
“Udah siap kan, semuanya?!”
“Gue siap.”
“Aku juga!”
“Aing ge!”
“Gue juga siap.”
“Machinno… siap.”
Sekarang kita semua mau lanjutin Quest yang kita terima dari Kades di Mushmush Village.
Kira-kira udah semalaman kita ada di Dryad Forest.
Dari obrolan yang kita jalanin, kira-kira gini info yang dapetin dari Ivis, terkait warga yang hilang.
……………
“Hah?! Aku pakai Union Utuh?! Masa sih?!”
““…””
Tadi malam, kita masih bahas tentang Union yang dijelasin Ivis ke kita semua.
Dari yang Ivis bilang, cuma Gia sama Machinno aja yang punya potensi untuk pake Union, karena mereka berdua udah temuin panggilan alam yang diterima Jiwa mereka.
Tapi pembahasan kita jadi ke mana-mana, semenjak bahas Union. Makanya itu gue ganti topik untuk fokusin tujuan kedatangan kita.
“Oh ya, Ivis.”
“Ada apa, Djinn Dracorion?”
“Kita ini kan Petualang. Sekarang kita mau cari warga desa yang hilang. Awalnya sih kita dikasih tau kalo mereka ditumbalin ke Kaum Jamur. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, keliatannya info itu nggak valid.”
“Seperti itu kah? Mungkin informasi tersebut hanya mitos belaka, yang sebenarnya disebarluaskan leluhur Mushmush Village, agar kami maupun warga desa tidak ada yang saling berinteraksi dengan satu sama lain.”
Awalnya gue kira Kades desa itu bohong. Ternyata, justru Ivis yang bohong.
“Kira-kira mereka ada di sini nggak, Ivis?”
“Jika kau berpikiran bahwa mereka berada di tempat ini, tentu saja kau salah besar, mengingat tempat ini sangatlah tersembunyi, Dalbert Dalrio. Tetapi aku mengetahui keberadaan warga desa yang menghilang.”
“Hah?! Mereka ada di mana, Ivis?!”
“…”
Ivis nggak langsung jawab pertanyaan Gia. Sehabis jawab pertanyaan Dalbert, dia justru ngeliatin sesuatu yang dipegang Dalbert.
“Sepertinya kau memiliki peta pulau ini, Dalbert.”
“Oh ini? Ya. Sebelum kita pergi dari Mushmush Village, kita dikasih peta ini—”
“Jika kalian memiliki peta itu, tentunya kalian mengetahui wilayah yang paling berbahaya di pulau ini, bukan?”
““!!!””
Dari penjelasannya Ivis, kita sadar sama apa yang dimaksud Ivis.
“Tunggu! Jangan bilang yang lo maksud itu—”
“Tempat yang kalian, warga Geoterra, sebut sebagai Dungeon of Poison.”
““!!!””
Wajar aja kalo kita semua kaget. Karena Dungeon yang disebut Ivis tuh wilayah yang udah dikasih peringatan dari Guildmaster.
“Tunggu, Vis! Lo tau dari mana tentang itu?!”
“Karena kesaksian dari Dryad lainnya, ketika menyamar sebagai apa yang kalian sebut sebagai Kaum Jamur.”
Abis itu Ivis jelasin kalo dia sama Dryad lainnya punya keunikan untuk saling berbagi pengelihatan. Persis kayak Dalbert yang bisa liat sesuatu dari mata elang ciptaannya.
“Saat itu, salah satu saudariku mendapati adanya beberapa orang yang membawa kantung besar, yang ukurannya setara dengan ukuran orang pada umumnya. Setelah itu, saudariku lainnya menyaksikan mereka yang berjalan menuju Dungeon of Poison. Pada mulanya, kami tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh mereka semua. Setelah mendengar penjelasan kalian, aku pun menyesal karena tidak menghentikan mereka.”
Pantes aja sih kalo dia bilang gitu. Mungkin itu yang tadinya mau gue bilang ke dia.
Tapi denger penjelasannya, gue jadi keinget awal cerita kita bisa sampe di tempat ini.
“Lo bilang, lo nyesel nggak bisa berhentiin mereka?”
“Ya. Apakah ada yang ingin kau sampaikan?”
“Nggak, gue cuma penasaran aja.”
“Jelaskanlah kepadaku, Djinn Dracorion.”
“Kalo lo nyesel nggak bisa berhentiin mereka, artinya selama ini kalian para Dryad cuma ngawasin sekitar hutan jamur itu doang. Bener, nggak?”
“Benar.”
“Terus kenapa kalian tiba-tiba culik Machinno?”
“Ah iya! Bener juga!”
“Kok aku baru kepikiran, ya?!”
“Tadinya gue mau nanya itu sih. Tapi karena kita keasikan bahas Union, gue jadi lupa.”
Gue yakin Dalbert juga mikirin hal itu, semenjak kita berdua doang yang bisa mikir di Aquilla.
Tapi karena pertanyaan gue…
““…””
…ada sekitar 5 Dryad langsung dateng nyamperin gue karena kesel dengernya.
“Hey, Vamulran! Apa yang kau maksud?!”
“Apakah kau mencurigai Kakak Ivis?!”
“Seharusnya kami yang pantas mencurigaimu!”
““…””
Gara-gara 5 Dryad itu, keadaan jadi makin kacau. Temen-temen gue nggak ada yang terima sama apa yang mereka bilang.
Khususnya…
“Heh! Kok jadi cewek jutek banget, sih?! Emangnya Djinn ada salah apa sama kalian?!”
…Gia, yang langsung diri untuk debatin Dryad-Dryad itu.
“Diam kau, wanita! Mungkin kami berperilaku baik kepadamu! Tetapi jika kau membela pria itu—”
“Wanita ini, wanita itu! Aku juga punya nama, kali!”
“Kau pikir kami peduli?! Hmph! Dasar Mahluk Fana rendahan! Merasa bangga dengan nama yang bahkan tidak kalian tentukan sendiri!”
“Menurut lo nama itu nggak penting?! Yaudah! Kalo gitu kalian gue panggil cewek-cewek jelek aja! Gimana?!”
““Apa?!?!””
Myllo pun ikutan debat.
Nggak lama kemudian, Dalbert ikutan. Sedangkan Garry sama Machinno diem doang karena takut.
“…”
Gue sendiri?
Ya diem juga.
Gue tau kalo apa yang dilakuin Myllo, Gia, sama Dalbert itu baik. Bahkan gue nggak bisa tenangin mereka.
Mungkin gue bisa ikut debatin mereka. Tapi kalo gue ikutan, itu cuma jadi bikin keadaan makin kacau.
“E-E-Et…! K-Kenapa jadi debat kieu…?”
“Machinno… takut.”
Gue yakin kalo Garry nggak mau ada debat kayak gitu karena lawan bicaranya itu perempuan. Tapi soal Machinno, dia cuma nggak suka ada konflik aja.
““…””
Mereka semua debat terus, sampe akhirnya Ivis berdiri.
Terus… dia keluarin sesuatu yang bikin kita semua diem.
“*DHUUUMMMMMMMMM………”
““!!!””
Union Domi.
Ivis langsung keluarin Union Domi, waktu Dryad lainnya ngomel-ngomel ke gue.
Parahnya…
““*Bruk…””
…kita semua jatoh waktu ngerasain Union Domi yang dia keluarin.
Kecuali… Myllo.
“Hah? Kalian kenapa? Kok tiba-tiba jatoh?”
“Haaaah?! Emangnya ada a—”
“Mungkin itu pengaruh dari Jiwa miliknya yang tidak aktif, Gia Maevin. Ah ya. Sebelumnya, maafkan aku yang mengeluarkan Union Domi tanpa memperhatikan kalian semua.”
“…”
Gue perhatiin Ivis yang baru aja keluarin Union Domi. Tapi gue ngerasa aneh dari dia.
“…”
Dia keliatan tenang banget waktu keluarin kekuatan itu.
Beda sama Lupherius, yang kepalanya sampe berurat. Beda sama Narciel yang harus marah dulu untuk keluarin kekuatan itu.
“K-Kakak Ivis… Apa yang kakak laku—”
“Adik-adikku. Jika kalian semua tidak ingin berada di dekatnya, alangkah baiknya jika kalian mengganggu kami. Bisakah kalian mengerti perkataanku?”
“K-Kakak Ivis! Tetapi ia merupa—”
“…”
“!!!”
Dryad Jutek yang namanya Ambrolis itu langsung ditatap tajam sama Ivis, sampe badannya gemeteran.
“Kutanya sekali lagi, Ambrolis.”
“…”
“Bisakah kau mengerti perkataanku?”
“B-Ba-B-Baiklah, K-Kakak Ivis. M-Maafk-kan kami semua.”
““…””
Mereka berlima langsung pergi dari kita. Karena itu, Ivis langsung lanjutin penjelasannya ke kita berenam.
“Baiklah, maafkan tindakan adik-adikku.”
“Y-Ya, Ivis—”
“Dan terkait pertanyaan Djinn Dracorion, itu semua karena satu hal.”
““Hm?””
“Ada sesuatu yang tidak asing, yang bisa aku rasakan dari Machinno.”
“Yang nggak asing?”
“Ya. Aku juga tidak tahu apa alasannya. Hanya saja, ia terasa familiar bagi kami, para Dryad. Oleh karena itu, kami pun membawanya untuk kami teliti dengan seksama. Terkait hal tersebut, kami minta maaf sebesar-besarnya, Aquilla Party.”
“Ahahaha! Tenang aja! Machinno tuh emang unik! Walaupun kadang-kadang ngeselin, tapi keunikannya suka bikin gue ketawa!”
Untung aja Myllo bisa cairin suasana.
Padahal sebelumnya kita jadi tegang banget karena adek-adeknya Ivis.
Ya bisa aja sih semua salah gue. Kalo gue nggak nanya kayak gitu, mungkin seharusnya nggak ada momen tegang kayak tadi.
“Jadi, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?”
“Hehe! Pastinya kita semua lanjut ke Dungeon of Poison, dong! Karena gue pengen buktiin, kalo gue bisa taklukin Dungeon itu! Ya nggak, kalian semua—”
“Myllo! Jangan lupa kalo kita harus prioritasin warga desa! Kalo perlu kita bisa selamatin warga tanpa harus—”
“Nggak mau! Kalo mau jadi Petualang Nomor Satu di Dunia, gue harus bisa buktiin, kalo gue bisa menang lawan tantangan apapun!”
Ciri khas Myllo.
Selalu bikin keputusan yang latah.
“Sepertinya kalian sudah mengetahui siapa yang sedang menunggu di dalam Dungeon of Poison.”
““Menunggu?””
“Cthorach, sesosok Ent yang kalian kenal sebagai Dangerose. Ia merupakan Spirit Beast yang sedang menunggu dua hal.”
“A-Apa aja…?”
“Antara mati terbunuh oleh tuannya, atau mendapatkan karma buruk karena telah menyakiti tuannya. Tanpa
kedua hal tersebut, ia tidak akan kembali ke Sirkulasi Roh, dan akan terus terlahir kembali, sampai takdirnya tergenapi.”
Ya. Lagi-lagi penjelasan dari dia munculin pertanyaan yang baru lagi.
“Vis, emangnya siapa tuan dari mahluk itu?”
“Hm? Apakah kau sudah melupakan apa yang sebelumnya kita bahas, Djinn Dracorion?”
““…””
Semua temen-temen gue langsung liatin gue, karena mereka penasaran sama gue, yang tau jawaban dari pertanyaan Ivis.
“M-Maksud lo… tuan dari mahluk itu tuh… Druid Terakhir…?!”
“Kau benar, Djinn Dracorion.”
“…”
Gue nunduk doang, waktu Ivis pastiin kalo jawaban gue bener.
“Hah?! Druid Terakhir?!”
“Emangnya siapa dia?”
“Dia itu… leluhur gue.”
““LE-LELUHUR?!?!””
……………
Pagi ini kita udah mau lanjutin perjalanan kita ke Dungeon of Poison, tempat di mana warga-warga Mushmush di bawa.
Sejujurnya gue masih mikirin tujuan para penculik itu bawa mereka. Tapi daripada pikirin itu, mending selamatin mereka aja dulu, supaya bisa kita tanya.
Oh iya. Ngomong-ngomong, Gia sama Machinno dibilang punya potensi untuk punya Union yang lebih. Tapi Ivis bilang, kalo dia ngerasa nggak sanggup untuk ngajarin itu ke mereka berdua.
“Kenapa nggak bisa, Ivis?!”
“Karena sebelum menggunakan Union, alangkah baiknya kalian berdua mengenal lebih dalam panggilan alam yang Jiwa kalian terima.”
Kira-kira gitu yang dibilang Ivis.
Mungkin yang Ivis maksud tuh supaya Gia sama Machinno pelajarin sihir yang diterima Jiwa mereka, daripada pake sihir yang biasa mereka pake.
“Myllo Olfret.”
“Ada apa, Ivis?”
“Izinkan kami untuk ikut menemani kalian semua, dalam perjalanan menuju Dungeon of Poison.”
““!!!””
Kenapa tiba-tiba Ivis sama Ambrolis mau ikut?!
Kalo Ivis doang sih, gue nggak masalah! Tapi kok Ambrolis juga mau ikutan?!
“Ivis, emangnya kenapa—”
“Bagaimanapun juga, keberadaan Cthorach yang membahayakan sekitar juga merupakan tanggung jawab kami, para Dryad.”
“Hah?! Emangnya beneran tanggung jawab kalian?!”
“Sebenarnya tidak.”
“Terus kenapa—”
“Karena menjaga Cthorach agar tidak keluar adalah satu-satunya hal yang bisa kami lakukan untuk membalas budi Druid Terakhir. Bahkan keberadaan jamur-jamur yang kami gunakan juga untuk satu tujuan.”
“Untuk lawan monster itu, ya?!”
“Dibandingkan melawan, lebih tepatnya untuk menahan pergerakannya, agar ia tidak pergi keluar dan membabi buta di Geoterra.”
Intinya, mereka itu semacam sipir. Sedangkan Dangerose itu semacam tahanan.
Gitu, kan?
“Tetapi keberadaannya saat ini membahayakan Geoterra. Oleh karena itu, kami tidak punya pilihan lain selain membunuhnya. Itu pun jika kami mampu melakukannya.”
“Hehe! Jangan khawatir! Karena Aquilla Party bisa kalahin mahluk itu!”
“T-Tetapi—”
“Semuanya! Ayo kita pergi ke Dungeon of Poison!”
““Ya!””
Akhirnya kita semua pergi ke Dungeon of Poison, bareng Ivis sama Ambrolis.
Sampe akhirnya nanti gue sadar.
Kalo ini jadi pengalaman pertama gue yang paling bahaya, semenjak gue kehilangan kekuatan gue.