Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 174. Investigation Through The Poisonous Area



Sekarang kita berenam mau mulai Quest Jingga ini, di mana kita diminta untuk nyari warga Mushmush yang diculik.


Malam sebelumnya, kita makan sepuasnya di kedai yang ada di desa ini. Jujur aja, makan kita terlalu banyak, bahkan duit yang harus gue keluarin juga terlalu banyak.


Makanya itu, sekarang…


“Duh, aing teh masih kenyang, euy! Jadi males gerak, anying!”


“S-Sama… gue juga…”


“Machinno… juga.”


“Duh! Aku gendutan nggak, ya?! Kalo gendutan, semoga aja lemaknya masuk di dada aku!”


“M-Makanya… kalian makannya jangan banyak-ba—Hueeek!”


“…”


…jadi keliatan nggak siap untuk mulai Quest-nya!


Haaaah… gue kira mereka semua pada kuat makan kayak gue, ternyata mereka laper mata doang! Nggak kayak gue!


“???”


Tunggu dulu…


Kok gue ngerasa bangga, ya?


“Ayo jangan males-malesan! Kita berangkat sekarang!”


““Y-Ya…””


Emang sih kita semua pada semangat untuk jalanin Quest ini. Cuma kalo kekenyangan kayak gini, kira-kira


pada sanggup nggak ya?


……………


Sebelum jalanin Quest ini, kita semua pergi ke Guild Petualang dulu. Karena kita harus konfirmasi ulang tentang Quest yang mau kita ambil.


Waktu kita masuk ke Guild Petualang ini, ada satu hal yang beda dibanding Guild Petualang lain yang pernah kita datengin.


“Aquilla Party, ya?”


“Hehe! Bener banget!”


“Bagus, deh. Saya Guildmaster di sini, Aquilla.”


“Guildmaster langsung yang layanin kita?! Kok nggak ada resepsionis?”


“Di sini nggak ada resepsionis. Karena jarang ada Petualang di sini, jadinya personil Guild Petualang di sini cuma saya aja. Tapi sekalinya ada Petualang di sini… Cih! Bikin kesel aja!”


Ya. Beda sama Guild Petualang lainnya, yang banyak orang, di sini cuma ada Guildmaster ini doang.


“Jadi kalian semua mau jalanin Quest ini?”


“Ya.”


“Hm… Walaupun udah disetujuin Pak Kepala Desa, keliatannya kalian belom siap, deh.”


“Hah?! Apa maksud lo, Guildmaster?!”


“Tunggu sebentar.”


“…”


Loh, mau ke mana Guildmaster itu? Kenapa tiba-tiba ninggalin kita?


“…”


Hm? Dia bawain apaan tuh?


“Pakai ini.”


“Ini tuh…”


“Kostum untuk kalian. Kostum ini punya kapabilitas untuk netralisir racun-racun yang ada di Hazhroom Forest. Makanya itu, kalian nggak perlu khawatir keracunan lagi.”


“…”


K-Kenapa motifnya polkadot kayak gini…?


Eh, kalo ngomong-ngomong soal polkadot, Jamur-Jamur raksasa yang ada di sini juga ada motif polkadot, kan?


Artinya…


“Kostum ini… terbuat dari Jamur Raksasa yang ada di sini ya?”


“Ya. Anda benar, Tuan Dracorion.”


Hah?! Berarti jamur-jamur yang ada di sini bikin kita kebal racun dari jamur-jamur beracun itu?!


“Myllo! Djinn! Dalbert! Aku makin cantik nggak kalo pake kostum ini?!”


“Wuoohhh! Teh Gia teh pake apapun tetep geulis—”


“Ih! Kan aku nggak nanya kamu, Garry!”


Buset deh nih cewek! Kapan ganti bajunya?! Kok tiba-tiba udah ganti baju gitu?!


Tambah lagi… gue agak kasian sama Garry…


“Ahahaha! Motifnya totol-totol kayak gini!”


“Machinno… suka.”


“Mau apapun bajunya, gue terima-terima aja deh. Yang penting kita nggak keracunan selama jalanin Quest ini.”


Gue juga setuju sih sama Dalbert.


Lagian kalo dipikir-pikir lagi, udah berapa kali kita ganti kos—


“Tapi saya ingetin ke kalian ya.”


““Hah?””


“Kostum itu mungkin buat kalian kebal dari polusi udara beracun yang ada di Hazhroom Forest. Tapi kalo dapat


serangan langsung yang ada kandungan racunnya, tetap ada kemungkinan kalo kalian kena racun. Khususnya satu mahluk yang ada di Dungeon of Poison.”


Hah?! Dungeon?!


Eh, tapi kedengerannya bukan Hidden Dungeon, sih.


“Wuhuuu! Ada Dungeon, ya?!”


“Loh? Kalian belum dijelasin Pak Kepala Desa?”


“Belom—”


“Hmm. Mungkin Pak Kepala Desa minta kalian untuk cari warga desa, tanpa pikir kalo kalian bisa aja pergi ke


tempat itu. Lagipula, tempat itu juga dianggap bahaya. Termasuk untuk Petualang.”


““Hm?””


Dungeon itu… bahkan dianggap bahaya untuk Petualang?


“Yaudah deh. Intinya, kalo kalian masih sayang nyawa kalian, jangan coba-coba untuk masuk Dungeon itu.”


“Ada apa sama Dungeon itu?”


“Dari rekam jejak orang-orang yang masuk sana, cuma Pahlawan Dalbert aja yang bisa keluar dengan selamat.”


““!!!””


Pahlawan Dalbert?! Bukannya orang itu hidup ratusan tahun yang lalu?!


“Selain orang itu, nggak ada satupun Petualang yang keluar dengan selamat. Bahkan yang Kasta Merah sekalipun.”


“Bahkan yang Kasta Merah?! Emangnya ada apa di sana?!”


“Dangerose, dia itu Ent paling bahaya di dunia ini, yang masih belum bisa balik ke Spirit Realm.”


Ent…?


“Gia, Ent itu apa?”


“Yang aku tau sih, Ent itu Spirit Beast yang wujudnya tumbuhan humanoid yang ukurannya gede banget.”


Pantes aja Guildmaster ini bilang kalo mahluk yang dia jelasin sebelumnya belom balik ke Spirit Realm—


“Jangankan kebal dari monster itu. Mungkin aja kostum yang saya kasih ke kalian nggak tahan kebal dari serangan Kaum Jamur.”


Waduh. Ternyata kostum ini nggak ada gunanya kalo kita harus berhadapan sama Kaum Jamur atau mahluk yang dijelasin Guildmaster ini.


“Oh ya, satu lagi.”


“Ada apa lagi?”


“Hehe! Makasih ya!”


“Ya. Sama-sama.”


Semenjak kita terima peta yang dikasih resepsionis itu, kita langsung pergi dari desa ini untuk jalanin Quest ini.


“Dalbert! Gimana?!”


“Hmm. Dari yang gue liat pake elang gue, di jalur yang kiri ada jurang, Myllo. Jadi kita jalan ke kanan aja.”


“OK!”


Karena Dalbert itu Observer, tambah lagi bisa liat sekitar pake elangnya, jadinya dia yang megang peta itu—


“Semuanya. Coba kita ke sini dulu.”


Dalbert kayaknya temuin sesuatu. Terus dia langsung lari ke tempat yang dia bilang.


“Ngapain kita di sini, Dalbert? Emangnya ada apaan di sini?”


“…”


Hm?


Ini kan…


“Keliatannya ini kayak bekas kemah, Mil.”


“Bekas kemah?”


“Bener yang dibilang Djinn, Myllo. Ada bekas kayu untuk api unggun di sini. Keliatan banget dari adanya bekas kayu yang dibakar di sini.”


Ya. Selain itu, ada beberapa bekas makanan yang tumpah-tumpahan di sekitar sini.


“Kalo gitu, orang-orang yang kemah di sini tuh masih ada di deket ki—”


“Kayaknya nggak, Gia.”


“Hm? Kok kamu bisa tau, Dalbert?”


“Kalo gue perhatiin baik-baik, kemungkinan bekas bakaran ini udah lama. Mungkin sekitar 2 sampe 5 hari yang lalu.”


Artinya mereka udah lama pergi, ya?


“Myllo!”


“Ada apa, Garry?”


“Kalo gitu mah, mending kita cari wae orang-orang culik warga desa! Daripada kita cari warga desa, pasti waktunya lebih lama!”


Garry ada benernya juga, sih.


Caranya lebih efektif. Kalo kita tangkep mereka, kita bisa langsung interogasi mereka.


Tapi—


“Nggak!”


“Hah?! Kenapa atuh—”


“Kalo kayak gitu, terlalu gampang! Gue mau kita jelajahin semua yang ada di pulau ini, sampe kita berhasil dapetin warga desa yang hilang!”


“Et, sianying! Kan kita bisa keliling-keliling belakangan! Masalahnya—”


“Ger, lo itu takut ketemu Kaum Jamur atau masuk ke Dungeon of Poison, kan?”


“Hiiekh!”


Emang cara dia ada benernya, sih.


Tapi gue yakin, Si Dongo ini pasti mau lawan semuanya! Mau penculik-penculik itu, Kaum Jamur, atau monster yang ada di Dungeon of Poison!


Tambah lagi, gue juga yakin kalo Garry nyaranin cara dia supaya nggak ketemu apapun yang ada di pulau ini.


Keliatan banget kok dari ekspresi dia yang ketakutan, semenjak kita pergi dari Mushmush.


“Mil, keliatannya nggak ada lagi yang bisa diliat di sini. Mending kita lanjutin aja perjalanan kita


du—”


“Eh! Ada yang liat Machinno, nggak?!”


Hah?! Machinno?!


“Perasaan tadi dia ada di samping gue, deh! Mungkin karena gue terlalu fokus sama mata elang gue, gue jadi nggak sadar kalo dia tiba-tiba ilang!”


“Aaaaargh! Kok tiba-tiba dia hi—”


“HYAAAAHHH!!!”


Eh! Kenapa Si Mesum tiba-tiba teriak?!


“Ada apa, Garry?!”


“J-Jangan-jangan teh… Machinno udah ditelen Kaum


Ja—”


“*Tung!”


“Kamu parah banget sih, Garry!”


“Hampura, Teh Gia…”


Kirain teriak gara-gara ada apaan!


Ada-ada aja nih Si Me—


“GAWAT!!!”


Ada apa lagi, sih?! Kenapa haruss teriak-teriak?!


“Ada apa, Dalbert?!”


“M-Machinno… mau dimakan Kaum Jamur!”


“Ih, Dalbert! Seriusan—”


“Ayo ikutin gue!”


Serius dia mau dimakan Kaum Jamur?!


““…””


Gara-gara Dalbert, kita akhirnya lari ngikutin dia.


Waktu kita sampe…


“Aaaaa… Machinno digigit…”


““!!!””


…kita bener-bener ngeliat dia yang ada di mulutnya Kaum Jamur!


“…”


Kaum Jamur, ya?


Emang bentuknya kayak jamur. Tapi punya dua kaki?! Tambah lagi, yang lagi gigit Machinno itu tingginya bisa sampe 2 meter lebih!


“Semuanya! Siapin senjata kalian!”


““…””


Myllo, Gia, sama Dalbert, langsung siapin senjata mereka. Sedangkan gue—


“*Bruk!”


Cih! Sialan nih monster yang tiba-tiba nabrakin gue!


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


“Djinn! Lo nggak apa-a—”


“Gue nggak apa-apa, Mil! Tapi… liat kondisi kita sekarang?!”


“Hah?! Kok kita tiba-tiba dikepung Kaum Jamur?!”


Mungkin ada sekitar puluhan Kaum Jamur! Tapi gue nggak nyangka, kalo ada Kaum Jamur yang ukurannya lebih gede daripada yang gigit Machinno!


“Hehe! Ini ya yang katanya bisa ngasih kekuatan, kalo ada yang mau ngasih tumbal?!”


“…”


Entah kenapa, gue ngerasa kalo semua Kaum Jamur yang ada di depan kita ini bukan Monster Intelektual, yang bisa mikir atau punya perasaan.


Apa mungkin monster kayak gitu bisa ngasih orang kekuatan?