Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 62. Open to Others



Sekarang kita ada di Humpar Bar,


salah satu klien kita waktu ngerjain 5 Quest untuk naik Kasta.


Waktu kita pesen menu yang ada,


Luvast juga pesen minum di kedai yang dia kunjungin di tempatnya sekarang.


“Haha…hicc!”


Si Dongo udah mabok, padahal


nggak sampe satu botol.


“Myllo…kamu mudah sekali


mabuk, ya.”


Luvast juga udah agak lemes waktu


nyentuh botol kedua.


“Iya nih! Makanya jangan


kebanyakan minum, Myllo!”


Gia ngomong gitu, padahal udah 8


botol yang dia minum!


Anehnya, nggak ada tanda-tanda mabok


sama sekali!


Tapi daripada mikirin mereka yang


kebanyakan minum…


“Ehem!”


““Hm?””


“Woy, kalian. Kenapa sih boros


banget? Apalagi lo, Gia. Mau berapa botol yang lo pesen?”


““NGACA, WOY!!!””


“Ah, iya ya.”


Gara-gara makanan enak ini murah


banget, gue jadi nggak sadar mesen 15 piring.


“Djinn, perlu kamu ingat bahwa


ada 5 gelas kopi yang telah kamu pesan.”


“Tuh! Denger Luvast, Djinn!”


Kenapa diingetin sih?! Dasar


sodara sialan!


“Permisi. Keliatannya Tuan Myllo


dan kawan-kawannya sedang berpesta, ya? Kebetulan ayah saya juga menanyakan hal


yang sama.”


“…”


Cewek ini…kalo nggak salah


anaknya bartender yang punya kedai ini, deh.


Kalo nggak salah nama pemiliknya…


“*Brak! (suara memukul meja)”


“Hehehe! Naik Kasta nih, bos! Hicc!”


“Iya, Pak Dhion! Mereka baru aja


naik Kasta!”


…nah, itu dia udah disebut Gia.


Tapi…


“Woy! Kenapa harus teriak-teriak


sih lo berdu—”


“Mantap Myllo! Kalo gitu, khusus


kalian, gue kasih diskon 40%!”


““HAAAAAAHHHH?!?!””


Woy, woy, woy!


Seriusan?!


Kalo gitu…


“Pak! 5 Nasi Kartalan ya pak!”


“Aku 4 botol Anggur Erviga, pak!”


“Gue…hicc…5 botol minuman


ini, bos! Hicc!”


“Kalau begitu aku memesan 3


botol anggur ini, Tuan.”


Hah? Emangnya dia juga dapet


diskon?


“Luvast, emangnya kamu juga dapet


diskon?”


“Ah, maaf. Aku kira kita


sedang berada di kedai yang sama.”


Tuh kan, kambuh lagi pikunnya!


“Oi, Bocah Tongkat!”


“Hm?!”


“Lo itu…adeknya Pahlawan Sylvia,


ya?!”


“Hehe! Lo bener! Nama gue Myllo…hicc! Gue calon Petualang Nomor Satu di dunia!”


Di…Dia masih bisa ngomong kayak


gitu walaupun mabok.


“Wuaah! Ternyata bener!”


“Oi, oi, oi! Ceritain tentang


petualangan lo bareng Sylvia Starfell, dong!”


“Eh iya! Gimana cerita Sylvia


waktu lawan 15 Naga?!”


Aduh! Kok jadi banyak orang yang


kerubunin gini, sih?!


Kenapa jadi banyak orang di


sekitar meja kita?!


“Djinn, Myllo, Luvast, aku pergi


dulu ke Pak Dhion.”


“Aku juga hendak meninggalkan


kedai ini. Terima kasih atas perayaannya, walaupun aku tidak bersama dengan


kalian, rekan-rekan sekalian.”


“Hehe…hicc! Kalopun jarak


kita jauh…seenggaknya hubungan kita jangan pernah menjauh, ya?!”


“Tentu saja, Kapten.”


Hmm, mereka pada pergi ya?


Ah, gue juga pindah deh. Sesek


juga ada orang rame-rame kayak gini.


“Myl, gue makan di sana—”


“…gitu ceritanya…hicc!”


““Whoaaa…””


Ah, dia juga udah mulai


cerita-cerita.


Yaudah, mending pindah aja sekarang.


....................


“Permisi, ini pesanan anda, Tuan Djinn.”


“Ya, thanks.”


Hmm! Makan-makan lagi nih!


Eh tapi gue penasaran sama bahannya, deh.


“Mau nanya dong.”


“Ada apa, Tuan Djinn?”


“Ini bahannya apa aja, ya?”


Abis itu, pelayan ini jelasin ke


gue tentang bahan-bahan yang diperluin untuk buat makanan ini.


“Hm, gitu ya?”


“Ada lagi yang ingin anda


tanyakan?”


“Cukup sih, itu aja. Makasih ya.”


“Sama-sama Tuan Djinn. Senang


bisa membantu.”


Hm…


Ternyata ada kemungkinan gue bisa


bikin itu ya—


“Hoo… Lo seneng masak juga, ya?”


“???”


Lah! Ada dua resepsionis di Guild


itu di sini?!


“Kalian itu bener resepsion—”


““SSSSTTT!!!””


Hah?! Kok gue disuruh diem?!


“…”


Lah, kok mereka jadi ke meja gue?


“Jangan bilang-bilang kalo


kita itu resepsionis Guild di kota ini!”


Ke…Kenapa mereka ngomongnya bisik-bisik?


“Emangnya kenapa?!”


“Banyak Petualang yang


dirugiin sama Si Botak itu!”


“Makanya itu lo bisa liat


se-sepi apa kan Guild kita?!”


“O…Ooohhh…”


Pantes aja sepi.


Ternyata semua gara-gara Si Botak


satu itu, ya.


Abis itu mereka ceritain tentang


Guildmaster itu yang gagal jadi Petualang. Tapi karena dia itu keponakan dari


Marquis yang pegang wilayah di kota ini, makanya dia tiba-tiba jadi punya


posisi setinggi itu.


“Ya karena kita butuh kerjaan


juga, makanya kita mau-mau aja punya atasan kayak dia!”


“Miraela bener. Andai kita kuat,


mending kita jadi Petualang aja daripada kerja sama orang kayak dia!”


Iya, ya.


Ternyata susah juga ya punya


kerjaan di dunia ini.


Masalahnya bukan diukur dari pendidikan


sama pengalaman, kayak di dunia lama gue, tapi juga diukur dari seberapa kuat


kita.


“Oh, ya. Ngomong-ngomong kok


ngomong kalian berdua nggak seformal tadi?”


“Ya kan kita lagi nggak di


Guild!”


I…Iya sih…


Gue cuma kaget aja mereka


ngomongnya se-lempeng itu karena taunya mereka pada formal.


“*Cyis… (suara membakar rokok)”


“Fyuhh…”


Hah?


Yang dipake Shaylia itu…


Kok ada rokok?


Walaupun…rokoknya harus pake pipa.


“Hm? Lo kayak baru pertama kali


Bukan baru ‘pertama kali’ liat


rokok! Tapi gue baru ‘pertama kali’ liat rokok di dunia ini!


“Ah, ingetan gue baru muncul.”


“Hah? Maksudnya?”


“Gu…Gue ilang ingetan. Makanya


itu…gue baru inget kalo gue perokok…”


“Hah?!”


“Lo pernah hilang ingetan?!”


Aduh! Please percaya aja!


“Kalo gitu, mau coba?”


“Be…Bentar!”


“Hm?”


“Pak! Kopi dua gelas!”


“OK!”


Gue tau sih, pasti gue pake rokok


pipa itu ganti-gantian bareng Shaylia.


Tapi tetep aja nggak enak kalo


nggak ada kopi!


“Nih, cobain.”


“…”


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


Hah?! Ini rasa apaan?!


Kok ada pedes mint gitu?!


Dingin banget tenggorokan gue!


“Oi, lo nggak apa-apa?!”


“Mu…Mungkin karena udah lama


nggak ngerokok, makanya jadi kaget gue waktu cobain!”


““Hahaha!””


Ketawa lo berdua liat gue


batuk-batuk!


Abis itu gue ngobrol bareng


mereka berdua.


Mereka ceritain pengalaman mereka


kenapa bisa jadi resepsionis di Guild kota ini.


Yang perokok ini, Shaylia, dia


bilang dulunya itu dia punya keluarga. Tapi keluarganya mati dibunuh sama Monster.


Kalo Elf ini, Miraela, dia itu


anak yatim piatu yang sebenernya punya adek yang ditangkep sama bandit untuk


dijual jadi budak.


Tapi denger ceritanya, gue jadi


ngerasa kalo yang nangkep mereka itu bukan bandit.


“Lo tau Goldiggia, kan?”


“Tau.”


“Mungkin aja mereka yang


nangkep.”


“Nggak. Gue yakin bandit yang


nangkep adek gue.”


Hmm…kalo dia ngerasa kayak gitu,


gue nggak perlu maksain argumen gue deh.


“Ya, sebenernya sih nggak lo


doang yang ngumpetin identitas lo, Djinn.”


“Iya. Dan nggak cuma lo Petualang


yang ngumpetin identitas. Masih banyak juga Petualang yang ngumpetin


identitas.”


Masih banyak?!


Artinya…tetep ada kemungkinan


kalo Snake itu Petualang, dong?!


“Tapi, lo nggak pernah pasang


Quest untuk nyari adek lo?”


“Mana mungkin, Djinn. Kan gue


sendiri juga nggak punya uang! Ahahaha!”


“Bahkan gaji gue sama gaji


Miraela pun nggak sanggup untuk bayar hadiah Quest! Hahaha!”


Mereka ketawa-ketiwi aja


ngomongnya.


Tapi nggak tau kenapa, gue bisa


ngerasain kesedihan di dalem mereka berdua.


“Kalo gue ceritain ini ke Kapten


gue, pasti dia bawaannya mau cari adek lo, Mir. Bahkan mungkin aja dia mau


bales Monster yang bunuh orang tua lo, Shay.”


“Hahaha! Tenang aja, monsternya


udah mati kok. Karena kebetulan ada Petualang yang selamatin gue.”


“Ahaha! Kan udah gue bilang,


Djinn. Gue nggak punya uang untuk—”


“Kenapa harus pake uang atau


Quest, kalo emang niat mau bantuin lo berdua?”


“…”


Aduh! Kok nangis, sih?! Jadi


canggung deh!


“Hiks! Djinn, makasih ya!”


“I…Iya—”


“Tapi gue yakin, dia masih hidup


dalam keadaan sehat.”


“Dia masih hidup?”


“Makanya itu, lo nggak perlu


buru-buru untuk selamatin dia, Djinn.”


“Miraela…”


“Denger lo mau bantu gue, nggak


tau kenapa gue jadi percaya kalo ada waktunya di mana lo semua ketemuin gue


sama dia.”


Kenapa dia bisa seyakin itu?


Apa mungkin karena ikatan


persaudaraan mereka kali, ya?


“Ngomong-ngomong, nama adek lo


siapa?”


“Alethra. Itu namanya.”


“OK, gue inget baik-baik nama


adek—”


“*Brak! (suara memukul meja)”


Hah?! Siapa yang pukul meja?!


“Hiks…hiks… Makanya itu


gue sedih waktu Kak Sylv pergi…”


Oh, Si Dongo yang mukul meja?!


“Ja…Jadi…itu momen terakhir lo


bareng Kapten Sylvia Starfell?!”


“Ng…Nggak lah…”


“Te…Terus kenapa sedih?!”


“Karena Kak Sylv pergi sambil


bawa minuman enak itu!”


““KIRAIN SEDIH KARENA DITINGGAL


SYLVIA!!!””


Orang-orang yang dengerin


ceritanya pada kesel gara-gara kecewa, tapi yang ada di kedai ini juga…


““Hahahaaha!””


…cuma bisa ketawa aja denger


ceritanya.


Hah! Ada-ada aja Si Dongo satu


itu!


“Djinn.”


“Apa, Shay?”


“Pantes ya lo baik orangnya.


Mungkin Kapten lo pun lebih baik daripada lo. Buktinya dia bisa narik orang


sebanyak itu untuk denger cerita konyolnya.”


“Iya! Ahahaha! Nggak nyangka bisa


ketawa selepas ini! Padahal tadi gue nangis! Ahahaha!”


“Itu bukan pertama kalinya, kok.”


Biasanya, kemanapun dia pergi,


pasti dia selalu bikin orang ketawa.


Di Xia mungkin nggak, karena


orang-orangnya udah bener-bener benci sama Petualang. Tapi seenggaknya dia bisa


narik orang, walaupun ujung-ujungnya mereka cuma mau denger kisah kakaknya aja.


Tapi kalo dibilang gue orang yang


baik?


Ya, sebenernya nggak juga sih.


Gue aja nggak ada niatan untuk


tau cerita mereka berdua.


Walaupun gitu, ini mungkin ini


jadi salah satu pengalaman untuk gue karena gue terbuka untuk denger cerita


atau keluh kesah orang lain.


Beda sama Meldek yang cerita


tentang dunia ini,


Beda sama Styx yang cerita karena


mau minta tolong ke gue,


Beda sama Luvast yang cerita


karena cuma mau ‘lurusin’ siapa Djinnardio sebenernya,


Beda juga sama Gia yang cerita


karena waktu itu untuk kepentingan Quest.


Bahkan sama Si Dongo pun gue


nggak terlalu banyak cerita karena kita lebih sering bareng waktu lagi ketemu


lawan aja.


Haaah…andai di dunia lama gue


seterbuka ini.


“Djinn?”


“Hm? Apaan?”


“Kok lo senyum-senyum sendiri?”


“Hah? Senyum-senyum sendiri—”


“Mungkin dia seneng kali karena


lo puji, Shaylia!”


“Hah?! Maksud lo apa *****?!”


“Astaga! Kasar banget sama


cewek!”


“Ih, padahal baru dipuji baik,


loh!”


“Bodo amat!”


Walaupun gitu…ternyata mereka


berdua ngeselin juga, ya?!