Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 71-1. Interrogation Got Interrupted



Saat Grup Selatan, Grup Barat,


dan Grup Utara sedang berada di tengah kesulitan karena serangan dari para


Dragonewt, Grup Timur sedang menggali informasi terkait serangan Naga yang


menimpa Marklett Town, serta kebenaran dibalik kehancuran Goldiggia.


“Oh, jadi itu cerita sebenernya


ya…”


“Ya. Berdasarkan cerita dari Duke


Louisson, Myllo Olfret tidak ingin namanya disebut sebagai orang yang


menghentikan Goldiggia karena bukan dirinya atau Djinn yang mengalahkan


Bjüdrox, kepala dari organisasi gelap itu.”


Jelas Verdian terkait cerita


Myllo dan Djinn yang membantu Bismont dalam mengalahkan Goldiggia.


Mendengar ceritanya, Harrit


merasa heran akan sesuatu.


“Permisi Marquis, saya mau


tanya.”


“Silakan.”


“Kalo emang mereka nggak mau terima


hadiah atas jasa ngalahin Goldiggia, kenapa mereka nggak pengumumannya kalo


mereka berdua yang ngalahin anggota Child of Purgatory?”


“Masalah itu…karena Duke Louisson


tidak ingin Myllo Olfret menjadi target sekte tersebut.”


Jawab Verdian kepada Harrit.


Harrit dan Winona terlihat


sedikit bingung dengan penjelasan Verdian. Mereka hendak bertanya lebih tentang


itu, akan tetapi Mahadia menghentikan mereka karena hal tersebut tidak sesuai


dengan tujuan kedatangan mereka.


“Maaf, kita semua udah jauh dari


topik. Gimana kalo kita lanjutin aja?”


““Y…Ya…””


Balas mereka bertiga terkait


peringatan Mahadia.


Verdian pun melanjutkan


penjelasannya terkait serangan Naga ke Marklett Town.


“Ma…Marquis Verde, kami turut


berduka cita.”


“Ya. Beruntung saya masih bisa


menyelamatkan sebagian besar warga kota.”


Balas Marquis Verde yang berusaha


tegar setelah ia menceritakan keluarganya yang menjadi korban tragedi tersebut.


“Pe…Permisi, Tuan Verde.”


“Ya, Nyonya Waters?”


“Mungkin Tuan Verde sudah tau


siapa saya dari nama keluarga saya, kan?”


“Betul, Nyonya Waters.”


“Kalo gitu, aku mau tanya. Waktu


serangan Naga itu, Tuan Verde liat wujud Naga itu, nggak?”


“I…Itu anehnya, Nyonya Waters.


Saat itu saya merasa malam begitu gelap dan asap bakaran sangat banyak. Saya


berpikir, apa mungkin Naga itu menyerang dari tempat yang sangat tinggi?”


Jelas Verdian.


Mendengar penjelasan tersebut,


Winona merasa ia mengetahui adanya suatu lubang dari misteri yang sedang mereka


investigasi.


“Kayaknya…yang nyerang belum


tentu Naga…”


““Hm?!””


yang mana seseorang bisa teriak mirip Naga. Orang pun pasti ketakutan


dengernya.”


““!!!””


Mereka bertiga terkejut mendengar


penjelasan Winona.


“Tu…Tunggu! Kenapa lo bisa tau


ada sihir macem itu?!”


“Karena…nenek moyang aku itu tuh


dulunya—”


“Mo…Mohon maaf jika saya memotong,


Nyonya Waters!”


Seru Verdian yang memotong


penjelasan Winona kepada Harrit.


“Alangkah baiknya jika anda tidak


mengungkapkan tentang siapa anda atau leluhur anda.”


“Oh. Maaf, aku keceplosan.”


Balas Winona terhadap peringatan Verdian.


Melihat interaksi antar mereka


berdua, Mahadia menyadari sesuatu.


“Cewek kecil ini…lahir dari


keluarga bangsawan, ya? Atau mungkin keturunan mantan bangsawan?”


Pikirnya tentang Winona.


Ia pun juga memperingatkan Harrit


yang bertanya kepada Winona.


“Harrit, itu nggak penting. Yang


perlu kita tau, siapa aja yang lo tau bisa pake sihir itu?!”


“Naga pasti bisa pake sihir itu.


Selain Naga itu, ada Dra—”


“Maha, Orb Call lo nyala!”


“Oh ya! Sebentar!”


Mahadia pun membuka Orb Call itu


setelah diberitahukan oleh Harrit.


“Ha…Halo?! Untuk semua ketua


grup. Gu…Gue ada kabar buruk.”


“…”


“Ti…Tim Selatan…udah nggak ada


sisa…termasuk Erkstern…”


““!!!””


Mendengar berita tersebut,


Mahadia langsung berlari ke kamar Djinn dan Callum berada.


“Maha! Tunggu!”


“…”


Maha tidak memperdulikan Harrit


karena berusaha memanggil Djinn.


“*Brak! (suara membuka pintu)”


“Dj…Djinn…”


“Apaan?! Lo udah selesai wawancarain Marquis i—”


“…”


“Maha, lo kenapa?”


“E…Erkstern…”


“Erkstern sama timnya…”


“…”


“Mereka mati semua…”


“?!?!”


Djinn terkejut dan bingung secara bersamaan karena


banyak informasi membingungkan yang ia terima.