Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 107. After The Fight



Beberapa hari yang lalu, semenjak


Djinn pergi meninggalkan Myllo dan Gia.


“Djinn—”


“Gia, nggak usah dikejar.”


Myllo memerintahkan Gia dengan nada


pelan ketika ia hendak mengejar Djinn.


Gia pun hendak duduk kembali


setelah mendengar perintahnya.


“Haaaaah…gini lagi, gini lagi.


Kepala Suku, maafin kita kalo bikin suasana jadi tegang begini ya! Hehe…”


“I…Iya. Ini mah urusan kalian semua, atuh!


Saya nggak berani ikut campur!”


Kata Kepala Suku, membalas


permintaan maaf dari Myllo.


“OK, Kepala Suku! Saya mau minum


bir—”


“Myllo!”


“!!!”


Myllo terkejut mendengar seruan


dari Gia.


“Kamu…keterlaluan!”


“Hah?! Keterla—”


“Kamu sadar nggak sih kalo


kelakuan kamu itu yang bikin Djinn jadi ngomong kayak gitu ke kamu?!”


Tegas Gia terhadap tindakan


Myllo.


“Gi…Gia—”


“Denger ya! Mungkin aku nggak


suka cara Djinn ngomong ke kamu karena terlalu kasar, tapi Djinn itu ada


benernya, Myllo!”


“…”


“Sadar nggak sih, kalo Djinn itu


perhatian sama kamu?! Sedangkan kamu, cuma mikirin diri sendiri! Kamu itu


egois!”


“…”


Myllo hanya tertunduk mendengar


peringatan Gia.


Saat situasi sedang tegang, Garry


datang bersama dengan Yssalq dari belakang ruangan di mana Myllo baru saja


disembuhkan.


“Et, et, et! Ada apa, atuh?!”


“Mengapa…suasana menjadi tegang


seperti ini?”


Tanya Garry dan Yssalq, sambil


keduanya berpegangan tangan.


“Heh, Garry! Anda teh ngapain pegangan tangan kayak


gitu?!”


“Hehe! Teteh geulis ini teh tiba-tiba mau pegangan tangan sama aing!


Hari ini teh hari terbaik aing!


Ngiehehehe!”


Balas Garry yang menjawab


pertanyaan dari Kepala Suku.


Melihat Garry dan Yssalq yang


berpegangan tangan, Gia dan Kepala Suku menyadari suatu hal yang janggal.


“Yssalq, tangan kamu kenapa?”


“Nah eta! Saya teh juga baru


sadar! Emang anda nggak sadar kalo tangan teteh ini gemeteran, Garry?”


“Hah?! Aing kira teh jantung aing yang gemeteran karena deg-degan


pegangan tangan sama teteh geulis!”


Balas Garry.


“Anda teh udah cek belum


kondisi teteh ini?!”


“Be…Belum—”


“Yaudah, kalo gitu kita cek dulu atuh ya, Teh Yssalq?”


“Ba…Baiklah, Kepala Suku.”


Gia dan Kepala Suku pun hendak


meninggalkan ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan Yssalq.


Namun Garry tidak mau melepas


tangannya dari genggaman Yssalq.


“Heh, Garry! Dilepas atuh tangannya!”


“Et, et, et! Sia teh nyuruh-nyuruh


mu—”


“Buruan!”


“Et! Iya, iya, iya!”


Mendengar perintah Kepala Suku,


Garry pun hendak melepas genggamannya dari Yssalq.


Akan tetapi…


“*Krrrk… (suara genggaman yang


keras)”


“Ciat, ciat, ciat! Enak, teh! Eh, maksudnya sakit, teh!”


…Yssalq menggenggam Garry dengan


sangat keras.


“Ma…Maafkan aku, Kepala Suku.


Bisakah kau memeriksaku, dengan Garry…disampingku?”


Tanya Yssalq dengan nada


bergetar.


Gia dan Kepala Suku melihat


Yssalq yang gemetar, sedangkan Garry berpikir…


“ISTRI AING!!!”


Melihat Yssalq, Gia dan Kepala


Suku pun heran.


“Yssalq, kamu kena—”


“Aku…takut…”


“Takut…?”


“Aku…tidak bisa mendeskripsikan


rasa takutku. Maka dari itu…aku harap agar kiranya kau dapat mengizinkan Garry


menemaniku, Kepala Suku.”


Jelas Yssalq kepada mereka semua.


“Baik, saya biarkeun Si


Garry nemenin teteh.”


“Terima kasih, Kepala Suku.”


Mereka pun bersama pergi ke


ruangan lainnya, sedangkan Myllo…


“…”


…diam tertegun karena perkataan


Gia begitu membekas di kepalanya.


Ia pun teringat salah satu


nasihat yang ia terima dari kakaknya, Pahlawan Sylvia Starfell.


“Inget ini, Myllo. Jadi orang itu nggak boleh egois, apalagi kalo kamu


udah punya tanggung jawab sebagai Kapten.”


Setelah mengingat nasihat itu, ia


mulai mengingat segala kejadian yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan


Djinn.


Tidak lama kemudian…


“Kok lo sendirian di sini,


Nyllon?”


…Lupherius datang menemuinya.


“Haaaaaah?! Nyllon?! Nama gue


Myllo—”


“Kedengerannya tadi abis


berantem, ya?”


“…”


Myllo hanya terdiam saja


mendengar pertanyaan Lupherius.


“Lo pasti kenal gue kan, Ryllo?”


“Ya. Lo itu dulu anggota dari Unguis, kan?”


“Hm… Lo tau dari kakak lo, ya?”


“Pastinya! Karena Party lo itu


dulu rival****Draco yang dipimpin Dox, mantan Kapten-nya Kak Sylv!”


Seru Myllo kepada Lupherius.


Mereka pun saling bercerita satu


sama lain tentang pengalaman Sylvia dengan Aquilla dan Lupherius dengan Unguis.


Hingga pada akhirnya, Lupherius


bertanya-tanya tentang Myllo dan rekan-rekannya.


“Keliatannya pertengkaran lo tadi


bikin lo murung. Ada apa di kejadian tadi?”


“Tentang itu…”


Myllo pun menceritakan tentang


awal pertengkaran dengan Djinn, yang dimulai ketika mereka hampir tiba di


Heirlook City.


“Hm… Gue mau nanya sesuatu.”


“Apa?”


“Menurut lo sendiri, lo bikin


“Awalnya sih nggak. Karena kalo


gue pikir-pikir, Kak Sylv pun pasti juga ngelakuin hal yang sama.”


“Nah, itu lah kesalahan lo.”


Myllo pun heran dengan maksud


dari Lupherius.


“Sylvia udah lama jadi Petualang.


Dia itu mantan****rival gue, makanya


itu gue tau kalo dia Petualang paling kuat di dunia.”


“…”


“Dia itu kuat, tapi dia tau


batasan dia. Karena pengalaman, anggotanya pasti paham dan ngerti sama


tindakannya. Dan karena pengalaman, anggotanya juga percaya sama setiap tindakan


yang dia ambil.”


“Percaya, ya—”


“Gue nggak nyalahin lo yang


terinspirasi sama Sylvia, tapi orang yang lo pimpin itu bukan Trazorvo atau


Alphonso. Makanya itu lo harus punya ciri khas sebagai Kapten.”


Myllo kembali tertegun dengan kata-kata


Lupherius.


“Kalo lo mau jadi Kapten sehebat


Sylvia, tantangan paling besar lo itu bukan ngejar Kasta Merah atau selesain


Quest Merah. Lo pasti tau kan tantangan terbesar lo apa?”


“…”


Myllo pun diam sejenak sebelum


menjawab pertanyaannya.


“Pimpin Party gue untuk terus solid…ya?”


“Bener. Makanya itu, ini sekarang


tantangan pertama lo sebelum resmi dapet status Leader. Lo harus bisa raih


kepercayaan dari anggota lo itu.”


“Ya!”


Seru Myllo, dengan tersenyum.


“Hihihi! Nggak disangka, ternyata


lo sebijak itu ya, walaupun suka lupa nama orang!”


“Hmph, anggep aja itu buah dari


pengalaman gue.”


Balas Lupherius kepada Myllo.


Dari balik dinding ruangan di


mana mereka berada, Garry sedang berdiri.


Selama mereka berbincang, ia


mendengarkan semua cerita mereka secara diam-diam.


“Hmph, jadi Petualang teh ribet ya, Kang Wilfred.”


Pikir Garry setelah mendengar


obrolan mereka.


Sambil ia berdiri, Gia dan Kepala


Suku keluar bersama dengan Yssalq yang baru saja diperiksa.


“Kepala Suku! Gimana atuh kabar calon


istri aing?!”


“Dia teh masih baik-baik aja. Tapi…dia itu teh—”


“Huh, untung atuh calon


istri aing—”


“Dasar mesum!”


“Sianying!”


Seru Garry dengan kesal.


“Sok atuh! Kita pesta! Waktunya udah mau mulai, euy!”


Seru Kepala Suku kepada mereka


semua.


Mereka pun berpesta bersama


hingga larut malam.


……………


Keesokan harinya, ketika semua


telah bangun dari tidur mereka, Gia menemui Myllo yang masih terbaring karena


sakit yang ia derita.


Ia hendak meminta maaf karena


merasa kata-katanya terhadap Myll terlalu keras.


“Myllo…tentang kemarin—”


“Gue minta maaf, Gia!”


“Eh?!”


Gia terkejut melihat Myllo yang


meminta maaf kepadanya.


“Ko…Kok jadi kamu yang minta


maaf?!”


“Bener kata lo! Gue terlalu


egois! Gue ngerasa kalo gue itu mirip sama Kak Sylv! Tapi gue sadar, kalo lo


atau Djinn itu bukan Phonso atau Zorvo! Makanya itu, gue nggak bisa berlagak


kayak Kak Sylv!”


“Hah?”


Gia pun bingung dengan kata-kata


Myllo.


“Gue sadar kalo gue itu bodoh!


Gue sadar kalo gue itu nggak se-keren Kak Sylv! Gue sadar kalo gue nggak sekuat


Kak Sylv! Gue juga sadar kalo gue—”


“Myllo!”


“…”


Myllo pun menghentikan kalimatnya


ketika mendengar seruan Gia.


“Kamu nggak perlu


banding-bandingin diri kamu sama kakak kamu, Myllo! Kamu cukup jadi diri


sendiri aja! Kalaupun kamu nggak bisa kayak kakak kamu, aku yakin kalo kamu


pasti punya sesuatu yang nggak kakak kamu punya, selama kamu jadi diri


sendiri!”


“Gia…”


“A…Aku juga minta maaf, Myllo.


Aku cuma kebawa emosi aja sama kejadian tadi malam. Aku nggak ada maksud


untuk—”


“Makasih, Gia!”


“Hm?”


“Udah gue bilang, kan? Tolong


ingetin gue kalo gue udah menyimpang. Dan lo ingetin gue yang udah terlalu


egois—”


“*Puk… (suara pelukan)”


“Adudududuh!”


“Ya, makasih juga ya, Myllo!”


Balas Gia sambil memeluk Myllo


tanpa mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan.


“Terus, Djinn gima—”


“Biarin aja. Jangan dipaksain


kalo emang butuh waktu.”


“OK, Myllo.”


Balas Gia terhadap kata-kata


Myllo.


Jauh dari ruangan Myllo dan Gia,


Lupherius yang bisa mendengar suara dari jarak yang sangat jauh hanya tersenyum


setelah mendengar obrolan mereka.


Saat ini, ia sedang berada di


atas pohon, sambil menyaksikan Garry yang sedang diserang oleh…


“Rrrr…”


…Yssalq yang tanpa sadar


mengamuk.


“Hiiieeekh! A…Aing teh janji nggak akan nikahin te—”


“Ga…Garry…?”


“Mm?”


Garry heran dengan Yssalq yang


tiba-tiba tersadar dari amukannya.


“Me…Mengapa…kamu…terpojokkan…seperti…i…”


“*Bruk… (suara terjatuh)”


“Et?! Teh Yssalq?! Teteh?!”


Garry semakin heran dengan Yssalq


yang tiba-tiba pingsan.


Dari atas pohon, Lupherius


berpikir.


“Perasaan gue besok ada kejadian aneh, nih.”


……………


Hingga keesokan harinya, Yssalq


tiba-tiba berubah dalam wujud Smoke Dragon dan secara tidak sadar mengamuk,


hingga membuat semua Monster berlari ketakutan.


Beruntung ada Djinn yang datang


dan langsung mengalahkannya, hingga ia tersadar.


Akan tetapi…


“Garry! Ba…Bangun!”


“A…Apa yang telah kulakukan…?”


…Yssalq yang telah sadar


menyaksikan Garry yang terluka akibat amukan dirinya.