Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 34-1. Number One



“Jadi, lo masih sendirian, kan?”


“Untuk sementara, ya. Saya masih


belum bergabung dalam sebuah—”


“Ayo gabung ke Party gue!”


Hah?! Dia mau rekrut Luvast?!


“Haha! Sudah saya duga, Myllo.”


“Gimana, gimana, gimana?!”


“Dengan senang hati, Myllo!”


“Wuhuuu! Ada rekan—”


“Tapi, tolong izinkan saya untuk


berpetualang dengan anda di lain waktu, Myllo.”


Loh?! Kenapa nggak ikut?!


“Haaaah?! Kenapa?!”


“Saya hendak mengantarkan rakyat


saya kembali ke kerajaan.”


Oh iya, dia masih punya


tanggungan untuk anter rakyatnya ya…


Gimana respon lo, Myl?


“OK kalo gitu! Tapi kalo ditanya


siapa kapten lo, pasti lo sebut nama gue, kan?!”


“Tentu saja, Kapten!”


“Ahahaha! OK, Rounder gue!”


Hah? Apa?


Gue nggak tau itu apa, yang pasti


Luvast itu orang ketiga yang jadi bagian grup ini.


“Luvast.”


“Hey, rekan!”


“Ikut dulu bareng kita, baru bisa


sebut rekan!”


“Hehe! Nggak apa-apa, Djinn!


Dimanapun, kapanpun, dia tetep jadi rekan kita!”


“Haha! Myllo benar, Djinn!”


Ya, semoga aja selesai dia


anterin rakyatnya, dia bisa langusng ikut bareng kita.


“Jadi, mengapa kamu memanggilku,


Djinn? Adakah yang ingin kamu sampaikan?”


Oh iya, gue lupa lagi mau bilang


apa.


“Ya, nggak panjang-panjang sih,


cuma mau bilang hati-hati aja.”


"*Puk… (suara pelukan)"


“Baiklah, saudaraku.”


“…”


Akhirnya kita berdua pelukan.


“…”


“Sepertinya ada yang masih ingin kamu sampaikan, Djinn.”


“Ehm…salam buat…kakek ya…”


“Ya! Pasti akan ku sampaikan


salammu ke kakek!”


Mungkin gue nggak kenal siapa


kakeknya Djinnardio, tapi gue sebut kakeknya karena Luvast selalu nyebut nama


kakeknya kalo ngebahas masa lalu dia bareng Djinnardio.


Ya, mungkin bisa dibilang ini


sebagai rasa terima kasih gue ke Djinnardio karena udah ‘kasih’ badannya ke gue.


“Djinn, ayo kita berangkat!”


Akhirnya gue sama Myllo pergi


dari Calmisiu. Sebelum berangkat, Bismont ngasih 2 kuda ke kita, supaya


perjalanan kita ke Milkin lebih cepet.


“Hati-hati kalian berdua!”


“Terima kasih sudah menyelamatkan


anak-anak saya!”


“Semoga kalian menjadi Petualang


Nomor 1 di Dunia!”


Hampir semua warga Calmisiu pada dadah-dadahin kita berdua yang pamit dari desa itu. Waktu gue nengok ke belakang, gue juga


bisa liat Luvast, Bismont, sama Char-Char yang ikut dadah-dadahin kita


berdua.


Gue pun sama Myllo mulai


perjalanan kita ke Milkin. Karena perjalanannya kurang lebih bisa setengah


hari kalo pake kuda, makanya kita sempet istirahat dulu selama jalan.


Waktu istirahat, ada yang mau gue


tanya ke dia.


“Oh iya, Myl.”


“Apa?”


“Lo daritadi sebut Petualang


Nomor 1 gitu, kan? Emang ada ranking-nya ya?”


“Ada. Bentar, gue tunjukkin.”


“…”


Myllo tiba-tiba ngeluarin kertas.


Ya, kertasnya mirip kayak kertas


yang isinya berita kematian Djinnardio waktu itu.


“Nih, ranking sementara!”


“…”


“Kenapa, Djinn?”


“Cara pakenya…gimana ya?”


“Hadeh, susah ngomong sama orang


“jauh” yang banyak bingungnya.”


Sialan nih orang!


Ternyata caranya tinggal di geser-geser


aja pake jari.


“Ini…”


“Ya. Itu urutan Petualang di


dunia ini. Dulu nomor satunya diisi Kak Sylv”


Hoo…ternyata dulu kakaknya Myllo


itu nomor satu ya…


Pantes aja dia selalu pengen jadi


nomor satu. Ternyata mau jadi kayak kakaknya.


“Terus ini nomor satunya siapa?”


“Leonard Rochdale, ya…”


“Iya sih dari namanya.”


“Oh! Gue baru inget! Dia itu


Guildmaster dari Leo! Kalo kata Kak Sylv sih…dia itu salah satu saingan


beratnya dulu!”


Oh, berarti sebelum kakaknya


pergi, dia selalu jadi nomor dua, ya?


“Tapi tau nggak sih yang lucu?


Sebelum mereka sama-sama jadi Petualang terkenal, mereka selalu barengan ikut


Joint Party, loh! Ahahaha! Emang rival abadi deh mereka!”


Gue…nggak ngerti semuanya, tapi


ngangguk aja daripada banyak nanya lagi.