Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 395. Three Questions



Leonard berhasil menaklukan seluruh anggota Aquilla dan Taurus dengan seorang diri. Mulai dari Myllo, Djinn, Gia, Dalbert, hingga Garry dan Machinno, dibuatnya tidak sadarkan diri. Ia juga membawa Ryūhime yang juga ia kalahkan, agar bisa ia jadikan sebagai Tantangan di Chaoseum. Itu semua berkat kekuatannya yang sangat besar.


Setelah menganalisa kekuatan seluruh anggota Aquilla, Leonard menyimpulkan bahwa Djinn dan Dalbert adalah dua orang yang tidak layak untuk ia jadikan seorang Petarung. Karena hal tersebut, ia meninggalkan dua anggota Aquilla itu.


Sementara Djinn semakin dibuat putus asa, sebelum ia tidak sadarkan diri. Karena Leonard ia harus kembali merasakan kehilangan orang-orang terdekatnya.


““…””


Seluruh anggota Leo Guild telah membawa empat anggota Aquilla, seluruh anggota Taurus, serta Ryūhime, di mana mereka semua tidak sadarkan diri. Mereka semua diikat dengan Mana-Restrictions di sekitar Tubuh mereka.


“Bos! Udah kita amanin mereka semua! Terus gimana nih, bos?!”


Tanya Bastheus kepada Leonard, setelah ia dan anggota Leo lainnya telah mengikat mereka semua dengan Mana-Restrictions.


Karena pertanyaan dari Executioner tersebut, Leonard pun merapal sihir.


Hingga akhirnya…


“*Vwrung…”


““!!!””


…seluruh anggota Leo dikejutkan dengan Leonard yang menciptakan sebuah portal.


“Masuk ke portal ini! Nanti waktu kalian keluar, kalian semua udah ada di deket Nemelion!”


““!!!””


Kembali mereka semua dikejutkan dengan pernyataan Leonard.


“Bos! Kok bisa lo bikin portal kayak gi—”


“Udah nggak usah banyak tanya! Mending kalian pergi dari sini! Sekarang!”


“Terus lo gimana, bos?”


“…”


Leonard hanya menyeringai dengan sinis, sebelum menjawab pertanyaan Marwell.


“Kalian lupa ini tempat apa?!”


“Tempat apa? Oh! Pasti lo mau ke Chamber of Ancient Armament kan, bos?!”


Tanya Bastheus kepada Leonard.


“Ya! Biar gue aja yang ke sana sendiri, sedangkan kalian tunggu gue di Nemelion! Paham?!”


““Siap, bos!””


Seru seluruh anggota Leo, sambil bersiap untuk memasuki portal ciptaannya.


Tetapi sebelum memasuki portal tersebut, Marwell kembali menatap Leonard dengan tajam. Namun berkat insting tajamnya, Leonard mengetahui tatapan dari salah satu Executioners yang ia rekrut.


“*Wruk…”


“Lo ada masalah sama gue, Marwell?!”


Tanya Leonard, sambil menarik kerah pakaian Marwell.


“G-Gue nggak ada masalah, bos. Tapi waktu denger obrolan lo sama Myllo Olfret, gue cuma mau pastiin satu hal aja.”


“Pastiin satu hal?! Lo ngeraguin gue—”


“Tentang janji lo untuk hancurin Centra Geoterra!”


“Hm? Ada apa sama janji gue itu?”


“Lo pasti ngehancurin pusat pemerintahan itu kan?”


“Ternyata lo masih nggak percaya sama gu—”


“Bahkan kalo Sylvia Starfell hadang jalan lo?”


“…”


Leonard hanya terdiam ketika mendengar pertanyaan Marwell.


Hingga tiba-tiba…


“*Krrrttt..”


“Kaaakh!”


…ia mencekik Marwell dengan keras.


“Sekarang gue yang tanya ke lo, Marwell!”


“…”


“Lo ngeraguin gue?!”


“*Boink!”


“Uhuk, uhuk, uhuk—”


“Jawab!”


Seru Leonard, setelah ia melempar Marwell yang ia cekik.


“Ng-Nggak, Bos Leonard…! J-Jangan samain ngeraguin… sama mau pastiin—”


“Tenang aja! Kalo pun Sylv mau hadang jalan gue, pasti gue yakinin dia, kalo tindakan gue ini bisa dianggap bener!”


“O-OK, bos…! Kalo gitu… artinya gue nggak—”


“Tapi kalo sekali lagi gue denger lo tanya kayak gitu, jangan lo pikir lo bisa ikut gue hancurin Centra Geoterra


bareng gue! Paham?!”


“…”


Bastheus hanya menyaksikan percakapan antara Leonard dan Marwell.


Dan lagi, dengan nalurinya Leonard mengetahui hal tersebut.


“Apa lo, Bastheus?! Lo mau ngeraguin gue juga!”


“Muahahaha! Tenang aja, bos! Gue ikut lo tanpa ada unsur mau ini-itu! Karena yang gue mau cuma bikin kekacauan aja!”


Jawab Bastheus kepada Leonard, dengan tawa yang puas.


“Mending kalian keluar dari sini! Sekarang!”


““Siap, bos!””


Balas Bastheus dan Marwell, yang bersama-sama memasuki portal dan meninggalkan Leonard.


“…”


Sekarang Leonard telah sendirian. Ia sedang berdiri di dekat Djinn dan Dalbert yang tidak sadarkan diri.


“Grahahaha! Waktunya gue masuk ke tempat itu!”


Seru Leonard, sambil berjalan menuju Chamber of Ancient Armament, meninggalkan Djinn dan Dalbert.


Namun ketika ia berjalan ke tempat itu…


“*Fwush…”


…ia kembali merasakan adanya hembusan angin kecil yang berdesis di telinganya.


“Lagi-lagi gue ngerasa ada yang ngintai gue!”


Bisik Leonard dengan kesal.


“*DHUUUMMMMMMMMM……… “


Ia kemudian menggunakan Union Domi, dengan maksud untuk mendominasi orang yang ia anggap mengintainya.


“JANGAN JADI PENGECUT!!! SINI LO KELUAR!!! SEKARANG!!!”


“…”


“JANGAN LO PIKIR GUE BEGO!!! LO KIRA GUE NGGAK TAU, KALO LO UDAH NGINTAI GUE BAHKAN SEBELUM MASUK HIDDEN DUNGEON?!?!”


“…”


“TUNJUKKIN DIRI LO!!! SEKARANG!!!”


“…”


Tidak ada respon sama sekali, walaupun Leonard sudah berteriak sekeras-kerasnya.


“Cih! Dasar bajingan! Biasanya gue langsung cari orang yang ngintai gue kayak gini! Tapi karena gue mau balik


ke Chaoseum secepetnya, mending nggak usah gue peduliin yang mau intai gue!”


Seru Leonard dengan kesal, sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Chamber of Ancient Armament.


“…”


Ketika dalam perjalanan, ia merasa ada sesuatu yang tidak seperti ia rasakan sebelumnya, ketika ia menginjakkan kaki untuk pertama kali di dunia berawan itu.


“Padahal tadi ada banyak banget Yōkai sama Spirit Beast di tempat ini. Sekarang udah nggak ada. Apa mungkin karena gue udah mau deket Chamber of Ancient Armament?”


Bisiknya dengan heran, sebelum ia sampai.


“Grahahaha! Akhirnya gue sampe juga!”


Serunya dengan tawa.


Hingga akhirnya, ia mendapati ada seseorang yang berada di pintu masuk Chamber of Ancient Armament.


“Hm? Siapa perempuan itu?”


Pikir Leonard dengan heran, setelah ia mendapati ada seorang wanita yang wajahnya tertutup dengan kain.


“Oh! Kitsune, ya?! Ternyata ada juga Kitsune di tempat i—”


“3 kali.”


Sela wanita itu, sambil menunjukkan tiga jarinya.


“3 kali? Maksud lo?”


“3 kali kau merasakan keberadaanku.”


“Hm?”


Leonard pun merasa heran dengan pernyataan wanita itu.


Hingga akhirnya…


“!!!”


…ia tersadar.


“3 kali?! Maksud lo tuh, hembusan angin tipis yang gue rasain di kuping gue tuh karena lo?!”


“Ah, akhirnya kau menyadarinya, Pengacau.”


Jawab wanita itu kepada Leonard.


“Siapa lo?! Kenapa lo ngintai gue?!”


“R-Ribuan tahun?! Terus, lo siapa?!”


“Dulu aku disebut dengan Deadly Maiden. Kini, setelah Hari Penghakiman, aku dikenal sebagai Dungeon God.


Tetapi warga Kumotochi selalu menyebutku dengan Shogun Sejati. Terlalu banyak sebutan bagiku. Bahkan aku hampir melupakan namaku.”


“!!!”


Leonard pun terkejut, karena wanita yang ada di hadapannya tidak lain merupakan Kazedori Ayasaki, wanita yang menjadi rekan Pahlawan Pertama, Great Sage Melchizedek.


“3 kali kau merasakan keberadaanku. 3 kali kau telah bertanya kepadaku. Maka kali ini giliranku yang 3 kali bertanya kepadamu.”


Jelas Ayasaki, sebelum bertanya kepada Leonard.


Tetapi ketika ia sedang berbicara, Leonard menyadari sesuatu yang membuatnya sedikit merinding.


“M-Mungkin nggak ada tekanan dari auranya! Tapi… tekanan macam apa yang gue rasain dari perempuan ini?!”


Pikir Leonard akan Ayasaki.


“Pertama. Siapa namaku?”


“K-Kazedori Ayasaki…”


Jawab Leonard dengan gemetar.


“Pertanyaan kedua. Dari antara Myllo Olfret, Sylvia Starfell, serta dua pria yang disebut sebagai Slasher dan Djinn Dracorion. Jika mereka telah mencapai puncak kekuatan mereka dan bertarung satu sama lain, siapakah menurutmu yang menjadi pemenangnya?”


“…”


Leonard hanya terdiam. Ia pun bingung menjawab pertanyaannya.


“Ara…! Apa mungkin pertanyaan dariku sangatlah sulit bagimu, Pengacau?”


“Ng-Nggak. Gue udah mau jawab.”


“…”


Ayasaki hanya terdiam, sambil menunggu jawaban Leonard.


“Gue nggak mau ngakuin, tapi gue rasa Myllo Olfret bisa menang lawan mereka bertiga.”


“…”


Kembali Ayasaki terdiam, sebelum menyampaikan pertanyaan ketiga.


“Jika aku dengar dari pernyataanmu, sepertinya engkau telah mengetahui Titan Heart. Beruntunglah diriku. Karena aku hampir menggunakan pertanyaan ketigaku untuk mengonfirmasi hal tersebut kepadamu.”


“T-Tanya aja—”


“Kali ini, aku mohon agar kiranya engkau memejamkan matamu dan membayangkan satu, dua, atau sekelompok orang yang  sangat kau kasihi.”


“H-Hah?! Kok gue harus—”


“*DHUUUMMMMMMMMM………”


“…”


Seketika Ayasaki mengeluarkan aura yang sangat dahsyat, yang membuat Leonard bersujud di hadapannya.


“S-Sial! Ternyata ini tekanan aura dari salah satu Pahlawan Pertama?!”


Pikir Leonard dengan terkejut.


“Huff! Huff! Huff!”


Walaupun Ayasaki telah melepas auranya, Leonard masih kesulitan untuk bernafas.


“*Dugdug, dugdug, dugdug…”


Jantungnya berdegup dengan sangat kencang karenanya.


“Aku memohon kepadamu, agar aku tidak menggunakan pertanyaan ketigaku dengan sia-sia, Pengacau.”


“Y-Y-Ya! B-Bayangin orang-orang yang paling gue sayang, bukan?! K-Kalo gitu, gue coba bayangin!”


Seru Leonard, yang kemudian memejamkan matanya.


“…”


Ketika ia memejamkan matanya, ia menyaksikan beberapa orang yang pernah berada di sekitarnya.


“Kapten Leonard!”


“Kapten!”


“Halo, Kapten!”


“Kapten! Ayo kita mulai lagi perjalanan kita!”


“K-Kalian semua…!”


Bisik Leonard di dalam imajinasinya, setelah mendapati seluruh mantan anggotanya di Leo Party.


“Kakak!”


“L-Leandra!”


“*Phuk!”


Ia kemudian memeluk adiknya, yang sebelumnya ia lihat pada diri Myllo.


“Sepertinya kau sudah membayangkan seperti yang kuminta, Pengacau. Baiklah kalau begitu, dengarlah aku.”


“…”


“Bayangkan jika mereka memohon kepadamu untuk menghancurkan Titan Heart.”


“!!!”


Karena permintaan dari Ayasaki…


“Kapten! Ayo kita hancurin Titan Heart!”


“Kita nggak butuh yang kayak gitu, kan?!”


“Pastinya kakak mau hancurin Titan Heart, kan?”


…seluruh orang yang berada di dalam imajinasinya meminta dirinya untuk menghancurkan harta karun terbesar di dunia, yang sangat ia inginkan.


“Huuuuufffff!!!”


Leonard pun terlihat seperti terbangun dari mimpi buruk.


“Sepertinya kau sudah selesai membayangkannya.”


“A-A-Apa tujuan lo bikin gue ngebayangin—”


“Dengarlah pertanyaan ketigaku, Pengacau.”


“…”


“Setelah kau mendengar permintaan mereka, apakah engkau tetap akan menghancurkan Titan Heart—”


“Ng-Nggak…!”


“Hm?”


“Mereka udah mati…! Nggak akan ada yang berhentiin langkah gue…! Gue nggak akan berhenti, sampe dapet semuanya itu…!”


Seru Leonard dengan yakin.


“Bahkan jika orang-orang kesayanganmu yang memintanya, kau tetap tidak menghancurkannya. Apalagi aku yang akan memintamu untuk menghancurkan pusaka berbahaya itu.”


“A-Apa maksud lo—”


“Sayang sekali. Andai kau mau menghancurkan Titan Heart, mungkin aku akan mengizinkanmu memasuki Chamber of Ancient Armament, yang ada di belakangku.”


“!!!”


Leonard pun terkejut dengan apa yang Ayasaki katakan.


“T-Tunggu! Kenapa gue harus hancurin—”


“Pergilah dari tempat ini, selagi kau telah mendapatkan orang-orang yang kau mau, Pengacau. Karena jika kita


bertemu kembali…”


“*DHUUUMMMMMMMMM………”


“…hanya akan ada kematian bagimu!”


Seru Ayasaki, sebelum ia…


“*FWUSHHH!!!”


“Uaaaargghhh…”


“*BRUK!!!”


““Aaargh!””


…menghempaskan Leonard dengan kekuatan anginnya, hingga ia keluar dari Hidden Dungeon dan kembali ke kapalnya.


“Eh?! B-Bos Leonard—”


“K-K-Kita… pergi sekarang dari sini…!”


Kata Leonard dengan gemetar ketakutan.


“Emangnya kenapa, bos—”


“Jangan banyak tanya! Cepet kita pergi sekarang!”


““Y-Ya, bos!””


Balas seluruh anggota Leo dengan heran, setelah mendengar perintah dari Leonard.


Sementara di dalam Hidden Dungeon, Ayasaki berjalan meninggalkan Chamber of Ancient Armament, setelah


berhasil mengusir Leonard dari hadapannya.


“…”


Ia berjalan untuk menghampiri Djinn, yang masih terluka karena Leonard.


Namun ketika ia tiba…


“Kalian adalah…”


““S-Salam kami terhadap Yang Mulia Kazedori Ayasaki-sama!””


…ia menemukan seluruh Kepala Komisi, yang datang bersama Daphine dan rekan-rekannya, untuk merawat Djinn dan Dalbert.


Selain mereka…


“Ayasaki-chan…!”


“Miyako-nēsama…”


…Miyako, wanita yang pernah ia anggap sebagai kakaknya, juga datang menghampirinya.