
Leonard bersama Leo Guild telah tiba di dekat Chamber of Ancient Armament, di mana Myllo hendak berkumpul bersama beberapa anggotanya dan anggota Taurus Party.
““*Boink, boink, boink…””
Bersama dengan grup yang ia pimpin, mereka melompat-lompat dari satu awan ke awan lainnya.
Tetapi ketika dalam perjalanan, Djinn merasa ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.
“Ada yang aneh.”
“Hah? Ada apa, Djinn?”
“Kok angin kenceng tadi tiba-tiba hilang?”
“Bener juga ya. Padahal tadi ada angin kenceng. Tapi sekarang kita aman-aman aja, nggak ada hempasan angin sama sekali.”
Sahut Dalbert, ketika Djinn membahas tentang hilangnya tiupan angin kencang yang ada sebelumnya.
“Shishō…”
“Hm? Kenapa, Bocil Naga?”
“Tidak. Hanya saja, Aku yakin bahwa hilangnya angin kencang tadi berhubungan dengan Shishō.”
““…””
Dalbert menatap Ryūhime dengan iba, sementara Sonda menatapnya dengan penasaran.
“Adek kecil, emangnya siapa yang kamu maksud—”
“Hey! Aku lebih tua darimu! Hormatilah Aku sedikit! Jangan seperti mereka berdua! Grrrrrrr! Pemuda-pemudi zaman sekarang sangatlah tidak sopan!”
Seru Ryūhime dengan gusar ketika Sonda hendak bertanya kepada Ryūhime.
“H-Hormat…? Emangnya dia siapa sih?”
Tanya Sonda dengan berbisik kepada Djinn.
“Dia itu Wind Dragon Princess.”
“HAH?!?! Wind Dragon Princess?! Kok kalian—”
“Tapi karena penampilannya kayak bocil, jadinya kita panggil dia Bocil Naga.”
“P-Parah banget…!”
Seru Sonda dengan terkejut.
“Hmph! Lihatlah mereka yang tidak sopan! Tetapi untuk kau ingat, wanita muda! Nama-Ku Ryūhime!”
“I-I-Iya, Nyonya Ryūhime…”
Jawab Sonda kepada Ryūhime.
“Sepertinya kau hendak bertanya kepadaku, wanita muda.”
“Y-Ya. Saya cuma penasaran aja. Sebenernya siapa sih orang yang Nyonya Ryūhime maksud?”
“Kazedori Ayasaki, wanita yang—”
“HAAAAH?!?! DEADLY MAIDEN?!?!”’
Teriak Sonda dengan sangat terkejut.
“Ahahaha! Djinn! Dalbert! Ternyata dia juga kaget!”
Sementara Myllo hanya mentertawakannya.
“Hey! Jangan berteriak! Kita tidak boleh memancing perhatian mereka yang menginvasi tempat ini! Apalagi
masih ada beberapa Hainu dan Spirit Beast lainnya!”
“M-Maaf, Nyonya Ryūhime! S-Saya terlalu kaget!”
Jawab Sonda dengan perasaan bersalah.
“Woy kalian, bocah-bocah sialan!”
““Hah?! Siapa yang lo maksud bocah sialan—””
“Perhatiin baik-baik! Itu mereka, bukan?!”
““…””
Myllo, Dalbert, dan Sonda yang sempat marah dengan ledekan Djinn, seketika mendapati grup Gia yang berada tidak jauh dari awan di mana mereka berdiri.
“Wuahaaa! GIAAAA!!! GARRYYY!!! MACHINNOOO—”
“*Tung!”
“Aduh! Sialan lo, Djinn! Kok kepala gue dipu—”
“Kan udah diingetin! Jangan teriak-teriak! Nanti bisa-bisa—”
“*Boink!”
“Woy! Myllo!”
Teriak Djinn dengan kesal, setelah Myllo melompat dari awan yang ia pijak, untuk pergi menuju awan di mana
Gia dan rekan-rekannya berada.
“Haaaaaahh…! Dasar Kapten Dongo satu itu!”
“Yaudah lah! Mau nggak mau kita nyusul aja!”
“Baiklah! Lagi pula pada akhirnya kita harus bergabung kembali, bukan?!”
“Y-Ya…”
Djinn dan rekan-rekan Myllo lainnya mengikutinya dengan melompat menuju Gia dan rekan-rekannya.
“*Boink…”
“Ooooi! Giaaa! Garryyy! Machinnooo!”
“Myllo!”
“Et! Sianying! Kenapa teriak-teriak?!”
“…”
Ketiga anggota Aquilla tersebut menyambut kedatangan Kapten mereka.
“Sonda! Lo nggak apa-apa?!”
“Ya. Gue baik-baik aja.”
Balas Sonda, setelah Lozrick dan sesama rekan Taurus lainnya datang menghampirinya.
“Sonda! Bagaimana dengan Slasher?!”
Tanya Kritach kepada Sonda.
“D-Dia…”
“Tunggu! Siapa anak kecil ini, Sonda?!”
“A-Apa mungkin… Slasher dikutuk jadi anak kecil…?”
“Oh gitu?! Bagus deh! Dia jadi lebih imut! Asalkan nggak jorok a—”
“Sopan sedikit kalian, bocah-bocah sialan!”
“*Tung! Tung! Tung!”
Seru Sonda sambil memukul kepala Kritach, Lozrick, dan Hobart, sebelum menjelaskan identitas Ryūhime.
““HAH?!?! WIND DRAGON PRIN—””
““Ssssstttt!!!””
Deru Gia, Dalbert, dan Sonda kepada anggota Taurus lainnya.
“J-Jadi kemanakah Slasher, Sonda?”
“D-Dia—”
“Gue ada di sini!”
“*Boink…”
““…””
Seketika mereka semua menatap Slasher yang datang di depan mereka.
“…”
Slasher menatap Sonda dengan perasaan bersalah.
“Sonda, maafin gue karena—”
“Gue minta maaf kalo kata-kata gue kasar, Slasher.”
“Ya. Gue juga minta maaf karena terlalu egois.”
Balas Slasher kepada Sonda.
“…”
Slasher kemudian menatap Djinn dan Garry, yang pernah ia hadapi, lalu menghampirinya untuk meminta maaf kepadanya dan Aquilla.
“A-Aquilla…”
“…”
“Maafin gue! Gue ngelakuin itu semua untuk—”
“Hehe! Tenang aja! Semoga sehabis masalah ini selesai, kita bisa pesta sama-sama bareng Tarruc sama Luvast! Gimana?!”
“…”
Slasher hanya terdiam ketika mendengar jawaban tulus dari Myllo.
“Djinn! Garry! Kalian gimana?! Pasti mau maafin dia, kan?!”
“Ya mau gimana lagi? Mungkin gue juga kelewatan pancing emosinya.”
“Selama dia ada teteh geulis, aing mah terima-terima wae!”
Jawab Djinn dan Garry kepada Myllo, sebelum mereka berdua saling berjabat tangan dengan Slasher.
Karena hal itu, mereka bersama-sama pergi menuju Chamber of Ancient Armament.
Namun ketika dalam perjalanan, Zegin merasakan sesuatu yang berbahaya, yang berada jauh di depan mereka semua.
“Myllo, denger Gue.”
“…”
Karena panggilan dari dewi yang menaunginya, Myllo pun masuk ke dalam pikirannya untuk bertemu dengan Zegin, walaupun ia sedang berjalan bersama rekan-rekannya.
“Ada apa, Zegin?”
“Gue bisa rasain sesuatu yang bahaya banget di depan lo.”
“Oh gitu—”
“Ya! Gue tetap ke sana!”
Jawab Myllo dengan yakin kepada Zegin.
“OK kalo itu kemauan lo. Gue nggak akan paksa lo untuk keluar dari tempat ini.”
“Ya. Makasih banyak, Ze—”
“Tapi gue mau ingetin sesuatu sama lo, Myllo.”
“Apa?”
“Yang ada di depan lo itu, sesuatu yang pernah lo lawan sebelumnya!”
Jelas Zegin kepada Myllo, sebelum Myllo keluar dari dalam pikirannya untuk menuju Chamber of Ancient Armament.
Hingga akhirnya…
“Grahahaha! Akhirnya kita ketemu juga, Myllo!”
“Leonard…!”
…mereka semua kembali bertemu dengan pria yang pernah Myllo kagumi.
……………
Sementara itu, di Tenshujū.
“*Brak!”
“Sial…! Andai kita semua lebih kuat…! Mungkin ini semua tidak akan terjadi…!”
“Shogun-sama…”
““…””
Semua Kepala Komisi yang tersisa masih meratapi kekalahan mereka di tangan Leonard.
Dengan kematian sebagian besar prajurit dan beberapa Kepala Komisi, hancurnya Chūbo Town, serta diculiknya Tetsuo, mereka pun dilanda dengan putus asa.
“Jadi… apa yang harus kita lakukan…?”
“A-Aku pun juga tidak tahu, Tanzō-dono.”
“A-Apa mungkin… seharusnya Shogun-sama tidak membuka Chūbo Town… seperti yang dikatakan—”
“Jangan mempertanyakan keputusan-Nya! Mungkin itu yang ingin sekali kukatakan. Tetapi… sepertinya semua sudah terlambat…”
““…””
Ryūtaro dan Miyako hanya bisa mendengar keluhan para Kepala Klan. Mereka juga sama putus asanya dengan mereka semua.
“Ryūhime-sama…”
“T-Tetsuo-kun…”
Pikir Ryūtaro dan Miyako, yang mengkhawatirkan Ryūhime dan Tetsuo.
Di saat mereka semua sedang berduka, mereka dikejutkan dengan sesuatu yang menghampiri mereka.
“Apa yang mau kalian lakukan sekarang?!”
“Tidakkah penderitaan kami cukup bagi kalian?!”
“Nggak! Kita nggak ada niatan untuk bikin kekacauan di tempat ini! Kita cuma mau ketemu Kepala Klan aja!”
““…””
Seluruh Kepala Komisi, Ryūtaro, dan Miyako mendengar suara keributan dari luar ruangan di mana mereka berada.
“Ada apa di luar sa—”
“Biar saya yang tangani.”
Sahut Katanaka, yang kemudian pergi keluar ruangannya.
“Mengapa ada keributan di—”
“Tanzō-sama! Mereka ini para pengacau yang menyerang kita di saat petang hari!”
Jelas salah seorang anggota Bakufu kepada Katanaka, di mana terdapat Daphine yang datang bersama Kornell
dan Gravanghar.
“Kalian…! Mengapa kalian—”
“*Druk…”
“T-Tolong denger penjelasan kita dulu! Kita nggak ada niatan untuk nyerang kalian!”
Jelas Daphine terkait kedatangannya, sambil bersujud di hadapan Katanaka.
“Dasar pendusta! Apa kau pikir sujudmu itu—”
“Baiklah. Masuklah terlebih dahulu.”
“T-Tanzō-sama! Tetapi—”
“Alangkah baiknya jika kita menghindari konflik dan pertarungan! Tidakkah cukup pertumpahan darah dari antara kita dan mereka?!”
Tegas Katanaka kepada anggota Bakufu tersebut, ketika teringat akan penderitaan dari anggota Leo yang ia hadapi sebelumnya.
““…””
Daphine dan kedua rekannya memasuki ruangan mereka. Karena kedatangan mereka, para Kepala Komisi menatap mereka bertiga dengan waspada.
“Tenanglah, kalian semua! Saya tidak merasakan adanya intensi buruk dari mereka!”
“Katanaka-san! Tetapi mereka—”
“Aku juga setuju sama Tanzō-san. Kalau mereka ada niat jahat, seharusnya mereka bisa masuk secara diam-diam. Nggak, mereka bahkan bisa bunuh semua prajurit Bakufu yang ada di luar, sebelum ketemu kita semua.”
Jelas Miyako, dengan maksud mendukung argumen Katanaka.
““…””
Daphine dan kedua rekannya duduk bersama di hadapan para Kepala Komisi, Ryūtaro, serta Miyako. Ia menjelaskan tentang kejahatan Leonard terhadap mereka bertiga.
“Keuk! Pantas saja ia dengan tega membunuh semua anggotanya!”
“Dengan paksaan seperti itu, maka tidak akan ada loyalitas dari semua anggotanya! Ternyata mereka terlihat loyal karena rasa takut!”
“Tidakkah ia merasakan kebencian dari semua orang atas aksinya itu?!”
“Bahkan Tetsuo-kun atau Satoshi-kun nggak pernah paksa orang lain sekeras itu!”
Sahut Nakatoki, Yasukata, Ryūtaro, serta Miyako, setelah mendengar penjelasan Daphine.
Kemudian Daphine menjelaskan tentang kedatangannya di hadapan mereka semua.
“A-Apa?! Ada yang menghempaskan kalian keluar dari peperangan?!”
“Ya. Mungkin kita keliatan diserang. Tapi kalo menurut kita sendiri, kita dibawa lari sama perempuan itu.”
“Perempuan?! Siapa yang kau maksud, Daphine-san?!”
“K-Kita juga nggak tau, karena perempuan itu pakai kain yang tutup semua wajahnya—”
“AYASAKI-SAMA?!?!”
““!!!””
Semua terkejut ketika mendengar teriakan Ryūtaro.
“A-Apa maksudmu, Ryūtaro-san—”
“Tidak salah lagi! Semenjak aku lahir, beliau selalu menutup wajahnya dengan kain tipis, ketika ia berada di luar Hidden Dungeon!”
“Ryūtaro-san benar. Satoshi-kun pernah kasih tau aku tentang Ayasaki-chan, yang selalu tutup identitasnya pakai kain.”
Jelas Ryūtaro dan Miyako kepada para Kepala Komisi.
“P-Permisi, Ayasaki yang kalian maksud itu…”
“Ya. Ia adalah The Deadly Maiden, yang juga rekan dari Pahlawan Pertama, Melchizedek-sama.”
““!!!””
Daphine dan kedua rekannya sangat terkejut ketika mendengar penjelasan dari Katanaka.
“A-Artinya…”
“Kita bertiga diselamatin salah satu Pahlawan Pertama…?”
Bisik Gravanghar dan Kornell dengan tidak percaya.
Tetapi beda halnya dengan Daphine.
“Gue—Ehem! Saya mau bantu dia!”
“Bantu dia? Apa maksudmu, Daphine-san?”
“Dia bilang, kalo kita udah bebas. Tapi dari yang saya liat, dia yang sebenernya nggak bebas! Makanya itu saya mau ketemu dia, dengan harapan saya bisa bantu dia!”
Jelas Daphine terkait tujuan utama kedatangannya.
“Maafkan kami, Daphine-san. Ia adalah wanita yang sangat bebas, bahkan kami juga tidak tahu keberadaannya—”
“Saya yakin dia ada di dalam Hidden Dungeon!”
Seru Daphine, dengan maksud meyakinkan mereka semua.
“Pastinya Ia berada di dalam Hidden Dungeon! Tetapi tidak menjamin juga keberadaannya bisa kita temukan di
dalam—”
“Aku setuju sama Daphine-chan.”
“Miyako-sama?”
“Kamu mungkin benar, Ērukuma-san. Mungkin aja kita nggak bisa ketemu Ayasaki-chan. Tapi, apa salahnya kalo kita ke sana? Siapa tau kita bisa ketemu dia.”
Jelas Miyako kepada para Nakatoki dan Kepala Komisi lainnya.
“Tambah lagi… aku nggak yakin.”
“Tidak yakin? Apa yang Engkau katakan, Miyako-sama?”
“Aku nggak yakin… kalau Ryūhime-chan, Saint-kun, dan teman-temannya bisa kalahin Pengacau itu. Makanya itu, kita harus secepatnya ke dalam Hidden Dungeon, supaya kita bisa bantu mereka!”
““…””
Mendengar pernyataan Miyako membuat para Kepala Komisi, Ryūtaro, serta Daphine dan kedua rekannya gemetar ketakutan.
Akan tetapi…
“B-Baiklah, Miyako-sama…”
“Mari kita sama-sama… membantu Saint-sama, Ryūhime-sama…!”
“Semoga saja… kita bisa menemukan Kazedori Ayasaki-sama, yang kami percaya sebagai satu-satunya wanita yang mampu mengalahkan Pengacau itu…!”
…mereka semua membulatkan tekad mereka, untuk memasuki Hidden Dungeon, walaupun mereka harus kembali menghadapi seorang maut yang bernama Leonard Rochdale.