
Ketika Djinn pingsan di hadapan
Snake dan kawanannya.
“Bawa dia kepada mereka.”
“Tunggu Snake! Tapi—”
“Tenang saja. Ia masih perlu
latihan. Mana-nya tidak stabil. Lebih baik ia lanjutkan saja
petualangannya.”
Jelas Snake kepada Gadlu yang mengkhawatirkan
keputusan Snake.
Akhirnya Gadlu menopang Djinn di
bahunya dan mereka bersama-sama keluar dari bawah tanah.
Sambil berjalan, Charvelle
berpikir tentang serangan Snake kepada Derrek, serta caranya selamat dari
pukulan keras Djinn.
“Hm? Ada apa, Charvelle?”
Tanya Snake kepada Charvelle
karena merasa diperhatikan olehnya.
“Ah nggak, cuma heran aja.
Biasanya lo nggak pernah turun ke lapangan langsung, tapi sekalinya lo turun
tangan, lo bener-bener kuat, Snake.”
“Hoo…apakah ada yang ingin anda
tanyakan?”
“Sebenernya…gue lebih penasaran
sama sihir yang lo pake, sih. Kok bisa lo manipulasi ruang dan waktu?
Bukannya itu terlarang di dunia?”
Tanya Charvelle tentang sihir
yang digunakan Snake.
“Terlarang? Mungkin jika anda
membicarakan tentang Sihir Waktu, sepertinya anda ada benarnya, Charvelle. Akan
tetapi, dunia sepertinya sedikit hipokrit. Jika mereka melarang Sihir Ruang,
mengapa masih ada teleportasi di dunia ini?”
“Be…Bener juga, sih. Kalo gitu,
kenapa mereka larang Sihir Ruang juga, ya?”
“Karena tanpa Sihir Ruang,
seseorang hanya menggunakan Sihir Waktu hanya untuk meramal masa depan atau
melihat masa lalu, Charvelle.”
Jelas Snake terkait Sihir Ruang
dan Sihir Waktu.
“Walaupun seperti itu, sepertinya
tidak ada yang begitu menguasai Sihir Waktu secara maksimal, semenjak Great
Sage Melchizedek.”
“Lagian kegunaan utama Sihir Waktu itu apa sih
sebenernya?”
“Tentu saja untuk merubah masa
lalu, Gadlu. Di samping itu…”
“Hm?”
“Dewa yang berkuasa atas
kedua sihir itu pun juga sudah tidak ada semenjak ribuan tahun yang lalu.”
““Hah?””
Charvelle dan Gadlu hanya bisa
saling bertatapan karena tidak paham akan penjelasan Snake.
“Jadi, sihir yang lo pake tadi
itu Divine Art?”
“Tapi…anda juga bisa Curse Magic?
Buktinya anda sendiri tau bahan-bahan untuk membuat Ghoul Trigger.”
“Hahaha. Saya bisa menguasai
Divine Art maupun Curse Magic. Mungkin itulah yang membuat Guild kita sampai sudah sejauh ini, kawan-kawan.”
Jawab Snake sambil menyeringai
dengan angkuh.
...................
Di tengah hutan, ketika Myllo dan
Gia hendak kembali ke desa.
“*Vrung… (suara portal)”
“Hah?! Kok ada portal?! Siapa
yang date—”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
“Aduh!”
“Maaf Gia! Tapi kita harus siap!”
“Siap sih siap, tapi jangan
langsung dilepas juga, dong!”
Tegas Gia yang kesal dengan
perlakuan Myllo, walaupun pada akhirnya ia juga langsung menyiapkan World
Quaker setelah ia melihat Myllo yang langsung menyiapkan tongkatnya.
Mereka mempersiapkan diri karena
kedatangan Snake dan rekan-rekannya dari balik portal.
“Tenang saja. Saya tidak ada
bermaksud jahat.”
Kata Snake sambil keluar dari
portal yang ia buat bersama dengan Charville dan Gadlu yang menopang Djinn di
bahunya.
““Djinn!””
Seru Myllo dan Gia yang
menyaksikan Djinn yang tidak sadarkan diri.
“Snake?”
“Ya, serahkan saja dia.”
Mendengar perintah Snake, Gadlu
langsung melempar Djinn ke arah mereka berdua. Myllo pun langsung melepas
tongkatnya dan menangkap Djinn.
“Haaah…Gadlu, tolong lah sopan
sedikit.”
“Oh! Maaf, maaf…”
Balas Gadlu.
Myllo pun mengkhawatirkan keadaan
Djinn. Sedangkan Gia sudah punya perasaan tidak enak tentang pria bertopeng
ular itu. Ia heran tentang siapa mereka dan bagaimana Djinn sudah tidak
sadarkan diri saat dibawa mereka.
“Djinn! Sadar, Djinn!”
“Tenang saja, Myllo. Kondisinya
sudah lebih baik daripada saat ia bertarung tadi.”
“Tentu saja. Oh ya, mungkin
kalian telat menyadari siapa saya, akan tetapi saya juga tidak sopan karena
tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah Snake, Myllo Olfret.”
Kata Snake yang memperkenalkan
diri di hadapan mereka berdua.
“Snake?! Jadi lo yang—”
“Kamu! Kamu yang ngerusak desa aku, kan?! Jawab!”
Tegas Gia yang tidak bisa menahan
kemarahannya setelah ia tahu bahwa orang yang berada di hadapannya adalah salah
satu dalang dibalik kemunculan Ghoul.
“Merusak? Dibandingkan dengan
kata merusak, alangkah baiknya jika digantikan dengan kata memperbaiki,
Margia.”
“!!!”
Gia terkejut ketika Snake
menyebut nama aslinya.
“Karena dengan Buah Xia, warga
menjadi buta akan harta. Dengan harta, mereka ingin memenuhi hasrat mereka.
Oleh karena itu warga menjadi kehilangan akal sehat mereka. Namun dengan Ghoul
dan doktrin yang diajarkan oleh Derrek, warga menjadi lebih beradab dan tidak
sembarang orang yang bisa menggunakan Buah Xia. Apakah saya benar?”
Jelas Snake tentang niat dan
tujuannya.
“Tapi, karena kamu, Lorvah—”
“Jujur, saya menyesali apa yang
terjadi kepada Lorvah. Beliau juga mengenal baik saya, Margia. Tapi untuk
mencapai sesuatu, pasti ada sesuatu yang bernama pengorbanan.”
Jelas Snake terkait Lorvah.
“Ke…Ke…Keterlaluan—”
“Tunggu, Gia.”
Kata Myllo yang menahan Gia yang
hendak menyerang Snake.
“Kalian juga tahan. Saya sudah
cukup melihat pertumpahan darah pada hari ini, kawan-kawan.”
Kata Snake yang menahan Gadlu dan
Charvelle yang juga hendak menyerang Myllo dan Gia.
“Tadi lo bilang apa?! Supaya
nggak sembarang orang yang beli buah aneh itu?!”
“Ya. Karena warga Xia pasti akan
melepas Buah Xia jika ditawarkan dengan harga yang tidak masuk akal oleh
siapapun.”
“Emang siapa yang mau beli?”
“Hmm…jika tidak salah, salah satu pembeli
terbesar sebelum kedatangan Ghoul itu…Children of Purgatory.”
Balas Snake terkait pembeli Buah
Xia.
“Cih!”
Myllo pun kesal setelah mendengar
nama sekte sesat tersebut.
“…”
Snake memperhatikan Myllo hingga ke dalam
tubuhnya.
“Ternyata benar. Walaupun Jiwa
anda tidak berfungsi, namun nyatanya anda adalah seorang Saint pilihan Zegin.”
“!!!”
Myllo kembali dibuat terkejut
olehnya karena ia dengan mudahnya tahu tentang keberadaan Zegin yang berada di
dalam pikirannya.
“Myllo, dia kok tau banyak
tentang kita?!”
“Itu dia yang mau gue—”
“Ya, mungkin begitu saja
pertemuan kita pada hari ini, Myllo Olfret, Margia Maevin.”
Potong Snake yang pamit kepada
Myllo dan Gia.
“Portal.”
““*Vrung… (suara portal terbuka)”
Snake pun membuka portal dengan
Sihir Ruang miliknya dan hendak pergi dari hutan tersebut.
“Tu…Tungg—”
“Ah, ya. Anda mendapat salam dari
Klavak, Myllo. Saya tidak tahu permasalahan anda dengannya, akan tetapi ia
bergabung dengan kami karena menginginkan sesuatu yang hanya ia dan Orvo
ketahui.”
“Kla…Klavak—”
“*Vrung… (suara portal tertutup)”
Snake dan kawanannya pun pergi dari
hadapan mereka berdua.
“Klavak…kenapa…?”
Bisik Myllo sambil memikirkan
Klavak.
“My…Myllo. Klavak yang dibilang
Snake itu…”
“Ya. Dia itu Keeper dari Aquilla yang dipimpin Kak Sylv…”
Jelas Myllo terkait pertanyaan
Gia.
Saat keduanya sedang dibuat
bingung oleh Snake, Djinn tiba-tiba bergumam.
“Lyz…”
““Hm?””
Karena terlalu bingung, mereka
sampai lupa akan kondisi Djinn yang masih tidak sadarkan diri.
“Myllo, jadinya gimana?”
“Hm…tunggu dia bangun aja deh.”
Balas Myllo.
Akhirnya mereka berdua duduk
bersama-sama sambil menunggu Djinn sadar.