Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 47. Their Best Sacrifice



Hmm…


Ini kayaknya ruangan Si Kades,


deh.


Mending coba masuk aja deh.


“…”


Kayaknya di sekitar sini udah


nggak ada orang. Mungkin ini waktu yang tepat untuk geledah ruangan ini.


Gue cari berkas-berkas yang ada


di rak bukunya, tapi ini cuma laporan-laporan ke kerajaan aja.


Abis itu, gue cek di rak buku


yang satu lagi.


“Fungsi Beast Tamer Sebagai


Petualang, karya Melchizedek. Hmm…”


“Cara Menguasai Elemental Being,


karya Melchizedek.”


“Langkah Iblis dalam Penguasaan Curse


Magic, karya Melchizedek.”


Udah beberapa buku yang gue


temuin, tapi semua pengarangnya sama.


Sampe pas buku yang terakhir…


“Hal-Hal yang Paling Penting


Sebagai Petua—ah…”


Ada sesuatu yang tiba-tiba jatoh


dari buku ini.


Pas gue ambil benda yang jatoh


itu, ternyata benda yang jatoh itu foto dari Party-nya Petualang. Ada sekitar 7


orang di foto itu.


“Tunggu, orang yang paling


belakang ini…”


Gue ngebandingin foto ini sama


foto yang ada di atas pintu.


“Ohh gitu!”


Ternyata Si Kades itu mantan


Petualang juga.


“Griiii!”


Duh, kok berisik banget sih


tiba-tiba bayi Ghoul ini?!


“*Shuk, shuk, shuk! (suara


mengocok botol)”


“Gruuu…”


Huuuh, untung diem lagi nih bayi


Ghoul!


OK. Sejauh ini gue udah punya


pegang botol bayi Ghoul ini, album foto tadi, sama foto Kades ini selagi masih


jadi Petualang.


Tapi…segitu aja belum kuat


buktinya.


Gue masih harus cari bukti lagi.


Semua rak buku udah gue cari, dan


sekarang yang terakhir. Meja dia.


Di meja ini, ada tiga laci di


samping, sama 1 laci di bawah meja.


Dari 3 laci yang gue buka, cuma


ada ini aja…


Di paling laci atas, cuma ada


beberapa pisau aja. Bentuknya persis kayak pisau yang nancep di lengan gue


tadi.


Di laci tengah, ada foto orang


yang mirip kayak di halaman awal album yang tadi gue temuin sebelum ‘masuk’ ke


rumah Kades itu.


Dan yang terakhir, ada…


“Terkadang, Mahluk Fana harus


mengotori dirinya untuk membersihkan kotoran di dunia ini.”


…semacem kata-kata motivasi gitu.


Gue pun nggak ngerti maksudnya apa.


“…”


Gue mau coba buka laci yang ada


di bawah meja, tapi nggak bisa dibuka. Nah, biasanya yang kayak gini nih yang


paling rahasia.


“…”


Eh, gue telat sadarnya…


Ternyata di atas meja ini, ada


foto dua anak kecil.


“Hmm…ini anaknya?”


Sempet kepikiran kayak gitu gue.


Tapi nggak tau kenapa, gue


ngerasa harus ngebuka beberapa foto yang udah gue temuin. Dan ternyata…


“Oh, ternyata orang ini abangnya,


ya?”


Kenapa gue bisa bilang gitu?


Yang pertama. Ada dua foto yang


gambarnya itu orang yang sama. Dan orang itu persis di foto salah satu anak


ini, karena foto anak ini sama dua foto orang tadi punya satu kemiripan, ada


codet di dagunya. Jadi, kemungkinan besar mereka berdua itu orang yang sama.


Dan yang kedua, gue ngeliat ada


ciri khas dari Kades itu. Dari dia pidato di depan warganya, pertama kali


ngobrol di penjara, sampe waktu gue mau di eksekusi, tangan dia selalu pegang


pinggulnya. Sama kayak foto dari dua anak kecil ini, di mana dia pegang


pinggulnya.


Makanya itu gue bisa simpulin


kalo orang ini abangnya si Kades.


“…”


Kok gue ngerasa ada sesuatu ya


waktu pegang foto ini?


“Ohh!”


Ternyata gue nemu kunci.


Dan satu-satunya yang nggak bisa


dibuka itu…


Laci yang ada di bawah meja.


Waktu gue buka laci ini, gue cuma


nemu satu buku, yang isinya bener-bener jadi bukti paling kuat.


Ya. Buku ini ternyata catatan


kehidupannya.


“Bulan Kelima, Tahun 1419.


Saya lahir, dengan nyawa ibu saya sebagai korbannya.”


“Bulan Ketujuh, Tahun 1424.


Saya menerima panggilan Jiwa saya sebagai seorang Beast Tamer.”


“Bulan Ketigabelas, Tahun


1437. Saya memberanikan diri untuk keluar dari desa terkutuk ini untuk menjadi


seorang Petualang.”


Mungkin ada beberapa yang nggak begitu


penting dari catatan kehidupannya.


“Bulan Ketiga, Tahun 1444.


Saya berkenalan dengan seseorang yang mengetahui rahasia dunia yang kelam ini.


Orang itu bernama Snake. Dia adalah cahaya yang sangat kecil dan tidak terlihat


di dunia yang gelap ini.”


Oh, ternyata dia udah kenal sama


orang yang namanya Snake itu dari lama.


“Bulan Kelima, Tahun 1454.


Saya berdebat dengan Snake, yang mengatakan bahwa siapapun yang lahir di Xia,


pasti akan terkena kutukan akan keserakahan Saya tidak percaya dan kembali ke


Xia. Namun, kakak saya yang saya kasihi, Mahrek, sudah berubah total menjadi


orang yang sangat busuk hatinya.”


Hmm


Gia pernah bilang,


“Ya, anggep aja itu sifat asli dari warga desa ini.”


Mungkin yang dimaksud itu kayak


yang Gia bilang kali, ya? Mereka ‘terkutuk’ karena keserakahan mereka sendiri.


“Bulan Ketujuh, Tahun 1454.


Karena pertarungan dengan Sylvia Starfell, Jiwa saya rusak karena Union dari


Perempuan ****** tersebut. Maka dari itu, saya pensiun sebagai Petualang. Akan


tetapi, saya masih dipercaya oleh Snake walaupun kami bertengkar dua bulan yang


lalu. Dan semenjak itu, Proyek Pertobatan Xia hendak dimulai.”


Ohh…ternyata dia pensiun


gara-gara kakaknya Myllo.


Tapi, apaan itu? Proyek


Pertobatan Xia?


Dan abis gue baca itu, gue nemu


bukti yang bener-bener bikin gue kesel sama orang ini.


“Bulan Kedua, Tahun 1459. Demi


kedamaian seperti yang diharapkan Snake, saya terpaksa diajarkan olehnya


terkait Curse Magic, yang merupakan keahlian Iblis. Dengan kutukan tersebut,


saya menciptakan sesosok mahluk yang bernama Ghoul, dengan tumbal seseorang.


Dan tumbal pertama untuk hal ini adalah Kakak saya yang saya kasihi, Mahrek.


Ya. Mahrek adalah Ghoul pertama yang berhasil saya ciptakan.”


Gila. Bener-bener gila.


Artinya, selama ini gue, Myllo,


ataupun Gia ngelawan Manusia, bukan Monster!


Keliatannya udah cukup bukti yang


gue perluin—


“…”


Ada yang mau dateng!


Waduh…gimana caranya gue bawa


bukti sebanyak in—


“*Krieeek… (suara pintu terbuka)”


“Loh! Lo sia—”


“*Jlub! (suara pisau menancap)”


“Ah…”


Ternyata si anjing yang nuduh gue


kemarin!


Jadi reflek gue lempar pisau yang


ada di meja ini ke kepala dia!


“Griiiiw!”


“*Crang! (suara botol pecah)”


Ya! Jatoh bayi Ghoul-nya!


Gara-gara dia goyang-goyang


terus, botolnya jadi jatoh, terus pecah! Jadinya dia—


“Griiiiw! Griiiiw!”


Loh, kok dia ke arah si anjing


it—


“Haaap!”


Hah?! Dimakan?! Bahkan pisau yang


nancep di kepalanya juga dimakan!


Nggak tanggung-tanggung


bener-bener di telen…bulet…bu…


“Grrrr…”


Kok…si anjing itu…jadi Ghoul…


“Graaaa—”


“…”


Brengsek! Ternyata gitu cara buat


orang jadi Ghoul!


Ternyata bayi-bayi Ghoul itu


makan mayat supaya bisa jadi Ghoul dewasa!


“Urgh!”


Gue cekek terus Ghoul ini sampe


mati! Yang penting gimana caranya Si Anjing ini nggak bersuara!


“Grrrrr…Grrr…Gr…”


Huh…untung udah nggak sadar lagi…


Untuk jaga-jaga gue ambil pisau


Kades yang ada di laci tadi, terus gue tancep pisau itu ke kepala Si Anjing


ini.


“…”


Haaah…jadi berantakan, kan!


Mau gak mau, gue bersihin ruangan


ini, supaya ngilangin bukti, termasuk abu Si Anjing ini karena mati jadi Ghoul.


“Hmm…mending gue balik ke tempat


tadi, deh.”


Akhirnya gue balik ke ruangan


sebelumnya untuk balik ke wilayah bawah tanah tadi.


Artinya, sekarang gue punya foto


album, foto Si Kades waktu jadi Petualang, sama Catatan Harian dia.


“*Vrung… (suara portal terbuka)”


Bagus. Waktunya gue balik ke


bawah tanah.


Tapi waktu gue balik…


“Hey! Mengapa anda datang dari


rumah Kepala De—”


“*Bhuk! (suara memukul)”


Duh, jangan berisik, dong! Nanti


gue gagal nyamarnya!


Abis hajar orang bertopeng yang


‘nyambut’ gue tadi, gue perhatiin botol-botol yang isinya bayi Ghoul tadi.


Hmm…kira-kira gue masih butuh


bukti lagi gak ya? Kalo butuh, mungkin gue masih perlu ambil la—


“Ke…Kenapa gue diiket?!”


Eh, ada apaan tuh?


Gue coba ikutin arah suaranya.


Se-sampenya gue di arah suara


itu, gue bisa liat ada Si Kades bareng orang-orang bertudung ini yang lagi berdiri


di depan salah satu tahanan yang dipasung.


Kalo gue perhatiin lagi, yang


dipasung itu sebenernya bandit yang gue temuin dipanjara tadi.


Tapi gue nggak bisa buat apa-apa


untuk bandit itu, karena gue sendiri lagi nyamar di tengah-tengah orang pake


tudung ini.


“*Shrak! (suara menebas kepala)”


“Dengan darah ini, Aku akan


menguasaimu! Patuhlah kepadaku! Taatilah perintahku, seperti darahku yang


mengalir di dalam dirimu!”


“…”


“Obey!”


“…”


Bandit itu dibunuh. Abis itu…


“Griiiiw! HAAAAUUP!”


…bayi Ghoul yang dia pegang


langsung makan dia, sampe dia jadi Ghoul.


“Grrr…Grrr…”


“Derrek, sepertinya Ghoul ini


kurang mengintimidasi.”


“Jangan dibunuh. Biarkan ia


dimakan oleh Ghoul lainnya.”


Hah?! Ghoul bisa kanibal juga?!


Tapi gimana cara bikin Ghoul


makan Ghoul?


“Oleskan Ghoul ini dengan pisau


yang anda gunakan untuk menebas kepalanya.”


“Baik, Derrek.”


Dioles pake darahnya sendiri?


“Grrr…”


“Bawa produk gagal ini ke Kandang


Khusus.”


““Baik.””


Kandang Khusus?


Emangnya itu tempat apa?


“Derrek, apakah anda hendak


kembali ke rumah anda?”


“Tidak. Saya hendak menemui mereka.”


Mereka ini maksudnya siapa?


Masih terlalu banyak misteri. Mau


nggak mau, gue harus tetep ikutin mereka.


Makin gue ikutin, gue makin nyium


bau yang nggak enak banget.


“Umph!”


“Anda masih belum terbiasa dengan


aroma ruangan ini, ya?”


“Te…Tentu saja, Derrek.”


Bahkan salah satu orang bertudung


ini nggak kuat nyium baunya.


Makin gue ikutin mereka sampe ke


Kandang Khusus, gue bisa liat sumber dari bau itu.


“Hey, kalian para Ghoul! Makanlah


ini!”


Ini yang namanya Kandang Khusus,


di mana ada beberapa Ghoul yang diternak!


Di bawah tempat ini, ternyata ada


banyak banget mayat yang dimakan sama Ghoul-Ghoul ini!


Tapi dari beberapa Ghoul ini, ada


satu yang narik perhatian. Ghoul yang satu ini bener-bener rakus banget, bahkan


Ghoul-Ghoul yang lain dihajar sama Ghoul ini.


“Menyedihkan sekali wujud anda,


Kakak.”


Hah?! Kakak?! Maksudnya abangnya


dia yang jadi Ghoul pertama buatan dia?!


“Bahkan menjadi Ghoul pun, anda


bahkan lebih rakus daripada saat anda masih hidup, Kakak…hiks!”


Ternyata abangnya itu Ghoul yang


rakus itu?!


Brengsek!


Nggak punya hak lo untuk nangis, dasar


setan!


“Derrek, bagaimana dengan dua


Petualang itu, serta wanita dari desa anda?”


“Biarkan saja. Semoga mereka mati


melawan ratusan Ghoul.”


Tuh kan?!


Kita dijebak!


“Ratusan Ghoul? Bagaimana jika


mereka berhasil mengalahkannya?”


“Tenang saja. Mereka sepertinya


tidak begitu kuat untuk mengalahkan Lorvah.”


Lorvah?! Maksudnya panutan Gia?!


“Lorvah, ya. Sudah 10 tahun lamanya, saya sampai


lupa kalau ia adalah identitas asli dari Ghoul King!”


“Ya. Orang itu adalah eksperimen


paling sempurna dan Ghoul yang paling sulit untuk dijinak—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““!!!””


Entah kenapa, gue dengernya kesel


banget!


Rasa kesel ini karena rasa kasian


gue sama Gia, di mana dia secara nggak sadar harus berhadapan sama orang yang


jadi panutannya!


Gue udah nggak perlu nahan lagi


untuk nyamar-nyamar kayak gini lagi!


“Dasar anjing lo, Derrek!”


“Ha…Hah?! Anda adalah—”


“Gantian lo yang jadi makanan


Ghoul, DERREK—”


“Grappling Chains!”


“*Kriiing… (suara rantai)”


“Cih!”


Kok tiba-tiba ada rantai dari tanah?!


“Apa yang anda lakukan, Derrek?!


Cepat pergi dari sini!”


“Ba…Ba…Baiklah!”


“!!!”


Brengsek! Mereka mau lari!


“Saya akan menahan mereka! Cepat


kalian pergi dari tempat ini!”


““Ya!””


Sialan!


“Djin…nardio…Vamulran! Saya tidak


bisa akan membiarkan anda masuk ke tempat i—”


“*Krang! (suara rantai hancur)”


“Sial! Ternyata anda kuat seka—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


Brengsek!


Gue kira mereka tau identitas Gia


aja! Bahkan identitas ‘gue’ sendiri pun mereka juga tau?!


Ah, jangan pikirin bagian itu


dulu! Mending gue kejar Derrek dulu aja!


..................


“Derrek! Masuk ke dalam portal


dan hancurkan Advanced Portal ketika anda kembali ke rumah anda!”


“Ba…Baiklah! Maafkan saya,


rekan-rekan—”


“DERREK!!!”


Brengsek! Dia mau lari ke


rumahnya!


“Fire Ball!”


“*Vwumm! (suara api)”


“Ups!”


Brengsek nih mereka semua yang


pake sihir—


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Abis lempar bola api itu, dia


langsung lompat ke arah gue.


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Argh!”


“Ayo kalahkan dia! Jangan biarkan


ia—”


“*Bhuk! Dhuk! (suara pukulan dan tendangan)”


""…""


Orang-orang bertudung ini udah


selesai gue lawan.


Kalo gitu gue lanjut kejar Derrek


lagi.


Masalahnya sekarang…


“*Klik! (suara menekan tombol)”


“…”


“*Klik, klik, klik, klik… (suara


menekan tombol dengan banyak)”


“Cih! Dasar anjing!”


…Derrek berhasil kabur!


Ngeliat ada beberapa mayat


pasukan aneh ini, gue jadi obrolan gue sama Myllo waktu kita pertama kali


ketemu ‘Orang Misterius’ yang langsung pergi abis dia ngusir kita yang abis


pertama kali lawan Ghoul…


..................


“Myl.”


“Hm? Apaan?”


“Kenapa lo biarin mereka kabur?!


Harusnya lo bunuh aja!”


“Hmm…nggak tau sih. Gue cuma


ngebayangin kalo mereka Manusia gila. Kalo mereka Manusia, mereka pasti nggak


layak dibunuh, kan?!”


“Hmm…”


..................


Gue kira itu karena dia aja yang


terlalu naif. Ternyata insting dia 100% bener.


Jangankan Ghoul.


Udah berapa orang yang gue bunuh


di dunia ini?


Anehnya, gue nggak pernah panik


atau ada rasa bersalah bunuh mereka semu—


“…uuaaaaa…”


Itu rauman apaan?! Kok kayaknya kenceng banget?!


Jangan-jangan…


Ah iya! Myllo sama Gia, ya?!


Daripada mikirin yang aneh-aneh, mending gue susul


mereka dulu aja, deh!