Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 264. In The Name of Revenge



Gue udah sampe di puncak Gazo Mount, tapi gue masih nggak percaya kalo orang yang disebut Master itu Mistyx.


Tapi waktu nyampe sini, ada satu hal yang bikin gue kesel.


“…”


Gue bisa liat kepala Logrim. Selain itu, gue juga liat adanya baju-baju dari anggota crew-nya dia di tengah-tengah semacam lingkaran yang aneh.


Bisa gue simpulin, kalo Iblis-Iblis tadi dateng karena Logrim sama crew-nya abis dijadiin tumbal sama orang yang namanya Master ini, yang sekarang ada di depan gue!


“Apakah kau adalah seorang Petualang yang bernama Djinn Dracorion? Hmm, aku tidak tahu jika kedatanganmu adalah sebuah tindakan bunuh diri atau tindakan yang sangat putus asa.”


“Apa maksud lo? Gue ke sini bukan untuk mau ma—”


“Biar aku memberi tahu sedikit kepada anda.”


“Waktu gue nggak banyak! Gue nggak butuh omong kosong yang keluar dari—”


“Aku hidup selama ratusan tahun. Dan selama ini, semua Petualang mengalami akhir yang serupa.”


Cih! Dasar orang sialan ini! Padahal gue nggak butuh—


“Petualang yang disebut sebagai Pahlawan, selalu mati karena berani menentang Children of Purgatory, yang kupimpin.”


“…”


Pantes aja Myllo benci banget sama sekte sesat ini.


Tapi…


“Gue juga udah tau, kok.”


“Jika kau sudah mengetahui hal tersebut, bukankah—”


“Tapi gue bukan seorang Pahlawan. Gue ini cuma Petualang yang mau keliling dunia. Makanya itu…”


“…”


“…gue nggak akan mati sekarang. Karena gue belom selesai keliling dunia!”


Mending gue pasang kuda-kuda dulu, daripada—


“Baiklah…”


“…”


“…jika kau merasa yakin dengan hal tersebut. Namun, aku pastikan bahwa kau hanya akan merasakan trauma yang sangat besar karena berani melawanku!”


Oh, dia udah berubah jadi Manusia Iblis, ya?


““*Swush!””


Dia pikir gue takut?!


“*Swushwushwushwush…”


Cara bertarung Mistyx ini juga pake tangan kosong, ya? Bagus deh, gue cuma perlu manfaatin ilmu bela diri yang diajarin Pak Jaya sama Lupherius aja…


Mungkin itu yang gue harap.


Masalahnya…


“*Swushwushwush…”


…selama gue pegang tombak yang bahkan nggak tau cara pakenya gimana, gue nggak bisa maksimalin bela diri gue sepenuhnya!


“Hruaaagh!”


“*BHUK!!!”


Cih! Anak anjing!


“*DHUK!!!”


“Akh!”


“*Srrrttt…”


Untung aja gue berhasil tendang mundur dia sampe keseret gitu! Nggak gue sangka, pukulannya keras banget!


“Fufu…”


Cih! Ngeliat dia ketawa kayak gitu bawaannya bikin gue kesel aja!


“Kau bisa menendangku sampai mundur sejauh ini?! Menarik! Bahkan Petualang yang merupakan rekan Pahlawan tidak bisa berbuat seperti itu!”


“Mana gue pikirin, anjing!”


“…”


Oho… Ternyata gitu ya cara pancing emosinya?


“Kau menyamakan diriku dengan anjing?! Bisakah kau bercermin sedikit?! Dasar anjing!”


“*SWUSH!!!”


Dia mulai bergerak.


“Swush…”


Tapi bukan artinya gue panik!


Kalo emang hinaan gue bikin dia marah, udah pasti kalo dia mulai ngasal nyerang gue! Karena itu, gerakannya jadi gampang gue baca untuk gue hindarin! Bahkan serang balik Mistyx ini juga lebih gampang!


“Heaaagh!”


“*BHUK!!!”


“Akh!”


“*BHUK!!! BHUK!!! DHUK!!!”


“*Srrtttt…”


Cih! Susah banget jatohin dia! Padahal gue pengen serangan gue tadi bikin dia kepental jauh, sampe hancurin patung itu!


“Haha… Tidak aku sangka bahwa kau secerdas itu, Petualang!”


“Emang gue pinter! Ada masalah?!”


“Tidak. Hanya saja aku tidak menyangka bahwa kau hendak memprovokasiku, agar aku menjadi lengah karena dibutakan amarah. Setelah itu, kau hendak menyerangku sekaligus menghancurkan Patung Iblis ini. Membunuh dua burung menggunakan satu batu. Kau mendapatkan hormat dariku, Djinn Dracorion.”


Dia juga tau niat gue? Hmph! Emangnya gue pikirin?


Tambah lagi…


“Gue nggak butuh rasa hormat dari orang yang mau hancurin dunia ini! Dasar anak anjing! Kalo lo hancurin dunia ini, gue nggak akan mungkin bisa kelilingin dunia ini!”


…buat apa gue butuh rasa hormat dia?!


“Hmph! Tidak kusangka bahwa aku hanya melawan seorang anak kecil yang hanya mengejar mimpinya.”


Apa dia bilang?! Anak kecil?!


“Ya, aku tidak menyalahkanmu. Karena aku sama kecilnya denganmu, yang juga memiliki mimpi.”


“Emangnya gue pedu—”


“Membiarkan ketujuh Demon Lord menguasai Geoterra, karena hanya mereka yang dapat memimpin dunia ini dengan adil. Tidak seperti dewa dan dewi biadab itu, yang hanya ingin mencari kepuasan dengan mengemukakan ideologi mereka.”


Itu mimpinya?


Kayaknya dia nggak tau sejarah Iblis sebenernya di dunia ini.


“Mereka yang mimpin dunia ini? Bukannya dimana-mana pemimpin itu cuma satu?”


“Aku berkata bahwa mereka berhak memimpin. Tetapi, semua Iblis juga mengetahui, bahwa hanya ada satu pemimpin absolut yang berhak untuk menguasai dunia ini.”


“Pemimpin absolut? Siapa maksud lo?”


“Demon Lord of Tyranny, Surzstham. Ia adalah pemimpin sejati yang berada di Demonsia. Dengan kehadirannya—”


“Dasar tolol! Tau apa lo soal pemimpin sejati Demonsia?!”


“Hm? Apa maksud—”


“Kalo nggak ada God of Joy, Aleziel, Demon Lord yang lo sebut tadi juga nggak akan lahir, brengsek!”


“!!!”


Wuohh… Ngeri juga tatapannya.


“Kau… Apakah kau mengenal seorang Apostle?!”


“Nggak. Gue cuma—”


“*ZHUMMMMMM……”


Aura Iblis-nya keras banget! Dia udah mulai serius, ya?


“Dasar nabi palsu! Ternyata ia masih berkeliaran di dunia ini! Tidak bisa kumaafkan dirinya! Tidak akan


kumaafkan dirimu!”


Oh iya, pantes aja dia nanya kayak gitu.


Apostle itu kayak Saint. Bedanya, Apostle itu pilihan Demon God, atau yang sebelumnya disebut God of Joy.


Karena Mistyx satu ini nyembah Demon Lord, pantes aja dia benci Apostle. Karena Demon Lord yang segel Demon


God, mereka bisa dibilang saling musuhan.


((Destructions Curse: Rage of Asura))


“…”


Persis kayak yang gue di “mimpi” gue!


“Baiklah, Djinn Dracorion! Karena kau sudah memancing amarahku hingga sejauh ini, tak akan kubiarkan kau hidup! Bahkan sebelum kematianmu, biar kuperlihatkan kehancuran dari negara tersebut, dengan Mistyx yang sepenuhnya menjadi Iblis!”


“*SWUSH!!!”


Brengsek! Cepet banget gerakannya!


“*Vwummwummwumm…”


Serangannya jadi lebih cepet! Tambah lagi tangan yang berapi-api ini ada sembilan!


“*Swush, swush, swush…”


Mending jaga jarak du—


“*SWUSH!!!”


“Jangan kau pikir kau bisa lari dariku, Djinn Dracorion!”


Bacot banget nih orang!


((Destructions Curse: Asura’s Doom))


Brengsek! Dia pake semua tangannya buat pukul gue?!


((Judgement: Volt Shot))


“*BOOM!!!”


““*Bruk, bruk, bruk…””


Sialan…


Nggak gue sangka kalo gue ikut kepental karena tendangan petir gue beradu sama pukulan semua tangannya!


Ya untungnya dia agak kesusahan untuk diri, karena—


“Argh!”


B-Brengsek…


Kenapa kaki gue rasanya kayak udah hancur?! Padahal kaki gue keliatan masih normal!


“Hahaha…! Aku hampir putus asa… karena sempat mengira… bahwa kakimu terlihat baik-baik saja…”


Dia tau kondisi kaki gue?!


Najis! Sihir macem apa yang dia pake?!


Bahkan kaki kiri gue mulai mati rasa!


“K-Kutukan yang aku gunakan… setara dengan kutukan milik Herald. Dengan kutukan yang kugunakan… kaki kirimu terkutuk karena menyentuh pukulan jitu milik—”


“Siapa bilang? Nih gue bisa berdiri.”


“!!!”


Untung aja gue masih bisa berdiri, walaupun gue ngerasa Mana gue udah mau abis.


Mulai netralisir kutukan yang ada di kaki gue, tambah lagi harus stabilin Jiwa gue pake tombak yang terus-terusan gue pegang ini, Mana gue jadi terkuras banget!


“Tidak kuduga… bahwa kau bisa… melukai diriku seperti ini…! Bahkan tidak semua Pahlawan… bisa memojokkanku sampai sejauh ini…”


Pahlawan pun nggak bisa? Emangnya dia pikir dia siapa?


“Hanya… Sylvia Starfell… Samuel Sorthan… dan Kirk Khedam saja… yang melukaiku separah ini…”


Siapa selain Sylvia yang dia sebutin i…


“*Bruk…”


S-Sialan… Gue udah lemes banget…! Semuanya karena Mana gue yang habis dihisap tombak ini…!


“…”


Cih! Gue udah nggak punya tenaga untuk…


“*Trang, tang, tang…”


Aduh, tombaknya lepas dari tangan gue—


“M-Maafin gue, Kak Sylv… Gue udah bunuh orang…”


“M-Maafin aku Machinno… A-Aku terlalu lemah… Aku nggak layak… sebagai Frontliner…”


“A-Aing udah nggak sanggup lagi… Maafkeun aing…”


“G-Gue nggak mau… berubah jadi Gho—”


“Satu-satunya cara untuk menghancurkan Undead Dragon tersebut adalah… merubah diriku menjadi Sea Serpent…”


“AAAAAARGGHHHH!!!!”


S-S-Sialan! SIALAN!!!


“*Bruk!”


Mereka semua… temen-temen gue… gagal untuk—


“*BHUK!!!”


“Akh!”


B-Brengsek… Dia masih sempet-sempetnya serang gue!


“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Namun, inilah kesempatanku untuk membunuhmu, karena kau adalah pria yang sangat berbahaya, Djinn Dracorion!”


D-Dasar gila nih o—


“*BHUK!!!”


“Urgh…! An… jing…!”


G-Gara-gara lengah dikit… gue jadi dihajar dia te—


“*BHUK!!!”


“Guhogh!”


“*Crat, crat, crat…”


B-Bahkan darah gue udah ngocor-ngocor gara-gara dia…!


“Jangan kau pikir aku melakukan ini tanpa tujuan, Djinn Dracorion. Jika tidak ada keadilan di dunia ini, maka aku akan membawa keadilan yang sejati di dunia ini.”


M-Masih berani dia ngomong…?!


“Bacot lo…! Kenapa… lo mau bawa Iblis… ke dunia ini…?!”


“Karena… dunia ini telah merampas duniaku. Oleh karena itu, akan kuhancurkan dunia ini dan kubentuk kembali. Satu-satunya cara adalah membawa Iblis, karena mereka memiliki ambisi yang sama denganku.”


J-Jadi dia cuma dendam aja…?!


Apa maksud di—


“AKAN KUHANCURKAN DUNIA INI!!! KALIAN SUDAH MERAMPAS KELUARGAKU!!! TIDAK AKAN KUBIARKAN DUNIA INI SELAMAT!!! BAIK MALAIKAT, NAGA, BAHKAN DEWA ATAU IBLIS, AKAN KUPAKAI SEMUANYA UNTUK MENGHANCURKAN DUNIA INI!!!”


“…”


Bocah itu kan… bocah yang teriak-teriak… sebelum Melchizedek pergi dari Kronovik…!


“!!!”


Tunggu!


Dagu bocah itu ada codet! Terus Mistyx yang di depan gue ini juga ada codet!


Artinya…


“Lo itu… dulunya warga lokal Kronovik, bukan…?”


“!!!”


Dari reaksinya… ternyata gue bener…!


“Namun, Andai Saja Aku Memusnahkan Mereka Semua.”


Jadi… maksud Melchizedek itu… karena bocah yang waktu itu… berhasil bawa kekacauan di dunia ini… sebagai ketua sekte sesat…?


“Hm? Ada yang aneh…”


Ada yang aneh?


“Sepertinya ada seorang yang kuat, yang mampu memperlambat proses Iblis dalam mengambil alih Klan Mistyx. Tidak kusangka, bahwa di negara tersebut masih ada seseorang yang kuat.”


A-Ada yang nahan…?


Siapa yang dia mak—


““LEPHTAAA!!!””


Lephta…?


D-Dia…


Nggak mungkin, kan…?