Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 59. Terror of The Ancient



Di suatu tepi kota kecil yang


bernama Marklett Town, di dalam suatu rumah, terdapat seseorang yang sedang


melihat ayahnya di ambang kematian.


“A…Ayah…hiks…”


Tangis seseorang yang melihat


ayahnya.


“Ca…Callum..”


“A…Apa, ayah?”


Ayahnya tersebut melambaikan


tangan ke arahnya dengan tujuan agar anaknya yang bernama Callum itu


mendekatkan kepalanya.


Saat Callum mendekati kepalanya,


ayahnya berbisik sesuatu kepadanya.


“Jaga…ra…rahasia…leluhur


ki…ki…kita…”


Setelah berbisik, ayah dari


Callum meninggalkan dunia dengan pesan tersebut.


“Ba…Baiklah, ayah—”


“*…treng, treng, treng! (suara


lonceng berbunyi dari jauh)”


“…”


Di saat-saat momen terakhir


bersama ayahnya, Callum tiba-tiba mendengar bunyi lonceng dari kota, seakan ada


sesuatu yang terjadi.


“Tu…Tunggu saya, ayah. Saya akan


kembali…”


“…”


Callum pun meninggalkan ayahnya


yang sudah tidak bernyawa. Ia berjalan keluar dari rumahnya untuk melihat


situasi kota dari rumahnya.


“A…Apa yang terjadi?!”


Saat ia berada di luar, ia


menyaksikan kota yang terbakar dengan api besar yang menghanguskan beberapa


bangunan.


Dengan rasa ingin menolong,


Callum pun berlari ke arah kota.


“Tolong! Tolong!”


“Huaaaaa! Ibu! Bangun, ibu!”


“Cepat! Tolong bawakan air!”


Kota menjadi sangat kacau saat


Callum berada di dalam Marklett Town.


“…”


Sambil berjalan, ia melihat


banyak korban jiwa dari kota tersebut. Mulai dari anak-anak, orang dewasa,


bahkan beberapa Ksatria dan beberapa pasukan menjadi korban bakaran api itu.


“Tolong! Anak-anak saya terjebak


di dalam!”


Mendengar teriakan tersebut,


Callum pun berlari ke arah rumah tersebut untuk menyelamatkan anak-anak dari


perempuan tersebut.


“*Brak! (suara mendobrak pintu)”


“Uhuk! Uhuk!”


Setelah berhasil mendobrak pintu


itu, Callum melihat dua anak kecil. Yang satu sedang menangis dan yang satu


lagi tidak sadarkan diri.


Saat ia berusaha menolong dua


anak itu, ia melihat seseorang yang telah terbakar dan tertimpa oleh reruntuhan


rumah.


“Huaaaa!!!”


“Sial, saya telat!”


Pikir Callum sambil melihat anak


kecil itu menangis.


“Heat Magnet!”


Callum pun menggunakan sihirnya.


Semua api yang membakar rumah itu diserap olehnya.


“Hey! Ayo ikut paman!”


“Ba…Baik!”


Callum pun menggendong dua anak


kecil itu keluar dari rumah itu.


“Huff…huff…”


Callum pun berhasil membawa dua


anak tersebut. Sayangnya, salah satu anak kecil itu sudah tidak bernyawa.


“Ini anak anda, Bu Brenda.”


“Willis! Anakku! Hiks*!*”


“…”


Callum pun bingung dengan apa


yang harus ia katakan kepada wanita yang bernama Brenda itu tentang anaknya.


“Bu Brenda?”


“Ibu—”


“William! Syukurlah kamu selamat,


nak!”


“Maafkan saya, Bu Brenda. Andai


saya lebih cepat—”


“Te…Terima kasih telah


menyelamatkan dua anak saya, Sage Callum.”


“Ya.”


“Hiks…Willis…”


Tak kuasa melihat tangisan


Brenda, Callum pun pergi meninggalkan mereka dan berusaha mencari tahu apa yang


sedang terjadi.


Ia pun berusaha menolong warga


lainnya sambil mencari tahu kronologi di balik api yang menjalar di Marklett.


“Terima kasih, Callum—”


“Apa yang terjadi di kota ini?


Mengapa kota ini tiba-tiba terbakar?”


“Sa…Saya tidak tahu.”


“Bagaimana dengan Marquis Verde—”


“*Bum! (suara ledakan)”


““!!!””


Tiba-tiba Callum dan salah satu


warga dikejutkan dengan rumah seorang bangsawan yang bertanggung jawab atas


kota itu meledak.


“Itu…bukankah itu kediaman Marquis


Verde?”


“A…Apakah ini peperangan antara


bangsawan?”


Tanya Callum dan warga itu ketika


mereka melihat rumah Marquis Verde meledak.


Di tengah kepanikan Callum dan


warga lainnya, tiba-tiba muncul Marquis Verdian Verde bersama dengan


personilnya ke tengah-tengah mereka dengan beberapa kuda.


“Mohon dengar, wargaku sekalian!


Saatnya kita evakuasi dari kota ini! Selamatkanlah anggota keluarga kalian jika


mereka masih bernafas!”


Teriak Verdian kepada warganya.


“Pergi dari kota ini?! Tapi


barang-barang saya gimana?! Barang-barang jualan saya—”


“ANGGOTA KELUARGA SAYA PUN TIDAK


BISA SAYA SELAMATKAN! ANDA MASIH MEMIKIRKAN JUALAN ANDA?!”


Teriak Verdian dengan tetesan air


mata, saat salah satu warga menolak untuk ikut evakuasi.


“Baiklah! Bagi yang mau ‘ikut’


evakuasi, tolong ikuti saya dan para ksatria ini! Setidaknya saya harus


menjalankan tugas saya sebagai seorang Marquis, walaupun saya gagal menjadi


seorang kepala keluarga!”


Mendengar Verdian, para warga pun


berbondong-bondong untuk mengikuti protokol evakuasi dari beberapa Ksatria.


Namun, di saat semua warga,


termasuk Callum, sedang mengikuti protokol evakuasi, tiba-tiba terdengar


teriakan dari atas langit yang begitu mengerikan.


“RUOAAAAAAARRRR!!!”


““!!!””


Mendengar teriakan tersebut,


hampir semua, bahkan Marquis Verde dan Ksatria lainnya, merasakan ketakutan


yang begitu mendalam.


Tidak hanya ketakutan saja,


sebagian orang pun tidak sadarkan diri karena tekanan yang mereka rasakan dari


teriakan itu.


Namun, karena mereka terlalu


takut, mereka sampai tidak sadar ada cahaya yang begitu terang datang dari


langit.


“A…A…A…”


“Awas, ada api!”


““AAAAHHHHH!!!””


“…”


Melihat ada api itu, Callum


langsung melompat dan merapal mantra.


“Turtle Shell!”


Callum pun berhasil menahan api


dari langit itu.


evakuasi, warga sekalian!”


“Lanjutkan evakuasi kalian!


Jangan ada yang melanggar antrean!”


“Jangan panik! Tetap laksanakan


evakuasi dengan tertib!”


Seru beberapa ksatria kepada


warga untuk melanjutkan evakuasi dengan tertib.


“Callum! Syukurlah anda sudah


datang!”


“Maafkan saya Marquis Verde!


Andai saya datang lebih awal!”


“Tidak apa-apa, kawan. Kami pun


mengerti jika anda sedang berduka.”


Balas Marquis Verde dengan ramah


kepada Callum.


“Tapi tadi…raungan apa tadi yang


begitu mengerikan—”


“Naga. Hanya itu mahluk


buas yang bisa membuat orang ketakutan lewat raungannya.”’


“Na…Naga?! Bukankah itu mahluk


kuno yang sudah sangat langka?!”


“Mungkin anda benar, tapi hanya itu


mahluk mengerikan yang terlintas di benak saya, Marquis Verde.”


Jelas Callum kepada Marquis Verde


yang gemetar ketakutan mendengar kata ‘naga’ dari Callum.


“Marquis Verde, tolong bawa semua


lari dari tempat ini.”


“Ba…Baiklah. Mohon izinkan ksatria


sa—”


“Biarkan saya di sini sendiri, Marquis


Verde. Biarlah anda dan para ksatria anda membawa warga pergi dari mahluk itu!”


“A…Apakah anda—”


“Saya usahakan semampu saya untuk


bertahan hidup, Marquis Verde.”


“Baiklah, Callum!”


Marquis Verde pun kembali kepada


warga untuk memimpin evakuasi dari kota itu.


“Baiklah. Tolong pimpin saya dari


atas sana, ayah!”


Seru Callum yang hendak menyerang


Naga itu.


Ia pun mencoba untuk


mengkalkulasikan arah serangan Naga itu, agar ia mengetahui titik keberadaan


Naga itu.


“Sepertinya Naga itu berada di


sana.”


Pikir Callum yang berpikir telah


mengetahui keberadaannya.


Ia pun merapal mantra untuk


menyerang Naga itu.


“Metal Magic: Giant Spear!”


Dengan sihirnya, Callum


menciptakan sebuah tombak yang besar dan menembakkan tombak itu ke atas.


“RUOAAAR!”


“Sepertinya sihir tadi mengenai


Naga itu!”


Pikirnya setelah menggunakan


sihirnya.


Ia pun menunggu kedatangan Naga


itu. Akan tetapi Naga itu tak kunjung datang ke hadapannya.


Saat sedang menunggu Naga itu,


tiba-tiba…


“*Shruk… (suara tertusuk)”


“Umph!”


…Callum tertusuk dari belakang.


“Uhuk! Uhuk!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


Tidak hanya tertusuk saja, Callum


juga ditendang.


“Si…Siapa yang menyerang dari


belakang? Mengapa saya tidak merasakannya dengan Mana-Sense saya?”


Pikir Callum yang terluka.


Di saat ia sedang kritis karena


tusukan itu, Callum mengamati ada beberapa orang yang tidak terlihat wajahnya


karena tertutup oleh bayang-bayang.


“Sialan, ternyata ada Mage di


kota ini!”


Kata salah seorang dari antara


mereka.


“Kakak, jadi kita harus gimana?”


“Kita coba cari aja dulu Hidden


Dungeon di tempat ini, sebelum matahari terbit.”


Sahut salah satu orang lainnya


ketika ditanya.


“Hidden Dungeon?! Mereka mau


mencari itu! Saya tidak boleh membiarkan mereka mengetahui rahasia leluhur


saya!”


Pikir Callum setelah mendengar


dialog antar orang-orang itu.


Callum pun akhirnya mencoba untuk


berpura-pura mati sambil menunggu orang-orang itu pergi dari Marklett Town.


“Tunggu. Apa orang itu masih


hidup?”


“Biar gue aja yang cari tau.”


Lantas, salah seorang dari antara


mereka mencari tahu tentang Callum.


“Hey, Pak Sihir.”


“…”


“Halo? Masih hidup, nggak?”


“…”


“Keliatannya dia udah mati,


kakak.”


Balas orang itu, yang mengira


Callum sudah mati.


“Bagus. Sepertinya saya


terlihat mati di mata mereka.”


Pikir Callum.


“OK. Tapi kita nggak bisa kasih


liat ada mayat yang ada tusukan di dadanya.”


“Jadi…?”


“Lempar aja ke api itu.”


Kata orang tersebut sambil


menunjuk api besar yang membakar suatu bangunan.


“Sial! Jika saya pura-pura ma—”


“*Shruk! Shruk! Shruk! (suara


banyak tusukan)”


Saat sedang memikirkan cara untuk


lari, Callum tiba-tiba ditusuk berkali-kali oleh salah seorang dari antara


mereka.


“Hey, hey, hey! Kenapa malah


ditusuk kayak gitu?!”


“Ng…Nggak, cuma ngebayangin kalo


tau-tau dia gerak waktu mau di lempar.”


Jelas orang yang menusuk itu


ketika ditanyakan oleh rekannya.


Callum pun diangkat dan dilempar


oleh orang itu.


“…”


“Semoga dia jadi abu, sebelum ada


yang—”


“*Krutk, krutk, krutk… (suara langkah kuda-kuda)”


“Sial! Kok balik lagi pasukan


kota ini?!”


Seru salah satu dari mereka


setelah mendengar banyak suara langkah kuda ke arah mereka.


“Kakak, jadi kita gimana?”


“Kita pergi dari sini.”


“Tapi Hidden Dungeon yang kita


cari?!”


“Tenang, itu masih bisa kita


cari.”


Akhirnya kumpulan orang itu pergi


melarikan diri dari Marklett.


Sedangkan Callum…


“Ayah…sebentar lagi…kita akan


bertemu…”


Bisik Callum yang masih terbakar


dan tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk lari dari api yang membakarnya.