
Saat Grup Selatan, Grup Barat,
dan Grup Utara sedang berada di tengah kesulitan karena serangan dari para
Dragonewt, Grup Timur sedang menggali informasi terkait serangan Naga yang
menimpa Marklett Town, serta kebenaran dibalik kehancuran Goldiggia.
“Oh, jadi itu cerita sebenernya
ya…”
“Ya. Berdasarkan cerita dari Duke
Louisson, Myllo Olfret tidak ingin namanya disebut sebagai orang yang
menghentikan Goldiggia karena bukan dirinya atau Djinn yang mengalahkan
Bjüdrox, kepala dari organisasi gelap itu.”
Jelas Verdian terkait cerita
Myllo dan Djinn yang membantu Bismont dalam mengalahkan Goldiggia.
Mendengar ceritanya, Harrit
merasa heran akan sesuatu.
“Permisi Marquis, saya mau
tanya.”
“Silakan.”
“Kalo emang mereka nggak mau terima
hadiah atas jasa ngalahin Goldiggia, kenapa mereka nggak pengumumannya kalo
mereka berdua yang ngalahin anggota Child of Purgatory?”
“Masalah itu…karena Duke Louisson
tidak ingin Myllo Olfret menjadi target sekte tersebut.”
Jawab Verdian kepada Harrit.
Harrit dan Winona terlihat
sedikit bingung dengan penjelasan Verdian. Mereka hendak bertanya lebih tentang
itu, akan tetapi Mahadia menghentikan mereka karena hal tersebut tidak sesuai
dengan tujuan kedatangan mereka.
“Maaf, kita semua udah jauh dari
topik. Gimana kalo kita lanjutin aja?”
““Y…Ya…””
Balas mereka bertiga terkait
peringatan Mahadia.
Verdian pun melanjutkan
penjelasannya terkait serangan Naga ke Marklett Town.
“Ma…Marquis Verde, kami turut
berduka cita.”
“Ya. Beruntung saya masih bisa
menyelamatkan sebagian besar warga kota.”
Balas Marquis Verde yang berusaha
tegar setelah ia menceritakan keluarganya yang menjadi korban tragedi tersebut.
“Pe…Permisi, Tuan Verde.”
“Ya, Nyonya Waters?”
“Mungkin Tuan Verde sudah tau
siapa saya dari nama keluarga saya, kan?”
“Betul, Nyonya Waters.”
“Kalo gitu, aku mau tanya. Waktu
serangan Naga itu, Tuan Verde liat wujud Naga itu, nggak?”
“I…Itu anehnya, Nyonya Waters.
Saat itu saya merasa malam begitu gelap dan asap bakaran sangat banyak. Saya
berpikir, apa mungkin Naga itu menyerang dari tempat yang sangat tinggi?”
Jelas Verdian.
Mendengar penjelasan tersebut,
Winona merasa ia mengetahui adanya suatu lubang dari misteri yang sedang mereka
investigasi.
“Kayaknya…yang nyerang belum
tentu Naga…”
““Hm?!””
yang mana seseorang bisa teriak mirip Naga. Orang pun pasti ketakutan
dengernya.”
““!!!””
Mereka bertiga terkejut mendengar
penjelasan Winona.
“Tu…Tunggu! Kenapa lo bisa tau
ada sihir macem itu?!”
“Karena…nenek moyang aku itu tuh
dulunya—”
“Mo…Mohon maaf jika saya memotong,
Nyonya Waters!”
Seru Verdian yang memotong
penjelasan Winona kepada Harrit.
“Alangkah baiknya jika anda tidak
mengungkapkan tentang siapa anda atau leluhur anda.”
“Oh. Maaf, aku keceplosan.”
Balas Winona terhadap peringatan Verdian.
Melihat interaksi antar mereka
berdua, Mahadia menyadari sesuatu.
“Cewek kecil ini…lahir dari
keluarga bangsawan, ya? Atau mungkin keturunan mantan bangsawan?”
Pikirnya tentang Winona.
Ia pun juga memperingatkan Harrit
yang bertanya kepada Winona.
“Harrit, itu nggak penting. Yang
perlu kita tau, siapa aja yang lo tau bisa pake sihir itu?!”
“Naga pasti bisa pake sihir itu.
Selain Naga itu, ada Dra—”
“Maha, Orb Call lo nyala!”
“Oh ya! Sebentar!”
Mahadia pun membuka Orb Call itu
setelah diberitahukan oleh Harrit.
“Ha…Halo?! Untuk semua ketua
grup. Gu…Gue ada kabar buruk.”
“…”
“Ti…Tim Selatan…udah nggak ada
sisa…termasuk Erkstern…”
““!!!””
Mendengar berita tersebut,
Mahadia langsung berlari ke kamar Djinn dan Callum berada.
“Maha! Tunggu!”
“…”
Maha tidak memperdulikan Harrit
karena berusaha memanggil Djinn.
“*Brak! (suara membuka pintu)”
“Dj…Djinn…”
“Apaan?! Lo udah selesai wawancarain Marquis i—”
“…”
“Maha, lo kenapa?”
“E…Erkstern…”
“Erkstern sama timnya…”
“…”
“Mereka mati semua…”
“?!?!”
Djinn terkejut dan bingung secara bersamaan karena
banyak informasi membingungkan yang ia terima.