
3 tahun yang lalu, ketika Myllo menyelesaikan latihannya dengan Ekor Hijau.
“Myllo, sudahkah engkau siap untuk melakukan perjalananmu sebagai Petualang?”
“Hehe! Pastinya dong, Ekor Hijau!”
Sapa Myllo, sebelum ia pergi meninggalkan Ekor Hijau.
Namun mendengar Myllo, Ekor Hijau justru merasa khawatir dengan muridnya itu.
“Tunggu dulu, Myllo.”
“Hah? Ada apa, Ekor Hijau?”
“Tidakkah engkau melupakan perlengkapanmu?”
“Oh iya! Ketinggalan!”
“Bagaimana dengan pakaian gantimu?”
“Hehe! Lupa gue masukkin!”
“Terus?”
“Ah! Makanan gue ketinggalan!”
“Haaaaah… Bagaimana engkau mampu bertahan sendirian, jika engkau tidak mampu mengingat apa saja yang engkau butuhkan?”
Tanya Ekor Hijau dengan heran, sambil menatap satu benda yang tidak dilupakan oleh muridnya itu.
“Ahaha! Maafin gue, Ekor Hijau! Gue terlalu semangat, sampe lupa untuk—”
“Jika engkau ingat untuk membawa tongkatmu, bagaimana bisa engkau melupakan keperluanmu yang lain?”
Kembali tanya Ekor Hijau dengan heran.
“Myllo, perlukah kuingatkan sekali lagi, jika engkau nantinya akan memiliki senjata yang lebih baik daripada tongkat itu?”
“…”
“Biar kuingatkan, Myllo. Kelak engkau menjadi Petualang hebat, pastinya kau akan memiliki senjata yang lebih
baik daripada tongkat i—”
“Nggak bisa!”
Sela Myllo ketika Ekor Hijau sedang menasihatinya.
“Karena tanpa adanya tongkat ini, gue nggak akan bisa sepenuhnya jawab tantangan Kak Sylv!”
Seru Myllo kepada Ekor Hijau.
“Baiklah jika memang itu kemauanmu.”
Balas Ekor Hijau, sebelum mereka pergi bersama-sama menuju sebuah tepi pulau.
““…””
Di tepi pulau tersebut, terdapat suatu jurang yang besar yang tertutup oleh kabut dan tidak terlihat dasarnya.
“Wuaaaaah! Kita udah sampe, ya?!”
“Ya. Inilah akhir perjalanan kita, Myllo.”
“Terus gimana cara gue turunnya—”
“Tiuplah peluit ini, Myllo.”
“Hm?”
Gumam Myllo dengan heran.
“Ketika kau meniupkan peluit ini, akan datang seseorang yang akan membawamu pergi dari tempat ini. Tetapi jika ia tanya apa alasan dia untuk membantumu, maka jawablah dengan pernyataan ini.”
“…”
Myllo pun mendengar apa yang dijelaskan Ekor Hijau kepadanya.
“Baiklah. Kalau begitu—”
“Ekor Hijau!”
“*Phuk!”
“Makasih banyak ya! Tanpa lo, mungkin gue nggak akan bisa jadi lebih kuat dari sekarang!”
Seru Myllo dengan tersenyum, sambil memeluk Ekor Hijau dengan erat, seperti seorang anak yang akan berpisah dengan ibunya.
“Ya. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu. Karena aku harus bersembunyi dari dunia ini.”
“Hah…? Sembunyi? Kok—”
“Tetapi dari semua murid yang pernah kuajarkan, kau adalah satu-satunya pria yang paling unik, karena tekadmu yang sangat kuat dibandingkan muridku lainnya. Karena itu, aku bersyukur bisa mengajarimu, Myllo Olfret.”
“Ya! Gue juga bersyukur punya guru kayak lo, Ekor Hijau!”
Balas Myllo, sebelum Ekor Hijau pergi meninggalkannya.
“*Fyuuuutttt!!!”
Myllo pun meniupkan peluit dari Ekor Hijau dengan sangat kencang.
Hingga tiba-tiba…
“Hm? Apakah engkau adalah pria yang memanggilku?”
“!!!”
…ia dikejutkan dengan kedatangan seorang pria.
“Siapakah dirimu, wahai Manusia? Bagaimana kau memiliki peluit itu?”
Tanya pria tersebut kepada Myllo.
Mengetahui apa yang ditanyakan oleh pria itu, Myllo memberikan jawaban yang sesuai yang dianjurkan oleh Ekor Hijau.
“Ryūkōgō yang kasih peluit ini.”
“!!!”
“Mm?”
Pria tersebut sangat terkejut. Namun Myllo menjadi heran karenanya.
“Haaaaah…! Baiklah! Namaku adalah Ryūtaro! Karena aku melayani Ryūkōgō-sama, maka aku akan menuruti keinginanmu! Kira-kira apa yang inginkan?!”
Tanya pria bernama Ryūtaro itu kepada Myllo.
“Gue mau minum sake—Eh iya, kan gue mau ke bawah sana, ya.”
Bisik Myllo, yang didengar oleh Ryūtaro.
“Kau mau ke Dunia Bawah, kah?”
“Ya—”
“Cih! Padahal tugasku sedang sangat berat! Tetapi aku terpaksa membantumu!”
“Hah? Lo nggak mau—”
“Baiklah! Lebih baik, aku bersiap terlebih dahulu!”
Balas Ryūtaro, sebelum ia…
“HAAAAAAAAH?!?! LO ITU NAGA?!?!”
…berubah wujud.
“(Hah?! Apakah ini kali pertamanya engkau melihat seekor Na—)”
“YAHUUUUU!!! GUE NAIK NAGAAAA!!!”
Seru Myllo dengan riang gembira.
Sementara Ryūtaro…
“(Rrrrrrr….!)”
…masih merasa kesal dengannya.
Akan tetapi yang ia rasakan justru berubah ketika berada di tengah perjalanan.
“(Graaagragragragra!!! Sepertinya kakakmu adalah wanita yang konyol, Myllo! Tidak kusangka ada seorang Pahlawan yang sekonyol itu!)”
“Ahahaha! Asli deh! Udah gitu, dia seneng banget isengin Klavak sama Styx! Mau setua apapun mereka berdua, pasti ujung-ujungnya mereka kayak anak kecil deh di depan Kak Sylv!”
Ketika dalam perjalanan, Naga tersebut justru selalu dibuat tertawa oleh cerita Myllo tentang Sylvia.
“*Swush…!”
Mereka terus bercengkerama bersama selama di perjalanan, hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka.
“Sepertinya ini adalah pulau terdekat, Myllo!”
“Oh gitu ya! Ahahaha! Nggak gue sangka ternyata secepet ini kita sampenya!”
Seru Myllo dengan tawa kepada Ryūtaro, yang sudah kembali dalam Wujud Manusia miliknya.
“OK deh! Makasih banyak, ya! Gue pergi sekarang ju—”
“Myllo! Tunggu!”
“Hah?”
“Engkau adalah orang yang paling menyenangkan dibandingkan semua orang yang kutemui! Oleh karena itu, janganlah engkau melupakanku, sobat!”
“Hehe! Tenang aja, Ryūtaro!”
Balas Myllo kepada Naga yang bernama Ryūtaro itu.
……………
3 tahun kemudian, sebelum Ryūtaro datang menemui Myllo.
Pikir Ryūtaro, ketika ia sedang berada di tepi pulau.
Karena itu…
(Lebih baik aku pergi ke Dunia Bawah! Karena aku yakin, bahwa aku akan bertemu dengan Myllo!)”
…ia berubah wujud menjadi Naga dan pergi menuju ke tengah laut berkabut, dengan harapan agar ia mampu bertemu dengan Myllo kembali.
Akan tetapi yang ia harapkan justru berbeda.
“*Swush…”
Beberapa saat yang lalu, ketika Myllo terbang dan meninggalkan anggotanya di Sailing Eagle, karena mendengar suara raungan yang keras.
“Zegin, lo yakin kalo tiupan angin kenceng ini bukan karena faktor alam?”
“Ya. Dari angin yang Gue rasain lewat lo, angin kenceng itu tuh kekuatan dari seseorang.”
Jelas Zegin dari dalam pikiran Myllo, sambil Myllo terbang menuju suara raungan tersebut.
Hingga akhirnya, Myllo tiba di hadapan Ryūtaro, yang dalam Wujud Naga miliknya.
“(Engkau adalah… Myllo?! Syukurlah aku menemukanmu—)”
“Woy, Naga! Angin lo ganggu Party gue yang mau nyebrang!”
“(!!!)”
Mendengar seruan Myllo membuat Ryūtaro marah.
“(Apa kau bilang?! Tidakkah engkau mengingatku—)”
“Hah?! Emangnya gue pernah ketemu lo?!”
“(!!!)”
Lagi-lagi pernyataan Myllo membuat Ryūtaro marah.
“(Aku telah bersabar menunggu adanya seseorang yang mampu membantuku di tengah keadaan yang sangat genting ini! Tidak kusangka sobat yang kukenal telah melupakanku!)”
Seru Ryūtaro dengan amarah yang meluap.
Namun ketika mendengar Ryūtaro…
“Haaaaah…?”
…Myllo justru semakin heran.
“Sobat? Maksudnya—”
“*FWUSH!!!”
“Aaaargh!”
Dengan amarah yang meluap, Ryūtaro menghempaskan Myllo dengan kekuatan anginnya, hingga Myllo kembali ke Sailing Eagle.
“*Bruk, bruk, bruk…”
““M-MYLLO?!?!””
Seru hampir seluruh anggota Aquilla dengan khawatir, sebelum Myllo menjelaskan kondisi yang ia hadapi saat ini kepada mereka.
Namun tanpa mereka semua sadari, Ryūtaro berbicara kepada Myllo dengan menggunakan telepatinya.
“Engkau mampu menggunakan kekuatan angin bukan?!”
“!!!”
Myllo terkejut ketika Ryūtaro berbicara di dalam pikirannya.
“Aku tidak tahu kekuatan angin macam apa yang engkau miliki! Namun…”
““*FWUSH…””
“…aku menantangmu untuk menghadapiku dengan kekuatan anginmu, Myllo!”
Tantang Ryūtaro, sambil menciptakan puluhan angin topan besar baginya.
“Semuanya! Pegangan yang erat!”
“Myllo! Kamu mau ngapain la—”
“Biar gue yang tanganin semua angin topan itu! Karena di tengah kondisi kayak gini, cuma gue doang yang bisa
lawan Wind Dragon itu!”
Seru Myllo kepada rekan-rekannya, sebagaimana ia menjawab tantangan dari Ryūtaro.
…………
Dan kali ini, setelah Ryūtaro menceritakan masa lalunya kepada rekan-rekan Myllo.
“Oh gitu, ya. Pantesan kamu kecewa sama Myllo yang lupa sama kamu.”
“(Tentu saja! Padahal setelah hidup lama, aku tidak pernah tertawa sepuas itu, sebelum aku bertemu dengannya! Nyatanya ia melupakan janjinya kepadaku!)”
Jelas Ryūtaro kepada Gia dan anggota Aquilla yang lain.
Sementara Djinn…
“…”
…hanya menatapnya dengan tajam.
“Nama lo… Ryūtaro, kan?”
“(Ya! Aku adalah Wind Dragon yang—)”
“Bukannya Naga ada Wujud Manusia, ya? Biar enak, mending lo lanjutin cerita lo di Wujud Manusia deh.”
“(Ah, kau benar! Tunggu sebentar.)”
Balas Ryūtaro, sambil merubah wujudnya dalam rupa Manusia dan berdiri di atas Sailing Eagle bersama anggota Aquilla.
Akan tetapi, ketika ia berubah dalam Wujud Manusia…
“Ah! Inilah Wujud Manusiaku—”
“*Bhuk!”
““!!!””
…Djinn langsung memukul perutnya.
“Djinn! Kenapa sia pukul—”
“Lo gila kali, ya?! Gara-gara lupa doang, lo nantangin dia sampe pingsan begini?!”
Seru Djinn dengan kesal, setelah ia mendengar sebagian cerita dari Ryūtaro.
Apa yang ia katakan juga mendapat dukungan dari Dalbert.
“Gue juga setuju!.”
“Et?! Dalbert?!”
“Kalo ngomel-ngomel aja udah cukup, buat apa lo tantang dia?!”
Seru Dalbert yang sama kesalnya dengan Djinn.
“Tunggu!”
““Hah?!””
“Aku mengerti apa yang kalian rasakan! Tetapi aku mempunyai alasan tersendi—”
“HAAAAAAAH?!?! LO ITU RYŪTARO?!?!”
““…””
Seketika mereka semua menatap Myllo yang terbangun dan menginterupsi penjelasan Ryūtaro.
“M-Myllo—”
“*Tung!”
“Makanya sebut nama, dong! Mana gue inget kalo lo nggak sebut nama lo?!”
Seru Myllo, setelah ia mengetuk kepala Ryūtaro.
“Hah?! Sebut namaku?! Tidakkah engkau mengenali Wujud Naga milikku—”
“Tampilan Naga punya lo aja udah beda dari 3 tahun yang lalu! Liat tuh! Sekarang lo punya jenggot! Padahal 3 tahun yang lalu lo nggak punya jenggot!”
“Ah… benar juga kau, Myllo…”
Bisik Ryūtaro dengan perasan bersalah.
“Ngomong-ngomong…”
“Mm?”
“Ternyata udah 3 tahun ya kita nggak ketemu! Ahahaha!”
“Ya! Tidak kusangka, engkau sudah menjadi seorang pemimpin, Myllo!”
“Ya! Pastinya—”
“Tunggu, Mil.”
Potong Djinn yang menginterupsi reuni antara Myllo dan Ryūtaro.
“Maaf kalo gue potong kalian. Tapi lo bilang, lo ada alesan untuk nantangin Myllo. Kira-kira alesan lo apa?”
“T-Terkait itu…”
““…””
Aquilla pun mendengar penjelasan Ryūtaro, sebelum akhirnya Myllo dihadapkan dengan pilihan sulit.