
Beberapa hari yang lalu, semenjak
Djinn pergi meninggalkan Myllo dan Gia.
“Djinn—”
“Gia, nggak usah dikejar.”
Myllo memerintahkan Gia dengan nada
pelan ketika ia hendak mengejar Djinn.
Gia pun hendak duduk kembali
setelah mendengar perintahnya.
“Haaaaah…gini lagi, gini lagi.
Kepala Suku, maafin kita kalo bikin suasana jadi tegang begini ya! Hehe…”
“I…Iya. Ini mah urusan kalian semua, atuh!
Saya nggak berani ikut campur!”
Kata Kepala Suku, membalas
permintaan maaf dari Myllo.
“OK, Kepala Suku! Saya mau minum
bir—”
“Myllo!”
“!!!”
Myllo terkejut mendengar seruan
dari Gia.
“Kamu…keterlaluan!”
“Hah?! Keterla—”
“Kamu sadar nggak sih kalo
kelakuan kamu itu yang bikin Djinn jadi ngomong kayak gitu ke kamu?!”
Tegas Gia terhadap tindakan
Myllo.
“Gi…Gia—”
“Denger ya! Mungkin aku nggak
suka cara Djinn ngomong ke kamu karena terlalu kasar, tapi Djinn itu ada
benernya, Myllo!”
“…”
“Sadar nggak sih, kalo Djinn itu
perhatian sama kamu?! Sedangkan kamu, cuma mikirin diri sendiri! Kamu itu
egois!”
“…”
Myllo hanya tertunduk mendengar
peringatan Gia.
Saat situasi sedang tegang, Garry
datang bersama dengan Yssalq dari belakang ruangan di mana Myllo baru saja
disembuhkan.
“Et, et, et! Ada apa, atuh?!”
“Mengapa…suasana menjadi tegang
seperti ini?”
Tanya Garry dan Yssalq, sambil
keduanya berpegangan tangan.
“Heh, Garry! Anda teh ngapain pegangan tangan kayak
gitu?!”
“Hehe! Teteh geulis ini teh tiba-tiba mau pegangan tangan sama aing!
Hari ini teh hari terbaik aing!
Ngiehehehe!”
Balas Garry yang menjawab
pertanyaan dari Kepala Suku.
Melihat Garry dan Yssalq yang
berpegangan tangan, Gia dan Kepala Suku menyadari suatu hal yang janggal.
“Yssalq, tangan kamu kenapa?”
“Nah eta! Saya teh juga baru
sadar! Emang anda nggak sadar kalo tangan teteh ini gemeteran, Garry?”
“Hah?! Aing kira teh jantung aing yang gemeteran karena deg-degan
pegangan tangan sama teteh geulis!”
Balas Garry.
“Anda teh udah cek belum
kondisi teteh ini?!”
“Be…Belum—”
“Yaudah, kalo gitu kita cek dulu atuh ya, Teh Yssalq?”
“Ba…Baiklah, Kepala Suku.”
Gia dan Kepala Suku pun hendak
meninggalkan ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan Yssalq.
Namun Garry tidak mau melepas
tangannya dari genggaman Yssalq.
“Heh, Garry! Dilepas atuh tangannya!”
“Et, et, et! Sia teh nyuruh-nyuruh
mu—”
“Buruan!”
“Et! Iya, iya, iya!”
Mendengar perintah Kepala Suku,
Garry pun hendak melepas genggamannya dari Yssalq.
Akan tetapi…
“*Krrrk… (suara genggaman yang
keras)”
“Ciat, ciat, ciat! Enak, teh! Eh, maksudnya sakit, teh!”
…Yssalq menggenggam Garry dengan
sangat keras.
“Ma…Maafkan aku, Kepala Suku.
Bisakah kau memeriksaku, dengan Garry…disampingku?”
Tanya Yssalq dengan nada
bergetar.
Gia dan Kepala Suku melihat
Yssalq yang gemetar, sedangkan Garry berpikir…
“ISTRI AING!!!”
Melihat Yssalq, Gia dan Kepala
Suku pun heran.
“Yssalq, kamu kena—”
“Aku…takut…”
“Takut…?”
“Aku…tidak bisa mendeskripsikan
rasa takutku. Maka dari itu…aku harap agar kiranya kau dapat mengizinkan Garry
menemaniku, Kepala Suku.”
Jelas Yssalq kepada mereka semua.
“Baik, saya biarkeun Si
Garry nemenin teteh.”
“Terima kasih, Kepala Suku.”
Mereka pun bersama pergi ke
ruangan lainnya, sedangkan Myllo…
“…”
…diam tertegun karena perkataan
Gia begitu membekas di kepalanya.
Ia pun teringat salah satu
nasihat yang ia terima dari kakaknya, Pahlawan Sylvia Starfell.
“Inget ini, Myllo. Jadi orang itu nggak boleh egois, apalagi kalo kamu
udah punya tanggung jawab sebagai Kapten.”
Setelah mengingat nasihat itu, ia
mulai mengingat segala kejadian yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan
Djinn.
Tidak lama kemudian…
“Kok lo sendirian di sini,
Nyllon?”
…Lupherius datang menemuinya.
“Haaaaaah?! Nyllon?! Nama gue
Myllo—”
“Kedengerannya tadi abis
berantem, ya?”
“…”
Myllo hanya terdiam saja
mendengar pertanyaan Lupherius.
“Lo pasti kenal gue kan, Ryllo?”
“Ya. Lo itu dulu anggota dari Unguis, kan?”
“Hm… Lo tau dari kakak lo, ya?”
“Pastinya! Karena Party lo itu
dulu rival****Draco yang dipimpin Dox, mantan Kapten-nya Kak Sylv!”
Seru Myllo kepada Lupherius.
Mereka pun saling bercerita satu
sama lain tentang pengalaman Sylvia dengan Aquilla dan Lupherius dengan Unguis.
Hingga pada akhirnya, Lupherius
bertanya-tanya tentang Myllo dan rekan-rekannya.
“Keliatannya pertengkaran lo tadi
bikin lo murung. Ada apa di kejadian tadi?”
“Tentang itu…”
Myllo pun menceritakan tentang
awal pertengkaran dengan Djinn, yang dimulai ketika mereka hampir tiba di
Heirlook City.
“Hm… Gue mau nanya sesuatu.”
“Apa?”
“Menurut lo sendiri, lo bikin
“Awalnya sih nggak. Karena kalo
gue pikir-pikir, Kak Sylv pun pasti juga ngelakuin hal yang sama.”
“Nah, itu lah kesalahan lo.”
Myllo pun heran dengan maksud
dari Lupherius.
“Sylvia udah lama jadi Petualang.
Dia itu mantan****rival gue, makanya
itu gue tau kalo dia Petualang paling kuat di dunia.”
“…”
“Dia itu kuat, tapi dia tau
batasan dia. Karena pengalaman, anggotanya pasti paham dan ngerti sama
tindakannya. Dan karena pengalaman, anggotanya juga percaya sama setiap tindakan
yang dia ambil.”
“Percaya, ya—”
“Gue nggak nyalahin lo yang
terinspirasi sama Sylvia, tapi orang yang lo pimpin itu bukan Trazorvo atau
Alphonso. Makanya itu lo harus punya ciri khas sebagai Kapten.”
Myllo kembali tertegun dengan kata-kata
Lupherius.
“Kalo lo mau jadi Kapten sehebat
Sylvia, tantangan paling besar lo itu bukan ngejar Kasta Merah atau selesain
Quest Merah. Lo pasti tau kan tantangan terbesar lo apa?”
“…”
Myllo pun diam sejenak sebelum
menjawab pertanyaannya.
“Pimpin Party gue untuk terus solid…ya?”
“Bener. Makanya itu, ini sekarang
tantangan pertama lo sebelum resmi dapet status Leader. Lo harus bisa raih
kepercayaan dari anggota lo itu.”
“Ya!”
Seru Myllo, dengan tersenyum.
“Hihihi! Nggak disangka, ternyata
lo sebijak itu ya, walaupun suka lupa nama orang!”
“Hmph, anggep aja itu buah dari
pengalaman gue.”
Balas Lupherius kepada Myllo.
Dari balik dinding ruangan di
mana mereka berada, Garry sedang berdiri.
Selama mereka berbincang, ia
mendengarkan semua cerita mereka secara diam-diam.
“Hmph, jadi Petualang teh ribet ya, Kang Wilfred.”
Pikir Garry setelah mendengar
obrolan mereka.
Sambil ia berdiri, Gia dan Kepala
Suku keluar bersama dengan Yssalq yang baru saja diperiksa.
“Kepala Suku! Gimana atuh kabar calon
istri aing?!”
“Dia teh masih baik-baik aja. Tapi…dia itu teh—”
“Huh, untung atuh calon
istri aing—”
“Dasar mesum!”
“Sianying!”
Seru Garry dengan kesal.
“Sok atuh! Kita pesta! Waktunya udah mau mulai, euy!”
Seru Kepala Suku kepada mereka
semua.
Mereka pun berpesta bersama
hingga larut malam.
……………
Keesokan harinya, ketika semua
telah bangun dari tidur mereka, Gia menemui Myllo yang masih terbaring karena
sakit yang ia derita.
Ia hendak meminta maaf karena
merasa kata-katanya terhadap Myll terlalu keras.
“Myllo…tentang kemarin—”
“Gue minta maaf, Gia!”
“Eh?!”
Gia terkejut melihat Myllo yang
meminta maaf kepadanya.
“Ko…Kok jadi kamu yang minta
maaf?!”
“Bener kata lo! Gue terlalu
egois! Gue ngerasa kalo gue itu mirip sama Kak Sylv! Tapi gue sadar, kalo lo
atau Djinn itu bukan Phonso atau Zorvo! Makanya itu, gue nggak bisa berlagak
kayak Kak Sylv!”
“Hah?”
Gia pun bingung dengan kata-kata
Myllo.
“Gue sadar kalo gue itu bodoh!
Gue sadar kalo gue itu nggak se-keren Kak Sylv! Gue sadar kalo gue nggak sekuat
Kak Sylv! Gue juga sadar kalo gue—”
“Myllo!”
“…”
Myllo pun menghentikan kalimatnya
ketika mendengar seruan Gia.
“Kamu nggak perlu
banding-bandingin diri kamu sama kakak kamu, Myllo! Kamu cukup jadi diri
sendiri aja! Kalaupun kamu nggak bisa kayak kakak kamu, aku yakin kalo kamu
pasti punya sesuatu yang nggak kakak kamu punya, selama kamu jadi diri
sendiri!”
“Gia…”
“A…Aku juga minta maaf, Myllo.
Aku cuma kebawa emosi aja sama kejadian tadi malam. Aku nggak ada maksud
untuk—”
“Makasih, Gia!”
“Hm?”
“Udah gue bilang, kan? Tolong
ingetin gue kalo gue udah menyimpang. Dan lo ingetin gue yang udah terlalu
egois—”
“*Puk… (suara pelukan)”
“Adudududuh!”
“Ya, makasih juga ya, Myllo!”
Balas Gia sambil memeluk Myllo
tanpa mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan.
“Terus, Djinn gima—”
“Biarin aja. Jangan dipaksain
kalo emang butuh waktu.”
“OK, Myllo.”
Balas Gia terhadap kata-kata
Myllo.
Jauh dari ruangan Myllo dan Gia,
Lupherius yang bisa mendengar suara dari jarak yang sangat jauh hanya tersenyum
setelah mendengar obrolan mereka.
Saat ini, ia sedang berada di
atas pohon, sambil menyaksikan Garry yang sedang diserang oleh…
“Rrrr…”
…Yssalq yang tanpa sadar
mengamuk.
“Hiiieeekh! A…Aing teh janji nggak akan nikahin te—”
“Ga…Garry…?”
“Mm?”
Garry heran dengan Yssalq yang
tiba-tiba tersadar dari amukannya.
“Me…Mengapa…kamu…terpojokkan…seperti…i…”
“*Bruk… (suara terjatuh)”
“Et?! Teh Yssalq?! Teteh?!”
Garry semakin heran dengan Yssalq
yang tiba-tiba pingsan.
Dari atas pohon, Lupherius
berpikir.
“Perasaan gue besok ada kejadian aneh, nih.”
……………
Hingga keesokan harinya, Yssalq
tiba-tiba berubah dalam wujud Smoke Dragon dan secara tidak sadar mengamuk,
hingga membuat semua Monster berlari ketakutan.
Beruntung ada Djinn yang datang
dan langsung mengalahkannya, hingga ia tersadar.
Akan tetapi…
“Garry! Ba…Bangun!”
“A…Apa yang telah kulakukan…?”
…Yssalq yang telah sadar
menyaksikan Garry yang terluka akibat amukan dirinya.