
Di wilayah bagian Selatan
Marklett Town, saat Erkstern memimpin grupnya untuk menginvestigasi serangan
Naga di kota tersebut beberapa hari yang lalu.
“Me…Me…Mengerikan sekali kota
ini. Sa…Saya jadi merinding…”
“Iya…bener-bener jadi kota mati.”
Balas Yorech mendengar perkataan
Tylor.
“Bukannya maksud gue
ngebanding-bandingin, tapi dampak yang di terima kota ini nggak ada apa-apanya
dibanding apa yang negara gue alamin.”
““…””
“Semuanya, kalo lo nggak ada yang
kuat, saran gue lo nggak perlu ikut Quest Kuning ini. Mending kalian pikirin
keselamatan kalian masing-masing. Lo semua nggak akan ada yang bisa ngebayangin
seremnya Naga itu kayak gimana.”
Jelas Erkstern kepada rekan satu
grupnya.
“Sa…Sa…Saya tetap ikut!”
“Ya, gue juga.”
“OK. Gue minta lo semua tetep
kuat.”
““Ya!””
Seru Tylor dan Yorech yang
membalas permintaan Erkstern.
“Hm?”
“…”
Erkstern merasa ada keanehan dari
Pipippa.
“Pipippa, lo kena—”
“Ada yang dateng-nginggg…”
“Ada musuh?!”
“Semuanya siapin senjata kalian!”
““…””
Mereka semua langsung mempersiapkan
senjata mereka, kecuali Pipippa yang gemetar ketakutan.
“Lapor untuk semua ketua grup,
kemungkinan mau ada yang nyerang kita!”
Tegas Erkstern melalui Orb Call
miliknya.
“Ada yang nyerang?! Bukannya
ada pengawal waktu kita masuk tadi?!”
“Atau mungkin, pengawal itu
dibunuh?!”
Tanya Bedrock dan Morri dari Orb
Call mereka masing-masing.
“Waspada aja kalian kalo ada yang
nyerang!”
““Ya!””
Balas Bedrock dan Morri terhadap
perintah Erkstern.
“Observer, dari mana arah yang
da—”
“U…Udah dateng-nginggg!”
“Ada di mana?!”
“Ada di atas sa—”
“*Dor! (suara tembakan senapan)”
“…”
Belum selesai berbicara, Pipippa
tiba-tiba terkena tembakan dari atas dinding Marklett Town. Peluru tembakan
tersebut mengarah tepat di kepalanya.
“Pipippaaaaa!”
“Frontliner, jaga kita!”
“Y…Ya! Great Shield!”
“*Tung… (suara peluru
tertangkis)”
Tylor pun berhasil menahan
tembakan yang mengarah kepada mereka.
Sihirnya membentuk lapisan kaca
tebal yang mampu menghentikan tembakan tersebut.
“Tembakannya keliatn dari jarak
jauh. Artinya yang nembak kita itu Sniper.”
Bisik Erkstern sambil menganalisa
tembakan tadi.
“Pipippa! Ba…Bangun, brengsek!”
“…”
“Da…Dari antara kita nggak ada
yang bisa sembuhin dia?! Hah?!”
Tegas Yorech dengan air matanya
sambil menopang Pipippa di pangkuannya.
“Sebentar, biar gue cek dulu.”
“…”
“Striker, maafin gue. Dia
udah…nggak bernyawa—”
“Lo Rounder, kan?! Seenggaknya lo
bisa sihir penyembuhan, dong?!”
“Bahkan sehebat apapun sihir
penyembuhan, pasti nggak akan ada yang bisa bangkitin orang dari kematian.”
“Pi…Pipippa…hiks!”
Tangis Yorech dengan air mata
yang menetes hingga ke wajah mendiang rekannya sendiri.
“*Tung… (suara peluru
tertangkis)”
“*Krrrk… (suara retakan)”
“Pe…Pelurunya terlalu keras! Saya
semakin sulit menahannya!”
“Nggak apa-apa. Seenggaknya gue
udah tau arah serangannya dari mana.”
“M…Mengapa anda bisa tahu arah
serangan itu, Erkstern?!”
“Liat itu. Tembakannya selalu
jatuh di titik yang sama. Artinya Sniper yang nyerang kita ada di sa—Hah?!”
“A…Ada apa, Erkstern?!”
Tanya Tylor yang bingung dengan
reaksi Erkstern, yang menunjuk ke arah Sniper yang menyerang mereka.
“Ng…Nggak mungkin…”
“Sni…Sniper itu…bersayap Naga?!
Apa mungkin yang menyerang kita itu—”
“Nggak salah lagi! Yang nyerang
kita itu Dragonewt!”
Jelas Erkstern dengan ekspresi
terkejut dan marah melihat satu ras-nya sendiri yang menyerangnya.
Dragonewt yang mereka saksikan
itu menggunakan topeng dan tudung, sehingga ia terlihat misterius bagi mereka.
“Shrouding Fire!”
“*Vwumm! (suara kobaran api)”
““!!!””
Yorech dan Tylor terkejut ketika
ada sihir api dari Erkstern, yang mengelilingi mereka.
“Frontliner, lepas aja sihir
tamengnya.”
“Ta…Tapi—”
“Yang nyerang kita nggak tau
posisi kita sekarang. Hitungan ketiga, kalian langsung lari bawa Observer ini.
Gue langsung terbang ke arah Sniper itu.”
““Ya!””
“Satu…”
““…””
“Dua…”
““…””
“Sekarang!”
“*Fwush! (suara terbang kencang)”
““KEMANA TIGANYA?!””
Teriak Yorech dan Tyler kepada
Erkstern yang langsung terbang ke arah Sniper itu.
Sambil membawa mayat dari
Pipippa, Yorech berlari bersama Tylor ke arah salah satu puing-puing rumah
untuk berlindung.
Sambil berlindung, Tylor tetap
berjaga-jaga atas serangan lainnya yang akan menyerang mereka berdua.
Dragonewt?!”
“Anda benar, Yorech!”
“Apa mungkin yang nyerang desa
ini tuh—”
“*Boom! (suara ledakan)”
““!!!””
Mereka berdua kembali terkejut
ketika mendengar suara ledakan.
“Suara ledakan itu dari mana?!”
“Sepertinya dari atas sana!”
“Artinya…”
“Kemungkinan besar ledakan
tersebut berasal dari Erk—”
““AAAARRGGGGHHH!!!””
“Erkstern!”
Mendengar suara teriakan keras
Erkstern dari jarak jauh, Tylor secara spontan berlari ke arah tersebut.
“Tunggu, Tylor!”
Yorech pun juga ikut berlari
mengikuti Tylor.
Saat Yorech berhasil mengejar
Tylor, ia mendapati Tylor yang berlutut dan menangis.
“Ty…Tylor… Ada apa?!”
“Yo…Yorech…lihat ini…”
“Hah, ada a…A…AAARGH!”
Yorech terkejut setelah Tylor
memperlihatkan Erkstern yang hanya tersisa kepala saja.
“Te…Terus kita harus gima—”
“Le…Lebih baik kita lari saja
terlebih dahulu! Kita masih tidak tahu apakah Dragonewt itu masih berada di
sekitar sini atau tidak!”
“Ya!”
Sambil mereka berdua berlari
untuk menghindari Sniper itu, Tylor mengeluarkan Orb Call dari kantungnya.
“Itu Orb Call sia—”
“Bos memberikan masing-masing
dari kami sebuah Orb Call! “
Jelas Tylor kepada Yorech.
“Bo…Bos! Gawat!”
“Tylor? Ada apa?”
“E…Erkstern… dan Pipippa—”
“Tylor! Kita lari aja dulu!”
“*Crangg… (suara Orb Call pecah)”
“Ah! Tunggu!”
Yorech pun langsung menarik Tylor
yang sedang berbicara dengan Bedrock, hingga Orb Call yang ia pegang terjatuh
dan pecah.
Sambil menariknya, ia terus
menatap ke atas dinding kota untuk mengantisipasi serangan Dragonewt Sniper
itu.
“*Druk! (suara tanah tertembak)”
“OK! Gue udah tau serangannya
dari mana!”
Yorech pun melepas Tylor dan bersiap
menyerang Dragonewt Sniper itu.
“Water Blast!”
“*Bwush! (suara sihir air)”
Ia mencoba menembak dinding
tersebut dengan sihirnya.
Anehnya, tidak ada tanda-tanda pergerakan
dari Dragonewt Sniper itu.
“Kenapa nggak ada respon
apa-apa dari—”
“Yorech! Alangkah baiknya jika
kita bersembunyi terlebih dahulu!”
“Yaudah!”
Mereka pun kembali bersembunyi di
puing-puing bangunan yang runtuh di Marklett Town.
……………
“Huff…huff…huff…”
Tylor terlihat kelelahan. Ia pun
juga tetap mewaspadai keberadaan Dragonewt Sniper yang bisa menembaknya kapan
saja.
Sedangkan Yorech…
“Pipippa…”
…masih merasa kehilangan. Dengan
kepalan tangannya yang keras karena amarah yang mendalam untuk membunuh
Dragonewt misterius itu.
Tidak lama kemudian…
“*Bruk! (suara tembok runtuh)”
…Dragonewt itu datang, dengan
tubuhnya yang basah karena serangan air dari Yorech.
Dengan langkahnya yang pelan dan
waspada penuh, ia berjalan mengitari bangunan hancur tersebut, hingga ia
melihat Yorech.
Sayangnya…
“*Dor! (suara pistol)”
“*Crang! (suara cermin pecah)”
…yang ia tembak bukanlah Yorech,
melainkan bayangan dari cermin.
Dengan itu pun, Yorech langsung
menghampirinya dari belakang.
“Water Smack!”
“*Bwush! (suara pukulan air)”
“Urgh!”
“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara
menghantam puing-puing bangunan)”
Karena pukulan sihir airnya yang
keras, Yorech berhasil memukul Dragonewt itu hingga terpental jauh dan menabrak
beberapa puing bangunan.
“Cih!”
“*Dor! (suara tembakan)”
“*Tung… (suara peluru
tertangkis)”
Dragonewt itu berusaha menembak
Yorech sebelum ia menghampirinya.
Akan tetapi, Tylor berhasil
menjaga Yorech dengan sihirnya.
Sambil berjalan mengarah
Dragonewt itu dan dijaga oleh sihir Tylor, Yorech mempersiapkan serangannya
lagi untuk membunuh Dragonewt itu.
Namun…
“Kenapa lo diem aja?!”
“…”
“Keluarin senjata yang lo pake
untuk bunuh Pipippa, brengsek!”
“…”
…Dragonewt itu hanya diam saja
tanpa mengeluarkan reaksi apapun.
Melihat reaksinya, Yorech berpikir
bahwa serangannya sangat keras, hingga Dragonewt itu tidak bisa apa-apa.
Hingga…
“*Shruk! (suara tusukan)”
“Uhok!”
…ada yang menusuk Tylor dari
belakang.
Karena merasa hanya ada satu yang
harus mereka hadapi, Tylor merasa ia hanya perlu menjaga Yorech dengan
sihirnya. Ia benar-benar tidak mengira bahwa orang yang menusuknya dari
belakang hingga tewas.
“Ty…Tylor—”
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
“*Cruk! (suara peluru menembus
kepala)”
Karena tidak ada sihir Tylor,
Yorech pun lengah dan harus menerima tembakan yang membunuhnya.
Karena kejadian ini, semua
anggota Grup Selatan dari Joint Party resmi dinyatakan tewas.