Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 23. Saint of Freedom



“Hehe! Mau seratus atau seribu orang dari kalian, pasti nggak akan cukup


untuk lawan kita berdua!”


Seru Myllo ketika ia dan Djinn berhasil menghabisi lebih dari 100 anggota


Goldiggia yang berada di sekitar Port Marzhal.


“Djinn, lo sama gue banyakan siapa yang lawan mereka?!”


“Hah?! Kok jadi kompetisi gini?!”


“Hehe! Biar seru aja!”


“…”


Djinn hanya terdiam saja mendengar jawaban dari Myllo.


“Itu mereka berdua!”


“Jangan biarin mereka nyentuh gudang atau kapal!”


“!!!”


Seru beberapa pasukan Goldiggia yang tersisa sambil berlari ke arah ke


mereka berdua.


Namun, Djinn justru mendapatkan informasi dari seruan mereka berdua.


“Myl, kita harus ke gudang atau ke kapal itu.”


“OK! Kalo gitu lo ke kapal, gue ke gudang! Gue yakin Styx pasti ada di


gudang!”


“Nih orang yakin banget ada Styx di sana…”


Pikir Djinn tentang Myllo yang yakin akan keberadaan Styx.


“Yah, apa boleh buat lah. Yang pasti, lo harus bebasin Styx! Paham?!”


“Tenang aja! Gue yakin usaha gue untuk nyari dia nggak sia-sia!”


Setelah itu, mereka pun berpisah. Djinn berlari ke arah kapal, sedangkan


Myllo pergi ke gudang.


Sambil berlari ke arah gudang, Myllo tetap menyerang setiap anggota Goldiggia


yang menghadangnya.


“*Bruk! (suara tembok rubuh)”


“Styx! Lo di mana?!”


Seru Myllo ketika ia tiba di gudang tersebut dengan menghancurkan tembok


dari tempat itu.


“Siapa Manusia itu?”


“Cih, saya kira antara Putri Givast atau Si Anak Haram itu yang datang!”


Sahut beberapa High Elf yang tidak menerima kedatangan Myllo.


“Hey! Mengapa kalian selalu menggerutu ketika ada Manusia yang datang?!”


“Karena ia adalah Manusia! Apa bedanya pria itu dengan Manusia lainnya


yang menangkap kita?!”


“Benar! Elf Setengah Manusia seperti Anak Haram itu saja sudah—”


“Hey! Setidaknya ia ingin membantu!”


Para tahanan tersebut pun mulai berdebat terkait kedatangan Myllo.


Namun Myllo hanya…


“Hmm…”


…bergumam saja sambil menyaksikan perdebatan antar High Elf.


“Mengapa Manusia itu hanya melihat kita saja—”


“Oi!”


““…””


“Ada yang liat Styx, nggak?”


“Maksud anda, Perempuan Iblis itu?! Hah, mana sudi kami berada di dekat


Iblis seperti—”


“OK, makasih infonya.”


Seketika, Myllo langsung pergi meninggalkan para High Elf yang sedang


ditahan.


“Hey! Anda mau kemana?!”


“Hey, Manusia!”


“Haaah… Jangan-jangan, Styx ternyata ada di kapal, ya?”


Pikir Myllo tanpa memperdulikan panggilan dari para High Elf.


Namun, saat ia hendak meninggalkan gudang tersebut, datanglah 5 Kakak


Besar dengan cara meruntuhkan tembok gudang itu.


“*Bruk! (suara tembok runtuh)”


“Ngixixixi! Hey, Anak Haram! Dateng juga lo—”


“Ah…”


““Ah…””


Myllo dan para Kakak Besar hanya saling tatap menatap ketika abu tembok


yang menghadang pandangan mereka semua lenyap.


“HAAAAAAHHH?!?! LO TAU ORANG TUA GUE?!?!”


“BUKAN ELU, DONGO!!!”


Teriak Roco ketika mendengar pertanyaan Myllo.


“Terus, dia siapa?!”


“Makanya itu! Harusnya yang ke sini itu kan Anak Haram atau Vast!”


Jawab Lenia, menjawab pertanyaan Rox.


Mereka pun bingung dengan siapa yang ada di hadapannya, kecuali Bon


Kargal.


“Anda adalah pria pembuat onar yang bernama Myllo Olfret itu, ya?!”


“Hehe! Akhirnya ada yang kenal gue!”


Seru Myllo dengan tertawa lepas.


Namun, ketika mengetahui identitas Myllo, para Kakak Besar saling tatap


menatap antara satu sama lain.


“Pfft…”


““Ahahahahaha!!!””


“Haaaaah?!”


Myllo heran dengan para Kakak Besar yang tiba-tiba tertawa lepas.


“Ternyata ini orang yang nggak bisa pake Mana, tapi berani


hancurin dua Penampungan kita?!”


“Udah keliatan dongo, nggak bisa pake Mana, lagi!”


“Jadi bingung siapa yang Anak Haram sebenernya!”


Ujar beberapa Kakak Besar setelah menertawakan Myllo.


Mendengar hal tersebut, para High Elf pun mulai putus asa.


“Te…Ternyata percuma saja saya menaruh harapan tinggi…”


“Benar, kan?! Buat apa anda percaya dengan Manusia itu?!”


“Sudah terluka, terlihat kelelahan, dan sekarang ia akan melawan


orang-orang itu tanpa adanya Mana?! Yang benar saja!”


Sahut beberapa High Elf dari balik jeruji.


“Hehe!”


““Hm?!””


Semua terheran ada tawa dari wajah Myllo, setelah ia dicaci maki tidak


hanya dari Kakak Besar saja, akan tetapi juga dari High Elf.


“Mana ini, Mana itu! Apa gunanya juga itu, kalo gue bisa


ngalahin kalian tanpa pake gituan?!”


““!!!””


Tegas Myllo, yang membuat semua yang berada di dalam gudang terkejut.


“Baiklah, mari kita buktikan!”


“Hehe! Jangan lo pikir gue—”


“Lenia! Roco!”


““*Swush! (suara gerakan cepat)””


Lenia dan Roco langsung berlari dengan niat menyerang ke arah Myllo, akan


tetapi…


“*Tuk! Tuk! Tuk! (suara pukulan tongkat)”


““Ugh!””


…berkat refleksnya yang begitu cepat, Myllo dengan mudah menahan serangan


mereka berdua, yang langsung ia lanjutkan dengan serangan balik.


“Poison Bomb!”


“*Puff… (suara asap)”


“Umph!”


Roco yang terpental pun langsung melempar bola yang berisi racun dan


melempar ke arah Myllo.


“Ice Slash!”


“*Swung! (suara sihir pedang es)”


Lenia yang juga baru saja terpental pun juga ikut menyerang Myllo dengan


menggunakan sihir es pedangnya. Namun…


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Sialan! Kok dia bisa—”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Dasar orang cacat!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


…Myllo dengan gerakan cepatnya langsung bergerak ke arah Lenia dan


memukulnya. Roco yang hendak menyerangnya juga dipukul dengan mudahnya.


Uniknya, Myllo hanya perlu satu tangan saja untuk menggunakan tongkatnya,


karena tangan kirinya…


“Puaaah! Akhirnya bisa nafas lagi!”


…ia gunakan untuk menahan nafasnya dari racun milik Roco.


“Fire Frenzy!”


“Rocks Delivery!”


“Uwoh!”


Setelah mengalahkan Lenia dan Rocks, Myllo langsung bergerak untuk


menghindari sihir api dari Pyrobin. Sedangkan untuk batu-batu milik Rox…


“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara batu hancur)”


“Tidak! Batu-batu saya—”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


…ia hancurkan dengan tongkatnya dan ia langsung memukul Rox.


“*Fire Knu—”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Umph!”


“Jangan main api mulu! Bahaya!”


Ketika berada di dekat Myllo, Pyrobin hendak memukul dengan sihir api


yang menjalar di sekeliling tangannya. Akan tetapi Myllo mengetahuinya dan


Sambil menyaksikan pertarungan Myllo, para High Elf yang menyaksikan dari


balik jeruji pun terkagum dengan cara bertarung Myllo melawan para Kakak Besar.


“Lu…Luar biasa! Ia cakap sekali menggunakan tongkatnya!”


“Apa… Apa benar ia tidak menggunakan Mana sama sekali?!”


“Semoga…usahanya tidak sia-sia.”


Sahut beberapa High Elf.


“Hraaaagh!”


“*Chring! (suara besi beradu)”


“Ternyata kuat juga ya anda, Myllo Olfret!”


“Ya iya, lah!”


Myllo pun berhadapan dengan Bon Kargal.


Mereka saling menyerang dan menghindari serangan masing-masing, hingga…


“*Shrat! (suara sayatan pedang)”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


““Urgh!””


…keduanya menerima serangan masing-masing.


“Haha! Akhirnya anda menerima luka besar, Myllo Olfret.”


“Hehe! Lo juga luka-lu—”


“Memang. Akan tetapi…”


““*Hup! (suara menangkap)””


“…saya punya Double Potion untuk mereka!”


“!!!”


Myllo pun terkejut ketika Bon Kargal melempar botol kepada setiap Kakak


Besar untuk menyembuhkan dan mengembalikan Mana mereka.


Melihat kejadian itu, keputusasaan para High Elf pun kembali menampak.


“Ah…ternyata harapan kami sia-sia.”


“Si…Sial… Saya terpesona dengan caranya menggunakan tongkat, namun saya


lupa bahwa ia sama cacatnya dengan Anak Haram pada waktu itu.”


“Apakah…semuanya sudah berakhir?”


Sahut beberapa High Elf yang putus asa dengan kejadian itu.


“Jadi, apa yang akan anda lakukan, Myllo Olfret?”


“Huff… Huff…”


Tanya Bon Kargal kepada Myllo yang terlihat kelelahan.


Dari balik jeruji, muncul sebuah seruan kepada Myllo.


“Hey, Manu—Tidak, maksud saya Petualang! Cepat lepaskan Mana-Restriction


ini dari saya! Saya mungkin tidak tahu cara bertarung, namun saya akan


usahakan semampu saya untuk membantu an—”


“Diam, Ras Sombong—”


“STOOOOOPPPP!!!”


““!!!””


Semua terkejut ketika Myllo berteriak agar semua berhenti.


“Kasih gue 5 menit!”


“Hah?! Mau ngapa—”


“Biarkan saja, Lenia.”


“Biarin?! Bukannya—”


“Apapun yang ia lakukan, sepertinya hanya tindakan putus asa saja.”


Kata Bon Kargal yang meremehkan Myllo.


“Baiklah, kami beri 5 menit kepada anda!”


“…”


Myllo pun langsung memejamkan matanya dan memasuki alam pikirannya.


Di dalam pikirannya, terdapat seorang wanita yang sedang tertidur pulas.


“*Zzzz… (suara mendengkur)”


“Oi, Zegin!”


“*Zzzz… (suara mendengkur)”


“Zegin!”


“*Zzzz… (suara mendengkur)”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Hah? Udah jalan ke mana kita?”


“KE RUMAH NENEK MOYANG LO!!!”


Teriak Myllo dengan kesal kepada seorang wanita dengan telinga kelinci


yang bernama Zegin itu.


“Apaan sih tiba-tiba bangunin—”


“Gue butuh kekuatan, sekarang!”


“Haaah?! Emangnya ada—”


“Buruan! Nggak ada waktu!”


“Ya, ya, ya… Udah Gue masukin ke Jiwa lo, ya!”


“Hehe! Makasih banyak, sobat!”


Myllo pun perlahan keluar dari dalam pikirannya.


“Hadeeeh… Punya Saint kok berani banget ya nempeleng kepala Gue?


Padahal gue sendiri juga Dewi yang nunjuk dia.”


Kata Zegin, Wind Goddess of Freedom, sambil melihat Myllo yang berjalan


keluar.


Setelah menerima kekuatan dari Zegin…


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““?!?!””


…seketika Myllo memancarkan aura yang membuat semua yang berada di tempat


itu tersungkur.


“A…A…Apa-apaan ini?!”


Pikir Bon Kargal yang tidak berani menatap Myllo.


“Hehe! Awalnya gue nggak mau pake ini. Tapi karena gue masih harus cari


Styx, jadinya gue harus selesaian ‘bisnis’ kita di sini!”


Seru Myllo kepada semua Kakak Besar.


“Si…Siapa dia sebener—”


“Hruaaaagh! Poison Cloud!”


“Ro…Roco! Jangan!”


Dengan gemetar, Roco pun dengan putus asa berusaha mengakhiri pertarungan


dengan mengeluarkan kabut beracun dari tangannya. Namun…


“Zegin Blow!”


…Myllo memutarkan tongkatnya, hingga asap beracun itu berbalik arah ke


mereka.


“Ah! Dasar—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Hah—”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Rox!”


Tanpa membuang-buang waktu, Myllo langsung terbang ke arah Rox dengan


begitu cepat dan menaklukannya.


Tidak tinggal dia, Pyrobin dan Lenia juga langsung menyerangnya dari


jarak dekat.


“Fire Knuckle!”


“*Vwumm… Vwummm… (suara pukulan api)”


“Ice Sword!”


“*Swung, swung, swung… (suara ayunan pedang)”


Akan tetapi, walaupun mereka bersama-sama menyerangnya, mereka tidak bisa


menyentuh tubuh Myllo sama sekali, seakan mereka sedang berusaha menyentuh


angin.


“Minggir kalian berdua! Biar gue a—”


“Zegin…Blow!”


“*Fwuuuushhh (suara tiupan angin kencang)”


““Aaaaarrrggh…””


Dengan kekuatan dari Zegin, Myllo memutarkan tongkatnya hingga ada angin


kencang yang menghembuskan Lenia, Pyrobin, serta Roco.


Melihat rekan-rekannya dikalahkan dengan mudah olehnya, Bon Kargal pun


mengeluarkan senjata rahasianya.


“Hraaaaaaarrrgggh!!!”


“Di…Dia itu…”


“Berserker?!”


Kata para High Elf yang melihat amukan dan teriakan Bon Kargal.


“Hey, Pria Cacat! Terima ini!”


“…”


Myllo hanya berdiri dengan tenang mendengar seruan dari Bon Kargal yang


hendak menyerangnya.


“Hraaaaarrgggh!”


“Krr…(suara cekikan)”


“Anda…telah membuat kesabaran saya habis, Orang Cacat! Jangan anda pikir


bahwa anda masih ada kesempatan untuk lari dari genggaman saya!”


Seru Bon Kargal yang berlari ke arah Myllo, lalu mencekik dan


mengangkatnya ke atas.


“He…he…!”


“Hm?! Anda pikir ini lucu?! Sebentar lagi anda akan ma—”


“*Fwush… (suara angin)”


Seketika, tubuh Myllo tak berwujud, seakan ia berubah wujud menjadi angin


dan lepas dari cekikan Bon Kargal.


“Sial! Ke mana perginya anda?!”


“…”


“Hey, Pria Ca—”


“Zegin…Smash!”


“*TUK! (suara pukulan tongkat yang sangat keras)”


“*Bruk! (suara dataran retak)”


Myllo yang berubah wujud menjadi angin tiba-tiba berada di atas Bon


Kargal dan langsung memukulnya dengan sangat keras, hingga ie menembus ke bawah.


“Huff… Huff… Waktunya gue cari Styx lagi deh!”


Kata Myllo yang kelelahan, sambil menanggalkan kekuatan Zegin.