Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 96. What He Doesn't Know



“Permisi! Ini kopi yang anda


pesan, Tuan!”


“Ya.”


“*Slurp… (suara menelan minum)”


“*Cyis… (suara membakar rokok)”


“Fyuhhh…”


Ah, gue masih nggak enak sama


Myllo-Gia.


Karena pola pikir yang gue


pegang, gue jadi bertindak kejauhan kayak gitu.


“*Kringringring… (suara bel pada


pintu)”


Apalagi gue masih ngerasa


ngebebanin dia karena gerakan awan waktu lawan Tarzyn.


Ya secara nggak langsung sih, gue


yang bikin dia pingsan selama beberapa ha—


“Bos, bir-nya satu botol!”


“Siap!”


Hah? Phonso?


“Ah, sorry kalo gue


kagetin lo. Gue boleh duduk di samping lo, kan?”


“Y…Ya.”


Dia tiba-tiba duduk di samping


gue.


Kayaknya dia mau tegur gue soal


tindakan gue ke Myllo deh.


“Padahal tadinya gue mau nemenin


Nyonya Dahlia ke kota ini untuk transaksi, eh nggak taunya malah ketemu kalian


sama orang itu! Ya bisa dibilang takdir yang ngiket kita untuk saling ketemu!


Ahahaha!”


Orang itu?


Maksudnya Si Hendrick tadi?


“Djinn, lo penasaran kan sama


Hendrick?”


Sebenernya sih gue lebih kesel


daripada penasaran.


“Haaaah…mungkin gue perlu minta


maaf sebagai temen lamanya.”


“Minta maaf…?”


“Pasti lo kesel kan sama


perbuatan dia ke Myllo?”


Orang ini…


Kok kayak ngebaca pikiran gue?


“Mungkin bisa gue ceritain


sedikit tentang Sylv, Myllo, Hendrick, maupun Aquilla. Mau denger?”


“Y…Ya…”


Denger cerita Phonso, kira-kira


ini yang gue tangkep.


Sekitar 16 tahun yang lalu,


Sylvia mulai ikut jadi Petualang karena ketemu Petualang yang namanya Dox, yang


nanti jadi Kapten dari Party pertamanya, Draco.


Orang-orang rekrutan pertama Dox


itu ada Sylvia, Phonso, sama orang yang namanya Orvo. karena Dox mati Di salah


satu Quest mereka. Makanya Sylvia yang dipercaya temen-temennya bikin Party


baru yang namanya Aquilla.


Semenjak dia bikin Aquilla, dia


jadi Petualang Nomor Satu, yang bahkan dapet julukan sebagai Pahlawan, yang


cuma ada di tiap generasi.


“Terus yang namanya Hendrick itu


gimana?”


“Dia rekrutan pertama, selain gue


sama Orvo. Tapi karena terlalu lama ada di deket Sylv, dia jatuh cinta.


Masalahnya…”


“Hm?”


“Djinn.”


Hah?! Kok ada yang ngomong di


kepala—


“Ini gue, Phonso. Gue ngomong


lewat telepati.”


Te…Telepati…?


Te…Ternyata ada kayak gituan ya


di dunia ini…


“Gue mau kasih tau rahasia


besar, yang bahkan semua anggota Aquilla nggak tau, kecuali gue sama Orvo.”


“A…Apaan?”


“Sylv itu istrinya Dox.


Mereka udah punya anak, yang bahkan gue atau Orvo pun nggak tau siapa


anaknya. Tapi Sylv itu Pahlawan. Makanya itu dia terpaksa untuk tinggalin


anaknya.”


Bahkan udah punya anak?!


“Makanya cinta Hendrick cuma


bertepuk sebelah tangan, karena Sylv sendiri nggak bisa lupain Dox atau pun


anaknya.”


O…Ooohh…pantes aja…


“Tambah lagi, 5 tahun yang


lalu Myllo…”


“…”


“Ah, gue lupa kejadiannya!


Ahahaha!”


Kaget gue dia tiba-tiba ngomong


pake mulutnya!


Tapi dia ngomong kayak gitu,


padahal gue yakin ada yang ditutup-tutupin.


Mungkin itu rahasia Party-nya


mereka, jadi gue nggak akan ikut campur soal itu.


“Tapi gue kaget, ternyata lo


punya aura juga!”


Aura, ya.


“Kayaknya pemicunya itu karena


gue emosi.”


“Oh, jadi lo nggak bisa kontrol


penuh aura lo, ya?”


Hah?! Dikontrol?!


“Yah, perjalanan lo masih


panjang. Mending lo pelan-pelan aja belajar sesuatu di dunia ini. Kali aja


memori lo balik lagi.”


“I…Iya…”


Untung aja masih ada yang percaya


alesan itu.


Oh ya.


Kenapa gue masih ngerasa kalo dia


ada niat sesuatu untuk dateng sendirian ke sini?


“Phonso.”


“Hm?”


“Lo…marah kan, karena gue tampar


Myllo?”


“Marah? Nggak kok.”


Hah? Dia bukan marah?


“Ahahaha! Kenapa juga gue harus


marah?! Gue kesini untuk temenin lo tenangin diri!”


“Temenin gue…?”


“Iya lah! Lagian, gue ngerasa


tindakan lo bener, Djinn.”


“Tindakan gue bener?”


“Iya, walaupun cara nyampein lo


salah, ahaha…”


Ternyata…yang salah itu cara


nyampein gue, ya?


“Djinn, makasih udah ingetin


Myllo untuk nggak terlalu banyak berkorban.”


“Maksudnya?”


“Dia terlalu ngagumin Sylv,


makanya itu dia selalu ikutin setiap tindakan Sylv. Masalahnya, tindakan buruk


pun juga diikutin sama dia?”


“Tindakan buruk? Maksud lo…salah


satunya tuh terlalu banyak berkorban?”


“Ya! Sebenernya…Myllo bukan


penyebab kematian Sylv!”


“*Brak! (suara membanting gelas


besar)”


“Tapi tindakan dia yang terlalu


banyak berkorban itu yang bikin dia mati! Myllo cuma ambil tindakan demi dia!


Masalahnya…”


Eh, eh, eh!


Kenapa harus ngomong kenceng


kayak gitu?!


““…””


Aduh, jadi bahan tontonan orang


deh!


“Ah, maafin gue, Djinn. Gue terlalu


“I…Iya.”


“Makanya itu, gue harap lo nggak


terlalu larut di rasa bersalah lo, Djinn. Kalo bisa, lo mungkin cuma perlu


rubah cara penyampaian lo aja.”


“Ya.”


Seketika, gue jadi lega denger


omongan Phonso.


“Tapi, gue nggak nyangka lo


emosian gitu! Persis banget lo kayak Sylv! Ahahaha!”


“Ka…Kayak Sylv?!”


“Bener! Apalagi kalo dia—”


“Pe…Permisi! Lo itu Alphonso


Andersenn, ya?!”


“Iya.”


“Woy! Ada mantan rekannya Pahlawan


Sylvia!”


““Woooaaahh!!!””


Aduh! Jadi rame gara-gara dia !


Mending gue minggir deh!


Tapi sebelum itu…


“Phonso, Myllo sama Gia ada di


mana?”


“Oh ya! Tadi Myllo nemenin Gia


untuk ketemu Nyonya Dahlia, soal bir dari Xia!”


“Ketemuannya di ma—”


“Djinn!”


Hah?! Kebetulan banget tiba-tiba


ada Gia!


“Ayo ikut aku! Kita dapet Quest!”


Hah?! Kok tiba-tiba dapet Quest?!


“Yaudah deh, gue pergi dulu


Phon—”


“Djinn, tolong jagain Myllo,


ya?!”


“Ya!”


Abis itu, gue pergi dari kedai.


……………


Waktu kita jalan…


“*Phak! (suara tamparan)”


…tiba-tiba gue ditampar Gia.


Gue nggak perlu nanya kenapa dia


nampar gue, karena gue udah tau jawabannya.


“Aku cuma mau bales tindakan kamu


ke Myllo, karena aku yakin banget Myllo nggak akan mau bales temennya sendiri!”


“…”


Ya, gue udah siap terima resiko


dari perbuatan gue.


“Walaupun begitu, aku tetep mau


bilang makasih sama kamu, karena aku yakin kamu tampar dia demi kita.”


“Gi…Gia…?”


“Haaaaah…untung cuma ada aku di


sini! Bayangin aja kalo ada Luvast!”


“Hah? Luvast?”


“Tadi aku ngobrol bareng dia.


Waktu dia tau, dia marah banget sama kamu! Dia bilang, “Keterlaluan! Dasar


saudara tidak tahu rasa hormat!” begitu!”


Hormat, ya.


Kirain hormat itu cuma sama orang


tua.


Ya gue sendiri nggak berhak sih


ngomong gitu, semenjak gue tendang orang itu.


Makanya gue juga nggak tau apa


itu hormat.


……………


“Myllo! Ini Djinn!”


“Djiiiinnn! Kita dapet Quest


baru!”


“…”


Waktu gue sampe, Myllo keliatan


biasa aja.


Secara nggak langsung, kita


berdua berlagak semuanya baik-baik aja, seakan-akan kejadian tadi nggak pernah


ada.


Tapi kok…kenapa rame banget


tempat ini?


Di sini keliatan ada beberapa Petualang,


terus ada juga…


“Tuan Djinn, keliatannya anda


telah menemui Phonso.”


“Ya. Kita cuma ngobrol santai di


kedai.”


…Dahlia sama beberapa orang yang


nggak gue kenal.


“Hmm…topeng yang anda beli dari


saya masih bagus, ya?”


“Ya. Topengnya masih awet.”


“Fufu…ya pastinya. Untung anda


dapet harga yang murah dari saya. Karena topeng itu—”


“Ehem! Bisakah kita lanjutkan


rapat ini?”


Hm?


Dia siapa?


“…”


“Hey, Petualang!”


“Hm?”


“Anda! Yang memakai topeng!”


“???”


“Walaupun anda memakai topeng,


saya bisa melihat tatapan anda yang sangat tajam ke arah Tuan Bronski!”


Tuan Bronski…?


“Djiiiin! Jangan cari masalah! Itu


Baron Baldwin Bronski, orang yang mau kasih Quest ke kita!”


Hah?! Ternyata bangsawan yang mau


kasih Quest ke kita?!


“Maafin orang itu, Baron Bronski.


Mungkin dia nggak tau siapa aja bangsawan di negara ini, jadi dia heran kenapa


ada orang yang berani potong obrolan saya, mungkin?”


Loh, kok dia yang marah?


Keliatan banget dari tatapannya


ke bangsawan itu.


“Maksud anda, peringatan saya


tidak begitu penting dibandingkan dengan obrolan kalian tentang topeng itu—”


“Hey, Bronski.”


“Hm?!”


“Mentang-mentang punya gelar


Baron bikin anda jadi sombong, ya! Ingat ini baik-baik, anda butuh Petualang,


makanya saya panggil Petualang-Petualang yang saya kenal!”


“!!!”


Oh, ternyata dia dulu masyarakat


biasa ya.


Susah emang.


Sekalinya bisa terbang di langit,


jadi lupa daratan.


“Nggak saya sangka anda bahkan


nggak bisa izinin saya sambut salah satu rekan Petualang saya!”


“Ba…Baiklah, maafkan saya sebelumnya,


Nyonya Dahlia Dalrio. Saya hanya ingin rapat ini cepat selesai karena ada


urusan lain.”


“Hmm…OK, saya izinin—”


“Tapi tidak dengan Petualang


misterius seperti—”


“Saya berani jamin, anda pasti


jauh lebih aman kalo ada dia.”


Emang apa urusan bangsawan itu


kalo gue pake topeng?!


“Anda butuh Petualang yang kuat


untuk kawal anda selama ekspedisi, bukan?”


“Haaaah…baiklah, sepertinya saya


tidak bisa beradu argumen dengan anda.”


“Fufu…baiklah, mari kita


lanjutkan rapatnya.”


Hmm…keliatannya mereka udah


saling sepakat kalo gue ikut di Quest dari bangsawan ini.


Jujur aja sih, kalo nggak karena


Myllo sama Gia yang antusias ambil Quest ini, gue nggak tertarik sama sekali


untuk ikut.


Tapi…


Ah, udah lah. Mending simak aja


rapatnya.