Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 55. The Real Monster



“Sebentar lagi, pria bertopeng


ini akan mati.”


Begitu lah yang ada di benak


Derrek.


Bersama dengan Ghoul Medis dan


Ghoul Terbang yang bersiap menjaganya, serta sisa Ghoul lainnya yang menjaga


sekitar lingkup atas jurang.


Derrek pun berjalan mendekati


Djinn yang terlihat sudah mati di depannya, sambil membawa Ghoul Trigger dan


hendak mengatakan sesuatu.


Dengan pongah, ia mengatakan


sesuatu kepada Djinn.


“Sudah saya bilang kan,


Petualang? Jangan anda pikir anda bisa menang melawan semua Ghoul khusus yang


saya bawa ini. Bertahan hidup saja anda tidak bisa.”


“…”


“Anda telah menghancurkan segala


yang saya usahakan demi desa saya. Bahkan pengorbanan kakak saya menjadi sangat


sia-sia. Dan nantinya sifat asli warga desa tersebut akan kembali seperti sedia


kala.”


“…”


“Maka dari itu, kematian anda pun


tidak akan cukup untuk menebus dosa anda, Petualang. Maka, lebih baik saya


jadikan anda sebagai Ghoul agar anda masih bisa menebus dosa anda, Petualang.”


“…”


Djinn tidak memberikan respon


apa-apa.


Derrek pun juga tahu bahwa Djinn


sudah tidak sadarkan diri setelah ia tidak melihat adanya pupil di matanya yang


masih terbuka.


Namun, Derrek hanya ingin


melegakan batinnya dengan menghinanya.


Derrek pun mengeluarkan Ghoul


Trigger yang berada dalam sebuah botol.


“Grriiiw!”


Ghoul Trigger tersebut


menghampiri Djinn dengan gerakan yang sangat cepat.


“Walaupun pria tersebut hanya


sebatas Kasta Hijau, kekuatan dan ketahanannya bahkan lebih besar daripada


Petualang Kasta Merah. Setidaknya ia bisa menjadi Ghoul King yang baru.”


Pikir Derrek sambil menyaksikan


Ghoul Trigger yang akan menyantap Djinn.


“Hahahaha! Tidak apa-apa saya


kehilangan anda, Lorvah! Setidaknya posisimu ada yang menggantikan!”


Tawa Derrek yang merasa sangat


puas karena tantangan terbesar sudah ia lewati.


Namun, ekspektasi Derrek justru


tidak sama dengan kenyataan yang terjadi.


“Grriiiiww!”


“Hah?! Me…Mengapa Ghoul Trigger


tersebut tidak memakan Petualang ini?!”


Tanya Derrek yang menyaksikan


Ghoul Trigger tersebut lari dari Djinn setelah menggigitnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?!”


Merasa kesal, Derrek pun menendang kepala Djinn


yang tidak sadar.


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Hey, Petualang!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Apa yang telah anda lakukan?!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Mengapa Ghoul Trigger itu tidak


memakan anda?!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Dasar keterlalu—”


“*Dhum… (suara tekanan aura)”


“!!!”


Derrek yang masih kesal dan terus


menendang Djinn tiba-tiba dibuat ketakutan oleh aura dan tatapan yang ia rasakan


darinya.


“…”


Mata Derrek begitu terkunci untuk


menatap Djinn. Tubuhnya tidak bisa bergerak karena tegang secara tiba-tiba


setelah ia merasakan aura yang begitu besar.


“…”


Sedangkan Djinn hanya menatap


Derrek tanpa adanya ekspresi.


“Aku mati. Aku mati. Aku mati.


Aku mati. Aku mati. Aku mati. Aku mati. Aku mati. Aku mati…”


Hanya dua kalimat itu saja yang


berputar di pikiran Derrek sambil ia menatap Djinn.


Namun Derrek terlalu takut,


hingga ia telat merasakan bahwa sesuatu telah terjadi selama ia merasa ketakutan


yang luar biasa.


“Uhok! Me…Mengapa tanganku—”


“…”


“Aaa…aa…AAAAAGGGGHHH!!!”


Karena terlalu takut, Derrek


tidak sadar bahwa Djinn, yang kakinya telah kembali serta tertutupnya lubang di


dadanya, telah menendangnya dengan sangat keras sambil memegang tangan


kanannya, hingga tangan kanannya lepas dari badannya.


Bahkan setelah terpental akibat


tendangan dari Djinn pun, ia baru sadar tangannya telah hilang setelah ia


menyaksikan tangannya yang dipegang oleh Djinn.


“Se…Sembuhkan saya! Obey!”


Ghoul Medis pun hendak menyembuhkan Derrek, akan


tetapi…


“*SWUSH! (suara gerakan sangat


cepat)”


“*Krrt… (suara menggenggam kepala)”


“Grrr…Grrraaa—”


“*Splash! (suara muncratan darah)”


Sebelum Ghoul Medis menyembuhkan


Derrek, Djinn mencengkram kepala Ghoul tersebut, hingga kepalanya hancur


berkeping-keping.


“Ji…Jika ia masih berada di


sini, nyawa saya bisa terancam! Oleh karena itu, ia harus dikembalikan ke atas


permukaan!”


Pikir Derrek setelah menyaksikan


Djinn yang luar biasa mengerikan.


“Avesio! Bawa Monster itu


pergi ke atas!”


“GRRAAAW!”


Ghoul Terbang pun menggigit Djinn


untuk membawanya pergi ke atas. Akan tetapi, Djinn tidak hanya diam saja.


“*Splash! (suara muncratan


darah)”


“Grraaa—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


Saat hendak dibawa ke atas


permukaan, Djinn meremukkan mata Ghoul Terbang itu dan menendang Ghoul


tersebut, sambil menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat ke atas


permukaan.


Waktu ia sedang berada di atas


tanah karena sedang melompat, tiba-tiba di hadapannya ada Ghoul Pemakan yang


menggigit kakinya hingga putus saat ia jatuh ke jurang. Ghoul Pemakan hendak


memakannya lagi.


“*Splash! (suara muncratan


darah)”


Namun Ghoul tersebut tidak bisa


mengantisipasi kecepatan Djinn yang menembus tubuhnya dengan kencang, hingga


tubuhnya hancur.


“*Bruk… (suara mendarat)”


Saat berada di atas permukaan,


Djinn melihat ada beberapa Ghoul yang menatapnya dengan tujuan membunuhnya.


Ghoul Api pun menyerang Djinn


terlebih dahulu.


“GRRAAAW!”


“*Bum! Bum! Bum! (suara banyak


ledakan)”


Sama seperti sihir yang ia


gunakan saat masih menjadi Manusia, Ghoul Api menyerang Djinn dengan banyak


peluru api yang keluar dari mulutnya.


“…”


Akan tetapi Djinn tidak ada usaha


untuk menghindari serangan tersebut. Ia hanya berjalan saja ke arah Ghoul Api


sambil menerima serangannya.


Ada banyak luka bakar di sekujur


tubuhnya karena serangan Ghoul Api tersebut.


Anehnya, semua luka bakar di


tubuh Djinn tiba-tiba sembuh secara perlahan-lahan.


Dan saat Djinn berhasil mendekati


Ghoul tersebut…


“Grrr! Grr—”


“*Krrak! (suara patah tulang)”


“*Splash! (suara muncratan


darah)”


Djinn menarik mulut bagian atas


dan bagian bawah Ghoul tersebut dengan sangat kuat, hingga tubuhnya terbelah


menjadi dua.


“GRRAAAW!”


Tiba-tiba muncul Ghoul Pedang di


belakangnya saat ia baru saja mengalahkan Ghoul Api.


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


Ghoul Pedang langsung memotong


tangan Djinn.


Namun…


“…”


“Grrr! Grrr—”


“*Chrak! (suara tangan tertarik


hingga putus)”


…tangan Djinn tiba-tiba tumbuh


kembali dengan sangat cepat. Ia menggunakan tangan tersebut untuk menarik


tangan pedang dari Ghoul Pedang hingga putus.


“*Bruk! (suara membanting)”


Djinn membanting kepala Ghoul


Pedang ke tanah. Setelah itu…


“*Shruk! Shruk! Shruk! (suara


banyak tusukan)”


Djinn menusuk Ghoul Pedang dengan


tangan pedang dari Ghoul tersebut dengan sangat cepat dan tiada henti.


“GRRAAAW!”


“…”


Saat sedang menusuk Ghoul Pedang,


tiba-tiba ada batu besar yang melayang ke arah Djinn. Batu tersebut dilempar


dengan kekuatan dari Ghoul Batu.


“*Bruk! (suara memukul batu)”


“*Swush! (suara lemparan yang


kencang)”


“*Jlub! (suara tusukan pedang)”


Akan tetapi Djinn menyadari arah


dari batu tersebut. Ia pun langsung menghancurkan batu itu dan melempar pedang


dari Ghoul Pedang hingga menancap di kepala Ghoul Batu.


““GRRAAAW!””


Sekarang, Ghoul Kapak dan Ghoul


Pisau muncul di hadapannya. Keduanya hendak menyerangnya secara bersamaan.


Namun Djinn bergerak terlebih


dahulu dengan melompat melewati Ghoul Pisau, lalu memegang kepalanya dan


membantingnya.


“GRAW! GRA—”


“*Splash! (suara muncratan


darah)”


Djinn menarik paksa kepala dan


salah satu tangan dari Ghoul Pisau sampai putus. Lalu ia menggunakan kepala


tersebut dan melemparnya ke arah kepala Ghoul Kapak.


“Grrr—”


“*Jlub! (suara tusukan pisau)”


Setelah itu ia melempar tangan


Ghoul Pisau hingga tangan tersebut menusuk kepala Ghoul Pisau dan menembus ke dada


Ghoul Kapak.


“*Syuut! (suara tembakan panah)”


Setelah selesai membunuh dua


Ghoul tadi, tiba-tiba ada anak panah yang terbang ke arahnya dengan cepat. Akan


tetapi…


“*Swush! (suara lemparan


kencang)”


“*Jlub! (suara tusukan)”


…Djinn mengetahui arah tembakan


tersebut. Ia menangkap panah tersebut dan melempar balak panah tersebut.


Alhasil, muncul Ghoul Panah yang bersembunyi dengan panah yang menembus


kepalanya.


“…”


Setelah berhasil mengalahkan 9


Ghoul Petualang, sekarang yang tersisa hanya ada Ghoul Keras yang hendak menyerang


Djinn. Namun…


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Grrr…Grrr…”


Karena ia melihat tatapan kosong


dari Djinn, serta merasa tertekan karena aura yang dipancarkan Djinn, membuat


Ghoul Keras ketakutan dan hendak melarikan diri.


“*SWUSH! (suara lompatan yang


tinggi)”


“*BHUK! (suara pukulan sangat


keras)”


Namun, Djinn tidak lari. Ia


melompat dengan tinggi ke arahnya dengan pukulan yang sangat keras, hingga


menembus tanah.


Akan tetapi dengan tubuh yang


keras, Ghoul tersebut masih belum ada luka yang serius akibat pukulan tersebut.


Dan tanpa Djinn sadari, ia


kembali berada di tempat di mana Derrek hendak membuatnya menjadi Ghoul.


“*BHUK! BHUK! BHUK! BHUK! (suara


banyak pukulan keras)”


“Grraaaa…”


Djinn terus memukul Ghoul


tersebut dengan tempo yang pelan, namun dengan pukulan yang sangat keras.


Derrek pun menyaksikan Djinn yang


sedang bertarung dengan Ghoul Keras.


“Dari 9 Ghoul Petualang, hanya


Morty Manson yang masih hidup?! Siapa sebenarnya orang ini?! Mustahil kekuatan


sebesar itu hanya berada di Kasta Hijau!”


Pikir Derrek sambil menyaksikan


pembataian Djinn yang memukul Ghoul Keras tiada hentinya.