Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 156. Meeting a Fan



Kita terdampar di pulau ini. Itu semua karena uler raksasa yang nyerang kapal kita.


“Uhm… Bos…?”


“Kita ada di mana…?”


Oh ternyata beberapa anggota crew udah sadar ya? Walaupun belom semuanya selain Gia sama Dalbert, seenggaknya kita jadi yakin kalo semuanya masih hidup.


“Hmm… Kalo dari peta sih, keliatannya kita ada di Postriard Island.”


Post… apa…?


“Logrim, Logrim, Logrim! Pulau apa ini?!”


“Uhm… Gue nggak terlalu tau sih pulaunya, Bos Olfret. Yang gue tau, di sini ada pedesaan yang namanya Clamista Village, yang lokasinya ada di utara pulau ini. Sedangkan di bagian selatan pulau ini, ada negara yang namanya Gazomatron Federation.”


“Wuhuuu! Keliatannya ada banyak hal unik nih di sini! Hihi!”


“…”


Nih orang serius masih bisa ketawa-ketiwi?! Padahal kita hampir nggak selamat loh!


Ya tapi bisa apa juga sih? Mending bawa ketawa aja kayak bocah dongo satu ini.


“Oh ya! Garry! Gimana kondisi mereka berdua?!”


“Mereka teh udah mendingan, Myllo. Cuma belom sadar wae, atuh.”


Mereka berdua masih belom sadar, ya?


Entah kenapa, gue jadi ngerasa bersalah. Apalagi kalo emang bener Sea Serpent yang nyerang itu kiriman dari Malai—


“Djinn!”


“!!!”


“Udah gue bilang, jangan salahin diri lo!”


Dia ada benernya sih, cuma gue—


“Tenang aja! Mereka kuat! Pasti mereka nggak akan mati segampang itu!”


“…”


“Percaya nggak lo sama gue?!”


Dia ngebaca gue, ya?


Ya. Gue mikir terlalu berlebihan, sampe ketakutan mereka kenapa-kenapa.


Jangankan kenapa-kenapa, gue bahkan mikir kalo mereka bakalan mati.


Makanya itu gue nyalahin diri gue terus, karena gue mikir kalo mereka bakal mati dan gue nggak bisa apa-apa untuk cegah itu semua.


Untung Myllo ingetin gue, supaya gue nggak nyalahin diri gue lagi.


“Ya, Mil. Thanks.”


“Hehe! Bagus! Kalo gitu, waktunya kita—”


“…aaaaa…”


““!!!””


Siapa tuh yang teriak?!


“Bos Olfret! Tenang aja! Biar kita urus kapal ini!”


“OK! Kalo gitu, Djinn! Garry! Kita samperin suara itu!”


““Ya.””


Oh iya…


“Mil, mereka berdua gimana?”


“Tinggalin aja dulu! Mending kita pastiin aja dulu suara teriakan tadi!”


“Yaudah.”


Akhirnya kita bertiga tinggalin Gia, Dalbert, sama crew-nya Logrim untuk samperin suara tadi. Arah suaranya ada di hutan yang deket tepi pantai ini.


Waktu kita samperin suara tadi…


“Bang! Bangun, bang!”


…kita bertiga liat cewek yang bareng abangnya, yang dadanya bolong!


“Garry!”


“Siap, Myllo!”


Garry langsung sembuhin abangnya itu.


Pelan-pelan, lobang di abangnya itu mulai ketutup.


“Haaaaah… Capek juga, anying!”


“Hehe! Mantap, Garry!”


Bagus deh, seenggaknya udah aman semu—


“Tu-Tunggu…”


““Mm?””


“Ka-Kalian itu… Aquilla?!”


“Hehe! Bener banget! Nama gue Myllo Olfret! Calon Petualang Nomor Satu di Duni—”


“Kyaaaa!”


“*Phuk…”


Eh! Nih cewek kenapa?! Kok dia malah peluk kita bertiga?!


Tambah lagi, keras banget pelukannya!


“Woy! Gue lagi perkenalan! Kenapa malah dipotong?!”


Hah? Serius nih orang keselnya sama bagian itu?


“Oi, cewek! Cukup!”


“Ah, maaf…”


Untung aja dia lepasin pelukannya.


Tapi…


“Woy, Mesum! Kok lo masih peluk cewek itu?!”


“Diem, anying! Aing teh lagi—”


“Gue bilang Gia lo, ya?!”


“Aaaaa… maapkeun…”


Dasar bocah mesum! Dipeluk dikit


malah keenakan!


“Oh ya, ini Djinn sama Ga—”


“Gue tau, kok! Nih, liat!”


Oh, ternyata dia tau dari GT News, ya?


“Ma-Makasih banyak ya, Aquilla! Kalian udah sembuhin abang gue!”


“Hehe! Tenang aja!”


“Oh ya! Nama gue Dreschya! Ini abang gue yang namanya—”


“Uhm… Gue ada di… Dreschya! Lo nggak apa-a—”


“Tenang aja, bang! Lo tadi hampir mati, bang! Kalo nggak ada mereka, mungkin aja lo udah nggak hidup!”


Untung lah abangnya udah sadar.


“Mereka ini…”


“Aquilla, bang! Yang tadi kita liat di GT News!”


“Oh, gitu?”


Eh, bentar.


“Yaudah. Ayo kita balik, Dreschya.”


“Eh, bang!”


““…””


Hah? Kenapa nih orang?


“Bang! Tunggu du—”


“Nggak usah ikut campur sama Petualang, Dreschya! Mending kita balik ke—”


“Bang! Mereka ini udah selamatin nyawa lo, loh! Seenggaknya bilang makasih, kek!”


“Lo pikir gue peduli?! Petualang?! Hmph! Emangnya gue pikirin?!”


“Bang Berius! Keterlaluan lo! Lo kok nggak ada rasa terima ka—”


“Dreschya, tenang aja. Kita tolongin kalian bukan untuk berharap imbalan, kok. Khususnya…”


““…””


“…lo, Djinn! Jangan ada niatan untuk bunuh orang itu!”


Cih! Padahal gue bisa bolongin lagi tuh dadanya!


Dasar biadab nih orang!


“Hmph! Atur sesuka lo deh, Dreschya!”


““…””


Dia akhirnya pergi duluan ninggalin adeknya yang namanya Dreschya ini.


“*Tung!”


Aduh!


Kok kepala gue diketok?!


“Woy, Djinn! Kenapa juga lo mau bunuh orang itu, Djinn?!”


“Nggak. Gue cuma kesel aja sama orang yang nggak tau diuntung kayak dia.”


“Tapi kan kita nggak berharap


pamrih, bukan?!”


“Nggak sih, cuma kesel aja gue sama orang yang nggak tau di—”


“*Druk…”


Aduh, nih cewek jadi sujud deh di depan kita bertiga.


“Ma-Maafin abang gue, Aquilla! Gue nggak—”


“Oi, oi, oi! Tenang aja, Dreschya! Orang ini emang galak!”


“Myllo teh bener atuh, Teh Dreschya! Sigobloug satu ini teh emang galak kalo gonggong!”


“Ahahaha! Bener banget, Garry!”


Hah?! Gonggong?! Dasar dua bocah sialan!


“Oh iya! Kita mau minta tolong dong, Dreschya! Boleh, nggak?!”


“Minta tolong?! Boleh banget!”


Myllo akhirnya jelasin ke Dreschya kondisi sekarang, khususnya tentang Gia sama Dalbert.


Dreschya pun juga jelasin kondisi dia ke kita semua, di mana dia yang selesai berburu, tiba-tiba nggak sadar


karena ngerasain aura yang keras.


Masalahnya…


“Ge-Gerobaknya hilang! Bahkan kudanya juga hilang! Aaaaagh! Kesel banget, gue!”


…dia baru nyadar gerobak sama kudanya hilang.


“Kenapa lo baru sadar?”


“Gue terlalu panik karena abang gue nggak sekarat! Gue sampe lupa sama barang-barang yang kita bawa!”


Pelupa, ya? Udah kayak Luvast aja.


“Yaudah, kalo gitu kita mending angkat aja mereka berdua.”


“OK, Mil.”


Ujung-ujungnya, kita berdua balik ke kapal untuk angkat Gia sama Dalbert yang masih nggak sadar.


“Nggak apa-apa ya kalo kita duluan ke desanya Dreschya ya, Logrim?!”


“Tenang aja, Bos Olfret! Mungkin kita juga ke sana untuk beli kayu atau peralatan lainnya yang dibutuhin untuk benerin kapal!”


Abis ninggalin Logrim bareng crew sama kapalnya, kita bawa Gia sama Dalbert ke desanya Dreschya.


Sambil jalan, Myllo nanya-nanya soal Dreschya sama abangnya.


“Iya, kita berdua penduduk asli desa ini. Pekerjaan kita tuh Pemburu.”


“Wuoooaaaah! Kedengerannya sih nama kerjaan kalian keren!”


Pemburu?


“Emangnya lo sama abang lo berburu apa?”


“Sea Serpent.”


“Haaaaah?! Kok bisa kalian berburu Sea Serpent?!”


“Sebenernya kita dibayar Kepala Desa sih. Tapi nggak kita doang, kok! Petualang yang lain juga, kok!”


Petualang?


“Oh ada Petualang juga di desa ini?!”


“Ada dong! Mungkin yang bikin beda kita sama Petualang itu cuma satu, sih. Kalo kita dibayar langsung Kepala Desa, tapi kalo Petualang dibayar lewat Guild Petualang.”


Oalah, gitu doang bedanya.


Tapi ada yang bikin gue penasaran.


“Emangnya siapa yang ngasih komisi ke Guild Petualang?”


“Kepala Desa juga.”


““APA BEDANYA, DONG?!?!””


Nyesel gue nanya!


Nggak gue doang, bahkan orang dongo kayak Myllo pun juga kesel dengernya!


“Et! Kasar pisan, anying!”


Nih lagi Si Mesum! Pasti mau nyari kesempetannya!


“Beda sih. Itu semua karena Kepala Desa kenal baik Bang Berius. Karena…”


Mm?


“Jangan sampe Bang Berius tau soal ini, ya?”


Hm? Kenapa dia bisik-bisik ngomongnya?


“Sebenernya Bang Berius itu dulunya Petualang!”


““!!!””


Dia dulunya Petualang?!


Terus kenapa dia keliatannya benci banget sama Petualang?!


“Dia udah pensiun. Nggak, lebih tepatnya dia terpaksa pensiun.”


Terpaksa pensiun, ya?


Kok gue kayaknya mulai tau awal ceritanya gima—


“N-Nah! Kita udah sampe! Selamat datang di Clamista Village, Aquilla!”


“!!!”


Wah! Unik banget desanya!