
““Grrraaa—”
“*Bhuk! Dhuk! Bhuk! (suara
pukulan dan tendangan)”
Brengsek! Ada berapa sih
Ghoul-nya?! Kok banyak banget yang ngehadang gue?!
Tambah lagi, Ghoul yang dia
tunggangin larinya kenceng banget! Ngejarnya aja juga udah susah!
“Pergi sana! Jangan ikuti sa—”
“MATI LO SAMA GUE, DERREK!”
“Hiiikh!”
“…”
Sebentar lagi gue sampe dia.
Tapi, dia lagi ngapain itu?
“*Cyut! (suara lemparan pisau)”
“…”
Huh! Untung gue masih bisa
hindarin pisau dia! Dasar anjing nih orang!
“*Cyut! (suara lemparan pisau)”
Nih orang punya berapa pisau
sih?! Kok banyak banget?!
“*Cyut! (suara lemparan pisau)”
“…”
Bagus! Pisau yang terakhir gue
tangkep! Selanjutnya…
“Berlarilah lebih cepat!”
“Grraaa—”
“*Jlub! (suara tertancap pisau)”
“Grraaaa…”
…gue cuma perlu balikin aja pisaunya!
“*Bruk! (suara terjatuh)”
“Arrggh!”
Bagus! Ghoul itu udah tumbang—
“Obey!”
““Grraaaaww!””
Dasar anjing! Dia punya berapa
Ghoul sih?! Tiba-tiba ada dua Ghoul dari samping, tapi…
“Cepat, lari!”
“Grraaaaww!”
…dia lari pake Ghoul yang baru!
“Grraaaaww!”
“…”
Daripada mereka ganggu gue lagi,
gue hajar dulu dua Ghoul ini. Tapi tiba-tiba kaki gue ngerasa dililit sesuatu!
“…”
Brengsek! Ternyata masih ada
Ghoul lagi dari bawah tanah ini! Entah ekor atau tentakel yang lilit kaki gue
ini, yang pasti Ghoul ini mau coba tarik gue ke dalem!
“Urgh!”
Gue coba tarik ‘ekor’ ini.
“URGH!”
Emang terasa keras banget, tapi
gue harus bisa!
“URAAAAAGGH!”
“Grraaaaggh!”
Ternyata Ghoul yang narik gue ini
punya belalai kayak gajah.
Nggak pake basa-basi, mending gue
lempar aja ke arah Derrek!
“*Bruk! (suara menabrak)”
“Argh!”
Bagus! Jangan sampe nih orang
manggil Ghoul lagi!
“Uhuk! Uhuk!”
“Woy, anjing!”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Urgh…”
Dia nunduk doang waktu gue
panggil.
“O…O—”
“Kalo lo coba panggil Ghoul lagi,
artinya siap mati lo sama gue, Derrek!”
“…”
“Mending lo nyerah, Derrek!
Seenggaknya, kalo lo nyerah, mungkin Guild atau pemerintah yang adilin lo.”
“Pe…Pemerin—”
“Jadi lo pilih mana?! Pemerintah
yang adilin lo, atau gue yang adilin lo?!”
“…”
Dia diem doang waktu gue tanya.
Kayaknya sih dia mau rencanain sesuatu. Yang penting, gue harus siap aja.
“Mengapa…”
“Hah?!”
“Mengapa anda harus ikut campur
dengan Xia? Semuanya sudah berjalan dengan baik. Angka kriminal di desa yang
paling luas di Erviga ini pun sudah berkurang. Lantas, mengapa anda harus ikut
campur dengan desa ini?”
Hm…kenapa ya?
Bahkan di Quest pun, kita cuma
disuruh investigasi. Selama ada bukti, harusnya Quest udah selesai. Tapi kenapa
gue sama Myllo mau selesain masalah di desa ini? Mungkin gini jawabannya.
“Ada tiga alesan.”
“Ti…Tiga?”
“Yang pertama. Apapun alesan lo,
yang udah lo buat itu jahat banget! Ngorbanin warga demi desa?! Omong kosong,
anjing! Kalo emang separah itu sifat asli warga lo, ya lo kasih edukasi lah,
anjing!”
“E…Edukasi?! Apa anda kira
semudah i—”
“Yang kedua. Lo udah bikin nangis
anggota baru yang Myllo pengen. Dan lebih parahnya lagi, lo sama aja paksa dia
untuk bunuh orang yang dia kagumin!”
“Ma…Maksud anda Gia?! Ji…Jika
kalian berdua tidak—”
“YANG KETIGA!”
“!!!”
“Gaya lo yang dari luar sok
bijak, tapi isinya sampah, tambah lagi lo manipulatif, bikin gue pengen hajar
lo berkali-kali, Derrek!”
“Hikh!”
Karena lo bikin gue inget bapak
gue!
Oh iya, ada yang mau gue tanya
sama dia.
“Tapi sebelum itu, coba jawab
gue, Derrek!”
“…”
“Siapa orang yang namanya
Snake?!”
“Sn…Snake?!”
“Karena di catetan harian lo itu
lo sering sebut nama dia, makanya masalah nggak akan selesai kalo cuma nangkep
lo doang!”
“…”
“Hm?”
“…ha…”
Ini orang ketawa?
“Woy, Der—”
“Hahahaha!!!”
“…”
“Anda…mau menangkap Snake?!”
Ini orang…kok senyumnya aneh ya?
Persis kayak warga yang waktu itu ketangkep.
“Hey, Petualang! Anda kira anda
siapa?! Anda pikir anda bisa memburu ular cerdik sepertinya?! Anda
hanyalah tikus yang akan diperalat olehnya semenjak anda membuat kekacauan di
Xia!”
Gue yang diperalat?! Emang dia sebahaya
itu?!
“…”
Lah! Masih berani dia keluarin
pisau!
Tapi kok, kayaknya pisau yang ini
agak beda dari pisau dia yang lain?
Di ujung pegangannya ada kayak
patung warna merah darah gitu…
“Woy! Tar—”
“*Jlub… (suara tusukan pisau)”
Eh?! Dia ngapain?! Kok dia tusuk
lengannya?!
“*Shraaaat… (suara menyayat
lengan)”
“Urgh…”
Ini orang mau bunuh diri?! Kok
lengannya digorok gitu?!
“Hey, Petualang…”
“…”
“Jika anda bisa…menang, maka anda
pantas…memburu Snake…”
Menang?! Emang dia mau ngapain?!
“Inilah darahku! Jika anda sudah
tidak bisa menahan dahaga anda, maka datanglah! Turutilah aku! OBEY!!!”
Brengsek! Ternyata dia—
““GRRRAAAAWW!!!””
Eh! Ada Ghoul yang muncul! Ada
sekitar 9!
Tapi kok…suara raungannya agak
mirip kayak suara Lorvah ya?!
“Lihatlah ini…mereka adalah
Petualang dari Kasta Hijau sampai Kasta Jingga!”
Hah?! Petualang?! Artinya semua
Ghoul yang yang ada di sini sama kayak Lorvah dong?!
“Anda tahu saya mendapat semua
Petualang ini dari mana?”
“…”
“Snake.”
Gila! Ternyata nggak cuma tahanan
dari luar desa aja! Orang yang namanya Snake itu juga nangkep Petualang?!
“Jika saya menantang anda untuk
menang, sepertinya mustahil. Mungkin saya tantang anda untuk bisa bertahan
hidup, Petualang!”
“Cih!”
“Jika anda mati, lebih baik anda
menggantikan Lorvah sebagai Ghoul King! Hahahaha!”
Dasar gila nih orang!
“GRRRAAAAWW!!!”
Ada Ghoul yang mau serang gue.
Sebelum dia nyerang, gue langsung coba pukul dia tapi…
“Grrr…”
…walaupun gue pukul dia sampe
mundur, kok tangan gue sakit banget ya?!
“Morty Manson. Ia dulunya adalah
seorang Frontliner Kasta Jingga. Sekuat apapun anda, anda hanyalah Kasta Hijau,
Petualang!”
banget!
‘GRRRAAAAWW!!!”
“Urgh!”
Kok ada Ghoul yang terbang?!
Ghoul yang terbang ini bawa gue
ke atas!
“Avesio. Ia adalah Manusia yang
menjadi bahan eksperimen seorang Alchemist yang menyebabkan bertumbuhnya
sepasang sayap pada punggungnya.”
“GRRRAAAAWW!!!”
Kenapa Ghoul yang di bawah itu
teri—
“*Bum! (suara tembakan api)”
Sialan! Kok dia bisa nembak api
dari mulutnya?!
Waktu Ghoul Terbang ini lepasin
gue, ada api yang mau nyamber gue! Tapi ujung-ujungnya gue tembus api itu
supaya bisa langsung lompat ke arahnya.
“Pyrobin. Ia dulunya
adalah seorang—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Grrr…”
Najis nih orang! Beraninya di
belakang Ghoul doang!
“Sini lo kalo berani, banci! Gue
gak butuh penjelasan lo!”
“A…Apa?!”
Tadi yang ini siapa namanya? Kok
gue kayak pernah denger ya?
“HAAA—”
“…”
Brengsek! Nggak langsung mati,
dong! Kok Ghoul ini masih bisa gigit gue?!
“Jika anda berpikir bisa
mengalahkan semua Ghoul ini hanya dengan satu pukulan, maka saya rasa anda
terlalu sombong, Petualang.”
“…”
“Memang mereka semua tidak sekuat
Lorvah. Tapi…lebih baik anda mencoba untuk bertahan hidup saja, Petualang.”
““GRRRAAAAWW!!””
Sebenernya gue pun jadi nggak
yakin bisa selamat untuk keluar dari sini. Tapi selama Derrek belom mati,
makanya gue harus bisa menang lawan semua Ghoul ini!
“GRRRAAAAW!”
“*Shrrk… (suara dada tergores)”
“Urgh!”
Ada Ghoul yang punya tangan
panjang banget yang mau coba nyerang gue. Sebut aja Ghoul Pedang.
Serangannya cepet banget, bahkan
dada gue sempet kegores sama ujung pedangnya.
“GRRRAAAAW!”
“*SWUSH! (suara ayunan kapak yang
cepat)”
Dan nggak lama kemudian, ada
Ghoul Kapak yang coba nyerang gue dari belakang. Untungnya gue langsung reflek
untuk hindarin serangan itu dan langsung balik badan ke arah dia.
“Grraa…”
Gue ‘gunting’ kakinya pake kaki
gue sampe jatoh, terus pukul dia terus sampe—
“GRRRAAAAWW!!!”
“*SYUT! (suara panah yang
kencang)”
“…”
Gila! Kalo gue telat sedetik aja,
mungkin kepala gue udah ilang, kali! Itu panah apaan?! Kenceng banget!
“…”
Sekarang ada Ghoul yang tangannya
ada delapan tapi bentuk semua tangannya kayak pisau gitu.
“GRRRAAAAWW!”
“*Jlub, jlub, jlub… (suara banyak
tusukan)”
Buset! Cepet banget tangannya!
Walaupun udah gue hindarin, tetep aja banyak tusukan di badan gue!
Daripada gue hindarin, mending
gue tangkep aja tangannya!
“Grrr—”
“HRAAAAAAGGGHHH!!!”
“*Bruk! (suara bantingan)”
Gue banting Ghoul Pisau ini waktu
gue berhasil tangkep salah satu tangannya.
“HRAAAAAGGGHHH!!!”
Gue tarik salah satu tangannya
sampe putus!
“GRRRAAAAWW!”
Bagus. Sekarang—
“GRRRAAAAWW!!!”
“Argh!”
Brengsek! Gue terlalu fokus sama
satu Ghoul, gue sampe lupa sama Ghoul lain, khususnya Ghoul terbang ini!”
“GRAW!”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
“Uhuk! Uhuk!”
Brengsek! Gue di lempar kayak
gitu aja!
Sekalinya gue bangun, Ghoul Keras
yang paling pertama gue pukul tadi muncul di depan gue.
Mungkin mau nggak mau harus pukul
Ghoul ini, tapi badan gue susah gerak gara-gara dibanting dari atas tadi!
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Grrr…”
Untung gerakan Ghoul ini lebih
lambat, jadinya gue bisa nyerang dia langsung. Masalahnya…
“*Craaat! (suara cipratan darah)”
…jari gue sakit banget waktu
pukul dia! Bahkan banyak darah yang keluar dari jari ini!
“*Brrrr… (suara getaran bumi)”
Tunggu, ada yang aneh. Kok
tiba-tiba ada gempa—
“*Shruk! (suara tertusuk)”
“Aaargh!”
Apaan ini, anjing?! Kok tiba-tiba
muncul batu tajem yang nusuk dada gue sampe setinggi ini?!
“…”
Oh, ternyata itu Ghoul yang
nyerang gue pake batu ini?!
“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara
memukul batu)”
Ayo dong! Ancur kek batunya!
“*Bruk! (suara batu hancur)”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
“Huff…huff…huff…”
Asli, sakit banget! Bahkan ujung
batu tadi masih nancep di dada gue!
Kalo gue lepas batu ini, gue pasti
udah kehabisan darah! Tapi kalo nggak gue lepas, pasti gue lebih susah gerak!
Jadi serba salah gue!
“…”
Kenapa semua Ghoul itu pada
ngumpul kayak gitu?
Tambah lagi, Ghoul terakhir sama
sekali belom gerak sama sekali! Kira-kira bisa apa dia?!
“*Ngung… (suara sihir
penyembuhan)”
Tunggu! 8 Ghoul yang gue lawan
tadi tiba-tiba muncul cahaya gitu di badannya! Jangan-jangan mereka…
““GRRRAAAAWW!!!””
Brengsek! Bener kan?! Pasti
mereka disembuhin!
Bahkan Ghoul Pisau yang tangannya
gue lepas satu tadi tiba-tiba muncul lagi tangannya!
“Hahaha! Bahkan Ghoul pun
memiliki seorang Keeper, Petualang! Lantas, apa yang bisa anda lakukan
sekarang?!”
“Heh! Masih berani lo nongolin
muka lo di depan gue, banci!”
“Da…Dasar Manusia Biadab! Masih
berani anda berkata seperti itu kepada saya?!”
Ya iyalah! Kan bikin orang emosi
itu salah satu bakat gue!
“Anda keterlaluan, Petualang!
Sepertinya membunuh anda saja tidak cukup! Lebih baik kesepuluh Ghoul ini
benar-benar menyiksa anda!”
Hah?! Sepuluh?! Kan cuma ada
sembi—
“*Brrr… (suara getaran bumi)”
Ini gempa apa lagi sih?! Jangan
bilang dari Ghoul Batu tadi?!
Pokoknya, sampe muncul batu kayak
tadi lagi, gue udah siap untuk hindarinnya!
“*Brrrrrgh! (suara dataran
terbelah)”
Eh! Kok datarannya jadi kebuka
gini sampe muncul jurang?!
Seharusnya gue masih bisa untuk
hindarin jurang yang di buka ini. Masalahnya…
“GRRAAW!”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Ngen…”
…Ghoul Keras tadi pukul gue biar
gue jatoh ke jurang ini!
Akhirnya gue jatoh masuk jurang
ini. Ternyata Ghoul kesepuluh yang dibilang banci tadi ngumpet di bawah
tanah!
“GRRAAWP!”
“AAARRGGH!”
Brengsek! Ukurannya gede banget!
Bahkan dia gigit kaki gue!
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! (suara banyak
pukulan)”
“Grrr! Grr!”
Ayo lepasin kaki gue, brengsek!
“*Crrak! (suara mengoyak)”
“AAAARRRGGGHHH!!!”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
Brengsek…kaki gue putus…
Bahkan gue udah susah nafas…
Masa gue mati sekarang, sih…
“…”
Ah. Tiba-tiba kenapa gue keinget
Pak Jaya yang ngajarin gue Pencak Silat, ya…
Djinn…marah banget, pak.