Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 32. Snake



Beberapa hari setelah pertarungan


antara Myllo, Djinn, Duke Bismont dan personilnya, serta beberapa Petualang


lainnya melawan Goldiggia dan sekte sesat bernama Children of Purgatory, dunia


kembali disadarkan dengan ancaman yang akan datang selama sekte tersebut tidak


dihentikan.


Kedatangan Iblis sama saja


mendatangkan bencana besar bagi dunia. Dunia tidak akan lupa dengan bencana


besar yang mereka bawa 5 tahun yang lalu, di mana terdapat peperangan besar


antara para Petualang dan Iblis di Paradevia Island, yang memakan banyak sekali


korban.


3 Guild terbaik pada kala itu,


terdiri dari Ursa Borealis, Argus Navis, dan Sagitta, bersama-sama bergabung di


bawah kepemimpinan Aquilla, yang dipimpin oleh Sylvia Starfell, yang merupakan


salah satu korban perang tersebut.


Peperangan tersebut dikenal


dengan nama Hell’s Gate War. Sejarah mencatat, bahwa perang tersebut


terdapat 350 korban jiwa dari 500 Petualang yang berpartisipasi dalam perang


tersebut. Selain itu, Sagitta terpaksa dibubarkan karena kematian semua


anggota, Ursa Borealis terpaksa vakum sementara selama 4 tahun karena hampir


semua anggota yang terluka, Argus Navis menghilang tanpa jejak, dan Aquilla


dibubarkan karena kematian Kaptennya.


Dengan tidak adanya seorang


Pahlawan di dunia, serta kabar sekte yang hendak membuka kembali jalan untuk


Iblis, hampir semua orang di dunia merasa terancam.


Namun, hanya sedikit orang yang


bisa merasakan sisi lain dibalik kabar tersebut, yaitu kekuatan besar kuno yang


sekilas muncul ketika pertarungan antara Myllo dan Djinn melawan Galziq.


Dan sekarang, di Marvilanch


Island, terdapat beberapa orang yang duduk bersama-sama dengan meja bundar di


tengah mereka, sedang melakukan rapat terkait berita tersebut.


“Jadi, mereka udah mulai keliatan


pergerakan, ya?”


Tanya seseorang dengan sayap,


mata, dan tanduk seekor naga. Ia adalah Charvelle, seorang Dragonewt.


“Maksud anda Children of Purgatory?”


Balas seseorang yang bernama


Gadlu. Ia adalah seorang Monster yang berasal dari ras yang sangat langka yang


bernama Bathiman. Tubuhnya berbentuk seperti kera tanpa leher, dengan sayap


kelelawar terbentang dari ujung lengan sampai ke belakang lututnya.


“Hmm… Bagaimana tanggapanmu,


Snake?”


“…”


“Snake?”


Tanya seorang Lizardman yang


bernama Moalkin. Ia memiliki postur tubuh yang sangat besar, yang berkisar


antara 2 sampai 2,5 meter.


“Kenapa orang itu diem aja


waktu ditanya? Keliatannya ada yang aneh dari dia. Ya, emang dia orang yang


aneh, sih.”


Pikir seorang Mermaid yang


bernama Klavak dengan telinganya yang berbentuk seperti sirip ikan.


“*Brak! (suara memukul meja)”


“Woy, Snake! Lo ditanyain


daritadi! Kalo diem aja, ngapain juga lo minta kita kumpul kayak gini?!”


Tegas Klavak setelah melihat pria


yang dipanggil Snake itu tidak memberikan respon apa-apa.


“Ah. Maaf, kawan-kawan. Saya


tiba-tiba teringat dengan apa yang saya rasakan beberapa hari yang lalu.”


“Apa yang anda rasakan, Snake?”


“Hmm…lebih baik abaikan saja apa


yang saya bicarakan, kawan-kawan.”


Jelas pria yang disebut dengan


nama Snake itu. Sesuai dengan namanya, Snake memiliki topeng berbentuk seekor


ular.


“Snake, untuk Children of Purgatory…”


“Hmm…akhirnya mereka ketahuan


juga, ya.”


“Jadi, kita harus gimana, Snake?”


“Tahan saja. Selama mereka tidak


mengganggu kita, lebih baik jangan menjadikan mereka musuh, Charvelle.”


Jelas Snake terkait Children of


New World.


“Gue nggak ada niatan untuk


jadiin mereka musuh, tapi gimana kalo mereka nyerang Gazomaton?”


“Itu mungkin cerita di lain


waktu, Charvelle. Setidaknya mereka tidak memiliki alasan mengapa memasang


target di kepala kita.”


“Tapi kan itu wilayah—”


“Charvelle, mending anda nggak


usah banyak nanya. Kita percayain aja seutuhnya ke Snake.”


Potong Gadlu ketika Charvelle


bertanya kepada Snake lagi.


“Loh, kan gue nanya untuk pastiin


keadaan! Kok nggak boleh?!”


Tanya Charvelle dengan nada


membentak.


“Hahaha! Charvelle benar, Gadlu.


Wajar saja jika ia bertanya. Lagipula, tidak ada yang lebih waspada daripadanya,


kan?”


“OK, Snake! Maafin saya,


Charvelle.”


Balas Gadlu yang lalu menundukkan


kepala kepada Charvelle.


“Akan tetapi, Gadlu juga ada


benarnya, Charvelle.”


“Hmm?”


“Tidak apa-apa jika anda


khawatir. Akan tetapi, selalu saya tekankan, kan? Sesuatu yang berlebihan pasti


berakhir fatal, kawan.”


“Maaf, Snake. Cuma insting gue


aja untuk selalu waspada.”


Balas Charvelle kepada Snake


ketika ia hendak membuatnya untuk tidak terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu.


Saat mereka bertiga sedang


berbicara, Klavak memperhatikan mereka.


“Jangan terlalu banyak


khawatir?! Lo kira lo siapa?! Emangnya semua bakal 100% sesuai perkiraan lo?!”


Pikir Klavak.


Sambil Klavak memperhatikan


mereka, tiba-tiba Snake menyadari sesuatu tentang Klavak.


“Klavak, mungkin anda berpikir


jika saya terlalu angkuh karena merasa terlalu tenang, benar?”


“!!!”


Klavak terkejut ketika ditanya


oleh Snake, seakan ia membaca pikirannya.


“Jelas lah. Masa lo nggak takut


sama sekte sesat yang nyerang kakak—”


“Tentu saja saya waspada, Klavak.


Saya pun juga paham bagaimana orang yang begitu anda kagumi menjadi korban


dalam Hell’s Gate War.”


Jelas Snake.


“Yaudah, semoga lo nggak tinggal


diem doang kalo ada pergerakan dari sekte sesat itu!”


“Ya, ya, ya. Tentu saja—”


“Satu lagi. Lo inget janji kita,


kan? Jangan sampe gue sia-sia gabung bareng lo.”


“Terkait Myllo Olfret?”


“Ya. Pokoknya gue ikutin terus


kata-kata lo, asalkan gue punya kesempatan untuk bunuh dia!”


“Tentu saja, kawan.”


Balas Snake kepada Klavak yang


Setelah mereka selesai berbicara,


Klavak masih curiga dengan Snake.


“Aneh. Dia baca intuisi gue,


atau baca pikiran gue, sih?”


Pikir Klavak tentang Snake.


Namun tanpa Klavak duga…


“Tidak hanya membaca saja,


kawan. Berkomunikasi pun saya bisa, Klavak.”


“!!!”


…Snake justru membalas isi


pikirannya lewat telepati.


“Tenang saja. Anda tidak perlu


waspada terhadap saya, Klavak. Anda boleh berpikir apa saja tentang saya.


Namun, tolong percayakan segalanya kepada saya.”


Balas Snake lewat telepatinya.


“…”


Karena ada rasa takut salah


langkah, Klavak pun hanya membalas dengan mengangguk saja.


“Snake, maafkan saya. Tapi apa


yang akan kita bahas di tempat ini?”


“Tunggu dulu. Sebentar lagi akan


da—”


“*Tok, tok, tok… (suara mengetuk


pintu)”


Saat ditanya oleh Moalkin, Snake


yang hendak membalas tiba-tiba teralihkan perhatiannya ketika ada pintu yang


diketuk dari balik ruang rapatnya.


“Ah, ternyata sudah datang, ya?”


““Hm?””


Beberapa dari antara mereka


bingung dengan apa yang dimaksud Snake.


“Silakan masuk.”


“Permisi, Guildma—”


“Panggil saja Snake, kawan.”


“Ma…Maafkan saya…”


“Tidak apa-apa. Saya tahu bahwa


sebagai orang baru, pasti anda memiliki perasaan gugup. Tapi tenang saja,


kawan.”


Balas Snake kepada seseorang


dengan badan besar yang membawakan suatu benda besar kepadanya.


Setelah membawakan benda


tersebut, orang itu pun meninggalkan ruang rapat.


Penasaran dengan apa yang dibawa


oleh orang tersebut, semua yang berada di ruang rapat tersebut memperhatikan


baik-baik ketika Snake hendak membuka benda tersebut.


Ketika terbuka, semua sontak


terkejut akan isi benda tersebut.


“I…Itu…”


“Mayat?”


“Banyak luka bakar dari mayat


ini. Dia mati kebakaran, ya?”


Tanya beberapa setelah melihat


isi dari benda yang dibuka oleh Snake.


“Snake, siapa mayat ini?”


“Diketahui bahwa identitas dari


jasad ini adalah salah satu personil dari Goldiggia dengan titel Kakak Besar.


Sebelum ia meninggal, ia diketahui sedang melarikan diri setelah Duke Louisson


mengejar sisa-sisa dari Goldiggia.”


“Artinya, Kakak Besar yang lain


lagi lari juga, ya?”


“Pastinya.”


Jelas Snake tentang jasad yang ia


bawa ke tengah rapat ketika ditanya oleh Gadlu.


“Haha! Artinya kaum anda juga


sedang lari, Moalkin!”


“Hmph! Karena kadal bodoh itu salah menaruh loyalitasnya!”


Balas Moalkin dengan bangganya


membalas Gadlu.


“Terus, guna dari jasad ini apa?”


“Untuk mencari tahu kebenaran


dari kejadian tersebut.”


“Buat apa?”


“Karena saya sempat melakukan


transaksi dengan Bjüdrox, Charvelle. Saya tidak menganggapnya sebagai kawan,


akan tetapi ia juga salah satu mitra dalam bertransaksi, walau hanya sementara.”


Jelas Snake kepada Charvelle yang


menanyakan kegunaan jasad tersebut.


Seketika, Snake berdiri di


tengah-tengah mereka, lalu merapal mantra.


“Memory Seek…”


““…””


Setelah merapal mantra, mereka


semua melihat ingatan yang dari jasad tersebut.


Dari beberapa yang mereka lihat,


terdapat Djinn yang bertarung dengan kekuatan super miliknya ketika melawan jasad tersebut,


serta Myllo dengan kekuatan supernatural-nya ketika berhadapan dengan mayat


tersebut.


Setelah melihat ingatan dari


jasad itu, Klavak merasa kesal dengan apa yang ia lihat.


“*Brak! (suara memukul meja)”


“Si…Sial! Kenapa orang itu


selalu beruntung, sih?! Nggak punya Mana aja dia selalu beruntung, sekarang


dia malah bisa pake sihir?!”


Pikir Klavak tentang Myllo.


“Zegin, ya…”


Bisik Snake setelah menyaksikan


kekuatan milik Myllo.


“Zegin? Siapa itu?”


“Dewi.”


“Dewi?! Artinya…”


“Ya. Ia adalah seorang Saint.


Namun, namanya hampir tidak pernah terdengar oleh siapapun karena ia terlalu


bebas dan tidak haus pujian.”


Jelas Snake tentang Zegin.


Di saat Klavak terpaku dengan


kekuatan Myllo, yang lainnya justru begitu terpukai dengan segala serangan yang


begitu kuat dari Djinn.


“Kekuatan macem apa itu?! Kok


sekali pukul bisa hancur kayak gitu badan orang?!”


“Pukulannya aja udah bisa 5


sampai 10 orang yang mati?! Siapa dia?!”


Pikir Gadlu dan Moalkin tentang


Djinn.


“Snake, itu…”


“Anda benar, Charvelle. Ia


menggunakan Union, walau sepertinya ia tidak menyadarinya. Anehnya,


tidak ada elemen apapun darinya. Bahkan ia terlihat tidak menyadari asal kekuatan


tersebut.”


Jelas Snake tentang Djinn.


“Fufufu…”


“Snake?”


“Sepertinya saya tahu harus apa


sekarang. Karena adanya variabel baru ini, sepertinya saya melakukan


pengujian variabel ini, walau harus membuat suatu pengorbanan.”


Kata Snake sambil menyeringai.


“Jika memang anda sekuat itu,


coba buktikan kepada saya, Djinnardio.”


Pikir mengenal identitas asli


Djinn.