
“Sebentar lagi, pria bertopeng
ini akan mati.”
Begitu lah yang ada di benak
Derrek.
Bersama dengan Ghoul Medis dan
Ghoul Terbang yang bersiap menjaganya, serta sisa Ghoul lainnya yang menjaga
sekitar lingkup atas jurang.
Derrek pun berjalan mendekati
Djinn yang terlihat sudah mati di depannya, sambil membawa Ghoul Trigger dan
hendak mengatakan sesuatu.
Dengan pongah, ia mengatakan
sesuatu kepada Djinn.
“Sudah saya bilang kan,
Petualang? Jangan anda pikir anda bisa menang melawan semua Ghoul khusus yang
saya bawa ini. Bertahan hidup saja anda tidak bisa.”
“…”
“Anda telah menghancurkan segala
yang saya usahakan demi desa saya. Bahkan pengorbanan kakak saya menjadi sangat
sia-sia. Dan nantinya sifat asli warga desa tersebut akan kembali seperti sedia
kala.”
“…”
“Maka dari itu, kematian anda pun
tidak akan cukup untuk menebus dosa anda, Petualang. Maka, lebih baik saya
jadikan anda sebagai Ghoul agar anda masih bisa menebus dosa anda, Petualang.”
“…”
Djinn tidak memberikan respon
apa-apa.
Derrek pun juga tahu bahwa Djinn
sudah tidak sadarkan diri setelah ia tidak melihat adanya pupil di matanya yang
masih terbuka.
Namun, Derrek hanya ingin
melegakan batinnya dengan menghinanya.
Derrek pun mengeluarkan Ghoul
Trigger yang berada dalam sebuah botol.
“Grriiiw!”
Ghoul Trigger tersebut
menghampiri Djinn dengan gerakan yang sangat cepat.
“Walaupun pria tersebut hanya
sebatas Kasta Hijau, kekuatan dan ketahanannya bahkan lebih besar daripada
Petualang Kasta Merah. Setidaknya ia bisa menjadi Ghoul King yang baru.”
Pikir Derrek sambil menyaksikan
Ghoul Trigger yang akan menyantap Djinn.
“Hahahaha! Tidak apa-apa saya
kehilangan anda, Lorvah! Setidaknya posisimu ada yang menggantikan!”
Tawa Derrek yang merasa sangat
puas karena tantangan terbesar sudah ia lewati.
Namun, ekspektasi Derrek justru
tidak sama dengan kenyataan yang terjadi.
“Grriiiiww!”
“Hah?! Me…Mengapa Ghoul Trigger
tersebut tidak memakan Petualang ini?!”
Tanya Derrek yang menyaksikan
Ghoul Trigger tersebut lari dari Djinn setelah menggigitnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?!”
Merasa kesal, Derrek pun menendang kepala Djinn
yang tidak sadar.
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Hey, Petualang!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Apa yang telah anda lakukan?!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Mengapa Ghoul Trigger itu tidak
memakan anda?!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Dasar keterlalu—”
“*Dhum… (suara tekanan aura)”
“!!!”
Derrek yang masih kesal dan terus
menendang Djinn tiba-tiba dibuat ketakutan oleh aura dan tatapan yang ia rasakan
darinya.
“…”
Mata Derrek begitu terkunci untuk
menatap Djinn. Tubuhnya tidak bisa bergerak karena tegang secara tiba-tiba
setelah ia merasakan aura yang begitu besar.
“…”
Sedangkan Djinn hanya menatap
Derrek tanpa adanya ekspresi.
“Aku mati. Aku mati. Aku mati.
Aku mati. Aku mati. Aku mati. Aku mati. Aku mati. Aku mati…”
Hanya dua kalimat itu saja yang
berputar di pikiran Derrek sambil ia menatap Djinn.
Namun Derrek terlalu takut,
hingga ia telat merasakan bahwa sesuatu telah terjadi selama ia merasa ketakutan
yang luar biasa.
“Uhok! Me…Mengapa tanganku—”
“…”
“Aaa…aa…AAAAAGGGGHHH!!!”
Karena terlalu takut, Derrek
tidak sadar bahwa Djinn, yang kakinya telah kembali serta tertutupnya lubang di
dadanya, telah menendangnya dengan sangat keras sambil memegang tangan
kanannya, hingga tangan kanannya lepas dari badannya.
Bahkan setelah terpental akibat
tendangan dari Djinn pun, ia baru sadar tangannya telah hilang setelah ia
menyaksikan tangannya yang dipegang oleh Djinn.
“Se…Sembuhkan saya! Obey!”
Ghoul Medis pun hendak menyembuhkan Derrek, akan
tetapi…
“*SWUSH! (suara gerakan sangat
cepat)”
“*Krrt… (suara menggenggam kepala)”
“Grrr…Grrraaa—”
“*Splash! (suara muncratan darah)”
Sebelum Ghoul Medis menyembuhkan
Derrek, Djinn mencengkram kepala Ghoul tersebut, hingga kepalanya hancur
berkeping-keping.
“Ji…Jika ia masih berada di
sini, nyawa saya bisa terancam! Oleh karena itu, ia harus dikembalikan ke atas
permukaan!”
Pikir Derrek setelah menyaksikan
Djinn yang luar biasa mengerikan.
“Avesio! Bawa Monster itu
pergi ke atas!”
“GRRAAAW!”
Ghoul Terbang pun menggigit Djinn
untuk membawanya pergi ke atas. Akan tetapi, Djinn tidak hanya diam saja.
“*Splash! (suara muncratan
darah)”
“Grraaa—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Saat hendak dibawa ke atas
permukaan, Djinn meremukkan mata Ghoul Terbang itu dan menendang Ghoul
tersebut, sambil menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat ke atas
permukaan.
Waktu ia sedang berada di atas
tanah karena sedang melompat, tiba-tiba di hadapannya ada Ghoul Pemakan yang
menggigit kakinya hingga putus saat ia jatuh ke jurang. Ghoul Pemakan hendak
memakannya lagi.
“*Splash! (suara muncratan
darah)”
Namun Ghoul tersebut tidak bisa
mengantisipasi kecepatan Djinn yang menembus tubuhnya dengan kencang, hingga
tubuhnya hancur.
“*Bruk… (suara mendarat)”
Saat berada di atas permukaan,
Djinn melihat ada beberapa Ghoul yang menatapnya dengan tujuan membunuhnya.
Ghoul Api pun menyerang Djinn
terlebih dahulu.
“GRRAAAW!”
“*Bum! Bum! Bum! (suara banyak
ledakan)”
Sama seperti sihir yang ia
gunakan saat masih menjadi Manusia, Ghoul Api menyerang Djinn dengan banyak
peluru api yang keluar dari mulutnya.
“…”
Akan tetapi Djinn tidak ada usaha
untuk menghindari serangan tersebut. Ia hanya berjalan saja ke arah Ghoul Api
sambil menerima serangannya.
Ada banyak luka bakar di sekujur
tubuhnya karena serangan Ghoul Api tersebut.
Anehnya, semua luka bakar di
tubuh Djinn tiba-tiba sembuh secara perlahan-lahan.
Dan saat Djinn berhasil mendekati
Ghoul tersebut…
“Grrr! Grr—”
“*Krrak! (suara patah tulang)”
“*Splash! (suara muncratan
darah)”
Djinn menarik mulut bagian atas
dan bagian bawah Ghoul tersebut dengan sangat kuat, hingga tubuhnya terbelah
menjadi dua.
“GRRAAAW!”
Tiba-tiba muncul Ghoul Pedang di
belakangnya saat ia baru saja mengalahkan Ghoul Api.
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
Ghoul Pedang langsung memotong
tangan Djinn.
Namun…
“…”
“Grrr! Grrr—”
“*Chrak! (suara tangan tertarik
hingga putus)”
…tangan Djinn tiba-tiba tumbuh
kembali dengan sangat cepat. Ia menggunakan tangan tersebut untuk menarik
tangan pedang dari Ghoul Pedang hingga putus.
“*Bruk! (suara membanting)”
Djinn membanting kepala Ghoul
Pedang ke tanah. Setelah itu…
“*Shruk! Shruk! Shruk! (suara
banyak tusukan)”
Djinn menusuk Ghoul Pedang dengan
tangan pedang dari Ghoul tersebut dengan sangat cepat dan tiada henti.
“GRRAAAW!”
“…”
Saat sedang menusuk Ghoul Pedang,
tiba-tiba ada batu besar yang melayang ke arah Djinn. Batu tersebut dilempar
dengan kekuatan dari Ghoul Batu.
“*Bruk! (suara memukul batu)”
“*Swush! (suara lemparan yang
kencang)”
“*Jlub! (suara tusukan pedang)”
Akan tetapi Djinn menyadari arah
dari batu tersebut. Ia pun langsung menghancurkan batu itu dan melempar pedang
dari Ghoul Pedang hingga menancap di kepala Ghoul Batu.
““GRRAAAW!””
Sekarang, Ghoul Kapak dan Ghoul
Pisau muncul di hadapannya. Keduanya hendak menyerangnya secara bersamaan.
Namun Djinn bergerak terlebih
dahulu dengan melompat melewati Ghoul Pisau, lalu memegang kepalanya dan
membantingnya.
“GRAW! GRA—”
“*Splash! (suara muncratan
darah)”
Djinn menarik paksa kepala dan
salah satu tangan dari Ghoul Pisau sampai putus. Lalu ia menggunakan kepala
tersebut dan melemparnya ke arah kepala Ghoul Kapak.
“Grrr—”
“*Jlub! (suara tusukan pisau)”
Setelah itu ia melempar tangan
Ghoul Pisau hingga tangan tersebut menusuk kepala Ghoul Pisau dan menembus ke dada
Ghoul Kapak.
“*Syuut! (suara tembakan panah)”
Setelah selesai membunuh dua
Ghoul tadi, tiba-tiba ada anak panah yang terbang ke arahnya dengan cepat. Akan
tetapi…
“*Swush! (suara lemparan
kencang)”
“*Jlub! (suara tusukan)”
…Djinn mengetahui arah tembakan
tersebut. Ia menangkap panah tersebut dan melempar balak panah tersebut.
Alhasil, muncul Ghoul Panah yang bersembunyi dengan panah yang menembus
kepalanya.
“…”
Setelah berhasil mengalahkan 9
Ghoul Petualang, sekarang yang tersisa hanya ada Ghoul Keras yang hendak menyerang
Djinn. Namun…
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Grrr…Grrr…”
Karena ia melihat tatapan kosong
dari Djinn, serta merasa tertekan karena aura yang dipancarkan Djinn, membuat
Ghoul Keras ketakutan dan hendak melarikan diri.
“*SWUSH! (suara lompatan yang
tinggi)”
“*BHUK! (suara pukulan sangat
keras)”
Namun, Djinn tidak lari. Ia
melompat dengan tinggi ke arahnya dengan pukulan yang sangat keras, hingga
menembus tanah.
Akan tetapi dengan tubuh yang
keras, Ghoul tersebut masih belum ada luka yang serius akibat pukulan tersebut.
Dan tanpa Djinn sadari, ia
kembali berada di tempat di mana Derrek hendak membuatnya menjadi Ghoul.
“*BHUK! BHUK! BHUK! BHUK! (suara
banyak pukulan keras)”
“Grraaaa…”
Djinn terus memukul Ghoul
tersebut dengan tempo yang pelan, namun dengan pukulan yang sangat keras.
Derrek pun menyaksikan Djinn yang
sedang bertarung dengan Ghoul Keras.
“Dari 9 Ghoul Petualang, hanya
Morty Manson yang masih hidup?! Siapa sebenarnya orang ini?! Mustahil kekuatan
sebesar itu hanya berada di Kasta Hijau!”
Pikir Derrek sambil menyaksikan
pembataian Djinn yang memukul Ghoul Keras tiada hentinya.