Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 358. Attack on Shogunate



“WUAAAAAAARRRRR!!!”


“Cepat! Serang mahluk itu! Sebelum ukurannya membesar!”


Seekor Yōkai jenis Nue tiba-tiba hadir di tengah-tengah Tenshujū dan mulai mengamuk.


“Pergilah kalian! Biarkan kami yang menghadapinya!”


“L-Luar biasa! Ada beberapa Kepala Komisi yang datang!”


“Sepertinya mereka tidak akan kesulitan menghadapi—”


“Jika kalian memiliki tenaga untuk berbicara, lebih baik gunakan tenaga kalian untuk membantu warga sekitar


Chūbu Town atau mencari anggota Perlawanan yang berada di sana!”


““B-Baik!””


Jawab beberapa anggota Bakufu, yang kemudian bergegas melaksanakan perintah itu.


““…””


Bersama-sama, Kepala Komisi yang terdiri dari Nagaimichi, Yasukata, dan Hirosuke, datang untuk menghadapi Nue yang mengamuk itu.


“Hey kalian, Kepala Komisi! Mengapa tidak ada Atsutaka-dono di tengah-tengah kita?!”


“Kami juga tidak tahu! Kemungkinan besar, ia sedang bertemu dengan dalang dibalik musibah yang dialami


Yorukiba-dono!”


“Cih! Sekarang kita harus menghadapi mahluk ini tanpa adanya bantuan dari Yorukiba-dono dan Atsutaka-dono?!”


Kata Nagamichi, Hirosuke, dan Yasukata, yang saling bergantian, sebelum mereka menghadapi Nue yang mengamuk.


“Hiboshino-dono, Ishisaru-dono…”


“Ya. Kami mengerti, Nagaimimi-dono!”


“(Waktunya kita kerahkan seluruh kekuatan kita!)”


Kembali kata mereka bertiga yang saling bersahut-sahutan, dengan berubah struktur Tubuh mereka dalam rupa Beast Form.


Sementara itu, di lokasi yang tersembunyi di Kazedori Bakufu.


“*Shringgg…”


“*Crat, crat, crat…”


“Menyerahlah, Dalbert Dalrio. Kau terlalu lemah untuk menghadapiku.”


“Hmph! Yakin?! Jangan terlalu yakin, kalo gue belom serius!”


Seru Dalbert, dengan luka di sekujur Tubuh-nya, sambil mengarahkan pistolnya kepada Atsutaka Akawashi,


Kepala Komisi Intelijensi.


……………


Sebelumnya, di luar Tsumibito no ori, di mana Dalbert baru saja keluar dari tempat tersebut dan meninggalkan


Garry.


“…”


Ia berjalan menyelinap dengan menggunakan Obscure Cloak, untuk mencari Machinno yang tiba-tiba menghilang.


“Cih! Mungkin dia bisa bawa kita masuk ke tempat ini! Tapi repot juga kalo ngilang dari antara kita!”


Pikir Dalbert dengan kesal karena harus mencari Machinno yang menghilang.


“…”


Ia berjalan melewati beberapa anggota Bakufu, tanpa mendapati dirinya ketahuan.


“Untung aja mereka nggak tau kalo gue harus ngelewatin mereka—”


“Hm? Ada yang aneh…”


“Ada apa?”


“Entahlah. Seketika aku merasa ada yang baru saja melewati kita.”


“!!!”


Dalbert pun terkejut ketika ada seorang anggota Bakufu yang hampir mengetahui keberadaannya.


Seketika ia teringat pesan Ryūtaro, ketika ia bertarung bersama Aquilla dan anggota Perlawanan di Kitakaze


Village.


“Waspadalah, Dalbert! Mereka memiliki atribut hewan yang bergerak dengan instingnya!”


“…”


Karena itu, ia pun berpikir.


“Bener juga, ya. Gue kira yang dimaksud Ryūtaro tuh anggota Klan Nagaimimi aja. Nggak gue sangka kalo mereka juga bisa tau ada gue.”


“…”


Ia terus menyusuri seluruh Tenshujū.


“Hyaaahaha! Memang minum sake itu tidak lengkap, jika tidak ada wanita-wanita cantik seperti kalian!”


““Haaangh! Babudon-sama!””


“…”


Ia melewati adanya beberapa anggota Bakufu yang berpesta dengan beberapa Beastwoman yang melayaninya.


“Cih! Emang dasar binatang! Padahal Beastman yang dulu jadi anggota gue juga nggak segitunya!”


Pikir Dalbert dengan jijik.


Semakin lama ia berkeliling, ia menjadi semakin kesal karena Machinno tidak kunjung ia temukan.


“Duh! Kemana sih Machinno—”


“Gawat! Yorukiba-sama telah diracuni!”


“!!!”


Dalbert begitu terkejut ketika mendengar pengumuman yang dikumandangkan oleh salah seorang anggota Bakufu.


“Yorukiba, orang itu bilang?! Bukannya dia itu salah satu Kepala Komisi?!”


Pikirnya dengan heran.


“Bakufu telah disusupi! Cepat cari anggota Perlawanan!”


“*Drapdrapdrap…”


“!!!”


Dalbert melihat adanya rombongan anggota Bakufu yang berlari dalam lorong kecil menuju dirinya.


“Swush…”


Ia pun memanjat atap, agar dirinya tidak tertabrak rombongan pasukan tersebut.


“Huuuh! Untung aja gue nggak nabrak mereka! Kalo gue nabrak, bisa aja gue ketauan!”


Pikir Dalbert, yang melanjutkan pencarian Machinno.


Namun ia tidak menyadari…


“Hm…”


…ada seseorang yang mengetahui keberadaannya dan mengikutinya dengan tersenyum.


“Duh! Mereka belom dateng, tapi kita udah dicurigain! Kalo gitu gue harus secepetnya cari Machinno! Supaya


kita—”


“*♫Twungtungtwungtungwung…”


“!!!”


Lagi-lagi Dalbert dibuat terkejut. Kali ini ia tiba-tiba mendengar suara petikan sebuah alat musik yang terdengar asing di telinganya.


“Suara apaan tuh—”


((Kyōfu no Osu))


“*FWUSH!!!”


“Uaaargh!”


“*Brak! Brak! Brak!”


“Akh!”


Ketika ia menoleh ke belakang, seketika ia melihat seseorang, yang menghempaskan dirinya hingga menembus beberapa tembok kertas di wilayah tersebut.


“Cih! Siapa yang serang gue—”


“*Krrrtttt…!”


“Urgh…!”


Walaupun dalam wujud kasat mata, orang yang menyerangnya bahkan mampu menginjak dirinya, seakan ia mengetahui keberadaannya.


“Ara…! Lagi-lagi kamu pakai benda nggak berguna itu…!”


“S-Sialan! Lo itu—”


“Kitsune yang tadi kamu lawan di Kochi Village. Masa sih kamu udah lupa sama a—”


“*Shrak!”


“!!!”


Kitsune yang mengikuti Dalbert itu dikejutkan dengan aksi Dalbert yang memotong kaki yang menginjaknya.


“…”


Dalbert menyaksikan kaki Kitsune tersebut yang seketika tumbuh kembali.


“Fufufu…! Masih berani ya kamu tunjukkin wajah kamu di tempat ini. Nggak aku sangka, kalo kamu nggak takut mati—”


“Hmph! Gue nggak takut mati?! Emang sih gue nggak takut mati.”


“Oya…? Kamu udah ngaku—”


“Kalo lo sendiri gimana? Lo nggak takut mati di tangan gue?”


“…”


Kitsune tersebut hanya tersenyum ketika mendengar provokasi dari Dalbert.


“Yaudah deh. Mending mulai aja.”


“*Shringgg…”


“Nama aku Kazedori Hairumi.”


Sapa Kitsune bernama Hairumi itu, sambil menghunuskan katana miliknya.


“Gue nggak perlu perkenalan, kan?”


“*Crkck…”


“Kan lo udah tau nama gue.”


Balas Dalbert, sambil merubah pisaunya menjadi pistol.


“Haaaaah… Sayang banget.”


“Hm?!”


“Padahal wajah kamu ganteng, loh. Bahkan aku mulai tertarik sama kamu, loh.”


“Hmph! Emang gue ganteng! Lagian nggak lo doang kok yang ngomong gitu!”


“Oh gitu, ya? Yaudah deh. Kalo gitu…”


“…”


“…aku udah punya alasan untuk bunuh kamu, yang permaluin Kitsune bareng temen-temen kamu!”


“*SWUSH!!!”


Seketika Hairumi mulai menyerang Dalbert dengan gerakannya yang sangat cepat.


“*Crkkck.”


Namun Dalbert tidak menghindar. Ia justru mengarahkan pistolnya ke depan wajah Hairumi, yang bergerak dengan terlalu cepat, hingga wajahnya berada tepat di depan pistol Dalbert.


“*Dor!”


“*Bruk…”


Hairumi pun terjatuh karena tembakan Dalbert.


Namun, bukan berarti dirinya telah sepenuhnya dikalahkan.


“Haaaaah… Dasar Warga Bawah!”


“…”


“Kamu sadar nggak sih, kalo aku, sebagai Mahluk Abadi, nggak segampang itu dibunuh?!”


Tanya Hairumi dengan angkuh, sambil menunggu lubang di kepalanya tertutup.


“Ara ara…! Penampilan aku masih tetap cantik, kan—”


“Lo bilang, lo sebagai Mahluk Abadi, nggak gampang dibunuh?”


“Hmm? Kamu penasaran, ya—”


“Tapi apa lo yakin…”


“*Crrkck…”


“…kalo nanti lo masih bisa hidup?”


Tanya Dalbert, yang kemudian…


“*Dor!”


…menarik pelatuknya, lalu peluru dari pistolnya bergerak menuju jantung Hairumi.


“Uhuk, uhuk, uhuk…!”


“…”


Dalbert menyaksikan Hairumi yang kesulitan bernafas.


“R-Racun macam apa ini?! K-Kenapa aku—”


“Pernah denger Ent yang namanya Cthorach?”


“Ent… punya nama…?! A-Apa maksud kamu—”


“Hmm. Mungkin lo udah terlalu lama di atas tempat ini, sampe nggak tau apa-apa tentang legenda jaman dulu.”


Kata Dalbert dengan angkuh kepada Hairumi.


“S-S-Sial…! Dasar Mahluk Fana sialan!”


“*Tap!”


“Berani-beraninya… kamu… berlagak kayak gitu…!”


Seru Hairumi, dengan keadaannya yang semakin kritis, ketika ia menghampiri Dalbert.


“*Chrang…”


“Ng-Ng-Nggak mungkin…! J-Jiwa aku… han…cur…!”


“*Fwuzzz…”


Seketika Hairumi mati dan terurai menjadi debu.


“Cih! Andai gue bawa semua peluru yang udah gue modifikasi pake dari sisa-sisa ranting Cthorach! Tapi kalo gue pake semua peluru itu di depan Myllo, bisa-bisa Myllo omelin gue karena diem-diem curi sesuatu di Hazhroom!”


Pikir Dalbert dengan geram, sebelum…


“Hoo…!”


“!!!”


…ada 4 Kitsune lainnya yang menghampiri dirinya.


“Ternyata… ada Mahluk Fana yang berani… bunuh saudara kita?!”


“*CHRAK!!!”


“Argh!”


Seketika salah satu Kitsune mencakarnya, hingga wajahnya berdarah.


Akan tetapi…


“Hm?!”


“Kok bisa?!”


…kelima Kitsune tersebut menyaksikan Dalbert yang wajahnya sembuh.


“Dia bisa regenerasi?!”


“Tunggu! Keliatannya itu bukan regenerasi!”


Seru beberapa Kitsune yang saling bersahut-sahutan, sementara Dalbert mengetahui alasan dibalik wajahnya yang sembuh.


“Sigobloug, anying! Untung wae aing teh masih bisa sembuhkeun dari kieu!”


Seru Garry, yang masih berada di Tsumibito no ori, sambil memerintahkan sebuah Roh yang menempel di Tubuh Dalbert.


Walaupun Dalbert bisa disembuhkan, nyatanya salah seorang Kitsune memandang hal tersebut dengan positif.


“Yaudah deh! Bagus kalo gitu!”


“Hm?”


“Mau regenerasi atau bukan, selama nggak bisa dibunuh segampang itu…”


“Haha! Kita bisa siksa dia, ya?!”


Balas salah seorang Kitsune, sebelum mereka bersama-sama menyerang Dalbert.


“*CHRAK!”


“Argh—”


{Kazedoryū: Seishi}


“*DHUK!!!”


“!!!”


((Shitokaze))


“*FWUSH!!!”


“Uaaaargh!”


Dalbert tidak memiliki kesempatan untuk menyerang ataupun menghindari kelima Kitsune, yang menyerangnya secara bersamaan.


“Et! Aing teh kelabakan sendiri sembuhkeun sianying!”


Seru Garry, sambil berusaha menyembuhkan Dalbert.


“S-Sial! Gimana cara gue selamat—”


“*Shrak!”


“Hahahaha! Liat tuh! Udah kebingungan dia!”


Seru salah seorang Kitsune, sambil terus menyerang Dalbert tanpa henti, bersama ketiga Kitsune lainnya.


Tanpa mereka semua sadari, ada seseorang yang melihat kejadian tersebut, dengan amarah yang meluap-luap.


Hingga pada akhirnya…


“Hahaha—”


“*BRUK!!!”


“*Crat!”


““!!!””


Mereka semua dikejutkan dengan salah seorang Kitsune yang hancur hingga tidak berbentuk karena tertimpa oleh sebuah tangan raksasa.


“S-Sial! Siapa yang—”


“WRRRRR…!!!”


““!!!””


Kali ini, mereka semua dikejutkan dengan adanya seekor Nue yang menampakkan diri kepada mereka.


“K-Kok a-ada Nue di sini—”


“*BRUK!!!”


“…”


Dalbert hanya menyaksikan seluruh Kitsune yang menyerangnya mati terbunuh oleh Nue itu.


Karena kedatangan Nue itu, seluruh anggota Bakufu menjadi panik.


“Cepat serang mahluk itu!”


“Jangan biarkan Yōkai itu mengamuk dan menghancurkan Bakufu—”


“*SWUSH!!!”


““Aaargh!””


Nue tersebut mengayunkan tangannya, hingga seluruh anggota Bakufu yang datang terhempas jauh karenanya.


“Cepat! Panggil seluruh anggota Bakufu! Termasuk yang ada di Chūbo Town!”


“Anggota Bakufu yang menjaga Chūbo Town telah menuju ke tempat ini!”


Seru salah satu anggota Bakufu, sambil berlari untuk menghadapi Nue tersebut.


Namun, di tengah kepanikan mereka semua, mereka tidak menyadari sesuatu yang melewati semua.


“Makasih banyak untuk pengecohnya, Machinno! Biar gue yang bukain gerbang untuk anggota Perlawanan!”


Pikir Dalbert, seakan ia berbicara dengan Machinno yang sedang dalam rupa seekor Nue, sambil berlari menuju Chūbo Town menggunakan Obscure Cloak.


“…”


Ia berlari sambil menghindari beberapa anggota Bakufu, sampai akhirnya ia tiba di Chūbo Town, sebelum ia tiba di Kemono Kai.


Akan tetapi, ketika ia sedang pergi menuju gerbang kota tersebut, tantangan baru menghadapinya.


“*Cyut!”


“!!!”


Dalbert menghentikan langkahnya, ketika ada lemparan pisau unik yang menghadangnya.


“Tidak perlu menyembunyikan diri lagi, Dalbert Dalrio! Kami mengetahui keberadaanmu!”


“…”


Dalbert menyaksikan beberapa Beastfolk yang ada di belakangnya. Namun dari antara mereka semua, ada satu Beastman yang membuatnya heran.


“Beastman itu… elang…?!”


Pikir Dalbert dengan heran.


“Kalian pergilah! Lindungi baik-baik Kemono Kai!”


““Baik! Akawashi-sama!””


““*Swush!””


Beberapa Beastfolk pun pergi, menyisakan Akawashi yang berdiri di hadapan Dalbert.


“Baiklah. Jika dilihat dari tindakanmu yang membuka jubahmu, mungkin kau terlihat seperti mengikuti perkataanku. Tetapi aku yakin, bahwa kau justru menantangku. Bukankah begitu?”


“…”


Dalbert terdiam sejenak, sebelum menjawab Akawashi.


“Lo itu Kepala Komisi Intelijensi, bukan?”


“Ya. Saya adalah Atsutaka Akawashi—”


“Yaudah deh, kalo gitu gue nggak perlu basa-basi lagi.”


“*Crkkck…”


“Kalo gitu, ayo serang gue! Apa yang lo tunggu?!”


Tantang Dalbert kepada Akawashi, sembari mereka berdua saling menyiapkan senjata masing-masing, untuk menyerang satu sama lain.