
Luvast Vamulran.
Itulah namaku.
Dan inilah memori tak terlupakanku ketika pertama kali bertemu dengan saudara yang paling kusayang.
.............
10 tahun yang lalu, saat kakek memanggil semua cucunya yang masih berusia di bawah 10 tahun.
Saat itu aku masih berusia 7 tahun. Jumlah kami ada 12 orang, dan kami adalah cucu dari lima diantara ketigabelas anak kakek.
Kala itu, semua terlihat senang bermain satu sama lain, kecuali satu anak kecil yang berusia sama denganku yang terlihat sendirian dan tidak memiliki teman.
Ya, ia adalah Djinnardio Vamulran, cucu dari anak pertama kakek dan kandidat terkuat untuk memimpin Vamulran Kingdom.
“Bwahahaha! Halo semua cucu kesayanganku!”
““Salam pagi, Kakek!””
Sesuai dengan ajaran dari orang tua kami masing-masing, kami pun
menyambutnya dengan formal dan santun, akan tetapi…
“Hai, kakek! Sudah lama tidak bertemu karena kakek terlalu sibuk!
Hahaha!”
Balas Djinnardio dengan santainya.
Reaksi kami sangat kesal karena cara ia yang tidak sopan membalas sambutan kakek dan kami pun mengira ia akan ditegur oleh kakek. Namun ekspektasi kami justru berbeda jauh sesuai kenyataan…
“Bwahahaha! Hey, Djinnardio! Siap-siap kakek kalahkan kamu ya saat permainan kita nanti!”
“Haha! Pastinya aku akan menang, kek!”
“Haaaahhh?! Ingat ya, sejauh ini perolehan nilai ada 30-0 yang dimenangkan oleh kakek!”
“Tenang saja, karena nantinya akan menjadi 30-1!”
“Bwahahaha! Kakek tunggu kemenanganmu!”
“Jangan menangis jika aku menang, kek!”
““Hahaha!””
Cucu-cucu yang lain pun semakin gusar dengan perilakunya, namun tidak bagiku.
Mengapa anak itu sangat akrab dengan kakek?
Aku pun hanya menemui kakek sebanyak 3 kali, akan tetapi anak itu terlihat seperti sudah sering bertemu
dengan kakek.
“Baiklah, cucu-cucu kesayanganku! Sekarang, kakek ingin mendengar cita-cita kalian ketika sudah dewasa nanti. Dari Davihl hingga Djinnardio, tolong sebutkan cita-cita kalian masing-masing.”
Mendengar perintah kakek, kami pun secara berurutan menyebutkan cita-cita kami kedepannya.
“Aku ingin menjadi seorang inventor, supaya bisa menciptakan suatu teknologi!”
“Aku hendak belajar untuk menjadi seorang Tamer! Tujuanku adalah untuk memberdayakan Mythical Being!”
“Sepertinya aku hanya tertarik untuk di bidang medis saja, kakek.”
Beberapa sudah memiliki tujuannya masing-masing.
Namun ada beberapa juga yang menurutku tidak wajar.
“Sepertinya aku mau jadi raja yang jauh lebih superior daripada kakek! Betapa menakjubkannya bisa memimpin orang untuk berperang dan membantai Arschtein Empire!”
“Aku sangat ingin memiliki membuktikan diri menjadi orang yang paling kuat dengan banyak mengoleksi kepala!”
“Mungkin memiliki banyak istri seperti Manusia! Hehe…”
Mendengar beberapa jawaban seperti itu, kakek hanya menjawab…
“Oh, haha…jawaban kalian diluar dugaan, ya…”
Namun ada juga yang sepertiku, yang masih bimbang.
Aku ingin sekali berpetualang. Akan tetapi, amarah ayahku selalu meluap ketika mendengar impianku, sehingga aku sangat dilarang oleh ayah untuk keluar dari rumah.
Oleh karena itu, ketika ditanyakan oleh kakek, aku hanya bisa menjawab…
“A…Aku tidak tahu, kek.”
Jika ingin berkata sejujurnya, aku sangat malu karena tidak bisa leluasa menyebutkan cita-citaku. Tetapi kakek hanya tersenyum dan berkata…
“Tenang saja, cucuku Givast. Apapun cita-citamu, kakek yakin kamu akan menjadi orang yang hebat kelak nanti.”
“Ya, kakek!”
Mendengar perkataan kakek, aku sangat lega. Aku berpikir, bahwa akan datang kelak bagiku untuk menjadi seorang Petualang.
Sama seperti aku, untuk beberapa yang masih belum menemukan cita-citanya, mereka mendapatkan respon yang sama dari kakek.
Dan terakhir, Djinnardio.
“Aku tidak bisa mengatakan secara terperinci cita-citaku seperti apa, karena tujuanku hanya satu, yaitu menolong orang dan berlaku adil bagi semua orang, kek.”
Entah mengapa, aku melihat kakek seperti menahan air matanya setelah mendengar pernyataan anak itu. Setelah itu, ia memeluknya denga erat dan berkata…
“Kakek yakin, kamu pasti bisa menolong banyak orang, nak…”
Setelah kami menyampaikan cita-cita kami, kakek meminta kami meninggalkan ruang singgasananya dan orang tua kami selanjutnya yang memasuki ruang singgasana kakek.
Saat kami berada di luar, seorang penjaga ruang singgasana kami meminta agar sekiranya kami berada jauh dari luar singgasana.
Ada yang bermain bersama-sama di luar, ada juga yang pulang dengan
penjaganya masing-masing.
Akan tetapi, sebenarnya aku ingin sekali membicarakan sesuatu dengan kakek terkait cita-citaku yang ingin menjadi seorang Petualang. Oleh karena itu aku kembali ke depan ruang singgasana untuk menunggu kakek sambil bersembunyi dari penjaga raung singgasana.
Namun, sesampainya di sana, aku malah gemetar ketakutan.
“DASAR BIADAB KALIAN!!!”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
Teriakan kakek terdengar sampai luar.
Aura yang kurasakan saat itu jauh lebih menakutkan daripada ayah.
“…”
“Tu…Tuan Putri?!”
Karena ada penjaga singgasana yang melihatku, maka aku berlari dengan penuh ketakutan.
Takut akan amarah kakek dan takut bila penjaga itu membawaku ke hadapan kakek.
Bagaimana jika aku bilang kepada kakek bahwa aku mau menjadi Petualang?
Apakah kakek akan marah kepadaku?
Apakah kakek akan melarangku?
Apakah kakek akan mengurungku, sama seperti ayah?
Aku semakin bimbang dan takut.
Aku berlari di istana yang luas ini, hingga menemukan sebuah ruangan
terbuka yang penuh bunga-bunga yang indah rupanya.
Seketika, aku merasa lega. Hingga akhirnya, aku melihat bunga yang paling indah yang pernah kulihat.
Melihat bunga itu, seolah aku terpanggil olehnya untuk memetiknya.
Dan setelah aku hampir berhasil memetiknya, tiba-tiba aku merasa ada yang memanggilku.
“Ja…Jangan petik bunga itu!”
“*Trk…(suara memetik bunga)”
Saat aku menengok ke belakang, ternyata anak tadi yang bernama Djinnardio itu yang memanggilku.
“Ah, tidak…”
Saat itu aku heran. Ada apa dengan anak ini?
“Bu…Bunga ini penting untuk bunga yang lainnya! Tanpa bunga ini, maka
bunga yang lainnya akan…”
Sesuai dengan perkataannya, bunga-bunga tadi seketika menjadi layu dan
berhenti menguncup.
“Hey! Mengapa bunga-bunga ini layu dan menguncup?”
“Oh tidak! Halaman yang telah dirawat selama hampir seribu tahun ini tiba-tiba menguncup?!”
Tidak lama kemudian muncul anak-anak kakek yang belum menikah. Mereka adalah Paman Farazel, Paman Uthoril, dan Bibi Ynasel.
Saat itu, aku menjadi semakin ketakutan.
“Siapa yang memetik Bunga Rayuan?!”
“A…Aku!”
Anak itu tiba-tiba menyebut dirinya sebagai pemetik Bunga Rayuan.
Kebingunganku pun semakin menjadi.
Mengapa ia menyebut dirinya sebagai pemetik?
Apakah ia sengaja mengaku bersalah demi aku?
“*Phak! (suara menampar)”
“Dasar Anak Haram!”
“Tidakkah anda malu melakukan perbuatan keji seperti itu?! Mengapa anda begitu berani memetik bunga ini?!”
Ia ditampar dan dimaki oleh paman dan bibi itu.
Bukankah itu keterlaluan?
Ia hanya anak kecil, dan bahkan itu bukan salahnya.
Tadinya itu yang kupikir, hingga aku melihatnya berdiri lagi.
“Ah…maafkan saya paman dan bibi sekalian. Saya melihat saudara saya sendiri sedang berlari ketakutan. Makanya itu saya petik bunga itu agar ia tersenyum.”
“Cih! Berani menjawab kau, Anak Haram!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Ternyata ia telah melihatku yang sedang berlari ketakutan.
Aku pun menjadi semakin merasa bersalah.
…
“Haha…sepertinya paman-paman sekalian…terlihat sangat puas menghajar saya…”
Aku semakin heran. Mengapa ia masih berani berbicara di depan mereka?
“Mengapa kalian tidak pakai kemampuan kalian ketika berperang!? Mengapa harus ibu yang harus berada di peperangan?! Apa kalian cuma berani sama anak kecil saja?! Segitu saja nyali kalian?!”
“!!!”
“Dasar keterlaluan!”
Merasa kesal, sebuah tamparan dari Paman Farazel hendak mengarah ke Djinnardio, akan tetapi…
“*Bhuk! (suara pukulan)”
…kakek tiba-tiba datang.
“BERANI-BERANINYA KALIAN MEMUKUL CUCUKU!”
“A…Ayah, bunga-bunga ini—”
“Pergi kalian dari tempat ini!”
“Cih! Baiklah!”
Anak-anak kakek diusir olehnya dari halaman ini.
“Haaahh…seakan saya memberikan contoh yang tidak baik bagi cucu-cucu kesayangan saya.”
Kata kakek dengan suara pelan.
“Biar kulihat wajahmu, nak.”
“…”
Wajah anak itu tiba-tiba sembuh ketika disentuh kakek.
“Hmm…”
Kakek berjalan ke arah ranting Bunga Rayuan yang kupetik dan menyentuh ranting itu.
“…”
Seketika, Bunga Rayuan tumbuh kembali.
Karena Bunga Rayuan itu, seketika semua bunga itu kembali mekar di taman ini.
“Jadi, siapa yang sebenarnya memetik bunga tersebut?”
“Kan sudah kubilang kek, bahwa—”
“A…Aku! Aku yang memetiknya!”
Aku mengakui kesalahanku, walaupun gemetar di tubuhku semakin menjadi.
"Hey! Mengapa kau mengakui—"
"Djinnardio?!"
"Hiiiekh! A…Ampun, kakek—"
“Bwahahaha!”
“*Puk… (suara pelukan)”
“Bunga itu memang cantik ya, Luvast.”
"Hiks! Hiks!"
"Cucuku yang cantik, mengapa kamu—"
“Huaaaa! Maafkan aku kakek! Aku tidak berani mengaku—”
“Shhh… Tenang lah, nak. Kakek mengerti, nak.”
Aku melepas tangisanku sekeras-kerasnya.
Aku melepas ketakutanku.
Namun aku juga menerima kehangatan dari pada kakek.
Hingga tiba-tiba suasana menjadi dingin.
“Jadi kamu yang memetik bunga itu?!”
Ia adalah Bibi Luscika, yang merupakan ibu dari Djinnardio.
Ayah mengatakan, bahwa aku harus berhati-hati jika bertemu dengannya.
Karena ia adalah orang yang tidak mengenal ampun bahkan ke sanak saudaranya
sendiri.
“Lu…Luscika—”
“Ibu! Aku yang memetiknya, bu! Aku terayu oleh bunga—”
“Y…Y…Ya! Aku yang memetiknya!”
““Hieekh!””
Bahkan kakek dan Djinnardio takut dengannya.
“Namamu Luvast, kan?”
“Y…Y…Ya, Bibi!”
“…”
“Nah, sekarang kamu lebih cantik dengan bunga ini, Luvast.”
Saat itu, ku kira aku akan mendapat murkanya. Namun, ia malah mendandaniku dengan Bunga Rayuan yang kupetik.
Entah mengapa, semua perkataan ayah terkait Bibi Luscika menjadi terlupakan bagiku.
Tidak seperti kata-kata ayah, Bibi ini justru sangat anggun dan baik hati.
“Djinnardio.”
“Y…Ya, ibu…”
“*Puk… (suara pelukan)”
“Ya ampun, nak! Mengapa kamu berani mengunadang amarah dari adik-adik ibu, nak?!”
“Maafkan aku, bu. Aku hanya—”
“Uhuk!”
Kakek tiba-tiba batuk berdarah.
Saat itu aku tidak tahu tentang keadaan kakek, namun…
“Huaaa… Kakeeek!”
“Ayah! Jangan melakukan praktik sihir berlebihan seperti tadi, ayah!”
…Djinnardio dan Bibi Luscika mengetahui keadaan kakek.
Ternyata Tubuh kakek sudah tidak kuat lagi melakukan praktik sihir karena usianya yang lebih dari 700 tahun.
“Bwahahaha! Tenang saja! Selama saya bisa memberikan kebahagiaan bagi keluarga kesayangan saya, bahkan Tubuh ini pun tidak ada artinya!”
Kakek pun masih bisa tersenyum di tengah kondisinya.
Perasaan bersalah.
Itulah yang kurasakan saat itu.
“Ka…Kakek! Maafkan aku, kakek! Hiks!”
“Huaaa! Kakek!”
“*Tung! Tung! (suara memukul kepala)”
““Aduh!””
Tiba-tiba kakek memukul kepala kami berdua.
“Janganlah menangis! Kakek mau kalian berdua bahagia! Semoga kedepannya kita bertiga bisa terus tersenyum dan bahagia bersama!”
““Ya, kakek!””
Andai saja kemauan kakek benar-benar terjadi.
Mimpi dan cita-cita memang ada.
Hanya saja kita tidak hidup di dalamnya.