghadapi Klemens Kembar.
……………
Kembali ke pertarungan antara Myllo dan Ironsand Golem.
Myllo hanya bisa menghindari serangan 5 Golem yang saat ini ia hadapi.
“*Fwush…”
“…”
Walaupun berhasil menyerang satu Golem dengan kekuatan anginnya, nyatanya Golem tersebut kembali lagi meregenerasi fisiknya.
“Cih! Mau nggak mau gue harus serang patung itu ya?!”
Bisik Myllo dengan kesal.
Hingga akhirnya…
“*BHUK!”
“Akh!”
…ia harus menerima serangan sebuah Golem.
“*Tap!”
“!!!”
Setelah itu Myllo dikejutkan dengan salah satu Golem yang menahannya.
““*BRUK, BRUK, BRUK…””
Empat Golem lainnya berusaha berlari kepadanya untuk menyerangnya.
“S-Sialan! Gue nggak bisa per—”
“*Chaaaaakkk…”
“…”
Myllo, yang sedang ditahan oleh sebuah Golem, seketika mendengar suara seekor burung elang yang berada di atas udara.
“*Fwush…”
Dengan bergerak sesuai instingnya, Myllo merubah kembali tubuhnya menjadi angin dan terbang mengarah
ke elang tersebut.
Ketika ia tiba di atas udara…
“Ahahaha! Ternyata elangnya Dalbert! Pantes aja gue kenal suara jelek elang ini!”
…ia menyaksikan elang ciptaan Dalbert, yang terbang dengan mencengkeram tongkatnya.
Setelah menerima tongkatnya kembali, elang ciptaan Dalbert langsung terbang kembali ke pemiliknya, sementara Myllo langsung mempersiapkan sihir miliknya.
((Zegin Copter))
“*FWUSH!!!”
“Yahooooo!!!”
Dengan kekuatan Zegin, Myllo terbang dengan memutarkan tongkatnya di atas kepala.
Namun tanpa ia duga, jumlah Golem menjadi lebih banyak.
“HAAAAAAHHH?!?! KENAPA MAKIN BANYAK JUMLAH GOLEM-NYA?!?!”
Teriak Myllo dengan terkejut.
“Wajar aja, Myllo!”
“Hah?! Kok wajar?!”
“Golem itu udah mulai khawatir! Dia ngerasa kalo lo yang sekarang lebih bahaya daripada sebelumnya! Makanya itu, dia—”
“Hehe! Kenapa di keadaan kayak gini, lo tiba-tiba puji gue, Zegin?!”
“*Tung!”
“Aduh…”
Ucap Mylllo karena Zegin memukul kepalanya dari dalam pikirannya.
“Pokoknya, hati-hati aja sama Golem yang jumlahnya bertambah 5 kali lipat ini!”
“Hah?! 5 kali lipat?! Totalnya aja ada 50!”
“Mana ada 50?! Kan ada 70!”
Mereka pun mulai memperdebatkan jumlah Golem di hadapan Myllo, yang sejatinya hanya berjumlah 30.
“Aaaah! Bawel!”
“*FWUSH!!!”
“Mendingan gue langsung hajar patungnya aja!”
Seru Myllo, setelah ia bergerak dengan sangat cepat.
“*FWUSH!!! FWUSH!!! FWUSH!!!”
Sambil berlari dengan cepat, Myllo juga mengayunkan tongkatnya kepada setiap Golem yang hendak menghadang lajunya. Sehingga setiap Golem yang menghadangnya terurai satu persatu.
“…”
Myllo pun tiba di hadapan patung Ironsand Golem dan langsung mempersiapkan serangan berikutnya.
((Zegin Twister))
“*FWUZZ…”
Dengan kekuatan Zegin, Myllo menciptakan angin topan yang meniup seluruh pasir yang membalut Inti milik Ironsand Golem.
“*TUK!!!”
“*Chrang…”
Myllo pun berhasil mengalahkan Ironsand Golem, setelah ia menghancurkan Inti miliknya.
Dengan terkalahkannya Ironsand Golem tersebut, Myllo pun merasa senang.
“Ahahaha!”
Bukan karena mengalahkan Ironsand Golem…
“Akhirnya senjata gue balik lagi!”
…melainkan karena tongkat miliknya.
Di tengah kegembiraannya, Myllo mulai teringat akan masa kecilnya bersama dengan kakak asuhnya, Sylvia Starfell.
“Tongkat ini…”
“Itu tongkat kakak, waktu kakak belajar bertarung untuk pertama kalinya. Tapi karena kakak udah kuat, jadinya kakak beralih ke senjata lain. Nanti kamu juga—”
“Nggak! Myllo buktiin ke kakak, kalo Myllo bisa kuat pake senjata ini!”
“Ahahahaha! OK, Myllo! Kalo gitu, kakak tantang kamu! Buktiin ke kakak, kalo kamu bisa jadi Petualang Nomor
Satu di Dunia pake tongkat ini!”
“OK! Myllo pasti bisa buktiin ke kakak!”
“…”
Karena teringat akan masa kecilnya, seketika ada air mata menggelinang di pipinya.
“Ya, Kak Sylv! Myllo… pasti bisa buktiinnya! Hiks!”
Bisik Myllo dengan tangis bahagia, sambil memeluk tongkat yang menjadi benda terakhir dari kakaknya.
Tanpa ia sadari…
“*Puink, puink, puink…”
“*Tap, tap, tap…”
…Machinno datang dan menepuk-nepuk pundaknya.
“M-Machinno! Hehe! Maafin gue yang—”
“Kata Cacang… Tembok Kaktus sudah mulai diserang…”
“!!!”
Myllo pun terkejut ketika mendengar penjelasannya.
“Myllo!”
“Ya! Ayo kita pergi lagi ke Beckbuck!”
Ajak Myllo, setelah Gia datang bersama rekan-rekan Myllo yang lainnya dari belakang Machinno.
Bersama-sama, mereka kembali menaiki Cacang dan melanjutkan kembali perjalanan menuju Beckbuck City.
“Duh, Djinn sama Dalbert gimana ya?”
“Iya, euy! Aing teh juga khawatir, Teh Gia!”
Balas Garry kepada Gia.
Sementara itu Myllo tidak terlihat mengkhawatirkan dua rekannya, karena ia percaya dengan mereka.
“…”
Ia terus menggenggam tongkatnya yang datang kembali.
“Semoga gue nggak akan pernah kehilangan warisan terakhir dari Kak Sylv lagi!”
Pikir Myllo, sambil memimpin perjalanan menuju Beckbuck Post.