
“Permisi! Ini kopi yang anda
pesan, Tuan!”
“Ya.”
“*Slurp… (suara menelan minum)”
“*Cyis… (suara membakar rokok)”
“Fyuhhh…”
Ah, gue masih nggak enak sama
Myllo-Gia.
Karena pola pikir yang gue
pegang, gue jadi bertindak kejauhan kayak gitu.
“*Kringringring… (suara bel pada
pintu)”
Apalagi gue masih ngerasa
ngebebanin dia karena gerakan awan waktu lawan Tarzyn.
Ya secara nggak langsung sih, gue
yang bikin dia pingsan selama beberapa ha—
“Bos, bir-nya satu botol!”
“Siap!”
Hah? Phonso?
“Ah, sorry kalo gue
kagetin lo. Gue boleh duduk di samping lo, kan?”
“Y…Ya.”
Dia tiba-tiba duduk di samping
gue.
Kayaknya dia mau tegur gue soal
tindakan gue ke Myllo deh.
“Padahal tadinya gue mau nemenin
Nyonya Dahlia ke kota ini untuk transaksi, eh nggak taunya malah ketemu kalian
sama orang itu! Ya bisa dibilang takdir yang ngiket kita untuk saling ketemu!
Ahahaha!”
Orang itu?
Maksudnya Si Hendrick tadi?
“Djinn, lo penasaran kan sama
Hendrick?”
Sebenernya sih gue lebih kesel
daripada penasaran.
“Haaaah…mungkin gue perlu minta
maaf sebagai temen lamanya.”
“Minta maaf…?”
“Pasti lo kesel kan sama
perbuatan dia ke Myllo?”
Orang ini…
Kok kayak ngebaca pikiran gue?
“Mungkin bisa gue ceritain
sedikit tentang Sylv, Myllo, Hendrick, maupun Aquilla. Mau denger?”
“Y…Ya…”
Denger cerita Phonso, kira-kira
ini yang gue tangkep.
Sekitar 16 tahun yang lalu,
Sylvia mulai ikut jadi Petualang karena ketemu Petualang yang namanya Dox, yang
nanti jadi Kapten dari Party pertamanya, Draco.
Orang-orang rekrutan pertama Dox
itu ada Sylvia, Phonso, sama orang yang namanya Orvo. karena Dox mati Di salah
satu Quest mereka. Makanya Sylvia yang dipercaya temen-temennya bikin Party
baru yang namanya Aquilla.
Semenjak dia bikin Aquilla, dia
jadi Petualang Nomor Satu, yang bahkan dapet julukan sebagai Pahlawan, yang
cuma ada di tiap generasi.
“Terus yang namanya Hendrick itu
gimana?”
“Dia rekrutan pertama, selain gue
sama Orvo. Tapi karena terlalu lama ada di deket Sylv, dia jatuh cinta.
Masalahnya…”
“Hm?”
“Djinn.”
Hah?! Kok ada yang ngomong di
kepala—
“Ini gue, Phonso. Gue ngomong
lewat telepati.”
Te…Telepati…?
Te…Ternyata ada kayak gituan ya
di dunia ini…
“Gue mau kasih tau rahasia
besar, yang bahkan semua anggota Aquilla nggak tau, kecuali gue sama Orvo.”
“A…Apaan?”
“Sylv itu istrinya Dox.
Mereka udah punya anak, yang bahkan gue atau Orvo pun nggak tau siapa
anaknya. Tapi Sylv itu Pahlawan. Makanya itu dia terpaksa untuk tinggalin
anaknya.”
Bahkan udah punya anak?!
“Makanya cinta Hendrick cuma
bertepuk sebelah tangan, karena Sylv sendiri nggak bisa lupain Dox atau pun
anaknya.”
O…Ooohh…pantes aja…
“Tambah lagi, 5 tahun yang
lalu Myllo…”
“…”
“Ah, gue lupa kejadiannya!
Ahahaha!”
Kaget gue dia tiba-tiba ngomong
pake mulutnya!
Tapi dia ngomong kayak gitu,
padahal gue yakin ada yang ditutup-tutupin.
Mungkin itu rahasia Party-nya
mereka, jadi gue nggak akan ikut campur soal itu.
“Tapi gue kaget, ternyata lo
punya aura juga!”
Aura, ya.
“Kayaknya pemicunya itu karena
gue emosi.”
“Oh, jadi lo nggak bisa kontrol
penuh aura lo, ya?”
Hah?! Dikontrol?!
“Yah, perjalanan lo masih
panjang. Mending lo pelan-pelan aja belajar sesuatu di dunia ini. Kali aja
memori lo balik lagi.”
“I…Iya…”
Untung aja masih ada yang percaya
alesan itu.
Oh ya.
Kenapa gue masih ngerasa kalo dia
ada niat sesuatu untuk dateng sendirian ke sini?
“Phonso.”
“Hm?”
“Lo…marah kan, karena gue tampar
Myllo?”
“Marah? Nggak kok.”
Hah? Dia bukan marah?
“Ahahaha! Kenapa juga gue harus
marah?! Gue kesini untuk temenin lo tenangin diri!”
“Temenin gue…?”
“Iya lah! Lagian, gue ngerasa
tindakan lo bener, Djinn.”
“Tindakan gue bener?”
“Iya, walaupun cara nyampein lo
salah, ahaha…”
Ternyata…yang salah itu cara
nyampein gue, ya?
“Djinn, makasih udah ingetin
Myllo untuk nggak terlalu banyak berkorban.”
“Maksudnya?”
“Dia terlalu ngagumin Sylv,
makanya itu dia selalu ikutin setiap tindakan Sylv. Masalahnya, tindakan buruk
pun juga diikutin sama dia?”
“Tindakan buruk? Maksud lo…salah
satunya tuh terlalu banyak berkorban?”
“Ya! Sebenernya…Myllo bukan
penyebab kematian Sylv!”
“*Brak! (suara membanting gelas
besar)”
“Tapi tindakan dia yang terlalu
banyak berkorban itu yang bikin dia mati! Myllo cuma ambil tindakan demi dia!
Masalahnya…”
Eh, eh, eh!
Kenapa harus ngomong kenceng
kayak gitu?!
““…””
Aduh, jadi bahan tontonan orang
deh!
“Ah, maafin gue, Djinn. Gue terlalu
“I…Iya.”
“Makanya itu, gue harap lo nggak
terlalu larut di rasa bersalah lo, Djinn. Kalo bisa, lo mungkin cuma perlu
rubah cara penyampaian lo aja.”
“Ya.”
Seketika, gue jadi lega denger
omongan Phonso.
“Tapi, gue nggak nyangka lo
emosian gitu! Persis banget lo kayak Sylv! Ahahaha!”
“Ka…Kayak Sylv?!”
“Bener! Apalagi kalo dia—”
“Pe…Permisi! Lo itu Alphonso
Andersenn, ya?!”
“Iya.”
“Woy! Ada mantan rekannya Pahlawan
Sylvia!”
““Woooaaahh!!!””
Aduh! Jadi rame gara-gara dia !
Mending gue minggir deh!
Tapi sebelum itu…
“Phonso, Myllo sama Gia ada di
mana?”
“Oh ya! Tadi Myllo nemenin Gia
untuk ketemu Nyonya Dahlia, soal bir dari Xia!”
“Ketemuannya di ma—”
“Djinn!”
Hah?! Kebetulan banget tiba-tiba
ada Gia!
“Ayo ikut aku! Kita dapet Quest!”
Hah?! Kok tiba-tiba dapet Quest?!
“Yaudah deh, gue pergi dulu
Phon—”
“Djinn, tolong jagain Myllo,
ya?!”
“Ya!”
Abis itu, gue pergi dari kedai.
……………
Waktu kita jalan…
“*Phak! (suara tamparan)”
…tiba-tiba gue ditampar Gia.
Gue nggak perlu nanya kenapa dia
nampar gue, karena gue udah tau jawabannya.
“Aku cuma mau bales tindakan kamu
ke Myllo, karena aku yakin banget Myllo nggak akan mau bales temennya sendiri!”
“…”
Ya, gue udah siap terima resiko
dari perbuatan gue.
“Walaupun begitu, aku tetep mau
bilang makasih sama kamu, karena aku yakin kamu tampar dia demi kita.”
“Gi…Gia…?”
“Haaaaah…untung cuma ada aku di
sini! Bayangin aja kalo ada Luvast!”
“Hah? Luvast?”
“Tadi aku ngobrol bareng dia.
Waktu dia tau, dia marah banget sama kamu! Dia bilang, “Keterlaluan! Dasar
saudara tidak tahu rasa hormat!” begitu!”
Hormat, ya.
Kirain hormat itu cuma sama orang
tua.
Ya gue sendiri nggak berhak sih
ngomong gitu, semenjak gue tendang orang itu.
Makanya gue juga nggak tau apa
itu hormat.
……………
“Myllo! Ini Djinn!”
“Djiiiinnn! Kita dapet Quest
baru!”
“…”
Waktu gue sampe, Myllo keliatan
biasa aja.
Secara nggak langsung, kita
berdua berlagak semuanya baik-baik aja, seakan-akan kejadian tadi nggak pernah
ada.
Tapi kok…kenapa rame banget
tempat ini?
Di sini keliatan ada beberapa Petualang,
terus ada juga…
“Tuan Djinn, keliatannya anda
telah menemui Phonso.”
“Ya. Kita cuma ngobrol santai di
kedai.”
…Dahlia sama beberapa orang yang
nggak gue kenal.
“Hmm…topeng yang anda beli dari
saya masih bagus, ya?”
“Ya. Topengnya masih awet.”
“Fufu…ya pastinya. Untung anda
dapet harga yang murah dari saya. Karena topeng itu—”
“Ehem! Bisakah kita lanjutkan
rapat ini?”
Hm?
Dia siapa?
“…”
“Hey, Petualang!”
“Hm?”
“Anda! Yang memakai topeng!”
“???”
“Walaupun anda memakai topeng,
saya bisa melihat tatapan anda yang sangat tajam ke arah Tuan Bronski!”
Tuan Bronski…?
“Djiiiin! Jangan cari masalah! Itu
Baron Baldwin Bronski, orang yang mau kasih Quest ke kita!”
Hah?! Ternyata bangsawan yang mau
kasih Quest ke kita?!
“Maafin orang itu, Baron Bronski.
Mungkin dia nggak tau siapa aja bangsawan di negara ini, jadi dia heran kenapa
ada orang yang berani potong obrolan saya, mungkin?”
Loh, kok dia yang marah?
Keliatan banget dari tatapannya
ke bangsawan itu.
“Maksud anda, peringatan saya
tidak begitu penting dibandingkan dengan obrolan kalian tentang topeng itu—”
“Hey, Bronski.”
“Hm?!”
“Mentang-mentang punya gelar
Baron bikin anda jadi sombong, ya! Ingat ini baik-baik, anda butuh Petualang,
makanya saya panggil Petualang-Petualang yang saya kenal!”
“!!!”
Oh, ternyata dia dulu masyarakat
biasa ya.
Susah emang.
Sekalinya bisa terbang di langit,
jadi lupa daratan.
“Nggak saya sangka anda bahkan
nggak bisa izinin saya sambut salah satu rekan Petualang saya!”
“Ba…Baiklah, maafkan saya sebelumnya,
Nyonya Dahlia Dalrio. Saya hanya ingin rapat ini cepat selesai karena ada
urusan lain.”
“Hmm…OK, saya izinin—”
“Tapi tidak dengan Petualang
misterius seperti—”
“Saya berani jamin, anda pasti
jauh lebih aman kalo ada dia.”
Emang apa urusan bangsawan itu
kalo gue pake topeng?!
“Anda butuh Petualang yang kuat
untuk kawal anda selama ekspedisi, bukan?”
“Haaaah…baiklah, sepertinya saya
tidak bisa beradu argumen dengan anda.”
“Fufu…baiklah, mari kita
lanjutkan rapatnya.”
Hmm…keliatannya mereka udah
saling sepakat kalo gue ikut di Quest dari bangsawan ini.
Jujur aja sih, kalo nggak karena
Myllo sama Gia yang antusias ambil Quest ini, gue nggak tertarik sama sekali
untuk ikut.
Tapi…
Ah, udah lah. Mending simak aja
rapatnya.