Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 70. One Group Down



Di wilayah bagian Selatan


Marklett Town, saat Erkstern memimpin grupnya untuk menginvestigasi serangan


Naga di kota tersebut beberapa hari yang lalu.


“Me…Me…Mengerikan sekali kota


ini. Sa…Saya jadi merinding…”


“Iya…bener-bener jadi kota mati.”


Balas Yorech mendengar perkataan


Tylor.


“Bukannya maksud gue


ngebanding-bandingin, tapi dampak yang di terima kota ini nggak ada apa-apanya


dibanding apa yang negara gue alamin.”


““…””


“Semuanya, kalo lo nggak ada yang


kuat, saran gue lo nggak perlu ikut Quest Kuning ini. Mending kalian pikirin


keselamatan kalian masing-masing. Lo semua nggak akan ada yang bisa ngebayangin


seremnya Naga itu kayak gimana.”


Jelas Erkstern kepada rekan satu


grupnya.


“Sa…Sa…Saya tetap ikut!”


“Ya, gue juga.”


“OK. Gue minta lo semua tetep


kuat.”


““Ya!””


Seru Tylor dan Yorech yang


membalas permintaan Erkstern.


“Hm?”


“…”


Erkstern merasa ada keanehan dari


Pipippa.


“Pipippa, lo kena—”


“Ada yang dateng-nginggg…”


“Ada musuh?!”


“Semuanya siapin senjata kalian!”


““…””


Mereka semua langsung mempersiapkan


senjata mereka, kecuali Pipippa yang gemetar ketakutan.


“Lapor untuk semua ketua grup,


kemungkinan mau ada yang nyerang kita!”


Tegas Erkstern melalui Orb Call


miliknya.


“Ada yang nyerang?! Bukannya


ada pengawal waktu kita masuk tadi?!”


“Atau mungkin, pengawal itu


dibunuh?!”


Tanya Bedrock dan Morri dari Orb


Call mereka masing-masing.


“Waspada aja kalian kalo ada yang


nyerang!”


““Ya!””


Balas Bedrock dan Morri terhadap


perintah Erkstern.


“Observer, dari mana arah yang


da—”


“U…Udah dateng-nginggg!”


“Ada di mana?!”


“Ada di atas sa—”


“*Dor! (suara tembakan senapan)”


“…”


Belum selesai berbicara, Pipippa


tiba-tiba terkena tembakan dari atas dinding Marklett Town. Peluru tembakan


tersebut mengarah tepat di kepalanya.


“Pipippaaaaa!”


“Frontliner, jaga kita!”


“Y…Ya! Great Shield!”


“*Tung… (suara peluru


tertangkis)”


Tylor pun berhasil menahan


tembakan yang mengarah kepada mereka.


Sihirnya membentuk lapisan kaca


tebal yang mampu menghentikan tembakan tersebut.


“Tembakannya keliatn dari jarak


jauh. Artinya yang nembak kita itu Sniper.”


Bisik Erkstern sambil menganalisa


tembakan tadi.


“Pipippa! Ba…Bangun, brengsek!”


“…”


“Da…Dari antara kita nggak ada


yang bisa sembuhin dia?! Hah?!”


Tegas Yorech dengan air matanya


sambil menopang Pipippa di pangkuannya.


“Sebentar, biar gue cek dulu.”


“…”


“Striker, maafin gue. Dia


udah…nggak bernyawa—”


“Lo Rounder, kan?! Seenggaknya lo


bisa sihir penyembuhan, dong?!”


“Bahkan sehebat apapun sihir


penyembuhan, pasti nggak akan ada yang bisa bangkitin orang dari kematian.”


“Pi…Pipippa…hiks!”


Tangis Yorech dengan air mata


yang menetes hingga ke wajah mendiang rekannya sendiri.


“*Tung… (suara peluru


tertangkis)”


“*Krrrk… (suara retakan)”


“Pe…Pelurunya terlalu keras! Saya


semakin sulit menahannya!”


“Nggak apa-apa. Seenggaknya gue


udah tau arah serangannya dari mana.”


“M…Mengapa anda bisa tahu arah


serangan itu, Erkstern?!”


“Liat itu. Tembakannya selalu


jatuh di titik yang sama. Artinya Sniper yang nyerang kita ada di sa—Hah?!”


“A…Ada apa, Erkstern?!”


Tanya Tylor yang bingung dengan


reaksi Erkstern, yang menunjuk ke arah Sniper yang menyerang mereka.


“Ng…Nggak mungkin…”


“Sni…Sniper itu…bersayap Naga?!


Apa mungkin yang menyerang kita itu—”


“Nggak salah lagi! Yang nyerang


kita itu Dragonewt!”


Jelas Erkstern dengan ekspresi


terkejut dan marah melihat satu ras-nya sendiri yang menyerangnya.


Dragonewt yang mereka saksikan


itu menggunakan topeng dan tudung, sehingga ia terlihat misterius bagi mereka.


“Shrouding Fire!”


“*Vwumm! (suara kobaran api)”


““!!!””


Yorech dan Tylor terkejut ketika


ada sihir api dari Erkstern, yang mengelilingi mereka.


“Frontliner, lepas aja sihir


tamengnya.”


“Ta…Tapi—”


“Yang nyerang kita nggak tau


posisi kita sekarang. Hitungan ketiga, kalian langsung lari bawa Observer ini.


Gue langsung terbang ke arah Sniper itu.”


““Ya!””


“Satu…”


““…””


“Dua…”


““…””


“Sekarang!”


“*Fwush! (suara terbang kencang)”


““KEMANA TIGANYA?!””


Teriak Yorech dan Tyler kepada


Erkstern yang langsung terbang ke arah Sniper itu.


Sambil membawa mayat dari


Pipippa, Yorech berlari bersama Tylor ke arah salah satu puing-puing rumah


untuk berlindung.


Sambil berlindung, Tylor tetap


berjaga-jaga atas serangan lainnya yang akan menyerang mereka berdua.


Dragonewt?!”


“Anda benar, Yorech!”


“Apa mungkin yang nyerang desa


ini tuh—”


“*Boom! (suara ledakan)”


““!!!””


Mereka berdua kembali terkejut


ketika mendengar suara ledakan.


“Suara ledakan itu dari mana?!”


“Sepertinya dari atas sana!”


“Artinya…”


“Kemungkinan besar ledakan


tersebut berasal dari Erk—”


““AAAARRGGGGHHH!!!””


“Erkstern!”


Mendengar suara teriakan keras


Erkstern dari jarak jauh, Tylor secara spontan berlari ke arah tersebut.


“Tunggu, Tylor!”


Yorech pun juga ikut berlari


mengikuti Tylor.


Saat Yorech berhasil mengejar


Tylor, ia mendapati Tylor yang berlutut dan menangis.


“Ty…Tylor… Ada apa?!”


“Yo…Yorech…lihat ini…”


“Hah, ada a…A…AAARGH!”


Yorech terkejut setelah Tylor


memperlihatkan Erkstern yang hanya tersisa kepala saja.


“Te…Terus kita harus gima—”


“Le…Lebih baik kita lari saja


terlebih dahulu! Kita masih tidak tahu apakah Dragonewt itu masih berada di


sekitar sini atau tidak!”


“Ya!”


Sambil mereka berdua berlari


untuk menghindari Sniper itu, Tylor mengeluarkan Orb Call dari kantungnya.


“Itu Orb Call sia—”


“Bos memberikan masing-masing


dari kami sebuah Orb Call! “


Jelas Tylor kepada Yorech.


“Bo…Bos! Gawat!”


“Tylor? Ada apa?”


“E…Erkstern… dan Pipippa—”


“Tylor! Kita lari aja dulu!”


“*Crangg… (suara Orb Call pecah)”


“Ah! Tunggu!”


Yorech pun langsung menarik Tylor


yang sedang berbicara dengan Bedrock, hingga Orb Call yang ia pegang terjatuh


dan pecah.


Sambil menariknya, ia terus


menatap ke atas dinding kota untuk mengantisipasi serangan Dragonewt Sniper


itu.


“*Druk! (suara tanah tertembak)”


“OK! Gue udah tau serangannya


dari mana!”


Yorech pun melepas Tylor dan bersiap


menyerang Dragonewt Sniper itu.


“Water Blast!”


“*Bwush! (suara sihir air)”


Ia mencoba menembak dinding


tersebut dengan sihirnya.


Anehnya, tidak ada tanda-tanda pergerakan


dari Dragonewt Sniper itu.


“Kenapa nggak ada respon


apa-apa dari—”


“Yorech! Alangkah baiknya jika


kita bersembunyi terlebih dahulu!”


“Yaudah!”


Mereka pun kembali bersembunyi di


puing-puing bangunan yang runtuh di Marklett Town.


……………


“Huff…huff…huff…”


Tylor terlihat kelelahan. Ia pun


juga tetap mewaspadai keberadaan Dragonewt Sniper yang bisa menembaknya kapan


saja.


Sedangkan Yorech…


“Pipippa…”


…masih merasa kehilangan. Dengan


kepalan tangannya yang keras karena amarah yang mendalam untuk membunuh


Dragonewt misterius itu.


Tidak lama kemudian…


“*Bruk! (suara tembok runtuh)”


…Dragonewt itu datang, dengan


tubuhnya yang basah karena serangan air dari Yorech.


Dengan langkahnya yang pelan dan


waspada penuh, ia berjalan mengitari bangunan hancur tersebut, hingga ia


melihat Yorech.


Sayangnya…


“*Dor! (suara pistol)”


“*Crang! (suara cermin pecah)”


…yang ia tembak bukanlah Yorech,


melainkan bayangan dari cermin.


Dengan itu pun, Yorech langsung


menghampirinya dari belakang.


“Water Smack!”


“*Bwush! (suara pukulan air)”


“Urgh!”


“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara


menghantam puing-puing bangunan)”


Karena pukulan sihir airnya yang


keras, Yorech berhasil memukul Dragonewt itu hingga terpental jauh dan menabrak


beberapa puing bangunan.


“Cih!”


“*Dor! (suara tembakan)”


“*Tung… (suara peluru


tertangkis)”


Dragonewt itu berusaha menembak


Yorech sebelum ia menghampirinya.


Akan tetapi, Tylor berhasil


menjaga Yorech dengan sihirnya.


Sambil berjalan mengarah


Dragonewt itu dan dijaga oleh sihir Tylor, Yorech mempersiapkan serangannya


lagi untuk membunuh Dragonewt itu.


Namun…


“Kenapa lo diem aja?!”


“…”


“Keluarin senjata yang lo pake


untuk bunuh Pipippa, brengsek!”


“…”


…Dragonewt itu hanya diam saja


tanpa mengeluarkan reaksi apapun.


Melihat reaksinya, Yorech berpikir


bahwa serangannya sangat keras, hingga Dragonewt itu tidak bisa apa-apa.


Hingga…


“*Shruk! (suara tusukan)”


“Uhok!”


…ada yang menusuk Tylor dari


belakang.


Karena merasa hanya ada satu yang


harus mereka hadapi, Tylor merasa ia hanya perlu menjaga Yorech dengan


sihirnya. Ia benar-benar tidak mengira bahwa orang yang menusuknya dari


belakang hingga tewas.


“Ty…Tylor—”


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“*Cruk! (suara peluru menembus


kepala)”


Karena tidak ada sihir Tylor,


Yorech pun lengah dan harus menerima tembakan yang membunuhnya.


Karena kejadian ini, semua


anggota Grup Selatan dari Joint Party resmi dinyatakan tewas.