Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 56-1. His True Motives



Ketika Djinn pingsan di hadapan


Snake dan kawanannya.


“Bawa dia kepada mereka.”


“Tunggu Snake! Tapi—”


“Tenang saja. Ia masih perlu


latihan. Mana-nya tidak stabil. Lebih baik ia lanjutkan saja


petualangannya.”


Jelas Snake kepada Gadlu yang mengkhawatirkan


keputusan Snake.


Akhirnya Gadlu menopang Djinn di


bahunya dan mereka bersama-sama keluar dari bawah tanah.


Sambil berjalan, Charvelle


berpikir tentang serangan Snake kepada Derrek, serta caranya selamat dari


pukulan keras Djinn.


“Hm? Ada apa, Charvelle?”


Tanya Snake kepada Charvelle


karena merasa diperhatikan olehnya.


“Ah nggak, cuma heran aja.


Biasanya lo nggak pernah turun ke lapangan langsung, tapi sekalinya lo turun


tangan, lo bener-bener kuat, Snake.”


“Hoo…apakah ada yang ingin anda


tanyakan?”


“Sebenernya…gue lebih penasaran


sama sihir yang lo pake, sih. Kok bisa lo manipulasi ruang dan waktu?


Bukannya itu terlarang di dunia?”


Tanya Charvelle tentang sihir


yang digunakan Snake.


“Terlarang? Mungkin jika anda


membicarakan tentang Sihir Waktu, sepertinya anda ada benarnya, Charvelle. Akan


tetapi, dunia sepertinya sedikit hipokrit. Jika mereka melarang Sihir Ruang,


mengapa masih ada teleportasi di dunia ini?”


“Be…Bener juga, sih. Kalo gitu,


kenapa mereka larang Sihir Ruang juga, ya?”


“Karena tanpa Sihir Ruang,


seseorang hanya menggunakan Sihir Waktu hanya untuk meramal masa depan atau


melihat masa lalu, Charvelle.”


Jelas Snake terkait Sihir Ruang


dan Sihir Waktu.


“Walaupun seperti itu, sepertinya


tidak ada yang begitu menguasai Sihir Waktu secara maksimal, semenjak Great


Sage Melchizedek.”


“Lagian kegunaan utama Sihir Waktu itu apa sih


sebenernya?”


“Tentu saja untuk merubah masa


lalu, Gadlu. Di samping itu…”


“Hm?”


“Dewa yang berkuasa atas


kedua sihir itu pun juga sudah tidak ada semenjak ribuan tahun yang lalu.”


““Hah?””


Charvelle dan Gadlu hanya bisa


saling bertatapan karena tidak paham akan penjelasan Snake.


“Jadi, sihir yang lo pake tadi


itu Divine Art?”


“Tapi…anda juga bisa Curse Magic?


Buktinya anda sendiri tau bahan-bahan untuk membuat Ghoul Trigger.”


“Hahaha. Saya bisa menguasai


Divine Art maupun Curse Magic. Mungkin itulah yang membuat Guild kita sampai sudah sejauh ini, kawan-kawan.”


Jawab Snake sambil menyeringai


dengan angkuh.


...................


Di tengah hutan, ketika Myllo dan


Gia hendak kembali ke desa.


“*Vrung… (suara portal)”


“Hah?! Kok ada portal?! Siapa


yang date—”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


“Aduh!”


“Maaf Gia! Tapi kita harus siap!”


“Siap sih siap, tapi jangan


langsung dilepas juga, dong!”


Tegas Gia yang kesal dengan


perlakuan Myllo, walaupun pada akhirnya ia juga langsung menyiapkan World


Quaker setelah ia melihat Myllo yang langsung menyiapkan tongkatnya.


Mereka mempersiapkan diri karena


kedatangan Snake dan rekan-rekannya dari balik portal.


“Tenang saja. Saya tidak ada


bermaksud jahat.”


Kata Snake sambil keluar dari


portal yang ia buat bersama dengan Charville dan Gadlu yang menopang Djinn di


bahunya.


““Djinn!””


Seru Myllo dan Gia yang


menyaksikan Djinn yang tidak sadarkan diri.


“Snake?”


“Ya, serahkan saja dia.”


Mendengar perintah Snake, Gadlu


langsung melempar Djinn ke arah mereka berdua. Myllo pun langsung melepas


tongkatnya dan menangkap Djinn.


“Haaah…Gadlu, tolong lah sopan


sedikit.”


“Oh! Maaf, maaf…”


Balas Gadlu.


Myllo pun mengkhawatirkan keadaan


Djinn. Sedangkan Gia sudah punya perasaan tidak enak tentang pria bertopeng


ular itu. Ia heran tentang siapa mereka dan bagaimana Djinn sudah tidak


sadarkan diri saat dibawa mereka.


“Djinn! Sadar, Djinn!”


“Tenang saja, Myllo. Kondisinya


sudah lebih baik daripada saat ia bertarung tadi.”


“Tentu saja. Oh ya, mungkin


kalian telat menyadari siapa saya, akan tetapi saya juga tidak sopan karena


tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah Snake, Myllo Olfret.”


Kata Snake yang memperkenalkan


diri di hadapan mereka berdua.


“Snake?! Jadi lo yang—”


“Kamu! Kamu yang ngerusak desa aku, kan?! Jawab!”


Tegas Gia yang tidak bisa menahan


kemarahannya setelah ia tahu bahwa orang yang berada di hadapannya adalah salah


satu dalang dibalik kemunculan Ghoul.


“Merusak? Dibandingkan dengan


kata merusak, alangkah baiknya jika digantikan dengan kata memperbaiki,


Margia.”


“!!!”


Gia terkejut ketika Snake


menyebut nama aslinya.


“Karena dengan Buah Xia, warga


menjadi buta akan harta. Dengan harta, mereka ingin memenuhi hasrat mereka.


Oleh karena itu warga menjadi kehilangan akal sehat mereka. Namun dengan Ghoul


dan doktrin yang diajarkan oleh Derrek, warga menjadi lebih beradab dan tidak


sembarang orang yang bisa menggunakan Buah Xia. Apakah saya benar?”


Jelas Snake tentang niat dan


tujuannya.


“Tapi, karena kamu, Lorvah—”


“Jujur, saya menyesali apa yang


terjadi kepada Lorvah. Beliau juga mengenal baik saya, Margia. Tapi untuk


mencapai sesuatu, pasti ada sesuatu yang bernama pengorbanan.”


Jelas Snake terkait Lorvah.


“Ke…Ke…Keterlaluan—”


“Tunggu, Gia.”


Kata Myllo yang menahan Gia yang


hendak menyerang Snake.


“Kalian juga tahan. Saya sudah


cukup melihat pertumpahan darah pada hari ini, kawan-kawan.”


Kata Snake yang menahan Gadlu dan


Charvelle yang juga hendak menyerang Myllo dan Gia.


“Tadi lo bilang apa?! Supaya


nggak sembarang orang yang beli buah aneh itu?!”


“Ya. Karena warga Xia pasti akan


melepas Buah Xia jika ditawarkan dengan harga yang tidak masuk akal oleh


siapapun.”


“Emang siapa yang mau beli?”


“Hmm…jika tidak salah, salah satu pembeli


terbesar sebelum kedatangan Ghoul itu…Children of Purgatory.”


Balas Snake terkait pembeli Buah


Xia.


“Cih!”


Myllo pun kesal setelah mendengar


nama sekte sesat tersebut.


“…”


Snake memperhatikan Myllo hingga ke dalam


tubuhnya.


“Ternyata benar. Walaupun Jiwa


anda tidak berfungsi, namun nyatanya anda adalah seorang Saint pilihan Zegin.”


“!!!”


Myllo kembali dibuat terkejut


olehnya karena ia dengan mudahnya tahu tentang keberadaan Zegin yang berada di


dalam pikirannya.


“Myllo, dia kok tau banyak


tentang kita?!”


“Itu dia yang mau gue—”


“Ya, mungkin begitu saja


pertemuan kita pada hari ini, Myllo Olfret, Margia Maevin.”


Potong Snake yang pamit kepada


Myllo dan Gia.


“Portal.”


““*Vrung… (suara portal terbuka)”


Snake pun membuka portal dengan


Sihir Ruang miliknya dan hendak pergi dari hutan tersebut.


“Tu…Tungg—”


“Ah, ya. Anda mendapat salam dari


Klavak, Myllo. Saya tidak tahu permasalahan anda dengannya, akan tetapi ia


bergabung dengan kami karena menginginkan sesuatu yang hanya ia dan Orvo


ketahui.”


“Kla…Klavak—”


“*Vrung… (suara portal tertutup)”


Snake dan kawanannya pun pergi dari


hadapan mereka berdua.


“Klavak…kenapa…?”


Bisik Myllo sambil memikirkan


Klavak.


“My…Myllo. Klavak yang dibilang


Snake itu…”


“Ya. Dia itu Keeper dari Aquilla yang dipimpin Kak Sylv…”


Jelas Myllo terkait pertanyaan


Gia.


Saat keduanya sedang dibuat


bingung oleh Snake, Djinn tiba-tiba bergumam.


“Lyz…”


““Hm?””


Karena terlalu bingung, mereka


sampai lupa akan kondisi Djinn yang masih tidak sadarkan diri.


“Myllo, jadinya gimana?”


“Hm…tunggu dia bangun aja deh.”


Balas Myllo.


Akhirnya mereka berdua duduk


bersama-sama sambil menunggu Djinn sadar.