
Sekarang kita ada di Humpar Bar,
salah satu klien kita waktu ngerjain 5 Quest untuk naik Kasta.
Waktu kita pesen menu yang ada,
Luvast juga pesen minum di kedai yang dia kunjungin di tempatnya sekarang.
“Haha…hicc!”
Si Dongo udah mabok, padahal
nggak sampe satu botol.
“Myllo…kamu mudah sekali
mabuk, ya.”
Luvast juga udah agak lemes waktu
nyentuh botol kedua.
“Iya nih! Makanya jangan
kebanyakan minum, Myllo!”
Gia ngomong gitu, padahal udah 8
botol yang dia minum!
Anehnya, nggak ada tanda-tanda mabok
sama sekali!
Tapi daripada mikirin mereka yang
kebanyakan minum…
“Ehem!”
““Hm?””
“Woy, kalian. Kenapa sih boros
banget? Apalagi lo, Gia. Mau berapa botol yang lo pesen?”
““NGACA, WOY!!!””
“Ah, iya ya.”
Gara-gara makanan enak ini murah
banget, gue jadi nggak sadar mesen 15 piring.
“Djinn, perlu kamu ingat bahwa
ada 5 gelas kopi yang telah kamu pesan.”
“Tuh! Denger Luvast, Djinn!”
Kenapa diingetin sih?! Dasar
sodara sialan!
“Permisi. Keliatannya Tuan Myllo
dan kawan-kawannya sedang berpesta, ya? Kebetulan ayah saya juga menanyakan hal
yang sama.”
“…”
Cewek ini…kalo nggak salah
anaknya bartender yang punya kedai ini, deh.
Kalo nggak salah nama pemiliknya…
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Hehehe! Naik Kasta nih, bos! Hicc!”
“Iya, Pak Dhion! Mereka baru aja
naik Kasta!”
…nah, itu dia udah disebut Gia.
Tapi…
“Woy! Kenapa harus teriak-teriak
sih lo berdu—”
“Mantap Myllo! Kalo gitu, khusus
kalian, gue kasih diskon 40%!”
““HAAAAAAHHHH?!?!””
Woy, woy, woy!
Seriusan?!
Kalo gitu…
“Pak! 5 Nasi Kartalan ya pak!”
“Aku 4 botol Anggur Erviga, pak!”
“Gue…hicc…5 botol minuman
ini, bos! Hicc!”
“Kalau begitu aku memesan 3
botol anggur ini, Tuan.”
Hah? Emangnya dia juga dapet
diskon?
“Luvast, emangnya kamu juga dapet
diskon?”
“Ah, maaf. Aku kira kita
sedang berada di kedai yang sama.”
Tuh kan, kambuh lagi pikunnya!
“Oi, Bocah Tongkat!”
“Hm?!”
“Lo itu…adeknya Pahlawan Sylvia,
ya?!”
“Hehe! Lo bener! Nama gue Myllo…hicc! Gue calon Petualang Nomor Satu di dunia!”
Di…Dia masih bisa ngomong kayak
gitu walaupun mabok.
“Wuaah! Ternyata bener!”
“Oi, oi, oi! Ceritain tentang
petualangan lo bareng Sylvia Starfell, dong!”
“Eh iya! Gimana cerita Sylvia
waktu lawan 15 Naga?!”
Aduh! Kok jadi banyak orang yang
kerubunin gini, sih?!
Kenapa jadi banyak orang di
sekitar meja kita?!
“Djinn, Myllo, Luvast, aku pergi
dulu ke Pak Dhion.”
“Aku juga hendak meninggalkan
kedai ini. Terima kasih atas perayaannya, walaupun aku tidak bersama dengan
kalian, rekan-rekan sekalian.”
“Hehe…hicc! Kalopun jarak
kita jauh…seenggaknya hubungan kita jangan pernah menjauh, ya?!”
“Tentu saja, Kapten.”
Hmm, mereka pada pergi ya?
Ah, gue juga pindah deh. Sesek
juga ada orang rame-rame kayak gini.
“Myl, gue makan di sana—”
“…gitu ceritanya…hicc!”
““Whoaaa…””
Ah, dia juga udah mulai
cerita-cerita.
Yaudah, mending pindah aja sekarang.
....................
“Permisi, ini pesanan anda, Tuan Djinn.”
“Ya, thanks.”
Hmm! Makan-makan lagi nih!
Eh tapi gue penasaran sama bahannya, deh.
“Mau nanya dong.”
“Ada apa, Tuan Djinn?”
“Ini bahannya apa aja, ya?”
Abis itu, pelayan ini jelasin ke
gue tentang bahan-bahan yang diperluin untuk buat makanan ini.
“Hm, gitu ya?”
“Ada lagi yang ingin anda
tanyakan?”
“Cukup sih, itu aja. Makasih ya.”
“Sama-sama Tuan Djinn. Senang
bisa membantu.”
Hm…
Ternyata ada kemungkinan gue bisa
bikin itu ya—
“Hoo… Lo seneng masak juga, ya?”
“???”
Lah! Ada dua resepsionis di Guild
itu di sini?!
“Kalian itu bener resepsion—”
““SSSSTTT!!!””
Hah?! Kok gue disuruh diem?!
“…”
Lah, kok mereka jadi ke meja gue?
“Jangan bilang-bilang kalo
kita itu resepsionis Guild di kota ini!”
Ke…Kenapa mereka ngomongnya bisik-bisik?
“Emangnya kenapa?!”
“Banyak Petualang yang
dirugiin sama Si Botak itu!”
“Makanya itu lo bisa liat
se-sepi apa kan Guild kita?!”
“O…Ooohhh…”
Pantes aja sepi.
Ternyata semua gara-gara Si Botak
satu itu, ya.
Abis itu mereka ceritain tentang
Guildmaster itu yang gagal jadi Petualang. Tapi karena dia itu keponakan dari
Marquis yang pegang wilayah di kota ini, makanya dia tiba-tiba jadi punya
posisi setinggi itu.
“Ya karena kita butuh kerjaan
juga, makanya kita mau-mau aja punya atasan kayak dia!”
“Miraela bener. Andai kita kuat,
mending kita jadi Petualang aja daripada kerja sama orang kayak dia!”
Iya, ya.
Ternyata susah juga ya punya
kerjaan di dunia ini.
Masalahnya bukan diukur dari pendidikan
sama pengalaman, kayak di dunia lama gue, tapi juga diukur dari seberapa kuat
kita.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong kok
ngomong kalian berdua nggak seformal tadi?”
“Ya kan kita lagi nggak di
Guild!”
I…Iya sih…
Gue cuma kaget aja mereka
ngomongnya se-lempeng itu karena taunya mereka pada formal.
“*Cyis… (suara membakar rokok)”
“Fyuhh…”
Hah?
Yang dipake Shaylia itu…
Kok ada rokok?
Walaupun…rokoknya harus pake pipa.
“Hm? Lo kayak baru pertama kali
Bukan baru ‘pertama kali’ liat
rokok! Tapi gue baru ‘pertama kali’ liat rokok di dunia ini!
“Ah, ingetan gue baru muncul.”
“Hah? Maksudnya?”
“Gu…Gue ilang ingetan. Makanya
itu…gue baru inget kalo gue perokok…”
“Hah?!”
“Lo pernah hilang ingetan?!”
Aduh! Please percaya aja!
“Kalo gitu, mau coba?”
“Be…Bentar!”
“Hm?”
“Pak! Kopi dua gelas!”
“OK!”
Gue tau sih, pasti gue pake rokok
pipa itu ganti-gantian bareng Shaylia.
Tapi tetep aja nggak enak kalo
nggak ada kopi!
“Nih, cobain.”
“…”
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
Hah?! Ini rasa apaan?!
Kok ada pedes mint gitu?!
Dingin banget tenggorokan gue!
“Oi, lo nggak apa-apa?!”
“Mu…Mungkin karena udah lama
nggak ngerokok, makanya jadi kaget gue waktu cobain!”
““Hahaha!””
Ketawa lo berdua liat gue
batuk-batuk!
Abis itu gue ngobrol bareng
mereka berdua.
Mereka ceritain pengalaman mereka
kenapa bisa jadi resepsionis di Guild kota ini.
Yang perokok ini, Shaylia, dia
bilang dulunya itu dia punya keluarga. Tapi keluarganya mati dibunuh sama Monster.
Kalo Elf ini, Miraela, dia itu
anak yatim piatu yang sebenernya punya adek yang ditangkep sama bandit untuk
dijual jadi budak.
Tapi denger ceritanya, gue jadi
ngerasa kalo yang nangkep mereka itu bukan bandit.
“Lo tau Goldiggia, kan?”
“Tau.”
“Mungkin aja mereka yang
nangkep.”
“Nggak. Gue yakin bandit yang
nangkep adek gue.”
Hmm…kalo dia ngerasa kayak gitu,
gue nggak perlu maksain argumen gue deh.
“Ya, sebenernya sih nggak lo
doang yang ngumpetin identitas lo, Djinn.”
“Iya. Dan nggak cuma lo Petualang
yang ngumpetin identitas. Masih banyak juga Petualang yang ngumpetin
identitas.”
Masih banyak?!
Artinya…tetep ada kemungkinan
kalo Snake itu Petualang, dong?!
“Tapi, lo nggak pernah pasang
Quest untuk nyari adek lo?”
“Mana mungkin, Djinn. Kan gue
sendiri juga nggak punya uang! Ahahaha!”
“Bahkan gaji gue sama gaji
Miraela pun nggak sanggup untuk bayar hadiah Quest! Hahaha!”
Mereka ketawa-ketiwi aja
ngomongnya.
Tapi nggak tau kenapa, gue bisa
ngerasain kesedihan di dalem mereka berdua.
“Kalo gue ceritain ini ke Kapten
gue, pasti dia bawaannya mau cari adek lo, Mir. Bahkan mungkin aja dia mau
bales Monster yang bunuh orang tua lo, Shay.”
“Hahaha! Tenang aja, monsternya
udah mati kok. Karena kebetulan ada Petualang yang selamatin gue.”
“Ahaha! Kan udah gue bilang,
Djinn. Gue nggak punya uang untuk—”
“Kenapa harus pake uang atau
Quest, kalo emang niat mau bantuin lo berdua?”
“…”
Aduh! Kok nangis, sih?! Jadi
canggung deh!
“Hiks! Djinn, makasih ya!”
“I…Iya—”
“Tapi gue yakin, dia masih hidup
dalam keadaan sehat.”
“Dia masih hidup?”
“Makanya itu, lo nggak perlu
buru-buru untuk selamatin dia, Djinn.”
“Miraela…”
“Denger lo mau bantu gue, nggak
tau kenapa gue jadi percaya kalo ada waktunya di mana lo semua ketemuin gue
sama dia.”
Kenapa dia bisa seyakin itu?
Apa mungkin karena ikatan
persaudaraan mereka kali, ya?
“Ngomong-ngomong, nama adek lo
siapa?”
“Alethra. Itu namanya.”
“OK, gue inget baik-baik nama
adek—”
“*Brak! (suara memukul meja)”
Hah?! Siapa yang pukul meja?!
“Hiks…hiks… Makanya itu
gue sedih waktu Kak Sylv pergi…”
Oh, Si Dongo yang mukul meja?!
“Ja…Jadi…itu momen terakhir lo
bareng Kapten Sylvia Starfell?!”
“Ng…Nggak lah…”
“Te…Terus kenapa sedih?!”
“Karena Kak Sylv pergi sambil
bawa minuman enak itu!”
““KIRAIN SEDIH KARENA DITINGGAL
SYLVIA!!!””
Orang-orang yang dengerin
ceritanya pada kesel gara-gara kecewa, tapi yang ada di kedai ini juga…
““Hahahaaha!””
…cuma bisa ketawa aja denger
ceritanya.
Hah! Ada-ada aja Si Dongo satu
itu!
“Djinn.”
“Apa, Shay?”
“Pantes ya lo baik orangnya.
Mungkin Kapten lo pun lebih baik daripada lo. Buktinya dia bisa narik orang
sebanyak itu untuk denger cerita konyolnya.”
“Iya! Ahahaha! Nggak nyangka bisa
ketawa selepas ini! Padahal tadi gue nangis! Ahahaha!”
“Itu bukan pertama kalinya, kok.”
Biasanya, kemanapun dia pergi,
pasti dia selalu bikin orang ketawa.
Di Xia mungkin nggak, karena
orang-orangnya udah bener-bener benci sama Petualang. Tapi seenggaknya dia bisa
narik orang, walaupun ujung-ujungnya mereka cuma mau denger kisah kakaknya aja.
Tapi kalo dibilang gue orang yang
baik?
Ya, sebenernya nggak juga sih.
Gue aja nggak ada niatan untuk
tau cerita mereka berdua.
Walaupun gitu, ini mungkin ini
jadi salah satu pengalaman untuk gue karena gue terbuka untuk denger cerita
atau keluh kesah orang lain.
Beda sama Meldek yang cerita
tentang dunia ini,
Beda sama Styx yang cerita karena
mau minta tolong ke gue,
Beda sama Luvast yang cerita
karena cuma mau ‘lurusin’ siapa Djinnardio sebenernya,
Beda juga sama Gia yang cerita
karena waktu itu untuk kepentingan Quest.
Bahkan sama Si Dongo pun gue
nggak terlalu banyak cerita karena kita lebih sering bareng waktu lagi ketemu
lawan aja.
Haaah…andai di dunia lama gue
seterbuka ini.
“Djinn?”
“Hm? Apaan?”
“Kok lo senyum-senyum sendiri?”
“Hah? Senyum-senyum sendiri—”
“Mungkin dia seneng kali karena
lo puji, Shaylia!”
“Hah?! Maksud lo apa *****?!”
“Astaga! Kasar banget sama
cewek!”
“Ih, padahal baru dipuji baik,
loh!”
“Bodo amat!”
Walaupun gitu…ternyata mereka
berdua ngeselin juga, ya?!