
Kembali ke Dalbert, Garry, dan Delolliah.
“Aaaargh!”
“Sabar ya, Teh Delolliah! Aing coba semaksimal mungkin untuk sembuhkeun teteh!”
Seru Garry sambil berusaha untuk menyembuhkan sakit kepala Delolliah.
“Garry, mending kita bawa Delolliah aja dulu dari sini!”
Seru Dalbert, sambil menopang Delolliah.
“Sianying! Sia teh sentuh-sentuh Teh Delolli—”
“Itu nggak penting! Kita nggak akan tau ada apa kalo kelamaan di sini!”
Balas Dalbert, sambil berlari meninggalkan Garry.
“Et! Sianying! Tunggu, atuh!”
Bersama-sama mereka pergi menjauh dari pasukan prajurit Siren yang merasakan hal yang sama dengan Delolliah. Sambil pergi melarikan diri, tiba-tiba Delolliah berbisik dengan memejamkan matanya dan memegang kepalanya.
“Te-Ternyata seperti itu, kah…”
““Mm?””
Gumam Dalbert dan Garry yang mendengar bisikan Delolliah.
“Seluruh Siren di tempat ini… termasuk aku dan saudari-saudariku… tidak lebih dari sekedar pelayan utama di Laguna Castle…”
““!!!””
Dalbert dan Garry terkejut ketika mendengar bisikan Delolliah.
“Aku dan saudari-saudariku… adalah pelayan pribadi dari Putri Syllia. Kami hanyalah putri dari selir yang menerima benih dari Kaisar Laguna, agar kami menjadi pelayan dari Putri Syllia.”
““…””
Dalbert dan Garry tidak berani berkomentar apa-apa.
“Dalbert, saran aing mah, mending kita nepi dulu sebentar.”
“Ya-Yaudah.”
Balas Dalbert akan saran dari Garry.
Setelah menepi, mereka terus mendengar bisikan dari Delolliah.
“Ternyata… selama ini ada Siren pria. Namun… dikarenakan perang antara Kaisar Laguna dan Sea Dragon Empress… mereka terpaksa untuk berubah wujud… menjadi Sea Serpent… I-Itu semua adalah… ulah Kaisar Laguna… ayah dan tuan kami…”
“!!!”
Mendengar hal tersebut…
“Hueeeekkk!!!”
…membuat Garry mual dan muntah.
“Ga-Garry! Lo kenapa?!”
“A-A-Aing teh… makan daging Sea Serpent di Clamista…”
“!!!”
Dalbert pun terkejut ketika mendengar penjelasan Garry terkait apa yang ia lakukan di Clamista, ketika dirinya belum sadarkan diri.
“Karena tidak adanya pemimpin di antara kami… Melchizedek memilih kita berempat… sebagai Permaisuri di Hidden Dungeon of Whisper. Namun… pemimpin asli kami… adalah Jörnarr, yang memiliki serpihan Roh dari Putri Syllia…”
“Teh Delolliah…”
Bisik Garry yang merasa iba dengan Delolliah.
“Ternyata inikah takdir kami, para Siren, yang berada di tempat ini?”
Bisik Delolliah dengan air mata yang berlinang di pipinya.
Sedangkan Dalbert dan Garry tidak bisa berbuat apa-apa, selain bersimpati kepadanya.
Namun, momen mereka bertiga terganggu oleh beberapa hal yang terjadi di sekitar mereka.
““*Shringgg…””
Mereka melihat banyaknya sinar yang seketika muncul di hadapan mereka semua.
“A-Ada apa ini?!”
“Aing ge bingung!”
Balas Garry kepada Dalbert.
Saat sinar-sinar itu pudar, terlihat lah beberapa orang yang menggunakan seragam yang tidak asing bagi mereka.
“Dalbert! Mereka teh…”
“Ya. Mereka anggota Chemia!”
Seru Dalbert dengan kesal.
“Ah, kita berhasil memasuki Hidden Dungeon, ya?!”
“Ternyata Hidden Dungeon ini begitu luas, ya?!”
“Jadi, apa yang harus kita laku—”
“*Crat!”
““!!!””
Beberapa anggota Chemia yang baru saja datang seketika terkejut ketika salah seorang rekan mereka tertembak tepat di kepala.
“Siapa yang menembak?!”
“Lihat itu! Ia adalah Observer dari Aquilla!”
Seru salah seorang anggota Chemia sambil menunjuk Dalbert.
“Garry, lo jagain Delolliah, ya?! Biar gue yang—”
“OK, Dalbert!”
“Woy! Malah lari gitu aja!”
Seru Dalbert dengan kesal karena langsung ditinggalkan oleh Garry yang membawa Delolliah.
Sementara di dekat pintu masuk Coral Castle milik Laguna Empire.
“*Boom!”
““Aaaargh!””
Angela, Eìmgrotr, Zhivreeg, serta Lephta, harus dihadapkan dengan mantan rekan mereka.
“Sial! Tidak kusangka Ghibr bertindak secepat ini!”
Seru Eìmgrotr dengan kesal.
“Angela! Apa yang harus kita lakukan sekarang?!”
“A-Aku juga tidak tahu! Mungkin mereka setia kepada Ghibr, namun mereka tetaplah mantan rekan kita!”
Seru Angela yang sama bingungnya dengan Eìmgrotr.
Namun, dari antara mereka berempat, hanya Lephta yang menyadari suatu kejanggalan dari anggota Chemia yang berada di hadapan mereka.
“Tunggu semuanya! Perhatiin baik-baik!”
““Hm?””
“Mereka nggak berdarah! Mereka bisa regenerasi secepat itu! Tambah lagi, mereka mirip sama empat orang itu! Artinya mereka semua…”
“Homunculus, ya?”
Lanjut Zhivreeg atas penjelasan Lephta.
Bersama-sama, mereka hendak menghadapi seluruh Homunculus ciptaan Ghibr. Namun, sebelum mereka menghadapi mereka semua, Zhivreeg mengkhawatirkan sesuatu.
“Duh, gue takut nggak bisa jaga kalian, nih…”
“Tenang saja, Zhivreeg. Kami tidak akan—”
“Bukan kalian bertiga aja, Angela. Gue takut nggak bisa jaga Siren-Siren ini. Apalagi, denger penjelasan mereka tadi, mungkin aja mereka jadi nggak berani angkat senjata lagi…”
Jelas Zhivreeg kepada rekan-rekannya.
Sedangkan di dalam Coral Castle.
“Hueeeekk…”
Di tengah-tengah kelengahannya itu…
“*Swush!”
“Hraaaaagh!”
…Nemesia langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya.
“*Bwung…”
“Cih!”
Beruntung Machinno dengan sigap menghadang serangan Nemesia menggunakan sihirnya.
“Lihatlah apa yang telah diperbuat oleh temanmu, Mahluk Fana! Karena dirinya, para Siren menjadi teringat akan masa lalu pahit mereka!”
Seru Nemesia kepada Myllo, sambil berusaha menghancurkan Sihir Penghadang dari Machinno.
“Karena temanmu itu…”
“*Bwung!”
“…rasa trauma kami kembali!”
“*Bwung!”
“Apakah kau pikir…”
“*Bwung!”
“…memori itu…”
“*Krrrk…”
“…tidak menakutkan bagi kami?!”
“*Krakkk!”
Nemesia berhasil memecahkan Sihir Penghadang dari Machinno dan langsung menyerang Myllo.
“*Chringgg…”
“Karena rasa egois kalian, para Petualang, yang selalu mengganggu kami, sekarang para Siren yang berada di tempat ini kembali menjadi pelayan yang tidak berdaya!”
Seru Nemesia, dengan tombaknya yang ditangkis oleh Myllo.
Sambil menahan tombak Nemesia, Myllo memperhatikan Jennania yang menangis dengan tidak berdaya.
“*Chringg…”
“*Swush…”
Myllo dan Nemesia kembali menjaga jarak mereka, setelah mereka saling beradu senjata.
“Machinno! Tolong pasangin sihir lo lagi!”
“…”
Mendengar permintaan Myllo, Machinno langsung menutup mereka bertiga dengan sihirnya.
“Aku… tidak lebih dari seorang pelayan Putri Syllia…?”
Bisik Jennania yang perlahan-lahan memorinya kembali.
“Aku menabur benih-Ku kepada ibu kalian, agar kalian menjadi pelayan yang baik kepada-Ku dan kakak kalian, Syllia!”
Kata Kaisar Laguna yang ada di dalam ingatan Jennania. Karena ingatan itu, Jennania merasa ketakutan dan tidak berdaya.
Namun, Myllo mengetahui hal itu.
“*Tap…”
“Jenna!”
“…”
Tidak ada respon dari Jennania ketika Myllo menepuk pundaknya dan memanggilnya.
“Jenna! Denger gue baik-baik!”
“M-Myllo… aku—”
“Mungkin lo inget masa lalu lo 5,000 tahun yang lalu! Tapi bukan artinya lo harus ngelupain siapa diri lo yang sekarang!”
Seru Myllo kepada Jennania.
Sedangkan Nemesia…
“*Bwung! Bwung! Bwung!”
“Apa yang kau lakukan, Mahluk Fana?!”
…berusaha untuk menghancurkan sihir ciptaan Machinno.
“Jawab gue, Jenna! Siapa lo sekarang?!”
“A-Aku adalah… pelayan dari—”
“SALAH BESAR!!!”
“!!!”
Jennania dikejutkan dengan teriakan Myllo.
“Lo tau kan siapa lo yang sekarang, JENNA!!!”
“…”
Mendengar Myllo memanggil nama palsunya dengan keras, Jenna mengetahui jawaban dari pertanyaan Myllo.
Namun, ia masih untuk menjawab hal itu.
“A-Apakah aku masih bisa… mengakui diriku sebagai—”
“Lo bukan ngaku-ngaku! Selama itu keinginan lo, itulah diri lo yang sebenernya!”
“…”
Air mata berlinang dengan deras di mata Jennania ketika mendengar motivasi dari Myllo.
“Jadi, siapa lo yang sekarang?!”
“A-Aku adalah Jenna! Keeper Kasta Biru dari Virgo!”
“Hehe! Ba—”
“*Krakkk!”
Dialog mereka terganggu ketika Nemesia kembali berhasil menghancurkan sihir Machinno.
“Percuma saja kau membujuknya, Mahluk Fana! Karena memang itu takdir kami sejak la—”
“*Bwush!”
“Keuk!”
Nemesia yang sedang berbicara sambil berusaha menyerang Myllo, seketika diserang oleh sihir dari Jennania.
“Keterlaluan kau, Jennania! Apakah kau pikir kau bisa—”
“Kakak Nemesia! Kau tidak berhak berbicara tentang takdir di hadapanku!”
“Apa kau bi—”
“Lihatlah dirimu, Kakak Nemesia! Jika memang kau sudah mengetahui masa lalu yang baru saja aku lihat, tidakkah seharusnya kau bertindak seakan seperti Permaisuri?!”
Seru Jennania yang mempertanyakan tindakan Nemesia.
Karena perlawanan dari adiknya, amarah Nemesia kepada Myllo semakin membara.
“Mahluk Fana! Tidak hanya membawa kehancuran di Dungeon ini dengan membawa tamu-tamu yang tidak diundang saja! Kau bahkan bisa menghasut adikku! Jangan kau pikir kau bisa mati dengan tenang, Mahluk Fana!”
Seru Nemesia dengan darah mendidih.
Bersama-sama Myllo, Jennania, dan Machinno memulai kembali pertarungan mereka menghadapi Nemesia.
Namun…
“*Bruk!”
…pertarungan mereka terganggu dengan kedatangan beberapa anggota Chemia.
“Anggota Chemia?!”
Tanya Myllo yang terkejut.