
Ribuan tahun setelah Melchizedek kembali tiba di Kumotochi, aku kembali keluar Hidden Dungeon of Breath.
Jujur saja, kala itu aku tidak mengerti akan alasanku untuk kembali keluar dari tempat ini.
Namun jika kupikir kembali, sepertinya takdir yang membawaku keluar. Itu semua karena aku menemukan seorang Beastman yang terluka berat.
“T-Tolong… aku…”
“…”
Kutemi dirinya yang sudah tidak sadarkan diri. Karena itu aku pun membawanya ke wilayah terpencil yang tidak diketahui oleh warga Kumotochi, dimana tempat tersebut adalah tempat rahasiaku sejak dahulu kala, bersama dengan rivalku, Ryūkōgō.
“Sudah Kuduga, bahwa kau telah datang kembali, Ayasaki.”
“Ryūkōgō, kah? Tidakkah kau harus memimpin Kaum Wind Dragon?”
“Ara? Kau perhatian dengan-Ku? Bukankah seharusnya Kau yang mempimpin Kazedo—”
“Maaf karena membawa orang asing ke tempat rahasia kita.”
“Hmm… Aku tidak keberatan. Lagipula, aku sudah memiliki ini! Hahahaha!”
“…”
Ia menunjukkan Telur Naga kepadaku. Kelak telur tersebut menetas dengan Ryūhime di dalamnya.
Aku hanya menatap Ryūkōgō dengan telurnya. Lalu aku pun berpikir…
Apakah waktu Wind Dragon Empress ini akan berakhir?
“Baiklah. Aku pergi terlebih dahulu, Ayasaki. Kau bisa pakai tempat ini kapan saja, jika kau sudah bosan berada di dalam Hidden Dungeon.”
“Baiklah. Terima kasih sebanyak-banyaknya, Ryūkōgō—”
“Jika kau mau, datanglah menghampiri adikmu.”
“…”
Jujur saja, aku tidak berani menyentuh Kazedori Bakufu.
Karena di tempat ini hanya ada kenangan buruk. Mulai dari kematian ibuku, supremasi ayahku, hingga kematian bibiku, Kazedori Kazue.
“Uhuk, uhuk, uhuk…”
“Apakah kau sudah terbangun—”
“A-Aku… ada di mana…?”
“Kau baru saja kuselamatkan. Tubuh-mu terluka berat ketika aku menemukanmu.”
“Seperti itu kah? Terima kasih sebanyak-banyaknya, uhmm…”
“Saki. Itulah panggilanku.”
Ya. Anggota Perseus yang bernama Ofgurn punya kebiasaan untuk menyingkat nama kami. Karena itu aku menggunakan nama itu sebagai nama samaranku.
“Apa yang sedang kau lakukan, hingga kau terluka seperti i—”
“Aku hendak pergi menuju Dunia Bawah. Tetapi aku diserang oleh anggota klan ayahku. Andai saja… aku lebih kuat…!”
“…”
Melihat tekad pria itu mengingatkanku dengan Melchizedek dan Flamiza. Karena dari antara kami, mereka adalah orang-orang dengan tekad yang luar biasa besarnya.
Karena itu, terpikirkan olehku untuk melatihnya.
“Aku bisa melatihmu, jika memang kau ingin menjadi semakin kuat.”
“B-Baik, Saki-Shishō!”
“Eh? S-Shishō—”
“Aku mohon bimbinganmu!”
“Baiklah. Aku akan membimbingmu. Tetapi sebelum kita mulai, alangkah baiknya jika engkau perkenalkan diri—”
“Yorukiba Shikami! Itulah namaku, Saki-Shishō!”
Pria yang begitu bersemangat dan penuh gairah. Persis seperti Melchizedek.
“*Swush! Swush! Swush!”
Aku melatih Kitsujutsu pada pria itu selama lebih dari 3 bulan.
Selama kita berlatih bersama, Ryūkōgō selalu mengunjungi kami.
Tetapi, ada satu waktu di mana kedatangannya membuatku gelisah.
“Ara ara…! Apakah dirimu adalah guru yang baik, Ayasaki-Shishō…?”
“Cih! Enyahlah! Jangan ganggu kami—”
“I-Ibu… a-aku takut…”
“Sshh, ssshh, sshh… Tenanglah, anak-Ku. Maklumkanlah dirinya yang kasar.”
“…”
Ketika Ryūkōgō datang membawa anaknya, aku selalu teringat akan Melchizedek.
Jika tidak ada Hukum Alam yang membatasi hubungan antara Mahluk Intelektual yang berbeda, apakah aku bisa hidup bahagia dengan berkeluarga bersama Melchizedek?
“Saki-Shishō, apakah latihan kita telah selesai?”
“…”
Melihat Ryūkōgō dan anaknya, serta Shikami, yang seorang Mahluk Fana…
“Ya. Kita cukupkan dulu.”
…aku pun mulai merencanakan aksi tercelaku.
“Shikami, apakah kau benar-benar pergi esok hari?”
“Ya, Saki-Shishō. Terima kasih banyak untuk ilmu yang telah kau berikan selama ini.”
“Baiklah. Sebagai bentuk perpisahan kita…”
“*Brak!”
“…mari kita rayakan dengan minum bersama!”
Aku mendapatkan sangat banyak sake dari Ryūkōgō.
“*Gluk, gluk, gluk…”
“Aahhh…! T-Ternyata… seperti ini kah rasanya mabuk…?!”
Kemudian aku memabukkan muridku.
“*Zzzz…”
Ketika aku memastikan dirinya yang tertidur dan tidak sadarkan diri…
“…”
…aku mengambil benihnya, dengan bersetubuh dengannya.
Setelah ia pergi, aku mengandung benih miliknya selama 23 tahun.
Dengan terkurasnya energi kehidupan dalam Tubuh-ku, serta Mana yang semakin menipis di Jiwa-ku, aku pun berpikir, bahwa ini adalah saatnya kematian bagiku.
“Alfgorth. Syllia. Flamiza. Siegfried. Ofgurn. Grugorim. Oba-chan.”
“…”
“Aku akan datang menyusul kalian semua.”
Dengan adanya buah yang di dalam Tubuh-ku, seharusnya aku bisa mati dengan cara membunuh diriku sendiri.
Akan tetapi…
“Hruaaaaargh!”
“…”
“Keuk…!”
…entah mengapa… aku tidak bisa membunuh diriku sendiri.
Apakah mungkin karena keberanianku mulai memudar, setelah mengandung buah ini?
Atau mungkin…
Aku tidak tega untuk membunuh nyawa yang terkandung di dalam perutku?
“…”
Karena ketidakberdayaan diriku untuk membunuh diriku sendiri, maka aku membuat rencana baru pada diriku.
“Huaaaaargh!”
“B-Bagaimana dengan keadaannya?!”
“S-Sebentar lagi… bayinya akan terlahir, Ryūkōgō-sama!”
“Atur pernapasanmu! Jangan sampai kau kehilangan nyawamu, Ayasaki!”
“Haaaargh!”
Ryūkōgō dan Tanzō Kuroba, seorang Ronin dari Klan Tanzō pada masa itu, bersama-sama membantuku untuk melahirkan buah yang sudah kutanam di dalam janinku.
“Oweeek! Oweeeek!”
Bayi dalam perutku terlahir.
Aku pun berharap, agar bayi mungil ini suatu saat akan membunuhku, sebagai seorang Kaum Omega.
“I-Inilah bayi Anda, Kazedori-sama! Ia terlahir dengan sehat sempurna—”
“Siapa ayah dari anak ini, Ayasaki?!”
“…”
Aku terdiam karena tidak berani menjawab pertanyaan Ryūkōgō.
“Tunggu…! Apakah mungkin… ayah dari anak ini… adalah muridmu sendiri…?!”
“Maafkan aku, Ryūkōgō. Aku… telah mengelabuimu… dengan sake yang kau berikan—”
“*Phak!”
Tentu saja Ryūkōgō marah besar kepadaku.
Bukan karena aku berhasil menipunya. Tetapi karena aku telah melakukan tindakan yang tidak terpuji, menurut Hukum Alam di dunia ini.
“Apa yang kau rencanakan, Ayasaki?!”
“A-Aku… Aku hendak… menciptakan seseorang yang nantinya mampu membunuhku…”
““!!!””
Tentu saja mereka terkejut, seperti dirimu yang terkejut saat ini, Pria Terjanji.
“B-Bagaimana Kazedori-sama bisa—”
“Jangan tanya alasannya, Kuroba-san! Aku tidak ingin mendengar alasannya!”
“Baiklah, Ryūkōgō-sama. Tetapi bagaimana dengan anak ini?!”
“…”
Aku pun menatap Kepala Klan Tanzō, dengan niat menggunakan namaku sebagai pahlawan pada masa lampau, untuk yang terakhir kalinya.
“Tanzō-san. Bisakah aku, wanita yang turut andil dalam menyelamatkan dunia ini bersama Melchizedek, meminta bantuan darimu?”
“H-H-Hamba… siap mendengar, Kazedori-sama.”
“Aku mohon… agarnya kau mampu merawat anak ini. Asahlah kemampuannya dan persiapkan dirinya untuk menjadi seseorang yang akan membunuhku dan mewarisi senjataku, yakni Yajū no Ikari, di dalam Hidden Dungeon.”
“T-T-Tetapi… jika ia di antara kami… ia hanya akan mendapat hinaan saja… karena darah campuran pada dirinya sebagai seorang Kaum Omega, Kazedori-sama—”
“Tidak apa-apa…! Biarlah ia merasakan hal itu… agar kiranya ia meluapkan amarahnya… kepada dunia… khususnya kepadaku.”
……………
“Itulah kiranya… yang perlu kau ketahui… Pria Terjanji—”
“Tunggu! Lo belom kasih tau ke gue siapa anak itu, sampe lo bisa-bisanya kasih senjata lo ke dia!”
Nama anak itu… bahkan aku tidak mengetahuinya.
Tetapi bagaimana aku menjelaskannya kepada pria ini—
“Woy, Ayasaki…”
“….”
“Jangan bilang lo lupa sama nama anak lo sendiri—”
“Aku… tidak lupa. Aku hanya tidak mengetahui namanya… karena ia… dibawa pergi oleh Ryūkōgō beserta Tanzō Kuroba….”
“!!!”
Tentu saja ia terkejut.
Pastinya ia berpikir…
Ibu macam apa aku ini?
“Lo gila kali ya—”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan nama anakku, Pria Terjanji. Karena kau sudah bertemu dengannya.”
“G-Gue udah ketemu dia…?”
“Ya. Tentu saja… kau mengetahui… siapa yang kumaksud…”
“J-Jangan bilang… Slasher itu…”
“Benar… Ia adalah… anakku… beserta Shikami…”