
Di suatu tepi kota kecil yang
bernama Marklett Town, di dalam suatu rumah, terdapat seseorang yang sedang
melihat ayahnya di ambang kematian.
“A…Ayah…hiks…”
Tangis seseorang yang melihat
ayahnya.
“Ca…Callum..”
“A…Apa, ayah?”
Ayahnya tersebut melambaikan
tangan ke arahnya dengan tujuan agar anaknya yang bernama Callum itu
mendekatkan kepalanya.
Saat Callum mendekati kepalanya,
ayahnya berbisik sesuatu kepadanya.
“Jaga…ra…rahasia…leluhur
ki…ki…kita…”
Setelah berbisik, ayah dari
Callum meninggalkan dunia dengan pesan tersebut.
“Ba…Baiklah, ayah—”
“*…treng, treng, treng! (suara
lonceng berbunyi dari jauh)”
“…”
Di saat-saat momen terakhir
bersama ayahnya, Callum tiba-tiba mendengar bunyi lonceng dari kota, seakan ada
sesuatu yang terjadi.
“Tu…Tunggu saya, ayah. Saya akan
kembali…”
“…”
Callum pun meninggalkan ayahnya
yang sudah tidak bernyawa. Ia berjalan keluar dari rumahnya untuk melihat
situasi kota dari rumahnya.
“A…Apa yang terjadi?!”
Saat ia berada di luar, ia
menyaksikan kota yang terbakar dengan api besar yang menghanguskan beberapa
bangunan.
Dengan rasa ingin menolong,
Callum pun berlari ke arah kota.
“Tolong! Tolong!”
“Huaaaaa! Ibu! Bangun, ibu!”
“Cepat! Tolong bawakan air!”
Kota menjadi sangat kacau saat
Callum berada di dalam Marklett Town.
“…”
Sambil berjalan, ia melihat
banyak korban jiwa dari kota tersebut. Mulai dari anak-anak, orang dewasa,
bahkan beberapa Ksatria dan beberapa pasukan menjadi korban bakaran api itu.
“Tolong! Anak-anak saya terjebak
di dalam!”
Mendengar teriakan tersebut,
Callum pun berlari ke arah rumah tersebut untuk menyelamatkan anak-anak dari
perempuan tersebut.
“*Brak! (suara mendobrak pintu)”
“Uhuk! Uhuk!”
Setelah berhasil mendobrak pintu
itu, Callum melihat dua anak kecil. Yang satu sedang menangis dan yang satu
lagi tidak sadarkan diri.
Saat ia berusaha menolong dua
anak itu, ia melihat seseorang yang telah terbakar dan tertimpa oleh reruntuhan
rumah.
“Huaaaa!!!”
“Sial, saya telat!”
Pikir Callum sambil melihat anak
kecil itu menangis.
“Heat Magnet!”
Callum pun menggunakan sihirnya.
Semua api yang membakar rumah itu diserap olehnya.
“Hey! Ayo ikut paman!”
“Ba…Baik!”
Callum pun menggendong dua anak
kecil itu keluar dari rumah itu.
“Huff…huff…”
Callum pun berhasil membawa dua
anak tersebut. Sayangnya, salah satu anak kecil itu sudah tidak bernyawa.
“Ini anak anda, Bu Brenda.”
“Willis! Anakku! Hiks*!*”
“…”
Callum pun bingung dengan apa
yang harus ia katakan kepada wanita yang bernama Brenda itu tentang anaknya.
“Bu Brenda?”
“Ibu—”
“William! Syukurlah kamu selamat,
nak!”
“Maafkan saya, Bu Brenda. Andai
saya lebih cepat—”
“Te…Terima kasih telah
menyelamatkan dua anak saya, Sage Callum.”
“Ya.”
“Hiks…Willis…”
Tak kuasa melihat tangisan
Brenda, Callum pun pergi meninggalkan mereka dan berusaha mencari tahu apa yang
sedang terjadi.
Ia pun berusaha menolong warga
lainnya sambil mencari tahu kronologi di balik api yang menjalar di Marklett.
“Terima kasih, Callum—”
“Apa yang terjadi di kota ini?
Mengapa kota ini tiba-tiba terbakar?”
“Sa…Saya tidak tahu.”
“Bagaimana dengan Marquis Verde—”
“*Bum! (suara ledakan)”
““!!!””
Tiba-tiba Callum dan salah satu
warga dikejutkan dengan rumah seorang bangsawan yang bertanggung jawab atas
kota itu meledak.
“Itu…bukankah itu kediaman Marquis
Verde?”
“A…Apakah ini peperangan antara
bangsawan?”
Tanya Callum dan warga itu ketika
mereka melihat rumah Marquis Verde meledak.
Di tengah kepanikan Callum dan
warga lainnya, tiba-tiba muncul Marquis Verdian Verde bersama dengan
personilnya ke tengah-tengah mereka dengan beberapa kuda.
“Mohon dengar, wargaku sekalian!
Saatnya kita evakuasi dari kota ini! Selamatkanlah anggota keluarga kalian jika
mereka masih bernafas!”
Teriak Verdian kepada warganya.
“Pergi dari kota ini?! Tapi
barang-barang saya gimana?! Barang-barang jualan saya—”
“ANGGOTA KELUARGA SAYA PUN TIDAK
BISA SAYA SELAMATKAN! ANDA MASIH MEMIKIRKAN JUALAN ANDA?!”
Teriak Verdian dengan tetesan air
mata, saat salah satu warga menolak untuk ikut evakuasi.
“Baiklah! Bagi yang mau ‘ikut’
evakuasi, tolong ikuti saya dan para ksatria ini! Setidaknya saya harus
menjalankan tugas saya sebagai seorang Marquis, walaupun saya gagal menjadi
seorang kepala keluarga!”
Mendengar Verdian, para warga pun
berbondong-bondong untuk mengikuti protokol evakuasi dari beberapa Ksatria.
Namun, di saat semua warga,
termasuk Callum, sedang mengikuti protokol evakuasi, tiba-tiba terdengar
teriakan dari atas langit yang begitu mengerikan.
“RUOAAAAAAARRRR!!!”
““!!!””
Mendengar teriakan tersebut,
hampir semua, bahkan Marquis Verde dan Ksatria lainnya, merasakan ketakutan
yang begitu mendalam.
Tidak hanya ketakutan saja,
sebagian orang pun tidak sadarkan diri karena tekanan yang mereka rasakan dari
teriakan itu.
Namun, karena mereka terlalu
takut, mereka sampai tidak sadar ada cahaya yang begitu terang datang dari
langit.
“A…A…A…”
“Awas, ada api!”
““AAAAHHHHH!!!””
“…”
Melihat ada api itu, Callum
langsung melompat dan merapal mantra.
“Turtle Shell!”
Callum pun berhasil menahan api
dari langit itu.
evakuasi, warga sekalian!”
“Lanjutkan evakuasi kalian!
Jangan ada yang melanggar antrean!”
“Jangan panik! Tetap laksanakan
evakuasi dengan tertib!”
Seru beberapa ksatria kepada
warga untuk melanjutkan evakuasi dengan tertib.
“Callum! Syukurlah anda sudah
datang!”
“Maafkan saya Marquis Verde!
Andai saya datang lebih awal!”
“Tidak apa-apa, kawan. Kami pun
mengerti jika anda sedang berduka.”
Balas Marquis Verde dengan ramah
kepada Callum.
“Tapi tadi…raungan apa tadi yang
begitu mengerikan—”
“Naga. Hanya itu mahluk
buas yang bisa membuat orang ketakutan lewat raungannya.”’
“Na…Naga?! Bukankah itu mahluk
kuno yang sudah sangat langka?!”
“Mungkin anda benar, tapi hanya itu
mahluk mengerikan yang terlintas di benak saya, Marquis Verde.”
Jelas Callum kepada Marquis Verde
yang gemetar ketakutan mendengar kata ‘naga’ dari Callum.
“Marquis Verde, tolong bawa semua
lari dari tempat ini.”
“Ba…Baiklah. Mohon izinkan ksatria
sa—”
“Biarkan saya di sini sendiri, Marquis
Verde. Biarlah anda dan para ksatria anda membawa warga pergi dari mahluk itu!”
“A…Apakah anda—”
“Saya usahakan semampu saya untuk
bertahan hidup, Marquis Verde.”
“Baiklah, Callum!”
Marquis Verde pun kembali kepada
warga untuk memimpin evakuasi dari kota itu.
“Baiklah. Tolong pimpin saya dari
atas sana, ayah!”
Seru Callum yang hendak menyerang
Naga itu.
Ia pun mencoba untuk
mengkalkulasikan arah serangan Naga itu, agar ia mengetahui titik keberadaan
Naga itu.
“Sepertinya Naga itu berada di
sana.”
Pikir Callum yang berpikir telah
mengetahui keberadaannya.
Ia pun merapal mantra untuk
menyerang Naga itu.
“Metal Magic: Giant Spear!”
Dengan sihirnya, Callum
menciptakan sebuah tombak yang besar dan menembakkan tombak itu ke atas.
“RUOAAAR!”
“Sepertinya sihir tadi mengenai
Naga itu!”
Pikirnya setelah menggunakan
sihirnya.
Ia pun menunggu kedatangan Naga
itu. Akan tetapi Naga itu tak kunjung datang ke hadapannya.
Saat sedang menunggu Naga itu,
tiba-tiba…
“*Shruk… (suara tertusuk)”
“Umph!”
…Callum tertusuk dari belakang.
“Uhuk! Uhuk!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Tidak hanya tertusuk saja, Callum
juga ditendang.
“Si…Siapa yang menyerang dari
belakang? Mengapa saya tidak merasakannya dengan Mana-Sense saya?”
Pikir Callum yang terluka.
Di saat ia sedang kritis karena
tusukan itu, Callum mengamati ada beberapa orang yang tidak terlihat wajahnya
karena tertutup oleh bayang-bayang.
“Sialan, ternyata ada Mage di
kota ini!”
Kata salah seorang dari antara
mereka.
“Kakak, jadi kita harus gimana?”
“Kita coba cari aja dulu Hidden
Dungeon di tempat ini, sebelum matahari terbit.”
Sahut salah satu orang lainnya
ketika ditanya.
“Hidden Dungeon?! Mereka mau
mencari itu! Saya tidak boleh membiarkan mereka mengetahui rahasia leluhur
saya!”
Pikir Callum setelah mendengar
dialog antar orang-orang itu.
Callum pun akhirnya mencoba untuk
berpura-pura mati sambil menunggu orang-orang itu pergi dari Marklett Town.
“Tunggu. Apa orang itu masih
hidup?”
“Biar gue aja yang cari tau.”
Lantas, salah seorang dari antara
mereka mencari tahu tentang Callum.
“Hey, Pak Sihir.”
“…”
“Halo? Masih hidup, nggak?”
“…”
“Keliatannya dia udah mati,
kakak.”
Balas orang itu, yang mengira
Callum sudah mati.
“Bagus. Sepertinya saya
terlihat mati di mata mereka.”
Pikir Callum.
“OK. Tapi kita nggak bisa kasih
liat ada mayat yang ada tusukan di dadanya.”
“Jadi…?”
“Lempar aja ke api itu.”
Kata orang tersebut sambil
menunjuk api besar yang membakar suatu bangunan.
“Sial! Jika saya pura-pura ma—”
“*Shruk! Shruk! Shruk! (suara
banyak tusukan)”
Saat sedang memikirkan cara untuk
lari, Callum tiba-tiba ditusuk berkali-kali oleh salah seorang dari antara
mereka.
“Hey, hey, hey! Kenapa malah
ditusuk kayak gitu?!”
“Ng…Nggak, cuma ngebayangin kalo
tau-tau dia gerak waktu mau di lempar.”
Jelas orang yang menusuk itu
ketika ditanyakan oleh rekannya.
Callum pun diangkat dan dilempar
oleh orang itu.
“…”
“Semoga dia jadi abu, sebelum ada
yang—”
“*Krutk, krutk, krutk… (suara langkah kuda-kuda)”
“Sial! Kok balik lagi pasukan
kota ini?!”
Seru salah satu dari mereka
setelah mendengar banyak suara langkah kuda ke arah mereka.
“Kakak, jadi kita gimana?”
“Kita pergi dari sini.”
“Tapi Hidden Dungeon yang kita
cari?!”
“Tenang, itu masih bisa kita
cari.”
Akhirnya kumpulan orang itu pergi
melarikan diri dari Marklett.
Sedangkan Callum…
“Ayah…sebentar lagi…kita akan
bertemu…”
Bisik Callum yang masih terbakar
dan tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk lari dari api yang membakarnya.