
Hmm…
Ini kayaknya ruangan Si Kades,
deh.
Mending coba masuk aja deh.
“…”
Kayaknya di sekitar sini udah
nggak ada orang. Mungkin ini waktu yang tepat untuk geledah ruangan ini.
Gue cari berkas-berkas yang ada
di rak bukunya, tapi ini cuma laporan-laporan ke kerajaan aja.
Abis itu, gue cek di rak buku
yang satu lagi.
“Fungsi Beast Tamer Sebagai
Petualang, karya Melchizedek. Hmm…”
“Cara Menguasai Elemental Being,
karya Melchizedek.”
“Langkah Iblis dalam Penguasaan Curse
Magic, karya Melchizedek.”
Udah beberapa buku yang gue
temuin, tapi semua pengarangnya sama.
Sampe pas buku yang terakhir…
“Hal-Hal yang Paling Penting
Sebagai Petua—ah…”
Ada sesuatu yang tiba-tiba jatoh
dari buku ini.
Pas gue ambil benda yang jatoh
itu, ternyata benda yang jatoh itu foto dari Party-nya Petualang. Ada sekitar 7
orang di foto itu.
“Tunggu, orang yang paling
belakang ini…”
Gue ngebandingin foto ini sama
foto yang ada di atas pintu.
“Ohh gitu!”
Ternyata Si Kades itu mantan
Petualang juga.
“Griiii!”
Duh, kok berisik banget sih
tiba-tiba bayi Ghoul ini?!
“*Shuk, shuk, shuk! (suara
mengocok botol)”
“Gruuu…”
Huuuh, untung diem lagi nih bayi
Ghoul!
OK. Sejauh ini gue udah punya
pegang botol bayi Ghoul ini, album foto tadi, sama foto Kades ini selagi masih
jadi Petualang.
Tapi…segitu aja belum kuat
buktinya.
Gue masih harus cari bukti lagi.
Semua rak buku udah gue cari, dan
sekarang yang terakhir. Meja dia.
Di meja ini, ada tiga laci di
samping, sama 1 laci di bawah meja.
Dari 3 laci yang gue buka, cuma
ada ini aja…
Di paling laci atas, cuma ada
beberapa pisau aja. Bentuknya persis kayak pisau yang nancep di lengan gue
tadi.
Di laci tengah, ada foto orang
yang mirip kayak di halaman awal album yang tadi gue temuin sebelum ‘masuk’ ke
rumah Kades itu.
Dan yang terakhir, ada…
“Terkadang, Mahluk Fana harus
mengotori dirinya untuk membersihkan kotoran di dunia ini.”
…semacem kata-kata motivasi gitu.
Gue pun nggak ngerti maksudnya apa.
“…”
Gue mau coba buka laci yang ada
di bawah meja, tapi nggak bisa dibuka. Nah, biasanya yang kayak gini nih yang
paling rahasia.
“…”
Eh, gue telat sadarnya…
Ternyata di atas meja ini, ada
foto dua anak kecil.
“Hmm…ini anaknya?”
Sempet kepikiran kayak gitu gue.
Tapi nggak tau kenapa, gue
ngerasa harus ngebuka beberapa foto yang udah gue temuin. Dan ternyata…
“Oh, ternyata orang ini abangnya,
ya?”
Kenapa gue bisa bilang gitu?
Yang pertama. Ada dua foto yang
gambarnya itu orang yang sama. Dan orang itu persis di foto salah satu anak
ini, karena foto anak ini sama dua foto orang tadi punya satu kemiripan, ada
codet di dagunya. Jadi, kemungkinan besar mereka berdua itu orang yang sama.
Dan yang kedua, gue ngeliat ada
ciri khas dari Kades itu. Dari dia pidato di depan warganya, pertama kali
ngobrol di penjara, sampe waktu gue mau di eksekusi, tangan dia selalu pegang
pinggulnya. Sama kayak foto dari dua anak kecil ini, di mana dia pegang
pinggulnya.
Makanya itu gue bisa simpulin
kalo orang ini abangnya si Kades.
“…”
Kok gue ngerasa ada sesuatu ya
waktu pegang foto ini?
“Ohh!”
Ternyata gue nemu kunci.
Dan satu-satunya yang nggak bisa
dibuka itu…
Laci yang ada di bawah meja.
Waktu gue buka laci ini, gue cuma
nemu satu buku, yang isinya bener-bener jadi bukti paling kuat.
Ya. Buku ini ternyata catatan
kehidupannya.
“Bulan Kelima, Tahun 1419.
Saya lahir, dengan nyawa ibu saya sebagai korbannya.”
“Bulan Ketujuh, Tahun 1424.
Saya menerima panggilan Jiwa saya sebagai seorang Beast Tamer.”
“Bulan Ketigabelas, Tahun
1437. Saya memberanikan diri untuk keluar dari desa terkutuk ini untuk menjadi
seorang Petualang.”
Mungkin ada beberapa yang nggak begitu
penting dari catatan kehidupannya.
“Bulan Ketiga, Tahun 1444.
Saya berkenalan dengan seseorang yang mengetahui rahasia dunia yang kelam ini.
Orang itu bernama Snake. Dia adalah cahaya yang sangat kecil dan tidak terlihat
di dunia yang gelap ini.”
Oh, ternyata dia udah kenal sama
orang yang namanya Snake itu dari lama.
“Bulan Kelima, Tahun 1454.
Saya berdebat dengan Snake, yang mengatakan bahwa siapapun yang lahir di Xia,
pasti akan terkena kutukan akan keserakahan Saya tidak percaya dan kembali ke
Xia. Namun, kakak saya yang saya kasihi, Mahrek, sudah berubah total menjadi
orang yang sangat busuk hatinya.”
Hmm
Gia pernah bilang,
“Ya, anggep aja itu sifat asli dari warga desa ini.”
Mungkin yang dimaksud itu kayak
yang Gia bilang kali, ya? Mereka ‘terkutuk’ karena keserakahan mereka sendiri.
“Bulan Ketujuh, Tahun 1454.
Karena pertarungan dengan Sylvia Starfell, Jiwa saya rusak karena Union dari
Perempuan ****** tersebut. Maka dari itu, saya pensiun sebagai Petualang. Akan
tetapi, saya masih dipercaya oleh Snake walaupun kami bertengkar dua bulan yang
lalu. Dan semenjak itu, Proyek Pertobatan Xia hendak dimulai.”
Ohh…ternyata dia pensiun
gara-gara kakaknya Myllo.
Tapi, apaan itu? Proyek
Pertobatan Xia?
Dan abis gue baca itu, gue nemu
bukti yang bener-bener bikin gue kesel sama orang ini.
“Bulan Kedua, Tahun 1459. Demi
kedamaian seperti yang diharapkan Snake, saya terpaksa diajarkan olehnya
terkait Curse Magic, yang merupakan keahlian Iblis. Dengan kutukan tersebut,
saya menciptakan sesosok mahluk yang bernama Ghoul, dengan tumbal seseorang.
Dan tumbal pertama untuk hal ini adalah Kakak saya yang saya kasihi, Mahrek.
Ya. Mahrek adalah Ghoul pertama yang berhasil saya ciptakan.”
Gila. Bener-bener gila.
Artinya, selama ini gue, Myllo,
ataupun Gia ngelawan Manusia, bukan Monster!
Keliatannya udah cukup bukti yang
gue perluin—
“…”
Ada yang mau dateng!
Waduh…gimana caranya gue bawa
bukti sebanyak in—
“*Krieeek… (suara pintu terbuka)”
“Loh! Lo sia—”
“*Jlub! (suara pisau menancap)”
“Ah…”
Ternyata si anjing yang nuduh gue
kemarin!
Jadi reflek gue lempar pisau yang
ada di meja ini ke kepala dia!
“Griiiiw!”
“*Crang! (suara botol pecah)”
Ya! Jatoh bayi Ghoul-nya!
Gara-gara dia goyang-goyang
terus, botolnya jadi jatoh, terus pecah! Jadinya dia—
“Griiiiw! Griiiiw!”
Loh, kok dia ke arah si anjing
it—
“Haaap!”
Hah?! Dimakan?! Bahkan pisau yang
nancep di kepalanya juga dimakan!
Nggak tanggung-tanggung
bener-bener di telen…bulet…bu…
“Grrrr…”
Kok…si anjing itu…jadi Ghoul…
“Graaaa—”
“…”
Brengsek! Ternyata gitu cara buat
orang jadi Ghoul!
Ternyata bayi-bayi Ghoul itu
makan mayat supaya bisa jadi Ghoul dewasa!
“Urgh!”
Gue cekek terus Ghoul ini sampe
mati! Yang penting gimana caranya Si Anjing ini nggak bersuara!
“Grrrrr…Grrr…Gr…”
Huh…untung udah nggak sadar lagi…
Untuk jaga-jaga gue ambil pisau
Kades yang ada di laci tadi, terus gue tancep pisau itu ke kepala Si Anjing
ini.
“…”
Haaah…jadi berantakan, kan!
Mau gak mau, gue bersihin ruangan
ini, supaya ngilangin bukti, termasuk abu Si Anjing ini karena mati jadi Ghoul.
“Hmm…mending gue balik ke tempat
tadi, deh.”
Akhirnya gue balik ke ruangan
sebelumnya untuk balik ke wilayah bawah tanah tadi.
Artinya, sekarang gue punya foto
album, foto Si Kades waktu jadi Petualang, sama Catatan Harian dia.
“*Vrung… (suara portal terbuka)”
Bagus. Waktunya gue balik ke
bawah tanah.
Tapi waktu gue balik…
“Hey! Mengapa anda datang dari
rumah Kepala De—”
“*Bhuk! (suara memukul)”
Duh, jangan berisik, dong! Nanti
gue gagal nyamarnya!
Abis hajar orang bertopeng yang
‘nyambut’ gue tadi, gue perhatiin botol-botol yang isinya bayi Ghoul tadi.
Hmm…kira-kira gue masih butuh
bukti lagi gak ya? Kalo butuh, mungkin gue masih perlu ambil la—
“Ke…Kenapa gue diiket?!”
Eh, ada apaan tuh?
Gue coba ikutin arah suaranya.
Se-sampenya gue di arah suara
itu, gue bisa liat ada Si Kades bareng orang-orang bertudung ini yang lagi berdiri
di depan salah satu tahanan yang dipasung.
Kalo gue perhatiin lagi, yang
dipasung itu sebenernya bandit yang gue temuin dipanjara tadi.
Tapi gue nggak bisa buat apa-apa
untuk bandit itu, karena gue sendiri lagi nyamar di tengah-tengah orang pake
tudung ini.
“*Shrak! (suara menebas kepala)”
“Dengan darah ini, Aku akan
menguasaimu! Patuhlah kepadaku! Taatilah perintahku, seperti darahku yang
mengalir di dalam dirimu!”
“…”
“Obey!”
“…”
Bandit itu dibunuh. Abis itu…
“Griiiiw! HAAAAUUP!”
…bayi Ghoul yang dia pegang
langsung makan dia, sampe dia jadi Ghoul.
“Grrr…Grrr…”
“Derrek, sepertinya Ghoul ini
kurang mengintimidasi.”
“Jangan dibunuh. Biarkan ia
dimakan oleh Ghoul lainnya.”
Hah?! Ghoul bisa kanibal juga?!
Tapi gimana cara bikin Ghoul
makan Ghoul?
“Oleskan Ghoul ini dengan pisau
yang anda gunakan untuk menebas kepalanya.”
“Baik, Derrek.”
Dioles pake darahnya sendiri?
“Grrr…”
“Bawa produk gagal ini ke Kandang
Khusus.”
““Baik.””
Kandang Khusus?
Emangnya itu tempat apa?
“Derrek, apakah anda hendak
kembali ke rumah anda?”
“Tidak. Saya hendak menemui mereka.”
Mereka ini maksudnya siapa?
Masih terlalu banyak misteri. Mau
nggak mau, gue harus tetep ikutin mereka.
Makin gue ikutin, gue makin nyium
bau yang nggak enak banget.
“Umph!”
“Anda masih belum terbiasa dengan
aroma ruangan ini, ya?”
“Te…Tentu saja, Derrek.”
Bahkan salah satu orang bertudung
ini nggak kuat nyium baunya.
Makin gue ikutin mereka sampe ke
Kandang Khusus, gue bisa liat sumber dari bau itu.
“Hey, kalian para Ghoul! Makanlah
ini!”
Ini yang namanya Kandang Khusus,
di mana ada beberapa Ghoul yang diternak!
Di bawah tempat ini, ternyata ada
banyak banget mayat yang dimakan sama Ghoul-Ghoul ini!
Tapi dari beberapa Ghoul ini, ada
satu yang narik perhatian. Ghoul yang satu ini bener-bener rakus banget, bahkan
Ghoul-Ghoul yang lain dihajar sama Ghoul ini.
“Menyedihkan sekali wujud anda,
Kakak.”
Hah?! Kakak?! Maksudnya abangnya
dia yang jadi Ghoul pertama buatan dia?!
“Bahkan menjadi Ghoul pun, anda
bahkan lebih rakus daripada saat anda masih hidup, Kakak…hiks!”
Ternyata abangnya itu Ghoul yang
rakus itu?!
Brengsek!
Nggak punya hak lo untuk nangis, dasar
setan!
“Derrek, bagaimana dengan dua
Petualang itu, serta wanita dari desa anda?”
“Biarkan saja. Semoga mereka mati
melawan ratusan Ghoul.”
Tuh kan?!
Kita dijebak!
“Ratusan Ghoul? Bagaimana jika
mereka berhasil mengalahkannya?”
“Tenang saja. Mereka sepertinya
tidak begitu kuat untuk mengalahkan Lorvah.”
Lorvah?! Maksudnya panutan Gia?!
“Lorvah, ya. Sudah 10 tahun lamanya, saya sampai
lupa kalau ia adalah identitas asli dari Ghoul King!”
“Ya. Orang itu adalah eksperimen
paling sempurna dan Ghoul yang paling sulit untuk dijinak—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
““!!!””
Entah kenapa, gue dengernya kesel
banget!
Rasa kesel ini karena rasa kasian
gue sama Gia, di mana dia secara nggak sadar harus berhadapan sama orang yang
jadi panutannya!
Gue udah nggak perlu nahan lagi
untuk nyamar-nyamar kayak gini lagi!
“Dasar anjing lo, Derrek!”
“Ha…Hah?! Anda adalah—”
“Gantian lo yang jadi makanan
Ghoul, DERREK—”
“Grappling Chains!”
“*Kriiing… (suara rantai)”
“Cih!”
Kok tiba-tiba ada rantai dari tanah?!
“Apa yang anda lakukan, Derrek?!
Cepat pergi dari sini!”
“Ba…Ba…Baiklah!”
“!!!”
Brengsek! Mereka mau lari!
“Saya akan menahan mereka! Cepat
kalian pergi dari tempat ini!”
““Ya!””
Sialan!
“Djin…nardio…Vamulran! Saya tidak
bisa akan membiarkan anda masuk ke tempat i—”
“*Krang! (suara rantai hancur)”
“Sial! Ternyata anda kuat seka—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
Brengsek!
Gue kira mereka tau identitas Gia
aja! Bahkan identitas ‘gue’ sendiri pun mereka juga tau?!
Ah, jangan pikirin bagian itu
dulu! Mending gue kejar Derrek dulu aja!
..................
“Derrek! Masuk ke dalam portal
dan hancurkan Advanced Portal ketika anda kembali ke rumah anda!”
“Ba…Baiklah! Maafkan saya,
rekan-rekan—”
“DERREK!!!”
Brengsek! Dia mau lari ke
rumahnya!
“Fire Ball!”
“*Vwumm! (suara api)”
“Ups!”
Brengsek nih mereka semua yang
pake sihir—
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Abis lempar bola api itu, dia
langsung lompat ke arah gue.
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Argh!”
“Ayo kalahkan dia! Jangan biarkan
ia—”
“*Bhuk! Dhuk! (suara pukulan dan tendangan)”
""…""
Orang-orang bertudung ini udah
selesai gue lawan.
Kalo gitu gue lanjut kejar Derrek
lagi.
Masalahnya sekarang…
“*Klik! (suara menekan tombol)”
“…”
“*Klik, klik, klik, klik… (suara
menekan tombol dengan banyak)”
“Cih! Dasar anjing!”
…Derrek berhasil kabur!
Ngeliat ada beberapa mayat
pasukan aneh ini, gue jadi obrolan gue sama Myllo waktu kita pertama kali
ketemu ‘Orang Misterius’ yang langsung pergi abis dia ngusir kita yang abis
pertama kali lawan Ghoul…
..................
“Myl.”
“Hm? Apaan?”
“Kenapa lo biarin mereka kabur?!
Harusnya lo bunuh aja!”
“Hmm…nggak tau sih. Gue cuma
ngebayangin kalo mereka Manusia gila. Kalo mereka Manusia, mereka pasti nggak
layak dibunuh, kan?!”
“Hmm…”
..................
Gue kira itu karena dia aja yang
terlalu naif. Ternyata insting dia 100% bener.
Jangankan Ghoul.
Udah berapa orang yang gue bunuh
di dunia ini?
Anehnya, gue nggak pernah panik
atau ada rasa bersalah bunuh mereka semu—
“…uuaaaaa…”
Itu rauman apaan?! Kok kayaknya kenceng banget?!
Jangan-jangan…
Ah iya! Myllo sama Gia, ya?!
Daripada mikirin yang aneh-aneh, mending gue susul
mereka dulu aja, deh!