
“Jadi, lo masih sendirian, kan?”
“Untuk sementara, ya. Saya masih
belum bergabung dalam sebuah—”
“Ayo gabung ke Party gue!”
Hah?! Dia mau rekrut Luvast?!
“Haha! Sudah saya duga, Myllo.”
“Gimana, gimana, gimana?!”
“Dengan senang hati, Myllo!”
“Wuhuuu! Ada rekan—”
“Tapi, tolong izinkan saya untuk
berpetualang dengan anda di lain waktu, Myllo.”
Loh?! Kenapa nggak ikut?!
“Haaaah?! Kenapa?!”
“Saya hendak mengantarkan rakyat
saya kembali ke kerajaan.”
Oh iya, dia masih punya
tanggungan untuk anter rakyatnya ya…
Gimana respon lo, Myl?
“OK kalo gitu! Tapi kalo ditanya
siapa kapten lo, pasti lo sebut nama gue, kan?!”
“Tentu saja, Kapten!”
“Ahahaha! OK, Rounder gue!”
Hah? Apa?
Gue nggak tau itu apa, yang pasti
Luvast itu orang ketiga yang jadi bagian grup ini.
“Luvast.”
“Hey, rekan!”
“Ikut dulu bareng kita, baru bisa
sebut rekan!”
“Hehe! Nggak apa-apa, Djinn!
Dimanapun, kapanpun, dia tetep jadi rekan kita!”
“Haha! Myllo benar, Djinn!”
Ya, semoga aja selesai dia
anterin rakyatnya, dia bisa langusng ikut bareng kita.
“Jadi, mengapa kamu memanggilku,
Djinn? Adakah yang ingin kamu sampaikan?”
Oh iya, gue lupa lagi mau bilang
apa.
“Ya, nggak panjang-panjang sih,
cuma mau bilang hati-hati aja.”
"*Puk… (suara pelukan)"
“Baiklah, saudaraku.”
“…”
Akhirnya kita berdua pelukan.
“…”
“Sepertinya ada yang masih ingin kamu sampaikan, Djinn.”
“Ehm…salam buat…kakek ya…”
“Ya! Pasti akan ku sampaikan
salammu ke kakek!”
Mungkin gue nggak kenal siapa
kakeknya Djinnardio, tapi gue sebut kakeknya karena Luvast selalu nyebut nama
kakeknya kalo ngebahas masa lalu dia bareng Djinnardio.
Ya, mungkin bisa dibilang ini
sebagai rasa terima kasih gue ke Djinnardio karena udah ‘kasih’ badannya ke gue.
“Djinn, ayo kita berangkat!”
Akhirnya gue sama Myllo pergi
dari Calmisiu. Sebelum berangkat, Bismont ngasih 2 kuda ke kita, supaya
perjalanan kita ke Milkin lebih cepet.
“Hati-hati kalian berdua!”
“Terima kasih sudah menyelamatkan
anak-anak saya!”
“Semoga kalian menjadi Petualang
Nomor 1 di Dunia!”
Hampir semua warga Calmisiu pada dadah-dadahin kita berdua yang pamit dari desa itu. Waktu gue nengok ke belakang, gue juga
bisa liat Luvast, Bismont, sama Char-Char yang ikut dadah-dadahin kita
berdua.
Gue pun sama Myllo mulai
perjalanan kita ke Milkin. Karena perjalanannya kurang lebih bisa setengah
hari kalo pake kuda, makanya kita sempet istirahat dulu selama jalan.
Waktu istirahat, ada yang mau gue
tanya ke dia.
“Oh iya, Myl.”
“Apa?”
“Lo daritadi sebut Petualang
Nomor 1 gitu, kan? Emang ada ranking-nya ya?”
“Ada. Bentar, gue tunjukkin.”
“…”
Myllo tiba-tiba ngeluarin kertas.
Ya, kertasnya mirip kayak kertas
yang isinya berita kematian Djinnardio waktu itu.
“Nih, ranking sementara!”
“…”
“Kenapa, Djinn?”
“Cara pakenya…gimana ya?”
“Hadeh, susah ngomong sama orang
“jauh” yang banyak bingungnya.”
Sialan nih orang!
Ternyata caranya tinggal di geser-geser
aja pake jari.
“Ini…”
“Ya. Itu urutan Petualang di
dunia ini. Dulu nomor satunya diisi Kak Sylv”
Hoo…ternyata dulu kakaknya Myllo
itu nomor satu ya…
Pantes aja dia selalu pengen jadi
nomor satu. Ternyata mau jadi kayak kakaknya.
“Terus ini nomor satunya siapa?”
“Leonard Rochdale, ya…”
“Iya sih dari namanya.”
“Oh! Gue baru inget! Dia itu
Guildmaster dari Leo! Kalo kata Kak Sylv sih…dia itu salah satu saingan
beratnya dulu!”
Oh, berarti sebelum kakaknya
pergi, dia selalu jadi nomor dua, ya?
“Tapi tau nggak sih yang lucu?
Sebelum mereka sama-sama jadi Petualang terkenal, mereka selalu barengan ikut
Joint Party, loh! Ahahaha! Emang rival abadi deh mereka!”
Gue…nggak ngerti semuanya, tapi
ngangguk aja daripada banyak nanya lagi.