Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 54. Yet Another Death...?



““Grrraaa—”


“*Bhuk! Dhuk! Bhuk! (suara


pukulan dan tendangan)”


Brengsek! Ada berapa sih


Ghoul-nya?! Kok banyak banget yang ngehadang gue?!


Tambah lagi, Ghoul yang dia


tunggangin larinya kenceng banget! Ngejarnya aja juga udah susah!


“Pergi sana! Jangan ikuti sa—”


“MATI LO SAMA GUE, DERREK!”


“Hiiikh!”


“…”


Sebentar lagi gue sampe dia.


Tapi, dia lagi ngapain itu?


“*Cyut! (suara lemparan pisau)”


“…”


Huh! Untung gue masih bisa


hindarin pisau dia! Dasar anjing nih orang!


“*Cyut! (suara lemparan pisau)”


Nih orang punya berapa pisau


sih?! Kok banyak banget?!


“*Cyut! (suara lemparan pisau)”


“…”


Bagus! Pisau yang terakhir gue


tangkep! Selanjutnya…


“Berlarilah lebih cepat!”


“Grraaa—”


“*Jlub! (suara tertancap pisau)”


“Grraaaa…”


…gue cuma perlu balikin aja pisaunya!


“*Bruk! (suara terjatuh)”


“Arrggh!”


Bagus! Ghoul itu udah tumbang—


“Obey!”


““Grraaaaww!””


Dasar anjing! Dia punya berapa


Ghoul sih?! Tiba-tiba ada dua Ghoul dari samping, tapi…


“Cepat, lari!”


“Grraaaaww!”


…dia lari pake Ghoul yang baru!


“Grraaaaww!”


“…”


Daripada mereka ganggu gue lagi,


gue hajar dulu dua Ghoul ini. Tapi tiba-tiba kaki gue ngerasa dililit sesuatu!


“…”


Brengsek! Ternyata masih ada


Ghoul lagi dari bawah tanah ini! Entah ekor atau tentakel yang lilit kaki gue


ini, yang pasti Ghoul ini mau coba tarik gue ke dalem!


“Urgh!”


Gue coba tarik ‘ekor’ ini.


“URGH!”


Emang terasa keras banget, tapi


gue harus bisa!


“URAAAAAGGH!”


“Grraaaaggh!”


Ternyata Ghoul yang narik gue ini


punya belalai kayak gajah.


Nggak pake basa-basi, mending gue


lempar aja ke arah Derrek!


“*Bruk! (suara menabrak)”


“Argh!”


Bagus! Jangan sampe nih orang


manggil Ghoul lagi!


“Uhuk! Uhuk!”


“Woy, anjing!”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Urgh…”


Dia nunduk doang waktu gue


panggil.


“O…O—”


“Kalo lo coba panggil Ghoul lagi,


artinya siap mati lo sama gue, Derrek!”


“…”


“Mending lo nyerah, Derrek!


Seenggaknya, kalo lo nyerah, mungkin Guild atau pemerintah yang adilin lo.”


“Pe…Pemerin—”


“Jadi lo pilih mana?! Pemerintah


yang adilin lo, atau gue yang adilin lo?!”


“…”


Dia diem doang waktu gue tanya.


Kayaknya sih dia mau rencanain sesuatu. Yang penting, gue harus siap aja.


“Mengapa…”


“Hah?!”


“Mengapa anda harus ikut campur


dengan Xia? Semuanya sudah berjalan dengan baik. Angka kriminal di desa yang


paling luas di Erviga ini pun sudah berkurang. Lantas, mengapa anda harus ikut


campur dengan desa ini?”


Hm…kenapa ya?


Bahkan di Quest pun, kita cuma


disuruh investigasi. Selama ada bukti, harusnya Quest udah selesai. Tapi kenapa


gue sama Myllo mau selesain masalah di desa ini? Mungkin gini jawabannya.


“Ada tiga alesan.”


“Ti…Tiga?”


“Yang pertama. Apapun alesan lo,


yang udah lo buat itu jahat banget! Ngorbanin warga demi desa?! Omong kosong,


anjing! Kalo emang separah itu sifat asli warga lo, ya lo kasih edukasi lah,


anjing!”


“E…Edukasi?! Apa anda kira


semudah i—”


“Yang kedua. Lo udah bikin nangis


anggota baru yang Myllo pengen. Dan lebih parahnya lagi, lo sama aja paksa dia


untuk bunuh orang yang dia kagumin!”


“Ma…Maksud anda Gia?! Ji…Jika


kalian berdua tidak—”


“YANG KETIGA!”


“!!!”


“Gaya lo yang dari luar sok


bijak, tapi isinya sampah, tambah lagi lo manipulatif, bikin gue pengen hajar


lo berkali-kali, Derrek!”


“Hikh!”


Karena lo bikin gue inget bapak


gue!


Oh iya, ada yang mau gue tanya


sama dia.


“Tapi sebelum itu, coba jawab


gue, Derrek!”


“…”


“Siapa orang yang namanya


Snake?!”


“Sn…Snake?!”


“Karena di catetan harian lo itu


lo sering sebut nama dia, makanya masalah nggak akan selesai kalo cuma nangkep


lo doang!”


“…”


“Hm?”


“…ha…”


Ini orang ketawa?


“Woy, Der—”


“Hahahaha!!!”


“…”


“Anda…mau menangkap Snake?!”


Ini orang…kok senyumnya aneh ya?


Persis kayak warga yang waktu itu ketangkep.


“Hey, Petualang! Anda kira anda


siapa?! Anda pikir anda bisa memburu ular cerdik sepertinya?! Anda


hanyalah tikus yang akan diperalat olehnya semenjak anda membuat kekacauan di


Xia!”


Gue yang diperalat?! Emang dia sebahaya


itu?!


“…”


Lah! Masih berani dia keluarin


pisau!


Tapi kok, kayaknya pisau yang ini


agak beda dari pisau dia yang lain?


Di ujung pegangannya ada kayak


patung warna merah darah gitu…


“Woy! Tar—”


“*Jlub… (suara tusukan pisau)”


Eh?! Dia ngapain?! Kok dia tusuk


lengannya?!


“*Shraaaat… (suara menyayat


lengan)”


“Urgh…”


Ini orang mau bunuh diri?! Kok


lengannya digorok gitu?!


“Hey, Petualang…”


“…”


“Jika anda bisa…menang, maka anda


pantas…memburu Snake…”


Menang?! Emang dia mau ngapain?!


“Inilah darahku! Jika anda sudah


tidak bisa menahan dahaga anda, maka datanglah! Turutilah aku! OBEY!!!”


Brengsek! Ternyata dia—


““GRRRAAAAWW!!!””


Eh! Ada Ghoul yang muncul! Ada


sekitar 9!


Tapi kok…suara raungannya agak


mirip kayak suara Lorvah ya?!


“Lihatlah ini…mereka adalah


Petualang dari Kasta Hijau sampai Kasta Jingga!”


Hah?! Petualang?! Artinya semua


Ghoul yang yang ada di sini sama kayak Lorvah dong?!


“Anda tahu saya mendapat semua


Petualang ini dari mana?”


“…”


“Snake.”


Gila! Ternyata nggak cuma tahanan


dari luar desa aja! Orang yang namanya Snake itu juga nangkep Petualang?!


“Jika saya menantang anda untuk


menang, sepertinya mustahil. Mungkin saya tantang anda untuk bisa bertahan


hidup, Petualang!”


“Cih!”


“Jika anda mati, lebih baik anda


menggantikan Lorvah sebagai Ghoul King! Hahahaha!”


Dasar gila nih orang!


“GRRRAAAAWW!!!”


Ada Ghoul yang mau serang gue.


Sebelum dia nyerang, gue langsung coba pukul dia tapi…


“Grrr…”


…walaupun gue pukul dia sampe


mundur, kok tangan gue sakit banget ya?!


“Morty Manson. Ia dulunya adalah


seorang Frontliner Kasta Jingga. Sekuat apapun anda, anda hanyalah Kasta Hijau,


Petualang!”


banget!


‘GRRRAAAAWW!!!”


“Urgh!”


Kok ada Ghoul yang terbang?!


Ghoul yang terbang ini bawa gue


ke atas!


“Avesio. Ia adalah Manusia yang


menjadi bahan eksperimen seorang Alchemist yang menyebabkan bertumbuhnya


sepasang sayap pada punggungnya.”


“GRRRAAAAWW!!!”


Kenapa Ghoul yang di bawah itu


teri—


“*Bum! (suara tembakan api)”


Sialan! Kok dia bisa nembak api


dari mulutnya?!


Waktu Ghoul Terbang ini lepasin


gue, ada api yang mau nyamber gue! Tapi ujung-ujungnya gue tembus api itu


supaya bisa langsung lompat ke arahnya.


“Pyrobin. Ia dulunya


adalah seorang—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Grrr…”


Najis nih orang! Beraninya di


belakang Ghoul doang!


“Sini lo kalo berani, banci! Gue


gak butuh penjelasan lo!”


“A…Apa?!”


Tadi yang ini siapa namanya? Kok


gue kayak pernah denger ya?


“HAAA—”


“…”


Brengsek! Nggak langsung mati,


dong! Kok Ghoul ini masih bisa gigit gue?!


“Jika anda berpikir bisa


mengalahkan semua Ghoul ini hanya dengan satu pukulan, maka saya rasa anda


terlalu sombong, Petualang.”


“…”


“Memang mereka semua tidak sekuat


Lorvah. Tapi…lebih baik anda mencoba untuk bertahan hidup saja, Petualang.”


““GRRRAAAAWW!!””


Sebenernya gue pun jadi nggak


yakin bisa selamat untuk keluar dari sini. Tapi selama Derrek belom mati,


makanya gue harus bisa menang lawan semua Ghoul ini!


“GRRRAAAAW!”


“*Shrrk… (suara dada tergores)”


“Urgh!”


Ada Ghoul yang punya tangan


panjang banget yang mau coba nyerang gue. Sebut aja Ghoul Pedang.


Serangannya cepet banget, bahkan


dada gue sempet kegores sama ujung pedangnya.


“GRRRAAAAW!”


“*SWUSH! (suara ayunan kapak yang


cepat)”


Dan nggak lama kemudian, ada


Ghoul Kapak yang coba nyerang gue dari belakang. Untungnya gue langsung reflek


untuk hindarin serangan itu dan langsung balik badan ke arah dia.


“Grraa…”


Gue ‘gunting’ kakinya pake kaki


gue sampe jatoh, terus pukul dia terus sampe—


“GRRRAAAAWW!!!”


“*SYUT! (suara panah yang


kencang)”


“…”


Gila! Kalo gue telat sedetik aja,


mungkin kepala gue udah ilang, kali! Itu panah apaan?! Kenceng banget!


“…”


Sekarang ada Ghoul yang tangannya


ada delapan tapi bentuk semua tangannya kayak pisau gitu.


“GRRRAAAAWW!”


“*Jlub, jlub, jlub… (suara banyak


tusukan)”


Buset! Cepet banget tangannya!


Walaupun udah gue hindarin, tetep aja banyak tusukan di badan gue!


Daripada gue hindarin, mending


gue tangkep aja tangannya!


“Grrr—”


“HRAAAAAAGGGHHH!!!”


“*Bruk! (suara bantingan)”


Gue banting Ghoul Pisau ini waktu


gue berhasil tangkep salah satu tangannya.


“HRAAAAAGGGHHH!!!”


Gue tarik salah satu tangannya


sampe putus!


“GRRRAAAAWW!”


Bagus. Sekarang—


“GRRRAAAAWW!!!”


“Argh!”


Brengsek! Gue terlalu fokus sama


satu Ghoul, gue sampe lupa sama Ghoul lain, khususnya Ghoul terbang ini!”


“GRAW!”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


“Uhuk! Uhuk!”


Brengsek! Gue di lempar kayak


gitu aja!


Sekalinya gue bangun, Ghoul Keras


yang paling pertama gue pukul tadi muncul di depan gue.


Mungkin mau nggak mau harus pukul


Ghoul ini, tapi badan gue susah gerak gara-gara dibanting dari atas tadi!


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Grrr…”


Untung gerakan Ghoul ini lebih


lambat, jadinya gue bisa nyerang dia langsung. Masalahnya…


“*Craaat! (suara cipratan darah)”


…jari gue sakit banget waktu


pukul dia! Bahkan banyak darah yang keluar dari jari ini!


“*Brrrr… (suara getaran bumi)”


Tunggu, ada yang aneh. Kok


tiba-tiba ada gempa—


“*Shruk! (suara tertusuk)”


“Aaargh!”


Apaan ini, anjing?! Kok tiba-tiba


muncul batu tajem yang nusuk dada gue sampe setinggi ini?!


“…”


Oh, ternyata itu Ghoul yang


nyerang gue pake batu ini?!


“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara


memukul batu)”


Ayo dong! Ancur kek batunya!


“*Bruk! (suara batu hancur)”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


“Huff…huff…huff…”


Asli, sakit banget! Bahkan ujung


batu tadi masih nancep di dada gue!


Kalo gue lepas batu ini, gue pasti


udah kehabisan darah! Tapi kalo nggak gue lepas, pasti gue lebih susah gerak!


Jadi serba salah gue!


“…”


Kenapa semua Ghoul itu pada


ngumpul kayak gitu?


Tambah lagi, Ghoul terakhir sama


sekali belom gerak sama sekali! Kira-kira bisa apa dia?!


“*Ngung… (suara sihir


penyembuhan)”


Tunggu! 8 Ghoul yang gue lawan


tadi tiba-tiba muncul cahaya gitu di badannya! Jangan-jangan mereka…


““GRRRAAAAWW!!!””


Brengsek! Bener kan?! Pasti


mereka disembuhin!


Bahkan Ghoul Pisau yang tangannya


gue lepas satu tadi tiba-tiba muncul lagi tangannya!


“Hahaha! Bahkan Ghoul pun


memiliki seorang Keeper, Petualang! Lantas, apa yang bisa anda lakukan


sekarang?!”


“Heh! Masih berani lo nongolin


muka lo di depan gue, banci!”


“Da…Dasar Manusia Biadab! Masih


berani anda berkata seperti itu kepada saya?!”


Ya iyalah! Kan bikin orang emosi


itu salah satu bakat gue!


“Anda keterlaluan, Petualang!


Sepertinya membunuh anda saja tidak cukup! Lebih baik kesepuluh Ghoul ini


benar-benar menyiksa anda!”


Hah?! Sepuluh?! Kan cuma ada


sembi—


“*Brrr… (suara getaran bumi)”


Ini gempa apa lagi sih?! Jangan


bilang dari Ghoul Batu tadi?!


Pokoknya, sampe muncul batu kayak


tadi lagi, gue udah siap untuk hindarinnya!


“*Brrrrrgh! (suara dataran


terbelah)”


Eh! Kok datarannya jadi kebuka


gini sampe muncul jurang?!


Seharusnya gue masih bisa untuk


hindarin jurang yang di buka ini. Masalahnya…


“GRRAAW!”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Ngen…”


…Ghoul Keras tadi pukul gue biar


gue jatoh ke jurang ini!


Akhirnya gue jatoh masuk jurang


ini. Ternyata Ghoul kesepuluh yang dibilang banci tadi ngumpet di bawah


tanah!


“GRRAAWP!”


“AAARRGGH!”


Brengsek! Ukurannya gede banget!


Bahkan dia gigit kaki gue!


“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! (suara banyak


pukulan)”


“Grrr! Grr!”


Ayo lepasin kaki gue, brengsek!


“*Crrak! (suara mengoyak)”


“AAAARRRGGGHHH!!!”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


Brengsek…kaki gue putus…


Bahkan gue udah susah nafas…


Masa gue mati sekarang, sih…


“…”


Ah. Tiba-tiba kenapa gue keinget


Pak Jaya yang ngajarin gue Pencak Silat, ya…


Djinn…marah banget, pak.