
“*Fwup, fwup, fwup…”
“*Chaaaaak!”
Gue naik mahluk aneh yang namanya Griffin ini bareng Dalbert sama cewek yang namanya Velka ini.
Dari atas sini, gue bisa ngeliat gimana hancurnya Dreaded Borderland.
Selama perjalanan ke Beckbuck, Velka ceritain ke kita berdua tentang Centra Geoterra yang sebenernya udah niat untuk hancurin pulau ini. Dia jelasin ke kita kalo pulau ini sebenernya kaya akan materialnya. Sayangnya penduduk di sini nggak ada yang sadar tentang itu.
Masalahnya…
“Kenapa harus dihancurin?! Emangnya Centra Geoterra nggak bisa masuk ke pulau ini tanpa bantai warga-warga di sini?!”
“Saya tidak mengetahui tentang rinciannya. Saya hanya mengetahui Centra Geoterra yang baru saja mengetahui
potensi kekayaan alam yang berada di pulau i—”
“Itu nggak ngejawab pertanyaan gue, Velka! Mau mereka tau tentang kekayaan alam di pulau ini atau nggak, mereka nggak seharusnya bantai semua warga yang ada di sini!”
“…”
Gila kali, ya?!
Bahkan gue bisa liat ada anak-anak yang jadi korban pembantaian pusat pemerintahan i—
“Anda sebelumnya mengatakan, bahwa anda hilang ingatan, bukan?”
“Ya. Emangnya kena—”
“Baiklah. Saya akan mengingatkan sesuatu kepada anda, selagi anda masih menjadi seorang Petualang yang secara tidak langsung juga bekerja untuk Centra Geoterra.”
“…”
“Seperti inilah cara kerja Centra Geoterra. Semuanya mereka lakukan demi keseimbangan, stabilitas, dan keadilan.”
“Omong kosong! Nggak ada satupun poin yang nyambung sama—”
“*Tap…”
“Terima aja, Djinn. Apa yang dia bilang tuh bener. Centra Geoterra itu bisa seenaknya manipulasi sesuatu.
Makanya itu, waktu gue terima hukuman untuk jadi Petualang, gue yakin kalo gue pasti liat kejadian kayak gini.”
Cih! Pemerintahan macem apa tuh mereka?!
Andai gue bisa ketemu pimpinannya, gue nggak akan tahan-tahan pukulan gue!
……………
Beberapa jam kemudian, kita bertiga sampe di Buckbeck Post.
Waktu kita turun dari Griffin ini…
“DJINN!!! DALBERT!!!”
“*Phuk!”
…kita berdua langsung di sambut temen-temen kita. Gia juga peluk kita sambil nangis-nangis.
“Aku khawatir banget sama kalian!”
“Myllo teh bilang kalo kalian pasti balik ke sini! Tapi siapa yang nggak khawatir, atuh!”
“Djinn… Dalbert… baik-baik saja?”
“Ya. Maafin kita karena kelamaan baliknya—”
“*Phak!”
Eh?! Ada suara tamparan?! Kok kenceng banget—
“Berani-beraninya anda bertindak di luar perintah Kepala Unit! Memangnya anda kira anda siapa?!”
“Jangan berani bertindak sesuka hati! Ingatlah bahwa anda tidak lebih dari sekedar anggota baru!”
“M-Maafkan saya…”
S-Sialan! Berani-beraninya mereka tampar Velka—
“Hey, hentikan! Apa yang kalian lakukan?!”
“Kepala Unit! Wanita ini telah—”
“Apa bedanya ia dan kalian yang bertindak tanpa perintah saya?!”
““…””
Ternyata orang itu ya Kepala Unit-nya?
“Velka. Ikutlah dengan saya.”
“Baik, Kepala Unit.”
“…”
Semoga aja Velka nggak kenapa-kenapa, deh.
Oh ya! Ada yang kurang!
“Gia. Myllo ke mana?”
“Dia… lagi mau ditinggal sendirian…”
“Hm?”
“…”
Gia ceritain ke gue sama Dalbert tentang kejadian di sini. Mulai dari mereka yang kerja sama untuk berantas
Sandworm yang nyerang kota ini, Myllo yang ngungkapin siapa sebenernya Sheriff itu, sampe Kepala Unit yang namanya Druettus itu, yang dateng untuk rancang “skenario” di tempat ini.
“Kakaknya Myllo masih hidup?!”
“Ya. Semenjak denger kabar itu… Myllo keliatannya kaget banget. Bahkan aku pun nggak paham apa yang sebenernya dia rasain. Makanya itu, waktu dia bilang dia mau sendirian… aku nggak berani untuk temuin dia…”
Wajar aja sih dia begitu.
“Djinn, tolong dong. Cuma kamu doang yang bisa—”
“Y-Yaudah, gue coba dulu.”
“OK! Makasih banyak ya!”
Hmm… Dia lagi sendirian ya?
“!!!”
Ah, ada satu tempat, yang gue yakin dia ada di sana!
Kalo gitu gue jalan sekarang, deh—
“Djinn, sebelum kamu pergi…”
“Ada apa lagi?”
“Nih.”
“!!!”
I-I-Ini…
“L-Lencana Rounder Kasta Jingga?!”
“Ya. Kepala Unit tadi bilang, kalo kita “harus” Kenaikan Kasta. Soalnya… warga dunia heran soal kita yang nggak naik Kasta sama pencapaian kita di Erviga Kingdom.”
“Cih!”
Nggak terima banget gue kalo dapet Kenaikan Kasta kayak gini!
Buat apa juga terima lencana ini, kalo bukan murni dari usaha kita?!
Dasar brengsek lo, Centra Geoterra!
“Observer Kasta Hijau?!”
Ternyata Dalbert juga naik jadi Observer Kasta Hijau.
“Iya, atuh! Nih! Aing ge naik Kasta!”
“…”
Gia sama Garry juga dapet. Mereka sekarang jadi Frontliner sama Keeper Kasta Kuning.
“Terus Machinno?”
“K-Katanya dia mau dianggap sebagai… Familiar. Cuma kita semua nolak ide itu. Jadinya dia nggak dapet apa-apa.”
Familiar?
Oh iya. Kalo nggak salah Familiar itu semacem peliharaannya Petualang kan, ya?
“Haha. Familiar.”
K-Kasian banget…
“Yaudah, gue pergi dulu.”
“Ya.”
……………
Akhirnya gue pergi ke kedai minum, di mana gue beneran temuin Si Dongo itu di sini.
“Pak, kopi satu.”
“Ya!”
Gue langsung duduk di samping dia, terus langsung pesen kopi.
“Djinn…? Kenapa lo ada di si—”
“Gimana? Udah mendingan Atau masih ada yang mau lo ceritain lagi ke gue?”
“Haaah? Cerita? Emangnya lo mau gue jadi Pendongeng? Haha! Tenang aja! Nggak ada yang perlu diceritain, kok! Cuma aja…”
“Hm?”
“…gue merasa bersalah karena terlalu kaget denger tentang kakak gue yang masih hidup. Bahkan lebih parahnya lagi… gue terlalu kaget… sampe nggak denger Gia yang nangis-nangis khawatirin lo sama Dalbert.”
“Oh gitu?”
“Yaaah, pokoknya karena itu… gue jadi ngerasa bersalah banget. Maafin gue sebagai Kapten lo, Djinn. Karena masa lalu gue, gue hampir ngelupain kalian berdua.”
“…”
Mungkin dia ngomong gitu. Tapi gue yakin dia pasti sama khawatirnya kayak Gia atau yang lainnya.
Gue paham sih kalo dia bisa sampe sekaget itu. Lagipula Sylvia itu kakaknya yang dia sayang banget.
Oh iya, ngomong-ngomong soal kakak…
“Tenang aja, Kapten. Gue, lo, sama Dalbert, sama-sama punya kakak, bukan?”
“…”
“Emang sih kakaknya Dalbert masih hidup. Tapi kalo gue jadi lo, mungkin gue juga sekaget itu kalo tau kakak gue masih hidup! Nggak, bisa aja lebih parah lagi!”
“Bener juga! Kan lo galak kalo gonggong!”
“Ngaca, woy! Siapa yang gonggong waktu tongkatnya hilang?!”
“Ah! Bener juga ya!”
Bagus, deh. Seenggaknya dia udah nggak gelisah lagi.
“Jadi, selanjutnya kita mau ngapain?”
“Hmm… Yang bisa gue pikirin sih, cuma pergi dari pulau ini secepetnya untuk lanjutin petualangan kita. Tapi sebenernya gue punya penyesalan lain.”
“Penyesalan lain?”
“Nyesel karena gue ngulang hal yang sama kayak yang dialamin Kak Sylv. Bahkan empat mantan pemimpin Dreaded Band mulai nggak mau ketemu gue lagi, karena ulah Centra Geoterra.”
Oh iya. Kan Myllo sempet aliansi sama pimpinan bandit itu. Walaupun cuma sekedar aliansi sesaat, gue yakin kalo Myllo anggap mereka sebagai temennya.
“Tapi, terus berlarut sama masa lalu aja udah salah, apalagi terus berlarut sama penyesalan, bukan?”
“Ya. Lo bener, Mil.”
Mungkin dia ngomong gitu untuk ingetin dirinya sendiri. Tapi denger dia ngomong gitu, gue jadi ngerasa “disentil” sama kata-katanya.
Karena gue juga masih nyesel nggak buka diri untuk orang lain di dunia lama gue.
“Yaudah, deh. Selain lanjut sebagai Petualang Kasta Jingga, mungkin yang perlu kita jalanin cuma pergi dari pulau ini secepetnya. Mau Kak Sylv hidup atau nggak, target gue masih sama! Gue mau jadi Petualang Nomor Satu di Dunia!”
“Bagus. Kalo gitu…”
“Mm?”
“…kenapa nggak kita bersulang, untuk mimpi kita sama kakak kita, Kapten?”
“Hehe! Sialan lo! Giliran begini lo manggil gue Kapten!”
“*Chring…”
Akhirnya kita bersulang, sebelum pergi dari kedai ini.
Walaupun…
“Hueeeekkk!”
“Haaaah…”
…gue tau akhirannya selalu sama, kalo keluar dari kedai.
……………
Dua hari kemudian, kita berenam mau pergi dari pulau ini.
Mungkin awalnya kita bingung cara pergi dari sini.
Tapi… ada satu kejutan besar untuk kita!
““Wuoooohhh!!!””
“Seriusan kapal ini buat kita?!”
Velka tiba-tiba kasih kita kapal!
“Haaaaah…! Nama kalian sudah dikenal luas! Tetapi kalian tidak memiliki sebuah kapal?! Party macam apa yang tidak memiliki kapal?!”
“E-Emangnya wajar kalo Party punya kapal?!”
“Tentu saja, Djinn! Anggaplah ini sebagai salah satu informasi baru yang dapat menanam ingatan anda yang hilang! Oh ya! Ini adalah panduan untuk mengendarai kapal ini.”
V-Velka masih percaya ya kalo gue hilang ingatan?! Bahkan keliatannya dia serius banget mau “isi ingetan” gue!
“Dan saya harap anda sekalian juga menjaga kapal ini! Karena kapal ini harganya sebesar 25,000,000 Gerra!”
“G-Gerra…?”
““!!!””
Woy! Kok bocah-bocah sialan ini pada kaget, sih?!
Tambah lagi, kenapa Velka ikut-ikutan kaget?!
“Djinn…?”
“Apakah anda…”
“Nggak tau Gerra itu apa…?”
K-Kenapa mereka liatin gue kayak gitu…?
“Nggak.”
““!!!””
Woy! Kenapa pada sekaget itu sih—
“S-Sepertinya hilang ingatan rekan anda sekalian ini… sangatlah parah… Aquilla Party.”
“Ahahaha! Dia ternyata masih nggak tau mata uang di dunia ini!”
Hah?! Itu mata uang?!
“…”
Velka jelasin ke gue soal ekonomi di dunia ini.
1 keping emas itu setara 1,000,000 Gerra, 1 keping perak itu setara 500,000 Gerra, sedangkan 1 keping perunggu itu setara 1,000 Gerra.
Masalahnya…
“T-T-Tinggal bilang ke gue kalo itu mata uang! Susah banget, sih?! Terus kenapa kalian baru kasih tau ke gue
sekarang?!”
““Hahahaha!””
Haaaaahh!!! Dasar bocah-bocah sialan! Bisa-bisanya mereka bikin gue malu kayak gini!
“Hehe! OK, Aquilla! Ayo kita berangkat seka—”
“Tunggu, Myllo The Wind. Saya hendak mengingatkan sesuatu kepada anda dan Djinn Dracorion.”
““Hm?””
“Sekarang, anda berdua telah memasuki Kasta Jingga. di Kasta tersebut, terdapat Ranking dari 2,000 Petualang. Oleh karena itu, persaingan menjadi semakin ketat. Gagal sedikit, anda berdua bisa saja turun Kasta. Oleh karena itu, berhati-hatilah. Belum tentu Petualang di Kasta tersebut memiliki hati sebaik kalian semua.”
“Hehe! Tenang aja! Apapun rintangannya, gue pasti jadi Petualang Nomor Satu di Dunia!”
“Baiklah. Saya menghargai semangat juang anda, Myllo The Wind.”
“…”
Abis itu Velka pergi dari kita, siap-siap pergi pake kapal ini.
Tapi sebelum kita bener-bener berangkat…
“Myllo! Sia teh mau namakeun apa kapal ini?!”
“Oh iya, ya! Gue lupa namain kapal ini!”
““Hmm…””
…Garry minta Myllo untuk kasih nama kapal ini.
Tapi karena Myllo nggak tau, akhirnya kita pun jadi ikutan mikirin nama kapal i—
“Eh! Kan nggak ada elang yang bisa berenang, ya?!”
“Hah?! Kenapa lo nanya itu la—”
“Hehe! Kalo gitu, nama kapal ini…”
““…””
“Sailing Eagle! Gimana?!”
““…””
N-Nama apaan tuh—
“Aing setuju!”
“Hmm… Boleh juga.”
“Yaudah! Aku juga setuju!”
“Machinno… setuju.”
““…””
Nah, kan.
Diliatin kayak gini nih yang serba salah.
Padahal gue nggak setuju sama namanya…
“Yaudah lah. Kalo nggak setuju, gue juga kalah suara, kan?”
“Ahahaha! OK, Aquilla!”
“*Tut, tut, tuuut!”
“Kita pergi dari sini!”
““Ya! Kapten!””
Akhirnya kita pergi dari Dreaded Borderland.
Nggak. Mungkin aja sekarang namanya jadi Dead Borderland, ya?
Soalnya kan dihancurin Centra Geoterra.
“Eh liat nih! Ada nama Myllo sama Djinn di Ranking Kasta Jingga!”
Loh! Gia dapet GT News dari mana?!
“…”
Gue ada di peringkat 1,998?!
“Mil, lo ada di mana?”
“Gue ada di peringkat 1,748! Ternyata kita 500 ya, Djinn!”
Hadeeeh…! Emang beneran dongo nih orang!
“Gia. Machinno mau… lihat peringkat pertama.”
“Dari semua Petualang?”
“…”
Machinno ngangguk doang. Abis itu Gia langsung buka Ranking Petualang—
“Hah?! Kok bisa dia?!”
“Siapa Gia?!”
“I-Ini kan…”
“!!!”
HAH?!
““SNAKE?!?!””
Sialan tuh orang!
Kenapa tiba-tiba jadi Petualang Nomor Satu di Dunia?!