
Beberapa hari setelah pertarungan
antara Myllo, Djinn, Duke Bismont dan personilnya, serta beberapa Petualang
lainnya melawan Goldiggia dan sekte sesat bernama Children of Purgatory, dunia
kembali disadarkan dengan ancaman yang akan datang selama sekte tersebut tidak
dihentikan.
Kedatangan Iblis sama saja
mendatangkan bencana besar bagi dunia. Dunia tidak akan lupa dengan bencana
besar yang mereka bawa 5 tahun yang lalu, di mana terdapat peperangan besar
antara para Petualang dan Iblis di Paradevia Island, yang memakan banyak sekali
korban.
3 Guild terbaik pada kala itu,
terdiri dari Ursa Borealis, Argus Navis, dan Sagitta, bersama-sama bergabung di
bawah kepemimpinan Aquilla, yang dipimpin oleh Sylvia Starfell, yang merupakan
salah satu korban perang tersebut.
Peperangan tersebut dikenal
dengan nama Hell’s Gate War. Sejarah mencatat, bahwa perang tersebut
terdapat 350 korban jiwa dari 500 Petualang yang berpartisipasi dalam perang
tersebut. Selain itu, Sagitta terpaksa dibubarkan karena kematian semua
anggota, Ursa Borealis terpaksa vakum sementara selama 4 tahun karena hampir
semua anggota yang terluka, Argus Navis menghilang tanpa jejak, dan Aquilla
dibubarkan karena kematian Kaptennya.
Dengan tidak adanya seorang
Pahlawan di dunia, serta kabar sekte yang hendak membuka kembali jalan untuk
Iblis, hampir semua orang di dunia merasa terancam.
Namun, hanya sedikit orang yang
bisa merasakan sisi lain dibalik kabar tersebut, yaitu kekuatan besar kuno yang
sekilas muncul ketika pertarungan antara Myllo dan Djinn melawan Galziq.
Dan sekarang, di Marvilanch
Island, terdapat beberapa orang yang duduk bersama-sama dengan meja bundar di
tengah mereka, sedang melakukan rapat terkait berita tersebut.
“Jadi, mereka udah mulai keliatan
pergerakan, ya?”
Tanya seseorang dengan sayap,
mata, dan tanduk seekor naga. Ia adalah Charvelle, seorang Dragonewt.
“Maksud anda Children of Purgatory?”
Balas seseorang yang bernama
Gadlu. Ia adalah seorang Monster yang berasal dari ras yang sangat langka yang
bernama Bathiman. Tubuhnya berbentuk seperti kera tanpa leher, dengan sayap
kelelawar terbentang dari ujung lengan sampai ke belakang lututnya.
“Hmm… Bagaimana tanggapanmu,
Snake?”
“…”
“Snake?”
Tanya seorang Lizardman yang
bernama Moalkin. Ia memiliki postur tubuh yang sangat besar, yang berkisar
antara 2 sampai 2,5 meter.
“Kenapa orang itu diem aja
waktu ditanya? Keliatannya ada yang aneh dari dia. Ya, emang dia orang yang
aneh, sih.”
Pikir seorang Mermaid yang
bernama Klavak dengan telinganya yang berbentuk seperti sirip ikan.
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Woy, Snake! Lo ditanyain
daritadi! Kalo diem aja, ngapain juga lo minta kita kumpul kayak gini?!”
Tegas Klavak setelah melihat pria
yang dipanggil Snake itu tidak memberikan respon apa-apa.
“Ah. Maaf, kawan-kawan. Saya
tiba-tiba teringat dengan apa yang saya rasakan beberapa hari yang lalu.”
“Apa yang anda rasakan, Snake?”
“Hmm…lebih baik abaikan saja apa
yang saya bicarakan, kawan-kawan.”
Jelas pria yang disebut dengan
nama Snake itu. Sesuai dengan namanya, Snake memiliki topeng berbentuk seekor
ular.
“Snake, untuk Children of Purgatory…”
“Hmm…akhirnya mereka ketahuan
juga, ya.”
“Jadi, kita harus gimana, Snake?”
“Tahan saja. Selama mereka tidak
mengganggu kita, lebih baik jangan menjadikan mereka musuh, Charvelle.”
Jelas Snake terkait Children of
New World.
“Gue nggak ada niatan untuk
jadiin mereka musuh, tapi gimana kalo mereka nyerang Gazomaton?”
“Itu mungkin cerita di lain
waktu, Charvelle. Setidaknya mereka tidak memiliki alasan mengapa memasang
target di kepala kita.”
“Tapi kan itu wilayah—”
“Charvelle, mending anda nggak
usah banyak nanya. Kita percayain aja seutuhnya ke Snake.”
Potong Gadlu ketika Charvelle
bertanya kepada Snake lagi.
“Loh, kan gue nanya untuk pastiin
keadaan! Kok nggak boleh?!”
Tanya Charvelle dengan nada
membentak.
“Hahaha! Charvelle benar, Gadlu.
Wajar saja jika ia bertanya. Lagipula, tidak ada yang lebih waspada daripadanya,
kan?”
“OK, Snake! Maafin saya,
Charvelle.”
Balas Gadlu yang lalu menundukkan
kepala kepada Charvelle.
“Akan tetapi, Gadlu juga ada
benarnya, Charvelle.”
“Hmm?”
“Tidak apa-apa jika anda
khawatir. Akan tetapi, selalu saya tekankan, kan? Sesuatu yang berlebihan pasti
berakhir fatal, kawan.”
“Maaf, Snake. Cuma insting gue
aja untuk selalu waspada.”
Balas Charvelle kepada Snake
ketika ia hendak membuatnya untuk tidak terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu.
Saat mereka bertiga sedang
berbicara, Klavak memperhatikan mereka.
“Jangan terlalu banyak
khawatir?! Lo kira lo siapa?! Emangnya semua bakal 100% sesuai perkiraan lo?!”
Pikir Klavak.
Sambil Klavak memperhatikan
mereka, tiba-tiba Snake menyadari sesuatu tentang Klavak.
“Klavak, mungkin anda berpikir
jika saya terlalu angkuh karena merasa terlalu tenang, benar?”
“!!!”
Klavak terkejut ketika ditanya
oleh Snake, seakan ia membaca pikirannya.
“Jelas lah. Masa lo nggak takut
sama sekte sesat yang nyerang kakak—”
“Tentu saja saya waspada, Klavak.
Saya pun juga paham bagaimana orang yang begitu anda kagumi menjadi korban
dalam Hell’s Gate War.”
Jelas Snake.
“Yaudah, semoga lo nggak tinggal
diem doang kalo ada pergerakan dari sekte sesat itu!”
“Ya, ya, ya. Tentu saja—”
“Satu lagi. Lo inget janji kita,
kan? Jangan sampe gue sia-sia gabung bareng lo.”
“Terkait Myllo Olfret?”
“Ya. Pokoknya gue ikutin terus
kata-kata lo, asalkan gue punya kesempatan untuk bunuh dia!”
“Tentu saja, kawan.”
Balas Snake kepada Klavak yang
Setelah mereka selesai berbicara,
Klavak masih curiga dengan Snake.
“Aneh. Dia baca intuisi gue,
atau baca pikiran gue, sih?”
Pikir Klavak tentang Snake.
Namun tanpa Klavak duga…
“Tidak hanya membaca saja,
kawan. Berkomunikasi pun saya bisa, Klavak.”
“!!!”
…Snake justru membalas isi
pikirannya lewat telepati.
“Tenang saja. Anda tidak perlu
waspada terhadap saya, Klavak. Anda boleh berpikir apa saja tentang saya.
Namun, tolong percayakan segalanya kepada saya.”
Balas Snake lewat telepatinya.
“…”
Karena ada rasa takut salah
langkah, Klavak pun hanya membalas dengan mengangguk saja.
“Snake, maafkan saya. Tapi apa
yang akan kita bahas di tempat ini?”
“Tunggu dulu. Sebentar lagi akan
da—”
“*Tok, tok, tok… (suara mengetuk
pintu)”
Saat ditanya oleh Moalkin, Snake
yang hendak membalas tiba-tiba teralihkan perhatiannya ketika ada pintu yang
diketuk dari balik ruang rapatnya.
“Ah, ternyata sudah datang, ya?”
““Hm?””
Beberapa dari antara mereka
bingung dengan apa yang dimaksud Snake.
“Silakan masuk.”
“Permisi, Guildma—”
“Panggil saja Snake, kawan.”
“Ma…Maafkan saya…”
“Tidak apa-apa. Saya tahu bahwa
sebagai orang baru, pasti anda memiliki perasaan gugup. Tapi tenang saja,
kawan.”
Balas Snake kepada seseorang
dengan badan besar yang membawakan suatu benda besar kepadanya.
Setelah membawakan benda
tersebut, orang itu pun meninggalkan ruang rapat.
Penasaran dengan apa yang dibawa
oleh orang tersebut, semua yang berada di ruang rapat tersebut memperhatikan
baik-baik ketika Snake hendak membuka benda tersebut.
Ketika terbuka, semua sontak
terkejut akan isi benda tersebut.
“I…Itu…”
“Mayat?”
“Banyak luka bakar dari mayat
ini. Dia mati kebakaran, ya?”
Tanya beberapa setelah melihat
isi dari benda yang dibuka oleh Snake.
“Snake, siapa mayat ini?”
“Diketahui bahwa identitas dari
jasad ini adalah salah satu personil dari Goldiggia dengan titel Kakak Besar.
Sebelum ia meninggal, ia diketahui sedang melarikan diri setelah Duke Louisson
mengejar sisa-sisa dari Goldiggia.”
“Artinya, Kakak Besar yang lain
lagi lari juga, ya?”
“Pastinya.”
Jelas Snake tentang jasad yang ia
bawa ke tengah rapat ketika ditanya oleh Gadlu.
“Haha! Artinya kaum anda juga
sedang lari, Moalkin!”
“Hmph! Karena kadal bodoh itu salah menaruh loyalitasnya!”
Balas Moalkin dengan bangganya
membalas Gadlu.
“Terus, guna dari jasad ini apa?”
“Untuk mencari tahu kebenaran
dari kejadian tersebut.”
“Buat apa?”
“Karena saya sempat melakukan
transaksi dengan Bjüdrox, Charvelle. Saya tidak menganggapnya sebagai kawan,
akan tetapi ia juga salah satu mitra dalam bertransaksi, walau hanya sementara.”
Jelas Snake kepada Charvelle yang
menanyakan kegunaan jasad tersebut.
Seketika, Snake berdiri di
tengah-tengah mereka, lalu merapal mantra.
“Memory Seek…”
““…””
Setelah merapal mantra, mereka
semua melihat ingatan yang dari jasad tersebut.
Dari beberapa yang mereka lihat,
terdapat Djinn yang bertarung dengan kekuatan super miliknya ketika melawan jasad tersebut,
serta Myllo dengan kekuatan supernatural-nya ketika berhadapan dengan mayat
tersebut.
Setelah melihat ingatan dari
jasad itu, Klavak merasa kesal dengan apa yang ia lihat.
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Si…Sial! Kenapa orang itu
selalu beruntung, sih?! Nggak punya Mana aja dia selalu beruntung, sekarang
dia malah bisa pake sihir?!”
Pikir Klavak tentang Myllo.
“Zegin, ya…”
Bisik Snake setelah menyaksikan
kekuatan milik Myllo.
“Zegin? Siapa itu?”
“Dewi.”
“Dewi?! Artinya…”
“Ya. Ia adalah seorang Saint.
Namun, namanya hampir tidak pernah terdengar oleh siapapun karena ia terlalu
bebas dan tidak haus pujian.”
Jelas Snake tentang Zegin.
Di saat Klavak terpaku dengan
kekuatan Myllo, yang lainnya justru begitu terpukai dengan segala serangan yang
begitu kuat dari Djinn.
“Kekuatan macem apa itu?! Kok
sekali pukul bisa hancur kayak gitu badan orang?!”
“Pukulannya aja udah bisa 5
sampai 10 orang yang mati?! Siapa dia?!”
Pikir Gadlu dan Moalkin tentang
Djinn.
“Snake, itu…”
“Anda benar, Charvelle. Ia
menggunakan Union, walau sepertinya ia tidak menyadarinya. Anehnya,
tidak ada elemen apapun darinya. Bahkan ia terlihat tidak menyadari asal kekuatan
tersebut.”
Jelas Snake tentang Djinn.
“Fufufu…”
“Snake?”
“Sepertinya saya tahu harus apa
sekarang. Karena adanya variabel baru ini, sepertinya saya melakukan
pengujian variabel ini, walau harus membuat suatu pengorbanan.”
Kata Snake sambil menyeringai.
“Jika memang anda sekuat itu,
coba buktikan kepada saya, Djinnardio.”
Pikir mengenal identitas asli
Djinn.